Love Destiny

Love Destiny
Epson 393



Satu Minggu berlalu keadaan Ayaza masih sama seperti pertama kali di bawa ke rumah sakit, para keluarga begitu khawatir dengan keadaan Ayaza.


Saat tidak ada satupun orang di ruang rawat Ayaza, Kevan berjalan masuk kedalam ruang rawat Aya.


Kevan menatap nanar tubuh mungil Ayaza yang terbaring di atas tempat tidur, lelaki itu berjalan mendekati Ayaza yang menggenggam jemari lentik Ayaza.


"Sampai kapan kamu akan terlihat lemah seperti ini za, apakah kamu tidak lelah terus tidur tanpa melakukan apapun." Ucap Kevan.


"Bangun za bangun, jangan seperti ini aku mohon. Aku berjanji jika kamu bangun aku tidak akan lagi menggangu kamu dan kak Kenzo, kini aku sadar za bukan aku lelaki yang kamu inginkan." Ucap Kevan lagi, lelaki itu menunduk dalam.


"Dengan melihat kamu seperti ini aku sadar bahwa kamu begitu menginginkan kak Kenzo, aku sadar za bahwa aku tidak bisa egois terhadap kamu dan kak Kenzo. Bangun za, kamu harus bangun dan kembali mendapatkan kak Kenzo." Lirih Kevan, ia menitihkan air matanya menatap Ayaza yang tidak juga terbangun.


"Ayaza kamu terlahir menjadi wanita yang kuat, selama ini kamu selalu ceria. Melihat kamu terbaring tak berdaya seperti ini cukup membuat aku sakit za, dimana Ayaza yang kuat yang aku kenal. Dimana Ayaza yang ceria, kenapa kamu harus menunjukkan sisi lemah kamu za." Lirih nya lagi, Kevan terus berbicara dengan Ayaza. Lelaki itu berharap Ayaza bangun dan membuka matanya.


Tanpa Kevan sadari ada Ria yang mendengar semua perkataan nya, Ria menitihkan air matanya mendengar semua ucapan Kevan.


(Za bangun yuk, banyak yang nunggu kamu bangun disini. Banyak yang sayang sama kamu za, kamu lihat lelaki tengil itu menangis karena melihat kamu seperti ini. Aku tidak percaya jika dia juga akan menunjukkan sisi lemah nya di hadapan kamu, tapi sayang semua itu dia lakukan saat kamu seperti ini. Bangun za aku gak mau sendirian, aku butuh kamu aku sayang kamu za. Kamu sahabat terbaik aku satu-satunya, hanya kamu yang paling mengerti aku.) Batin Ria, semua orang begitu menyayangi Ayaza.


Bagaimana tidak Ayaza adalah gadis yang baik, bahkan Ayaza selalu rela melakukan apapun untuk orang-orang yang ia sayangi.


"Ri." Panggil Dena, Ria menghapus air mata nya lalu menoleh menatap Dena.


"Mom." Sahut nya, Dena melongok kedalam ruang rawat Ayaza.


Ia melihat Kevan yang menggenggam tangan putrinya dengan menundukkan kepala, lalu Dena melihat wajah Ria yang sembab. Dena berfikir mungkin Ria menangis karena melihat Kevan yang menggenggam tangan putrinya.


"Kamu kenapa hmmmmmm?" Tanya Dena.


"Aku tidak apa-apa mom." Jawab Ria, Dena tersenyum lalu menarik tubuh Ria kedalam pelukannya.


Dena merasa ia tengah memeluk Ayaza karena besar tubuh Ria hampir sama dengan Ayaza putrinya, Dena sudah sangat merindukan Ayaza. Kapan putri nya akan sadar dan memanggil dirinya mommy lagi.


"Mom are you ok?" Tanya Ria, Dena mengangguk ia terisak dan enggan melepas pelukannya.


"Mom kenapa, mom menangis." Ucap Ria, Dena diam ia benar-benar merindukan Ayaza.


Dari kejauhan bunda Sisil, Dea, Mei menatap Dena yang memeluk sahabat dari Aya. Ya, Dea dan Mei memang memutuskan untuk menemui Dena.


Mereka begitu terkejut saat mendengar kabar mengenai Ayaza yang kecelakaan, Dea menangis sepanjang perjalanan.


"De." Panggil Dea, Dena menoleh menatap kakak nya dengan nanar.


"Kakak Ayaza hiks... Kenapa Ayaza belum bangun." Ucap Dena ,ia melepaskan pelukannya kepada Ria dan berlari memeluk Dea.


"Hei, kamu harus kuat untuk Ayaza dan El. Tidak boleh seperti ini, kakak dengar kamu tidak makan beberapa hari ini hmmmmmm." Ucap Dea.


"Bagaimana aku bisa makan sementara putriku tidak makan, bagaimana aku bisa melakukan semua itu sementara Ayaza masih tidur. Gadis nakal itu seperti enggan untuk bangun." Ucap Dena, semua orang menangis mendengar perkataan Dena.


"Ayaza pasti bangun sayang dia tidak akan meninggalkan mommy nya sendiri, Ayaza bukan gadis yang lemah." Ucap Dea, Mei mengangguk menyetujui perkataan Dea.


"Kak Dea benar sayang Aya pasti akan bangun, mungkin untuk saat ini ia masih berada dalam mimpinya. Kita harus sabar dan harus bisa membuat Ayaza kembali." Ucap Mei, Dena semakin terisak.


Kevan yang mendengar suara orang berbicara pun keluar dari ruang rawat Ayaza, ia tertegun melihat keluarga Ayaza yang sedang berkumpul.


Ia menatap Ria yang sedang menangis, Kevan berjalan menghampiri Ria dan mengajak nya untuk pergi keluar.


"Ri ikut aku." Ucap Kevan.


"Ri." Panggil Kevan, ia menarik tangan Ria dan mau tidak mau Ria pun mengikuti Kevan.


Dena dan yang lain menatap Ayaza yang masih terlelap, Dea mengelus pundak Dena begitupun dengan Mei.


"Kenapa bisa seperti ini, apakah kamu sudah menyelidiki siapa yang membuat Ayaza seperti ini." Ucap Dea, Dena mengangguk ia sudah tahu siapa yang membuat Ayaza seperti ini.


"Hmmmmmm, aku sudah mendapatkan informasi tentang nya kak. Tapi dia tidak memiliki hubungan apapun dengan Ayaza, bahkan yang aku tahu Aya mungkin tidak mengenal orang itu." Ucap Dena.


"Jika mereka tidak saling mengenal kenapa dia melakukan hal ini kepada Ayaza." Ucap Dea.


"Mungkin dia berfikir jika cara nya seperti ini dia akan membuat Ayaza marah dan mencarinya." Ucap Mei.


"Tapi kamu lihat kemarahan Ayaza malah mencelakai dirinya sendiri, meskipun ini bukan keinginan Ayaza." Ucap Dea, Dena menunduk.


"Aku belum tahu tujuan orang itu, yang jelas aku akan memberikan sedikit teguran untuk dia. Karena dia yang menyebabkan Aya seperti ini, jika aku sudah mengetahui semuanya dan tahu maksud dia melakukan ini maka aku tidak akan melepaskan dia begitu saja." Ucap Dena, Dea mengangguk ia mendukung apapun yang akan dilakukan oleh Dena.


"Gadis yang malang, kenapa harus kamu yang mengalami semua ini nak. Cepatlah sembuh jika kamu sudah sembuh mom akan memberikan apapun yang kamu inginkan." Ucap Dea, perkataan Dea membuat air mata Dena mengalir semakin deras.


"Hmmmmmm, benar dia selalu berceloteh mengenai uang. Bangunlah Aya berapapun uang yang kamu inginkan mami akan memberikan nya, ayok bangun ya nak." Ucap Mei, bunda Sisil hanya bisa menangis melihat cucu kesayangan nya.


Cucu perempuan bunda Sisil hanya dua yaitu Anes dan Ayaza, bunda Sisil tidak ingin kehilangan salah satunya ia sangat menyayangi kedua cucu perempuan nya.


(Tidak kah kamu lelah terus berbaring disana za, buna rindu kamu. Buna rindu saat kamu berlari kedalam pelukan Buna, Buna rindu saat kamu mengatakan Buna Aya rindu Buna. Bangun za kali ini Buna yang merindukan kamu, Buna merindukan suara kamu, dan merindukan kamu yang suka sekali mengoceh.) Batin bunda Sisil, semua terlihat sedih dengan keadaan Ayaza.


Mereka berharap jika Aya akan segera sadar dan kembali seperti dulu, bunda Sisil memeluk Dena yang sedang menangis. Ia berusaha untuk menenangkan putrinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊


A***: Maaf baru up gaes, kemarin-kemarin othor lagi ada urusan selain itu juga kurang enak badan. Jadi mohon dimaklum ya gaes 🙏


N: Iya Thor gak apa-apa kok, semangat ya Thor 🤗


A: Oke Uun makasih, jangan lupa jaga kesehatan juga ya un 🤗


N: Siap Thor, selalu itumah 😁