Love Destiny

Love Destiny
HARMONIS



Saat semua kembali normal, Emily dan  Vreyan segera membersihkan semua kekacauan yang ada. Bau anyir perlahan mulai menghilang berganti bau harum bunga lavender yang menenangkan.


Pada saat melakukan eksekusi, Arnold sudah memindahakan semua pekerja dan pelayan kerumah kecil dibelakang, dan tak membiarkan mereka keluar barang sedetikpun dari sana sampai ada perintah selanjutnya.


Jadi mereka semua tidak bisa melihat secara jelas apa yang terjadi dalam rumah, hanya suara teriakan dan erangan menyedihkan dan menyayat hati yang bisa mereka dengarkan.


Setelah memastikan semuanya telah bersih dan kembali seperti semua, Emily dan Vreyan segera pergi dan hanya menyisakan Arnold dengan Crystal yang masih berada dipangkuannya di ruang tamu.


“ Kenapa kamu pulang ?...”, tanya Arnold heran.


“ Gerald sudah diperbolehkan pulang, jadi aku kembali karena tidak ingin kamu salah paham nantinya…”, ucap Crystal jujur.


Sejenak, Arnold terlihat sangat terkejut dengan kejujuran Crystal kepadanya.  Namun entah kenapa hatinya masih belum bisa menaruh kepercayaan penuh pada Crystal, meski malam ini dia bertindak sangat manis.


“ Bukankah aku bilang akan mulai lagi dari awal denganmu dan berlahan membuka hatiku. Hubungan baik kita sekarang tidak ingin aku nodai dengan kesalah pahaman …”, Crystal berusaha untuk bicara dari hati kehati dengan tunangannya itu.


Meski hatinya senang, namun dipermukaan Arnold tetap bertingkah acuh terhadap semua kata yang dilontarkan oleh Crystal kepadanya hingga membuat gadis itu sangat gemas.


“ Kenapa kamu diam saja ?....apa kamu tidak ingin memberiku pujian ? aku tadi sudah berbicara untukmu di depan nenek …”, Crystal mulai merajuk sambil memainkan pola abstrak dengan jemarinya yang lentik didada bidang Arnold.


Melihat gadisnya merajuk, Arnold hanya bisa menatap Crystal dengan intens.  Sebagai lelaki yang tidak pernah berinteraksi dengan wanita,  dirinya sering merasa kesulitan jika Crystal sudah dalam mode seperti ini.


Meski tingkat kecerdasannya diatas rata – rata, namun entah kenapa perilaku dan tindakan gadis yang ada dalam dekapannya itu tidak bisa dinalar secara logika.


Akhirnya yang bisa Arnold lakukan hanya mengusap kepala gadis itu dengan lembut dan mulai mendekatkan wajahnya dihadapan Crystal.


“ Gadis baik…”, bisiknya lembut.


Entah kenapa suara hangat Arnold saat masuk kedalam gendang telinga Crystal menimbulkan sengatan listrik hingga wajahnya memerah.


Melihat ekspresi Crystal,  binatang buas dalam diri Arnold yang sedari tadi sudah meraung - raung tak kuasa ditahannya.


Secepat kilta Arnold segera ******* lembut bibir merah merekah yang sedikit terbuka dihadapannya dan menghisapnya dengan sangat lembut.


Crystal segera memejamkan mata dan membalas semua perhatian yang Arnold berikan kepadanya malam ini. Semakin lama ciuman mereka semakin panas hingga tanpa sadar Crystal sudah mengalungkan kedua tangnnya di leher Arnold.


Ciuman panas tersebut berlangsung cukup lama dan lebih dalam daripada biasanya. Mereka hanya berhenti untuk mengambil nafas sesaat sebelum larut dalam kehangatan cinta.


.


.


.


.


Setelah membersihkan tubuhnya dari aroma darah yang cukup menyengat, Crystal keluar dari kamar mandi dengan wajah berseri – seri.


Dalam kesunyina malam, Crystal berbaring di tempat tidur sambil tersenyum dan berguling – guling dalam waktu yang lama sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Kembali membayangkan keromantisan yang tercipta. Crystal sangat bersyukur, meski malam ini dia banyak menemui kejutan yang membuat tubuhnya menegang dan ketakutan untuk sesaat, namun akhir bahagia dalam pencapaian hari ini membuatnya tersenyum lebar.


Tidak bisa tidur membuat perut Crystal kelaparan. Dia segera mengeluarkan beberapa  potong daging dendeng ragi kering  serta satu kresek sosis beku yang dibawanya dari rumah.


Perlahan Crystal menuruni anak tangga dengan senyum bahagia mengembang diwajahnya. Menuju dapur dan siap memasak camilan malam favoritnya.


Setelah kenyang, Crystal yang hendak naik tiba – tiba pandangan matanya menuju pada bola putih yang ada diatas karpet putih di depan sofa.


“ Apa itu ?...”, batin Crystal penasaran.


Untuk menuntaskan rasa penasarannya, Crystal mulai berjalan mengendap – endap mendekati bola putih tersebut.


“ Adoff…”, batin Crystal terkejut mengetahui wujud asli bola putih yang dilihatnya tadi..


Menurut ingatannya, serigala ini tidak jahat dan sering membantunya dimasa lalu. Maka dari itu, Crystalpun memberanikan diri untuk mengelus kepala Adoff yang sedang tertidur.


Serigala putih yang awalnya berbaring di karpet tiba – tiba memiringkan telinganya dengan cepat dan membuka matanya secara perlahan.


Aura kematian yang berasal dari pupil birunya terlihat sangat jelas. Dibawah tatapan serigala putih yang menakutkan itu, Crystal  secara naluriah mulai berjalan mendekat kearah serigala tersebut.


Crystal sangat tahu jika serigala putih ini sangatlah baik, meskipun sangat ganas saat berada dialam liar, namun dia bisa bertindak seperti manusia dalam beberapa hal.


Apalagi saat Adoff melihat interaksi antara gadis itu dengan Arnold,majikannya yang menyiratkan bahwa Crystal adalah bagian dari mereka, yang tidak boleh disakitinya.


Saat salah satu tangan Crystal hendak menyentuh kepalanya, tiba –tiba saja seriagala tersebut melolong keras.


Untuk sesaat suara aumannya mampu mengetarkan ruang tamu yang cukup besar itu hingga membuat Crystal terkejut dan terjatuh kebelakang.


Meskipun Crystal sangat yakin jika Adoff tidak akan menyakitinya, namun naluri manusianya masih mengirimkan sinyal bahaya ketubuhnya.


Saat Crystal sudah menguasai keterkejutan dan ketakutannya, tiba – tiba saja Adoff menerjangnya, membuatnya kembali terjatuh kebelakang.


Sedetik kemudian, serigala putih itu mulai mengendus – endus Crystal seperti seekor anjing yang ingin bermain dengan sang majikan.


Mendengar suara lolongan Adoff yang cukup keras membuat Emily segera berlari dan membuka pintu kaca dengan kasar dan bergegas masuk.


“ Apa yang terjadi ?...”, tanyanya panik saat melihat Crystal berada dibawah kukungan Adoff.


Arnold yang mendengar Adoff melolong panjang seketika berjalan turun kearah ruang tamu dengan alis yang berkerut.


“ Nona Crystal !!!...apa yang terjadi ?..”, Emily kembali tercenggang saat melihat Adoff menempelkan kepalanya ke wajah Crystal hingga membuat gadis itu kegelian.


Melihat Crystal tertawa dengan apa yang dilakukannya membuat Adoff  semakin menempel dan mencari posisi yang nyaman untuknya.


“ Bagaimana bisa ?...Adoff yang ganas dan liar meringkuk seperti anjing kecil dalam pangkuan nona Crystal…”, Emily terlihat syok dengan apa yang dilihatnya saat ini.


“ Aku benar – benar tidak bisa memahami jalan pikiran gadis ini. Bagimana mungkin dia bisa bermain dengan serigala liar dan ganas ini dengan tenang tanpa sedikitpun kekhawatiran bahwa serigala itu akan memangsanya…”, batin Emily bermonolog dengan mata membulat.


Jika Crystal dan Adoff terlihat bahagia saat bersama, namun tidak dengan Arnold. Dia tidak suka siapapun menyentuh gadisnya, meski itu adalah serigala kesayangannya.


“ Apa yang kamu lakukan ?...”, tanya Arnold tidak senang dengan keintiman yang terlihat didepan matanya.


“ Bisa kamu lihat….aku sedang bermain dengan hewan lucu ini….”, jawab Crystal sambil tersenyum kegelian saat  bulu – bulu halus serigala itu kembali menyentuh wajahnya.


“ Lucu ?…”, Emily kembali syok mendengar kata yang keluar dari mulut Crystal.


“ Menjauh darinya !!!...”, perintah Arnold tajam sambil mengerutkan alisnya.


“ Ayolah…aku masih ingin bermain dengannya sebentar…”, Crystal kembali merajuk.


“ Tidak !!!...”, ucap Arnold tegas.


“ Kenapa tidak ?...”, ucap Crystal lagi.


“ Karena kau hanya milikku !!!...”, ucap Arnold acuh.


Seketika  rahang Crystal jatuh saking syoknya mendengar ucapan Arnold. Bahkan wajah lelaki tersebut sudah mulai menggelap dengan sorot mata sinis kearah Adoff.


“ Astaga !!!...Dia tidak benar – benar cemburu dengan Adoff kan ?...”, batin Crystal tak percaya melihat fakta yang ada dihadapannya saat ini.


Crystal sangat tahu jika Arnold itu sangat pencemburu dan over posssesif. Tapi dia tidak menyangka jika tunangannya itu akan cemburu pada kedekatannya dengan hewan peliharaan kesayangannya, Adoff.


“ Tuan muda, haruskah kita melarang Adoff datang kesini agar tidak melukai nona ?...”, Emily mendesah khawatir.


“ Tidak perlu…”, Arnoldpun berjalan mundur dengan wajah suram.


Melihat tunangannya merajuk, dengan cepat Crystalpun berjalan untuk mengejar Arnold. Malam ini dia akan menemani Arnold tidur agar mood iblis tersebut tidak semakin buruk.