
Setelah melakukan ciuman panas didalam mobil bersama Arnold, malam ini Crystal tidak bisa tidur. Kedua matanya masih terbuka lebar, padahal jam di dinding sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.
Dia terus saja berguling kesana kemari seperti gasing sambil beberapa kali terlihat menutup kedua mukanya dengan telapak tangannya sambil tersenyum malu.
“ Achhh…bisa gila aku !!!…”, batin Crystal berteriak.
Dengan rambut acak – acakan Crystal duduk diatas ranjang sambil menggigit selimut yang membungkus tubuhnya dengan ekspresi berubah – ubah antara cemas dan bahagia.
Crystal meruntuki kebodohannya, bagaimana bisa dia menyatakan cinta kepada iblis haus darah itu dan menciumnya dengan liar.
“ Mungkin otakku sudah tidak waras lagi…”,gumannya sambil menggeleng – gelengkan kepalanya berulang kali.
Saat sibuk menata hati dan perasaannya, tiba – tiba pandangan Crystal mengarah pada amplop coklat yang keluar dari dalam tasnya.
Dengan kening dikerutkan, Crystal melangkah maju, mengambil amplop coklat tersebut dan membukanya. Beberapa berkas yang ada ditangannya dia amati sekali lagi.
Crystal memandang foto Adisty sebelum melakukan operasi plastik dengan kening berkerut. Melihat data bahwa sahabatnya itu dulu pernah satu SMA dengannya, membuat Crystal mulai memaksa ingatannya untuk mencari wajah tersebut dalam memorinya.
Cukup lama Crystal mencari, namun tidak juga dia temukan. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk melihat group SMA nya di media social.
Dia sudah menscroll berulang kali, namun sosok wajah yang dicarinya itu tidak kunjung juga didapatkannya, membuat Crystal menghembuskan nafas secara kasar dan mengetuk - ngetuk meja dengan jarinya sembari berpikir.
“ Aha.....Mungkin aku bisa mencarinya di album sekolah yang ada dirumah…”, guman Crystal senang waktu mengingat jika semua orang akan berfoto dalam album alumni tersebut.
Crystal kembali menelisik data Adisty yang diterimanya dari Lea itu. karena tidak bisa tidur dia coba membuka flashdisk yang ada disana.
“ Murahan sekali dia...”, ucap Crystal jijik waktu melihat video percintaan Adisty dengan pria tambun berkulit hitam yang sangat diyakini Crystal adalah papa Lea.
“ Aku jadi bisa merasakan apa yang Lea dan mamanya rasakan waktu melihat rekaman ini…”, guman Crystal sedih.
Pantas saja mamanya Lea sangat depresi, selain diselingkuhin, mamanya Lea juga mendapatkan kekerasan fisik dari sang papa.
Crystal cukup memahami hal tersebut, karena dia juga sempat merasakan hal itu dikehidupan sebelumnya. Tapi untungnya, dia masih memiliki keberuntungan karena diberi kesempatan untuk hidup kembali.
Berkaca pada dirinya dahulu, Crystal bertekad untuk membantu Lea membalaskan semuanya. Dan membuka mata papa Lea bahwa keputusannya untuk memilih Adisty dan mengorbankan keluarganya adalah kesalahan terbesar yang pernah dilakukannya.
Crystalpun mulai berpikir keras tentang apa yang harus dilakukannya untuk membantu Lea dan Vely saat ini. Karena terlalu banyak menguras pikirannya, tanpa disadari Crystalpun mulai tertidur di atas meja belajarnya.
Arnold yang juga tak bisa tertidur dalam kamarnya mulai berjalan keluar. Dengan hati – hati, dia membuka pintu kamar Crystal yang ada disamping kamarnya.
Melihat tidak ada orang di atas ranjang membuat Arnold sedikit panik. Dia segera mengedarkan pandangan matanya menyusuri seluruh ruangan kamar dengan tajam.
Hatinya sedikit lega saat melihat tunangannya itu meletakkan kepalanya diatas kedua tangannya yang dijadikan sebagai alas bantal diatas meja belajar.
Dengan lembut, Arnold mengangkat tubuh Crystal dan membaringkannya diatas ranjang. Selanjutnya, dia ikut berbaring disamping Crystal dan memeluknya dengan erat.
Pagi harinya, Crystal merasakan ada tangan kekar yang memeluk pinggang rampingnya dengan sangat erat hingga membuatnya sedkit kesulitan untuk bernafas.
“ Kenapa dia tidur disini…”, batin Crystal binggung.
Dengan lembut, Crystal menepuk bahu Arnold berulang – ulang sambil memanggil namanya, namun tidak mendapatkan respon.
“ Sayang…ayo bangun…aku ada kuliah pagi sekarang…”, ucap Crystal dengan lembut.
Melihat Arnold masih belum membuka mata, Crystalpun mulai nakal. Dia menciumi seluruh wajah Arnold berulang kali hingga akhirnya laki – laki itu terbangun karena merasakan wajahnya sudah basah semua.
“ Masih pagi sweetheart…”, ucap Arnold dengan suara serak.
Arnoldpun kembali memeluk Crystal dengan erat, bahkan sekarang laki – laki itu sudah menyembunyikan kepalanya diceruk leher Crystal dan menghisap dalam – dalam aroma tubuh tunangannya itu, seakan hal itu sudah menjadi candu baginya.
“ Sayang…aku ada kuliah pagi sekarang. Ayo…bangun ya…”, Crystal berusaha membujuk Arnold degan sabar.
“ Kelas paginya ijin aja. Aku masih ngantuk….”, ucap Arnold sambil memeluk tubuh Crystal semakin erat.
“ Ayolah sayang…aku ada kuis pagi ini…nanti malam aku janji akan menemanimu tidur dikamar…”, ucap Crystal penuh harap.
“ Janji ya…”, ucap Arnold mulai merenggangkan pelukannya.
Setelah terbebas, Crystal segera berlari menuju kamar mandi. Dia harus segera bergegas jika tidak ingin terlambat untuk mengikuti kuis pagi ini.
Crystal sedikit lega saat dirinya keluar dari kamar mandi, Arnold sudah tak ada disana. Setelah memakai pakaian dan berias dengan simple, Crystal segera menyambar tas ranselnya yang ada diatas meja belajar dan cepat turun menuju parkiran.
Untungnya jalan raya tidak terlalu macet pagi ini, hingga Crystal bisa tepat waktu sampai dikampus bintang dan memarkir mobilnya.
" Sial !!!...tapi hanya ini bangku yang kosong...", dumelnya sambil mulai mempersiapkan diri untuk kuis saat dosen pengajar memasuki kelas.
Jadwal Crystal pagi ini cukup padat, tiga mata kuliah berurutan harus dia jalani langsung tanpa adanya waktu untuk beristirahat.
untung saja ada sebungkus roti coklat yang kemarin dibelinya, lumayan bisa menganjal perutnya yang sudah meronta minta diisi.
Sementara itu, didanau buatan kampus, Vely menunggu kedatangan Crystal dengan sabar. Untuk membunuh waktu, dia mulai membuka – buka media sosialnya.
Dirasa tidak ada hal yang menarik, perlahan jemarinya membuka web kampus dan masuk kedalam forum kampus untuk melihat berita dan gosip terbaru.
Saat dia menggeser layar ponselnya, melihat – lihat komentar terbaru dari berita tentang Adisty yang masih belum terhapus, seketika mata Vely melotot dan hatinya kembali terasa sakit seperti tertancap ribuan pisau tajam saat melihat komentar Brian disana.
*“ Saya Brian Anugrah dengan ini ingin mengklarifikasi berita yang menyudutkan saya dan kekasih saya Adisty Putri beberapa saat terakhir*.
Pertama :
Disini saya ingin mengatakan jika saya sama sekali tidak ada hubungan apapun dengan Velya Wilson. Dan berita tentang pertunangan kami, itu hanya lelucon antara keluarga saja.
Kedua :
Adisty tidak mencium saya, tapi sayalah yang mencium dirinya. Dan kami akan menikah setelah Adisty lulus kuliah.
Ketiga :
Dari awal saya hanya mencintai satu gadis, yaitu Adisty Putri, tidak ada yang lain.
Dan yang terakhir, bagi siapa saja yang ingin mendapatkan penjelasan tentang masalah ini bisa langsung datang ke saya. Jangan menyakiti orang yang tidak bersalah.
Perlahan, airmata mulai menetes dipipi Vely saat membaca tiap kata yang dituliskan oleh Brian disana. Rasa sesak kembali hadir hingga gadis itu memegangi dadanya yang terasa sangat sakit.
“ Bagus Brian…kau memang luar biasa….”, pertahanan diri Vely kembali runtuh.
Membaca setiap kata yang diucapkan oleh Brian membuat hati Vely bertambah sakit. Apalagi saat teman – teman Brian mulai bermunculan setelah laki – laki itu memposting komentarnya membuat hati Vely dihujani ribuan anak pisau yang langsung menghunus jantungnya.
Akibat menahan gejolak amarah, Vely menggigit bibirnya sangat kuat hingga berdarah sambil berderai air mata. Dengan tangan gemetar, Vely mencari nomor Crystal. Setelah dapat dia segera memencet nomor tersebut dan menghubunginya.
“ Crystal !!!.... tolong aku !!!...”, suara Vely bergetar.
Crystal yang baru saja selesai kelas ketiganya segera menghentikan langkahnya untuk keluar dari kelas saat ponselnya berbunyi.
“ Tenang kak…kakak dimana sekarang ?...”, tanya Crystal cemas sat mendengar suara Vely yang bergetar seakan menahan isak tangis.
“ Aku didanau sekarang. Aku ingin Adisty membalas semuanya !!!...Aku ingin membuat Brian menyesal !!!....”, ucapnya dengan penuh amarah.
“ Sekarang kakak tarik nafas dalam – dalam, tenangkan diri kakak. Tiga menit lagi aku sampai disana. Tunggu aku dan jangan kemana – mana…”, ucap Crystal penuh penekanan.
Setelah mengirimkan pesan kepada Arnold jika nanti dia akan pulang terlambat dan mampir kerumah orang tuanya, Crystal segera bergegas menuju danau buatan yang berada disamping kampus peternakan.
Sambil berjalan menuju danau, Crystal membuka forum kampus diponselnya. Crystal sangat yakin jika perubahan suasana hati Vely siang ini pasti ada hubungannya dengan berita yang ada disana.
“ Sesuai prediksiku, Brian akan datang menyelamatkan Adisty…”, guman Crystal tersenyum sinis.
Dengan tulisan Brian ini, secara perlahan nama Adisty akan kembali bersih dan Vely menjadi bahan tertawaan semua orang karena dianggap sebagai gadis yang sangat menyedihkan.
Mengejar pria yang sama sekali tidak mencintainya. Dan membully sahabatnya sendiri karena cemburu. Akhirnya hal tersebutlah yang mulai dipikirkan semua orang tentangnya setelah membaca tulisan Brian.
“ Aku sama sekali tidak menyangka jika Brian berani melakukan hal itu. Apalagi pertunangan keduanya sudah disepakati dua keluarga ”, batin Crystal bermonolog.
Dalam kehidupan sebelumnya, Crystal sangat ingat jika kedua orang tua Vely adalah penyokong tunggal bisnis keluarga Brian.
Bahkan ketenaran yang Brian miliki saat ini juga tidak lepas dari WS Group yang menjadi sponsor tunggalnya agar laki – laki itu karirnya cepat naik ke atas.
Semua mereka lakukan demi membahagiakan putri semata wayang yang sangat mereka cintai. Dan kalau tidak salah ingat, dalam waktu dekat WS Group akan membantu AN Group untuk memenangkan tender di proyek pemerintahan yang memiliki jumlah keuntungan yang fantastis.
Keberhasilan proyek pemerintahan ini membuat AN group akhirnya secara perlahan mulai merangkak naik hingga setara dengan WS Group.
Melihat wajah Vely yang cukup menyedihkan membuat Crystal akhirnya memutuskan untuk mengajak kakak tingkatnya itu untuk pergi kerumahnya.
Disana mereka dapat leluasa berbicara tanpa ada yang melihat atau menguping pembicaraan mereka.Selain itu Crystal juga ingin memastikan sesuatu di album alumni SMA nya yang tersimpan rapi dirak buku yang ada dirumahnya.