
Crystal terlihat turun dari dalam mobil mengenakan dress selutut dengan warna unggu muda dengan rambut dikuncir ekor kuda dengan sepatu flat berwarna putih yang menghiasai kaki jenjangnya.
Dengan ceria dia mulai memasuki rumah sakit untuk menjemput sang kakak. Semua orang menatap kagum akan kecantikan alami yang terpancar dari wajahnya yang seputih salju.
Apalagi dengan senyuman yang terus menghiasai wajahnya membuat pesona Crystal menjadi seratus kali lipat dari biasanya.
Meski saat ini ddalam pikirannya banyak sekali hal yang memusingkan, namun dihadapan sang kakak dia tidak ingin menampilkan wajah muram.
Cukup banyak hal pahit yang dialami sang kakak selama ini. Apalagi kehilangan calon bayi yang sangat dinantikannya serta rasa bersalahnya yang cukup besar terhadap Crystal sedikit banyak membuat kejiwaan Leony sedikit terganggu.
“ Siang kak…”, sapa Crystal ceria.
“ Terimakasih sudah mau menjemputku…”, ucap Leony sedikit kikuk.
“ Tentu saja aku dengan senang hati menjemputmu, jika tidak…siapa lagi yang akan perhatian kepadamu…”, ucap Crystal tersenyum lebar.
Melihat adiknya itu sudah ceria dan tidak menunjukkan sedikitpun amarah terhadapnya membuat Leony dapat bernafas dengan lega.
Kali ini dia berjanji akan melakukan apapun agar senyum ceria sang adik tidak akan pernah luntur dari wajah cantiknya itu, meski harus mengorbankan dirinya.
Setelah semua administrasi telah beres dan semua barang yang ada dalam ruangan sudah dikemas oleh pembantunya, Crystal segera mendorong kursi roda sang kakak menuju pintu keluar.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, akhirnya keduanya tiba dikediaman Abraham. Selvi segera menyambut kedatangan putri sulungnya itu dengan senyum ceria.
“ Kamu ditunggu papa di kamar…”, ucap Selvi menyampaikan pesan Abraham kepada Crystal.
Tanpa curiga, Crystalpun segera naik untuk menemui papanya yang sedang beristirahat didalam kamar akibat kondisi kesehatannya yang kembali memburuk mulai semalam.
Tok tok tok….
Crystal segera masuk setelah papanya bersuara. Cukup lama mereka berbicara didalam ruangan yang atmosfernya tiba – tiba saja memanas.
Perang mulutpun tidak bisa dihindari karena keduanya gigih mempertahankan pendapatnya masing – masing. Ego keduanya yang sangat tinggi membuat keduanya tidak ada satupun yang mau mengalah.
Melihat sang papa memegangi dadanya dengan ekspresi kesakitan membuat Crystal menghentikan ucapannya dan keluar dari dalam kamar dengan penuh amarah.
Crystal yang terlihat sangat murka dengan keputusan sepihak yang diambil sang papa segera mempercepat langkahnya untuk turun.
Dia sama sekali tidak menyangka jika papanya kembali mengambil keputusan besar dalam hidupnya tanpa melibatkan dirinya.
Selvi yang sangat paham akan rasa kecewa dan amarah yang melanda diri putrinya hanya bisa menenangkannya, tanpa mampu berkata – kata.
“ Aku pulang dulu ma…”, ucap Crystal datar dan langsung mengecup punggung tangan mamanya sebelum beranjak pergi.
Leony yang berada disanapun juga tidak mampu berkata apapun. Dia sama sekali tak menyalahkan sang adik jika akhirnya bersikap seperti itu.
Dia sangat tahu, meski hubungan Arnold dan Crystal terbilang harmonis, namun pernikahan bukanlah sesuatu yang sepele.
Apalagi jika itu berkaitan dengan Crystal. Adiknya itu dulu menerima pertunangan dengan Arnold selain untuk menggugurkan janji yang dibuat almarhum sang kakek juga karena pihak keluarga Lincoln menghendaki pernikahan akan terjadi dua tahun setelah masa pertunangan berlangsung.
Hal itulah yang membuat Crystal dengan berat hati menyetujui pertunangan tersebut karena dalam waktu dua tahun dia bisa melakukan apapun yang ingin diraihnya dalam hidup, sebelum akhirnya dia benar – benar terkukung dalam status yang bernama pernikahan.
Apalagi menjadi menantu keluarga yang sangat terpandang dinegeri ini, tentuanya hal itu bukanlah sesuatu yang mudah.
Selain memancing banyaknya musuh untuk mendekat, kebebasan diripun tentunya secara perlahan akan terengut karena semua tindakan yang nantinya akan dilakukan membawa nama besar keluarga Lincoln.
Suatu nama yang membanggakan sekaligus mengerikan jika salah menggunakannya. Apalagi seluruh keluarga Lincoln terkenal kejam dan tak berperasaan jika menyangkut nama besar keluarga mereka.
Tidak pandang itu orang dalam atau bagian dari keluarga mereka, jika dianggap mencoreng dan menjatuhkan martabat keluarga maka akan mendapatkan hukuman sesuai aturan yang ada dalam keluarga Lincoln.
“ Kenapa papa tak berunding dulu denganku sebelum memutuskan semuanya…”, ucap Crystal kecewa.
“ Aku harus minta penjelasan padanya !!!...aku yakin semua ini perbuatannya !!!...”, ucap Crystal sambil mengertakkan giginya penuh amarah.
Sementara itu, anak buah Arnold yang melihat Crystal bertengkar hebat dengan papanya segera melaporkan hal itu kepada bosnya.
Arnold yang berada di ruang kerjanya hanya diam menanggapi laporan tersebut dan kedua matanya masih sibuk meneliti berkas yang ada ditangannya hingga suara Emily mengalihkan perhatiannya.
“ Sebaiknya tuan harus bersabar jika nanti nona Crystal marah dan mengeluarkan kata – kata yang menyinggung hati dan harga diri tuan muda…”, ucap Emily hati – hati.
Belum juga Arnold bersuara untuk membalas ucapan Emily yang dianggap telah lancang menasehatinya itu tiba – tiba pintu dibuka dengan kasar oleh seorang gadis dengan wajah penuh amarah.
Melihat Crystal masuk, Emilypun segera undur diri dan membiarkan keduanya menyelesaikan permasalahan yang ada.
Emily sudah mengira hal seperti ini akan terjadi karena tuan mudanya itu tidak meminta pendapat Crystal sebelum memutuskan hari pernikahan keduanya.
“ Semoga tuan bisa menahan emosinya hingga hal buruk tidak akan terjadi…”, guman Emily cemas.
Didalam ruangan suhu udara tiba – tiba saja turun sangat drastis dan aura membunuh sangat kental disana membuat suasana terasa sangat mencekam saat ini.
BRAKKK…..
“ Katakan !!!...apa maksud semua ini ?!!!...”, teriak Crystal sambil menggebrak meja kerja Arnold dengan keras.
Arnold tak bergeming dan menatap calon istrinya itu dengan ekpresi datar. Meski dia tahu jika salah karena telah memutuskan semuanya sepihak, namun dia sama sekali tak menyangka jika Crystal akan semarah ini.
Melihat Arnold tak meresponnya dengan wajah tanpa ekspresi membuat darah mendidih yang ada dalam diri Crystal mulai meluap.
“ Jangan berpura – pura bodoh…”, ucap Crystal sinis.
“ Bukankah kamu sudah setuju…”, ucap Arnold membela diri.
“ Kapan aku setuju !!!...apa pernah kamu membicarakan hal ini denganku sebelum memutuskan !!!...”, ucap Crystal dengan mata melotot penuh amarah.
“ Kenapa kamu sama sekali tak pernah menghargai perasaanku !!!...pendapatku !!!...dan keingginanku !!!...”, teriak Crystal lantang.
Diapun terus saja mengeluarkan uneg – uneg yang menganjal dalam hatinya selama ini kepada Arnold. Kata – kata Crystal yang cukup lugas dan kasar membuat Arnold yang semula datar dan dingin mulai bereaksi.
Kedua tangannya terkepal dengan erat guna menahan emosi yang mulai merasuk dalam dirinya. Jika dia tidak kembali ingat ucapan Emily yang lancang menasehatinya tadi, mungkin saat ini dia sudah menyeret Crystal dan mengurungnya didalam kamar, seperti apa yang sering dilakukannya dahulu.
Melihat ekpsresi dan tatapan membunuh dalam sorot mata Arnold, Crystalpun mulai menghentikan ocehannya.
Dalam hati kecilnya, rasa takut akan kemurkaan Arnold mulai muncul. Tidak ingin memperparah keadaan, Crystal yang masih dalam kondisi marahpun bergegas meninggalkan ruang kerja calon suminya itu sambil membanting pintu dengan sangat kasar hingga menimbulkan suara yang cukup keras.
Para pelayan yang berada di dapur dan ruang tamu sedikit berjingkat karena terkejut dengan suara bantingan pintu yang hampir saja membuat jantung mereka copot.
Semua orang hanya menundukkan kepala pada saat Crystal berjalan melewati mereka. Tak lama kemudian bunyi keras mobil yang keluar dengan cepat dari halaman rumah nyatanya tak mampu membuat nafas mereka lega.
Justru mereka semakin ngeri membayangkan apa yang akan terjadi dalam rumah ini sepeninggalan calon nyonya mereka.
Keringat dingin dalam tubuh para pelayan mengucur dengan sangat derasnya waktu mendengar suara berisik dan barang – barang yang tampaknya dibanting dengan sangat kasar dari dalam ruang kerja Arnold.
Semua orang hanya bisa menahan nafas mendengar dari luar betapa marahnya sang majikan didalam sana.
Bukan hanya para pelayan, Emily yang sedari tadi melihat wajah Crystal yang memerah karena marah tubuhnya sudah membeku ditempat dengan wajah pucat pasi menunggu kemalangan apa yang akan diterimanya akibat pertengkaran tersebut.