
Saat ini Crystal sedang berada dalam ruang kerja Arnold dengan suasana yang cukup mencekam. Bagaimana tidak, pagi – pagi gadis itu sudah membuat kehebohan yang membuat jantung semua orang seakan berhenti berdetak dengan ulahnya.
“ Kamu itu sudah dewasa…bisa tidak jangan bertingkah yang bisa membuat orang lain khawatir…”, ucap Arnold dengan wajah frustasi.
“ Maaf…”, hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Crystal.
Dia tidak ingin membuat Arnold semakin marah jika dirinya membela diri. Bukan takut dimarahi, Crystal hanya tidak mau saja jika para pekerja akan mendapatkan hukuman, imbas dari perbuatannya.
Melihat Crystal hanya mengucapkan satu kata tanpa adanya rasa penyesalan membuat Arnold bertambah geram.
Diapun mulai mengeluarkan semua uneg – uneg yang ada dalam hatinya sejak tadi kepada Crystal. Bukannya takut, Crystal malah terlihat bahagia mendengar calon suaminya itu mengungkapkan semua hal yang dirasakannya.
“ Jangan tersenyum !!!...apanya yang lucu !!!...”, ucap Arnold berang.
“ Sudah marahnya ?…”, ucap Crystal sambil mengelus rahang Arnold dengan lembut.
Sontak saja Arnold yang pada dasarnya sudah terkena virus bucin dari Crystal langsung meleleh mendapat sentuhan lembut tersebut.
Namun hal itu berusaha untuk disembunyikannya dengan tatapan tajam yang kembali diarahkan kepada calon istrinya itu.
“ Kamu tahu letak kesalahanmu kan…”, ucap Arnold dengan nada rendah.
“ Iya…aku tahu…aku akui, aku yang salah. Sudah membuat kamu dan semua orang orang khawatir padaku….maaf ya…”, ucap Crystal tulus.
Melihat ketulusan dalam ucapan Crystal, Arnoldpun mulai melunakkan sikapnya. Diapun segera menarik Crystal agar duduk dipangkuannya.
“ Aku senang…akhirnya kamu bisa mengungkapkan semua yang kamu rasakan. Aku harap, selanjutnya akan terus begini…”, ucap Crystal sambil mengelus lembut rahang kokoh Arnold sambil tersenyum manis.
Keduanya pun saling bertatapan dengan penuh cinta sambil tersenyum bahagia. Sedetik kemudian mereka saling bercumbu mesra, menyampaikan semua perasaan yang terpendam dalam hati yang paling dalam.
Krucukkk….
“ Sial !!!...kenapa bunyi sekarang !!!...”, batin Crystal sedikit kesal.
Diapun kembali ******* bibir Arnold dan berusaha menghilangkan kecanggungan yang sempat tercipta akibat perutnya berbunyi.
Baru saja mereka kembali menikmati moment intims tersebut, lagi – lagi suara tersebut kembali menginstrupsi kegiatan mereka.
Krucukkkk….krucukkkk….
“ Tampaknya cacing - cacing dalam perutmu sudah berdemo…”, ucap Arnold sambil mengelus perut Crystal yang terus saja berbunyi.
Untuk menutupi rasa malunya, Crystal yang wajahnya semerah tomat langsung menelusup kedalam dada bidang Arnold, bersembunyi disana hingga suara tawa Arnold berhenti.
“ Ayo kita sarapan…”, ucap Arnold yang sudah berdiri sambil mengendong Crystal.
“ Turunkan…aku bisa jalan sendiri…”, ucap Crystal dengan wajah semerah tomat.
Karena terlalu malu, Crystal berlari kecil meninggalkan ruang kerja Arnold tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.
Melihat tingkah mengemaskan calon istrinya itu, Arnold hanya bisa menggeleng – gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Dimeja makan, Crystal terus saja menunduk sambil menikmati makanan yang ada dihadapannya tanpa sedikitpun mengangkat kepalanya.
“ Sial….kenapa hari ini aku sial banget sih…”, batin Crystal geram.
Crystalpun menghabiskan makanannya dengan cepat dan bergegas meninggalkan meja makan. Arnold hanya bisa terdiam melihat tingkah laku Crystal yang baginya sangat mengemaskan itu.
“ Sekarang kamu bisa lari…tunggu saja jika sudah jadi istriku…”, batin Arnold gemas.
Ingin rasanya pernikahan itu dia langsungkan hari ini juga agar bisa segera memiliki Crystal sepenuhnya.
“ Sabar…sabar….”, hanya itulah yang bisa dilakukan Arnold untuk saat ini.
Sementara itu, didalam kamar terlihat Crystal berguling – guling diatas rajangnya dengan gerakan absurd sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
“ OMG…kenapa juga perutku berbunyi pada saat seperti itu…”, guman Crystal dengan mimik wajah ingin menangis menahan rasa malu.
“ Padahal tadi itu lagi seru – serunya…jika saja perutku tidak bunyi, pasti kita sudah….ahhhh….”, Crystalpun kembali menutup wajahnya yang semakin merah akibta pikiran kotor yang terlintas dikepalanya sambil berguling kesana – kemari.
Beberapa kali dia terlihat duduk sambil berbicara sendiri dan endingnya kembali berguling mengelilingi tempat tidurnya.
Dan hal itu dilakukannya berkali – kali membuat Arnold yang sejak tadi berdiri didepan pintu yang lupa ditutup oleh Crystal tersenyum kecil.
Crystal yang menyadari jika ada yang memperhatikannya segera mengakhiri tingkah konyolnya tersebut.
“ Se…sejak kapan kamu berdiri disana?...”, tanya Crystal terkejut.
“ Sejak kamu bilang jika perutku tidak berbunyi pasti kita sudah….memang kita mau melakukan apa?... ”, tanya Arnold menggoda.
“ Kau…kau…apa yang ingin kau lakukan ?...”, tanya Crystal ketakutan waktu melihat Arnold berjalan mendekat kearah ranjang.
Hanya satu kali gerakan, Arnold sudah berhasil menerkam tubuh Crystal dan mengukungnya dibawah tubuhnya sambil tersenyum licik.
“ Apa kamu tidak penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya jika saja perutmu tidak berbunyi…”, bisik Arnold tepat ditelinga Crystal.
Nafas hangat Arnold yang menyentuh telingga Crystal dalam sekejap membuat tubuh gadis itu merinding dengan wajah memerah seperti kepiting rebus.
“ Ini…ini tidak benar…”, ucap Crystal tergagap.
“ Apa bedanya sekarang dan nanti ?...kamu akan tetap jadi istriku…”, bisik Arnold dengan suara rendah dan serak.
Suara Arnold yang terdengar sangat sexy membuat tubuh Crystalpun meremang. Jantungnya mulai berdetak sangat cepat dan suhu dalam tubuhnya mulai meningkat.
“ Crystal…kau harus kuat…sadarlah !!!...”, batinnya mengingatkan.
Dengan sekuat tenaga, Crystalpun mendorong tubuh Arnold kesamping dengan nafas memburu akibat pasokan oksigen yang tiba – tiba saja menipis.
“ Aku ingin semuanya dilakukan dengan lembut dan penuh cinta…bukan seperti malam pertamaku…”, ucap Crystal sedih waktu mengingat jika kehormatannya direngut oleh Arnold secara paksa.
Deg…jantung Arnold terasa berhenti berdetak untuk sesaat. Tiba – tiba rasa sakit yang begitu dalam mulai hadir.
Rasa sakit dan penyesalan yang sangat dalam kembali hadir dalam ingatannya. Tangisan yang menyayat hati dan wajah sedih yang begitu dalam terlihat saat dia mengambil paksa kehormatan Crystal karena api cemburu dalam hatinya.
Amarah yang menyelimutinya waktu begitu menguasainya hingga tangisan dan ucapan memohon dari Crystal agar dirinya tidak melewati batas tidak dia dengar.
Dengan kasar dia menjamah tubuh munggil tersebut dan menikmatinya dengan ganas. Hingga membuat tubuh gadisnya mengalami memar yang bahkan setelah seminggu, bekas tersebut masih belum hilang sepenuhnya.
Kali ini dia tidak ingin membuat kesalahan seperti itu lagi. Maka dari itu, pernikahan yang sudah ada didepan matanya tidak ingin kembali dia rusak dengan semua kenangan pahit yang dahulu pernah ada.
“ Maaf…aku berjanji tidak akan menyentuhmu hingga kamu mengijinkan…”, ucap Arnold dengan wajah penuh penyesalan.
Crystal yang melihat betapa menyesalnya Arnold atas kejadian dimasa lalu, membuat hati Crystal tergerak.
Diapun berlahan duduk mendekat dan menangkup wajah Arnold dengan kedua tangannya. Biarlah masa lalu menjadi pelajaran bagi mereka agar kedepannya bisa menciptakan masa depan yang lebih baik.
“ Aku sudah memaafkanmu….hanya saja, sekarang aku masih belum siap…”, ucap Crystal menjelaskan.
“ Aku mengerti….aku akan terus menunggu hingga kamu sudah siap. Aku harap, setelah kita resmi menjadi suami istri kamu sudah siap…”, ucap Arnold sambil mengecup kening Crystal dengan lembut.