
Frans terlihat sangat murka waktu mendapatkan paket sepasang bola mata Gerald yang terbungkus rapi dalam kotak hitam bersulam beludru yang dikirim Arnold.
“ B******n !!!...aku akan membalas perbuatan kalian seratus kali lipat dari yang aku rasakan sekarang !!!...”, ucap Frans penuh amarah.
Mata Frans yang melotot terlihat sangat merah dengan rahang mengeras dan kedua tangan terkepal kuat hingga otot - ototnya terlihat.
Saat ini dia merasakan darah dalam tubuhnya mendidih mendapatkan kiriman paket yang dianggap oleh Frans sebagai tanda Arnold untuk berperang dengannya secara terbuka.
Baru saja dia kehilangan Alexander yang dengan bodohnya percaya dengan penyamaran Crystal yang mengaku sebagai Rose Devil.
Sosok yang hanya legenda dan sama sekali tidak nyata, telah mampu membuat pertahanan Alexander dan anak buahnya hancur seketika.
Cukup sekali dirinya lengah hingga membuatnya kehilangan sosok yang selama ini cukup berjasa untuknya, Alexander dan professor Smith.
Kali ini dia harus bergerak dengan cepat agar putranya tidak meregang nyawa seperti wanita yang sangat dicintainya, Elinor ditangan keluarga Lincoln.
Frans bersumpah kali ini akan benar - benar menghancurkan keluarga Lincoln hingga ke akar – akarnya, apalagi Arnold sudah terang - terangan mengibarkan bendera perang kepadanya.
Dengan kebencian yang sangat dalam, diapun segera meninggalkan kediamannya guna menyelamatkan sang putra dari iblis berdarah dingin itu.
Satu – satunya harapannya saat ini adalah obat yang disuntikkan kepada Crystal sebelum Alexander tewas bisa bereaksi dengan cepat.
Obat itu tidak bertujuan untuk membunuh Crystal seperti obat yang pertama kali disuntikkan kepadanya. Namun lebih bersifat untuk membangkitkan masa lalu kelam yang sempat dilupakan gadis itu pada Arnold.
Masa lalu yang sangat diyakini oleh Frans dapat menggoyahkan rasa cinta yang mulai tumbuh dalam hati Crystal untuk Arnold, lelaki yang tidak pantas untuk dicintai oleh siapapun.
Sementara itu dikediaman utama, Crystal yang baru saja tersadar setelah pingsan seharian merasakan kepalanya sangat sakit.
Dia berusaha untuk duduk sambil memegangi kepalanya yang terasa mau pecah karena banyaknya ingatan buruk yang muncul terus – menerus dengan kedua tangannya.
Berbagai macam ingatan kehidupan sebelumnya tentang penyiksaan yang dilakukan oleh Arnold tergambar jelas disana.
Membuat darah dalam tubuh Crystal mulai mendidih. Rasa sakit dan amarah menjadi satu waktu kembali melihat rekaman penyiksaan yang dilakukan calon suaminya itu dalam kehidupan sebelumnya membuat api dendam dalam hati Crystal mulai berkobar.
Untuk sesaat, hati kecilnya berusaha untuk memadamkan api tersebut dengan mengirimkan kenangan manis bersama Arnold dalam kehidupan keduanya.
Namun, kenangan tersebut dikalahkan oleh rasa sakit yang cukup dalam dirasakannya dulu. Zat – zat yang masuk kedalam tubuhnya tampaknya sudah berhasil mengambil alih akal sehatnya.
“ Dia !!!....yang menyebabkan aku mati !!!...”, guman Crystal penuh amarah.
Matanya dipenuhi oleh kilat kebencian waktu mengingat bagaimana tragisnya dia terbunuh dalam kehidupan sebelumnya.
“ Tampaknya aku cukup terlena dengannya hingga melupakan dendamku pada iblis itu…”, ucap Crystal sambil mengertakkan giginya dengan kobaran api dimatanya.
Tanpa Crystal sadari, dokter Robert sedari tadi mengamati dan mendengar semua kata yang terucap dari bibir gadis itu
Dokter Robert yang sedari tadi mengamati tingkah laku Crystal setelah bangun dari pingsannya, sedikit bergidik ngeri waktu melihat sorot penuh kebencian terpancar jelas diwajah gadis itu.
Membuat suasana dalam kamar menjadi sangat dingin dan mencekam. Hal tersebut juga dialami oleh Emily yang baru saja masuk kedalam kamar.
Aura membunuh dan kebencian yang dalam terasa sangat kental disana, membuat bulu kudu Emily seketika langsung berdiri.
Tanpa berkata, Emily melirik kepada dokter Robert yang masih terpaku ditempatnya. Laki – laki itu hanya mengangkat kedua bahunya sambil memberikan ekspresi binggung terhadap perubahan mendadak Crystal.
Cukup lama dirinya berbicara lewat sorot mata dengan Emily hingga tatapan sangat dingin menembus tubuh membuat keduanya spontan menoleh dan mendapati Crystal sedang menatap keduanya dengan tajam.
Setelah mengambil nafas yang cukup dalam beberapa kali, dokter Robertpun perlahan berjalan ke tepi ranjang dimana Crystal masih duduk terdiam dengan kobaran api yang terlihat jelas dikedua bola matanya.
“ Bagaimana perasaan anda nona?...apa ada yang sakit ?...”, tanya dokter Robert sehalus mungkin.
Tidak menghiraukan kehadiran dokter Robert, diapun kemudian berusaha untuk melepaskan jarum infuse yang menancam dipergelangan tangannya.
Namun belum sempat aksinya itu dijalankan, sebuah tangan kekar sudah berhasil menghalaunya dan langsung menghempaskan tubuh lemah Crystal kedalam pelukannya.
“ Istirahatlah…kamu baru saja sadar…”, ucap Arnold sambil membelai rambut Crystal dengan lembut.
Untuk sesaat Crystal sempat terbuai dengan kelembutan Arnold hingga bayangan kejadian di kehidupan sebelumnya kembali hadir.
Crystalpun dengan kasar mendorong tubuh Arnold dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur sambil menarik selimut hingga menutupi leher jenjangnya.
Arnold hanya bisa menaikkan satu alis matanya binggung melihat sikap kasar Crystal yang baru saja didapatkannya.
Namun, dia tak ambil pusing dan mengira jika gadisnya itu ingin beristirahat karena tubuhnya masih lemah setelah bangun dari pingsannya.
Setelah diperiksa dan dokter Robert mengatakan jika kondisi Crystal sudah stabil, semua orang akhirnya satu persatu mulai meninggalkan kamar.
Crystal baru bisa bernafas dengan lega waktu semua orang telah pergi dan meninggalkannya sendirian. Diapun mulai menyusun rencana dalam otaknya untuk membalaskan dendamnya dimasa lalu terhadap Arnold.
“ Aku tidak boleh lemah….”, batin Crystal menguatkan diri.
Cukup sudah dirinya terlena dan terbuai dengan sikap manis sang iblis hingga melupakan dendam dan semua perbuatan keji laki – laki itu kepadanya dikehidupan sebelumnya.
Sementara itu dalam ruang kerja Arnold, Emily yang merasakan ada sesuatu yang janggal dalam diri Crystal ingin sekali mengutarakan hal tersebut kepada sang bos.
Namun beberapa kali mulutnya ingin berbicara, niat tersebut selalu diurungkan. Tentu saja gerak – gerik Emily yang terlihat cemas sejak meninggalkan kamar Crystal berhasil ditangkap oleh Arnold.
“ Katakan !!!….”, perintah Arnold sambil menatap Emily tajam.
“ Apa tuan tidak merasa jika nona Crystal sedikit berbeda setelah sadar ?...”, tanya Emily cemas.
“ Jelaskan….”, perintah Arnold sambil bersendekap.
“ Sejak saya masuk dalam kamar tadi saya merasakan aura membunuh yang sangat kuat. Rasa ini tidak pernah saya dapati sebelumnya, seberapa besarnya amarah nona Crystal terhadap seseorang. Tapi ini…”, ucap Emily sedikit ragu untuk meneruskan kalimatnya.
“ Apa ?...”, tanya Arnold penasaran.
“ Sepertinya…itu ditujukan untuk tuan…”, ucap Emily hati – hati.
“ Jadi kesimpulannya ?...”, tanya Arnold datar.
“ Sikap nona kembali seperti dulu waktu pertama kali tiba dikediaman. Bedanya, jika dulu nona Crystal yang masih berada dibawah pengaruh nona Adisty tentunya hanya berpikir untuk pergi sejauh mungkin dari tuan, namun nona Crystal yang sekarang….”, Emily kembali ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
Keringat dingin mulai mengucur deras ditubuhnya. Ragu untuk melanjutkan kalimatnya, Emily yang terus ditatap tajam oleh Arnold hanya bisa meremas kedua tangannya sambil menunduk.
“ Teruskan !!!....”, perintah Arnold tegas dan dingin.
“ Takutnya akan membuat tuan terluka…”, ucap Emily hati – hati.
“ Kamu meragukan kemampuanku…”, tanya Arnold tajam.
“ Bu…bukan seperti itu tuan. Maksud saya, mungkin nantinya nona Crystal dapat melukai perasaan tuan…”, ucap Emily dalam satu tarikan nafas.
“ Kamu pikir aku selemah itu !!!!...”, ucap Arnold mencibir.
Setelah mengatakan hal itu, Arnold langsung beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari dalam ruangan meninggalkan Emily yang masih berdiri mematung ditempatnya dengan raut wajah cemas.