Love Destiny

Love Destiny
MISI



Setelah pertengakaran tersebut, Crystal dengan muka ditekuk langsung meluncur ke area perkebunan sawit miliknya bersama Lea dan Vely.


Melihat kondisi Crystal yang sedang tidak baik - baik saja, Vely dan Lea hanya bisa mengikuti kemana sahabatnya itu akan pergi.


Untuk sementara waktu Crystal ingin mendinginkan kepalanya terlebih dahulu ditempat yang lebih sejuk jika dibandingkan dengan area lokasi pertambangan, dan dia memutuskan untuk mengunjungi perkebunan kelapa sawit miliknya.


Selama perjalanan Lea dan Vely memilih untuk diam dan tak bertanya apapun pada Crystal. Mereka membiarkan sahabatnya itu untuk menenangkan diri dulu sejenak.


Mereka sangat tahu bagaimana perasaan Crystal saat ini. Sebagai sahabat, mereka akan selalu mendukung apapun keputusan yang akan diambil oleh Crystal nantinya.


Sesuai janjinya Arnold memberikan waktu buat Crystal untuk berpikir. Meski begitu, dia tetap menempatkan anak buahnya untuk terus mengawasi calon istrinya tersebut dan melaporkan apapun yang terjadi disana setiap hari.


Dengan langkah berat, malam itu juga Arnold terbang kembali ke rumah. Emily menatap sedih sekaligus lega karena tuan mudanya dianggap telah mengambil keputusan yang tepat.


Crystal dan Arnold sama – sama keras kepala dan memiliki ego yang sangat tinggi. Jika salah satu tidak menarik diri seperti sekarang, maka kondisi yang ada akan semakin memburuk.


Setelah kepergian Arnold, Crystal kembali fokus pada permasalahan yang ada dihadapannya. Malam ini dia akan ikut dalam rencana pengrebekan yang akan dilakukan terhadap Santoso di kediaman istri muda Markus yang merupakan gembong narkoba di pulau berlian yang sudah menjadi buronan internasional.


Penjahat yang sudah diburu para petugas selama hampir dua tahun ini selalu gagal ditangkap karena kelihaiannnya dalam melarikan diri dan menyamarkan keberadaannya sehingga sulit dilacak.


Kali ini, berkat Santoso akhirnya keberadaannya berhasil ditemukan oleh pihak kepolisian yang bertekad akan menangkap mereka malam ini juga sebelum rencana yang mrereka susun terendus.


“ Miss…apa anda yakin mau ikut turun. Bagaimana jika saya wakili saja…”, ucap Alvin cemas.


Crystal yang sudah bersiap dengan celana dan kaos warna hitam serta sepatu senada dengan rambut dikuncir ekor kuda tersenyum tipis kearah Alvin.


Disabuk hitam yang digunakan, disamping kanan dan kiri terdapat sebuah pistol dan pisau kecil yang mengantung disana.


Untuk melengkapi penampilannya, Crystal tak lupa memakai topi dan masker hitam yang menutup sebagian wajahnya.


“ Apa aku selemah itu dimatamu ?...”, tanya Crystal sambil tersenyum lebar.


“ Bu…bukan seperti itu miss…hanya saja….”, kalimat Alvin terpotong dan matanya langsung membulat sempurna saat Lea tiba disana dengan penampilan sama persis dengan Crystal.


“ Kenapa kamu ikut juga ?...”, tanya Alvin sambil menguncang bahu Lea dengan keras.


“ Hey…santai bro…woles…”, ucap Lea berusaha menenangkan Alvin.


“ Tidak…kamu tak boleh ikut…”, ucap Alvin tegas.


Lea hanya mengangkat satu alisnya binggung dengan larangan Alvin tersebut, namun sedetik kemudian dia tertawa lebar.


“ Seperti kata Crystal tadi…apakah kami selemah itu hingga kamu sangat khawatir ?...take easy bro….”, ucap Lea sambil menepuk bahu Alvin sebelah kanan sambil tersenyum lebar.


Meski khawatir, namun Alvin juga tak bisa menghalangi keduanya untuk ikut serta dalam misi yang sudah mereka rencanakan.


Apalagi kali ini Markus dan Clara juga terlibat. Lea ingin melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana papanya dengan istri mudanya tersebut tertangkap dan diadili.


Arnold yang mendengar kabar jika tunangannya itu akan ikut andil dalam penangkapan Santoso dan bandar narkoba terbesar di negeri ini, segera menginstruksikan anak buahnya untuk membantu aksi tersebut secara diam – diam dan mengingatkan agar  jangan sampai Crystal terluka.


Vreyan yang berada disisi Arnold hanya bisa mengepalkan kedua tangannya kuat – kuat waktu melihat ada jejak  kekhawatiran yang sangat dalam tersirat dalam instruksi yang diberikan oleh bosnya itu kepada pasukan bayangan yang melindungi Crystal.


“ Sampai kapan wanita iblis itu akan terus membuat ulah dan membuat tuan muda khawatir…”, batin Vreyan geram.


Setelah Arnold memutuskan untuk melangsungkan pernikahan dengan Crystal secepatnya, Vreyan sudah tidak pernah berani lagi untuk melakukan protes ataupun mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.


Mau tidak mau, dengan lapang dada dia harus menerima Crystal sebagai istri dari bosnya, yang secara otomatis gadis itu juga harus dia lindungi seperti dia melindungi dan mempertaruhkan nyawa untuk Arnold.


Sementara Crystal sedang sibuk dengan persiapan penangkapan yang akan dilakukan oleh pihak polres pulau berlian malam ini, Elisabeth sibuk membantai habis orang – orang yang berada disekeliling Frans.


Wanita tua itu ingin segera mengakhiri semuanya ini sebelum Frans semakin berulah. Apalagi kondisi Arnold saat ini sedang dalam kondisi tidak baik – baik saja.


Meski tidak pernah berkata apapun, namun Elisabeth terus memantau hubungan antara Arnold dengan Crystal yang sebentar lagi akan masuk kedalam keluarga besarnya.


Dia tidak ingin pertikaian keduanya akan digunakan oleh Frans untuk memancing didalam air keruh.


Frans yang mengetahui pergerakan Elisabeth terlihat sangat murka. Dengan kekuatan yang semakin melemah dia tidak bisa melakukan pergerakan secara bebas.


Apalagi dia mendengar jika akhirnya Gerald memilih untuk bunuh diri karena tidak kuat menahan siksaan selama menjadi tawanan Arnold.


“ Acrghhhh….b******n semua kalian !!!...”, teriak Frans keras.


Frans terus saja berteriak didalam ruangan tanpa satupun anak buah atau pelayan yang berani masuk dan menghentikan semua kekacauan yang dibuat oleh bosnya itu didalam sana.


Setelah menghancurkan semua barang yang ada dalam ruangan untuk meluapkan emosinya, Frans terduduk dilantai sambil menangis sesenggukan.


Dadanya terasa sangat sesak saat ini waktu kembali mengingat jika anak semata wayangnya akhirnya meninggalkan dirinya menyusul sang mama.


Api dendam dalam hatinya berkobar dengan sangat kuat, dengan mata melotot, rahang mengeras hingga urat – urat yang ada dilehernya terlihat jelas, Frans bertekad akan langsung turun tangan untuk membunuh wanita tua itu.


“ Akan kubunuh kamu dengan tanganku ini !!!...”, ucap Frans berapi – api sambil mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat.


Malam ini juga dia akan mendatangi kediaman utama keluarga Lincold untuk membunuh wanita tua yang sudah merengut nyawa wanita yang sangat dicintainya dan menghancurkan hidupnya sampai ketitik serendah ini.


Frans yang semula terduduk dilantai, kini sudah bangkit dan berjalan menuju sebuah rak buku. Setelah mengambil satu buah buku disana, tiba – tiba almari yang ada dihadapannya mulai bergeser dan memperlihatkan sebuah ruangan tersembunyi didalamnya.


Dengan langkah pasti, Frans segera masuk kedalam ruang rahasia yang berisi aneka macam senjata. Diapun mulai memasukkan kedalam tas hitam yang dibawanya senjata yang akan dia gunakan nanti untuk menghabisi Elisabeth.


Selain mengambil senjata, Frans juga memasukkan beberapa bom dalam ukuran kecil dan beberapa botol racun yang nantinya pasti akan sangat berguna dalam misi yang akan dijalankannya saat ini.


“ Elisabeth….tunggu kedatanganku !!!...”, ucap Frans dengan kilat amarah yang sangat jelas dikedua matanya.