
Hari ini Brian tidak memiliki firasat buruk apapun dan malah asyik makan malam romantis bersama Adisty disalah satu restoran bintang lima.
Mereka menikmati makan malam yang mewah tersebut dengan saling bersenda gurau dan menyalurkan perasaan cinta masing – masing.
Setelah pernyataan cintanya, Brian semakin menampilkan kemesraannya dipublik bersama Adisty. Tidak khawatir jika ada media yang memberitakan soal hubungannya.
“ Brian, kudengar hari ini AN Group menandatangani MOU mengenai proyek pemerintahan yang didapatkannya. Apakah semua berjalan dengan lancar ?...”, tanya Adisty sangat penasaran.
“ Tidak ada masalah…semua sudah beres….”, ucap Brian dengan penuh percaya diri.
“ Lalu, apa kamu tidak khawatir tentang Vely…bagaimana hal itu menganggu perusahaan ?...”, tanya Adisty merasa tak enak hati jika sampai hubungan perusahaan itu memburuk akibat dirinya.
“ Kamu tenang saja sayang. Hubungan kedua keluarga sudah terjalin bertahun – tahun lamanya, hal itu tidak akan mungkin berubah hanya karena ulah anak manja itu…”, ucap Brian sambil mengenggam kedua tangan Adisty agar hati kekasihnya itu tenang.
“ Mereka itu hanya punya uang, tapi nol dalam berbisnis. Jika bukan karena papaku, mereka tentunya tidak akan mendapatkan keuntungan begitu banyak…”, ucap Brian angkuh.
“ Benar juga, kadang orang kaya itu memang tidak ber otak. Bahkan sekarang Vely menjalin hubungan dengan Nicholas yang kondisi perusahaannya tidak sebagus AN Group…”, ucap Adisty menjilat.
Brian terus saja membanggakan kekayaannya dihadapan Adisty, sedangkan kekasihnya itu menyimak semuanya dengan bola mata berbinar karena merasa tangkapannya kali ini sangat bagus, bisa menopang kehidupannya selama tujuh turunan kedepan.
Saat mereka sedang menikmati kemesraan yang ada, tiba – tiba ponsel Brian berbunyi dan tertera jelas nama sang papa dilayar ponsel.
“ Iya pa…”, jawab Brian.
“ Cepat pulang sekarang !!!...”, ucap papa Brian tegas.
“ Ok. Aku akan kembali sekarang…”, ucap Brian tersenyum lebar.
“ Sayang…aku pulang dulu ya untuk merayakan keberhasilan keberhasilan keluargaku…”, Brian berpamitan kepada Adisty dengan mesra.
“ Kamu, pulanglah lebih dulu. Masih ada satu tempat yang ingin kudatangi malam ini… ”, ucap Crystal sambil mendorong tubuh Brian untuk masuk kedalam mobilnya.
“ Nanti kabari aku kalau sudah sampai…”, ucap Brian sambil mulai memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Brian pulang dengan hati senang. Rencananya, malam ini dia akan memberitahukan kepada kedua orang tuanya mengenai hubungannya dengan Adisty.
Sesampainya dirumah, Brian segera berlari untuk menemui kedua orang tuanya dengan senyum lebar yang terus menghiasi wajahnya sejak tadi.
“ Papa !!!...Selamat ya !!!...kapan kita mengadakan perayaan ?....”, ucapnya penuh semangat sambil masuk kedalam ruang keluarga.
PLAKKK !!!....
“ B******n !!!...”, maki Bagus sambil menampar Brian dengan keras.
“ Tenang dulu pa…ada apa?...”, tanya Brian sambil memegang pipinya yang sakit akibat tamparan sang papa.
“ Pa…bicarakan semuanya baik – baik…jangan pakai kekerasan…”, ucap Felita sambil mengusap pipi putranya yang merah terkena tamparan tadi.
“ Apa dia bisa diajak bicara baik – baik…ini hasilnya jika aku selalu bicara baik – baik dengannya…”, ucap Bagus penuh amarah.
“ Ini semua karena kamu yang tidak becus, bagaimana bisa Andreas batal mentransfer dananya ke AN Group, bahkan sekarang dia juga mengambil proyek pemerintahan yang seharusnya milikmu…jadi jangan salahkan Brian atas semuanya…”, Felita berteriak kepada sang suami karena tak terima anaknya disalahkan.
“ Ma…apa yang kamu katakan?...bagaimana bisa ?...bukankah proyek itu memang seharusnya milik kita ?...”, tanya Brian menuntut penjelasan.
Mendengar ucapan sanga mama, bukan menenangkan malah seakan membuat dunia Brian hancur seketika.
Bukan hanya proyek yang gagal didapatkan, namun juga soal hubungannya dengan Vely, yang sudah diakhiri tanpa memberitahukan kedua orang tuanya.
Wajah Brianpun langsung pucat pasi, dia berjalan kearah sofa dengan gontai, karena seluruh tubuhnya terasa sangat lemas tak bertenaga saat ini.
“ Apa lagi yang kau harapkan!!!...apa kamu tidak lihat berita !!!...Andreas sudah mengumumkan pembatalan pertunangan antara putri mereka dengan putra kita !!!...Ini pasti kaibat tindakan anakmu yang bodoh ini !!!....”, ucap Bagus penuh amarah.
“ Apa pa !!!...pembatalan pertunagan !!!...kenapa mereka melakukan semua ini !!!...Mereka sangat jahat !!!...Kita harus menuntut penjelasan dan minta ganti rugi atas semuanya !!!...”, ucap Brian dari tempat duduknya dengan geram.
Brian sama sekali tidak menyangka jika perbuatan kecil yang dilakukannya akan berdampak sangat besar bagi keluarganya.
Selama ini Brian terlalu terbuai, jadi dia menganggap jika sekali lagi menyakiti hati Vely, itu tidak akan membawa pengaruh apapun karena keluarga Wilson sudah berada dalam genggamannya.
Tapi sekarang…memikirkannya saja Brian tak sanggup. Apa yang akan terjadi jika semua temannya, Adisty dan warga kampus bintang tahu akan hal ini.
Perlahan Felita mulai mendekati putra semata wayangnya itu, dan duduk disebelahnya, mulai bertanya dengan hati – hati.
“ Brian, apa benar kamu tidak tahu apa yang menyebabkan keluarga Wilson membatalkan pertunangan yang ada ? Apa kamu melakukan suatu kesalahan hingga membuat mereka murka ?...”, tanya Felita sangat hati – hati.
“ Ma…bagaimana mungkin aku tahu ? aku saja baru tahu kabar itu saat papa bicara tadi…lagipula, selama ini aku selalu jadi anak yang patuh dan selalu berusaha untuk menyenangkan hati Vely. Kenapa sekarang mama menuduhku seperti ini… ”, Brian merasa tak nyaman dengan tuduhan sang mama, meskipun hal itu benar adanya.
“ Bagaimana kamu bisa bilang tidak tahu !!!...Andreas tadi mengatakan padaku agar menanyakan hal ini padamu !!! jelas ini adalah ulahmu !!!...”, ucap Bagus sambil mengebrak meja karena marah.
“ Bagaimana bisa om Andreas menyuruh papa untuk bertanya padaku. Apakah Vely menceritakan semuanya kepada papinya…”, batin Brian gelisah.
“ Tanya…tanya…om Andreas menyuruh papa menanyakan ke aku ?...”, ucap Brian dengan dada berdegub kencang dan keringat dingin mulai mengalir ditubuhnya hingga menetes ke punggung tangannya.
“ Iya Brian, coba kamu ingat – ingat lagi, kesalahan apa yang kamu perbuat pada Vely ? siapa tahu kita masih bisa memperbaikinya…”, ucap Felita sambil mengelus bahu Brian lembut.
“ Papamu sudah berpikir keras, kira – kira apa yang menyebabkan keluarga Wilson berubah seperti ini. Padahal sebelum – sebelumnya kita tidak pernah memilki permasalahan serius yang membuat mereka menyerang balik kita seperti ini. Dan jika diteruskan, maka kitalah yang hancur …”, ucap Felita cemas dengan kondisi mereka jika AN Group sampai bangkrut.
“ Terakhir kali papa suruh untuk memberi hadiah pada Vely, apa sudah kamu lakukan ? Apa kamu benar – benar tidak membuat Vely marah ?...”, Bagus masih menatap curiga putranya itu.
Wajah Brian semakin bertambah pucat waktu sang papa bertanya seperti itu. Bagaimanapun juga, dia sangat sadar jika semua ini karena ulahnya.
Tapi Brian tidak berani berkata jujur jika tidak ingin mati ditangan sang papa yang saat ini sedang kalut memikirkan nasib perusahaannya.
Brian berusaha untuk menelan ludahnya agar bisa berbicara setenang mungkin hingga kedua orang tuanya tidak curiga.
“ Bagaimana mungkin aku membuatnya marah pa.... Bahkan dia memperlakukan aku seburuk apapun aku tetap sabar mengahadapinya…”, ucap Brian beralasan.
Felita dan Bagus mencoba untuk mencerna setiap kata yang Brian ucapkan dan melihat putra semata wayangnya itu cukup lama.
“ Aku sudah melakukan semua yang diinginkan oleh mereka, namun apa balasannya. Mereka mendepak kita, seolah – olah barang tak berguna…”, ucap Brian mencoba memprovokasi dalam suasana keruh seperti ini.
Bagus membenarkan ucapan sang putra hingga darahnya kembali mendidih karena merasa bahwa keluarga Wilson telah menganggap remeh mereka.
Maka dari itu, Bagus bertekad akan membuat perhitungan dengan mereka esok pagi. Demi menyelamatkan harga diri keluarganya.