Love Destiny

Love Destiny
KEBAHAGIAAN ELISABETH



Dirumah utama,


Semua orang satu persatu masuk kedalam salah satu ruangan yang ada dalam mansion mewah tersebut untuk melakukan pemeriksaan.


Sambil menunggu antrean, semua anggota terlihat sibuk menghabiskan waktu untuk bercengkrama antara yang satu dengan yang lain.


Bukan hanya membicarakan soal bisnis, namun juga hal lainnya yang berhubungan dengan keluarga mereka masing – masing.


Meski terdengar ricuh dan bising, namun hal tersebut membuat senyum lebar Elisabeth terus mengembang diwajah keriputnya, menyaksikan seluruh keluarga besarnya berkumpul dalam kehangatan seperti itu.


Saat Arnold masuk kedalam ruang pemeriksaan, Elisabeth juga ikut masuk. Dia ingin melihat sendiri bagaimana hasil perkembangan kesehatan cucu kesayangannya itu.


Beerapa dokter senior yang memeriksa kondisi kesehatan Arnold terlihat muram. Hal itu tentu saja membuat Elisabeth sedih.


Namun tidak dengan Arnold, setelah salah satu perawat mengambil darahnya, dia dengan santai meminum air putih yang tersedia diatas meja dengan wajah acuh, tak perduli dengan hasil kesehatan yang akan diterimanya beberapa jam lagi itu.


“ Dokter Philip…dokter Robert…katakan padaku dengan jujur, jangan berbelit – belit, bagaimana kondisi cucu kesayanganku saat ini  ”, ucap Elisabeth dengan wajah cemas.


Dokter Philip melirik Arnold sekilas, menghela nafas berat tanpa mengatakan apapun. Tentu saja tindakan psikolog pribadi Arnold tersebut mengundang kecurigaan Elisabeth.


“ Dokter Philip…kenapa kau menatapnya ? aku bertanya padamu !!!…”, ucap Elisabeth tajam.


Dokter Philip pun terdiam sesaat, berusaha menimbang – nimbang kata yang ingin diucapkannya agar wanita tua dihadapanya tidak terlalu cemas.


“ Kondisinya masih sama…”, ucap dokter Philip sambil menghela nafas panjang.


“ Jangan menipuku !!!...kau bilang padaku dia hanya tidur beberapa jam kemarin, dan beberapa jam dihari sebelumnya, dan juga beberapa jam kemarin lusa !!!...”, gerutu Elisabeth.


“ Sehari sebelum kemarin, hipnotis gagal…dan sehari sebelumnya, itu juga gagal…karena semalam tuan Arnold tidak masuk kedalam kamarnya, jadi saya tidak bisa memberikannya perawatan…”, ucap dokter Philip berusaha menjelaskan.


“ tiga hari !!!...tidak tidur selama tiga hari, lagi !!!...”, teriak Elisabeth marah.


Dokter Philip tidak berani mengatakan pada wanita tua yang ada dihadapannya itu jika Arnold sangat mengerikan seminggu terakhir ini.


Bahkan dokter Philip sudah bersiap – siap jika kemarin adalah batas akhir tubuh Arnold dan sangat cemas dengan kondisi tubuh pasiennya itu.


Tapi sekarang dia cukup terkejut saat melihat kondisi tubuh Arnold tidak seburuk yang dia bayangkan. Tiba - tiba dokter Philip bergidik ngeri saat melihat fakta bahwa kondisi tubuh tuan mudanya itu segar bugar. Untuk orang normal kondisi yang dialami Arnold tidak akan membuatnya bertahan lama.


" Benar - benar monster....", batin dokter Philip ngeri


Dokter Robert yang cukup mengetahui kondisi kesehatan tubuh dan psikis Arnold akhirnya mulai bersuara karena tidak ingin sahabatnya itu terus dipojokkan oleh Elisabeth.


“ Nyonya, saya tidak akan menyembunyikannya dari anda. Dua tahun belakangan ini kondisi tuan muda semakin memburuk. Gangguan tidur yang dialaminya semakin mempengaruhi temperamennya dan jika kita tidak menemukan obat yang efektif dengan segera, saya takut…”, ucap Robert menghela nafas panjang,  tidak berani melanjutkan kalimatnya.


“ Apa gunanya aku membayar kalian mahal – mahal jika tidak bisa memikirkan obat yang cocok untuk cucuku !!!...bahkan memecahkan kasus kecil seperti insomnia saja kalian tidak becus !!!...”, hardik Elisabeth penuh amarah.


“ Nyonya…masalah insomnia tuan muda itu terletak di psikologisnya. Setiap dia dalam suasana hati yang baik, maka dia bisa tidur lebih nyenyak dalam tempo yang lama. Tapi, setiap kali tuan muda memiliki suatu permasalahan dan membuat perasaannya buruk, maka dia tidak akan bisa tidur, meski hanya semenit…”, ucap dokter Philip dengan nada tak berdaya.


“ Kalau begitu, pikirkan sesuatu untuk bisa memperbaiki moodnya setiap hari !!!...”, ucap Elisabeth semakin tajam.


“ Anda tentunya sangat tahu betapa buruknya temperamen cucu anda. Meningkatkan suasana hatinya , itu hanya mudah untuk dikatakan daripada dilakukan…”, batin dokter Philip menagis darah berada dalam situasi tersebut.


Tepat, ketika semua sedang bersitegang membahas tentang dirinya, menjadikan aura ruangan menjadi dingin seketika, dengan santainya Arnold duduk di sofa sambil melirik ponsel yang ada dalam genggamannya dan tertawa kecil.


“ Oh…”, gumannya sambil tertawa.


Dokter Philip yang baru saja merenungi setiap perkataan yang diucapkan Elisabeth, tanpa sadar pandangan matanya mengarah pada cucu kesayangan wanita tua itu yang sedang duduk santai disofa.


Manusia minim ekspresi tersebut saat ini terlihat sedang tersenyum lebar. Bukan senyum iblis andalannya atau senyuman mengejek dan kejam, tapi sungguh – sungguh senyuman normal untuk orang pada umumnya.


Bukan hanya dirinya dan dokter Robert yang terkejut, namun Elisabeth adalah orang yang paling terkejut dengan senyuman yang ditunjukkan Arnold hari ini.


Tubuh wanita itu bergetar dengan mata berkaca – kaca melihat pemandangan didepannya. Dia belum pernah melihat senyuman diwajah Arnold  dalam waktu yang sangat lama.


Dalam sekejam mata, seolah – olah gunung es ribuan tahun membeku akhirnya jatuh  dan mencair. Wajah Arnold  yang  datar dan dingin saja sudah sangat tampan, apalagi saat tersenyum seperti itu.Tentu  kadar ketampanannya akan bertambah berkali – kali lipat. Membuat siapa saja akan langsung meleleh dibuatnya.


“ Sejujurnya, setelah berada disisi tuan Arnold dalam waktu cukup lama, aku bahkan tidak pernah melihatnya tersenyum. Dan ini tadi apa….benarkah dia tersenyum…”, batin dokter Philip takjub.


“ Aku saja yang laki – laki sangat terpesona saat melihatnya tersenyum, apalagi wanita…”, batin dokter Robert terpesona.


“ Arnold…apa yang kamu lihat ?...kenpa kamu sangat bahagia ?...”, ucap Elisabeth dengan gugup.


Untuk sesaat Elisabeth sangat takut bahwa apa yang dilihatnya adalah sebuah ilusi, jika dia memejamkan mata dan membukanya kembali maka apa yang baru saja dilihatnya akan segera hilang.


“ Chat dari pacarku nek…”, ucap Arnold lembut dan hangat.


“ Pacar !!!....”, teriak Elisabeth terkejut dengan  apa yang baru saja didengarnya.


“ Arnold, kamu beneran punya pacar !!!....”


“ tidak heran…”


“ tidak heran kamu kelihatan berbeda hari ini…”


“ lebih hangat dan lebih hidup…”


“ Kamu benar – benar jatuh cinta sayang….”


“ Gadis seperti apa dia…”


“ Umur berapa….”


“ apa pekerjaannya…”


*


“ bagaiman keluarganya…”*


“ Dan siapa namanya….”, cerca Elisabeth menuntut jawaban dari cucu kesayangannya itu secepatnya.


Dokter Philip yang berdiri didepan Elisabeth mulai berpikir tentang semua perkataan yang diucapkan oleh Arnold barusan.


“ pacar…tunggu dulu…dia tidak akan bilang kalau itu nona Crystal yang sering berpenampilan aneh dan bertingkah absurd…”, batin dokter Philip berusaha menghapus pemikirannya.


“ Crystal Abraham, putri bungsu Abraham… ”, ucap Arnold bahagia waktu menyebutkan nama tunagannya itu.


“ Benar....itu dia…”, batin dokter Philip lemas mendengar fakta  itu.


Saat ini, dokter Philip merasa bahwa tulang – tulang dalam tubuhnya melunak dan berubah menjadi jelly. Hampir saja tubuhnya jatuh ke lantai jika tidak disanggah dengan cepat oleh dokter Robert yang berdiri disampingnya.


“ Crystal…nama yang sangat bagus…”


“ Cantik dan berkilauan…”


“ Dasar nakal…”


“ bagaimana kamu bisa menyembunyikan semua ini dari nenek…”


“ Nenek sudah tidak sabar melihatmu menikah….”


“ Dan mempunyai cicit yang lucu…”


“ Nenek sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya…”


“ Kapan kamu akan memperkenalkannya secara resmi kepada nenek…”  ucap Elisabeth memborbardir Arnold dengan berbagai macam pertanyaan.


“ Aku akan menayakan kepadanya…”, ucap Arnold masih dengan nada lembut.


“ BIlang saja ini hanya silaturahmi, pertemuan biasa saja…jangan membuatnya takut….”, ucap Elisabeth bersemangat.


“ Hmm….”, Arnold hanya berdehem sambil pandangan matanya tidak lepas dari layar ponsel yang ada dalam genggamannya.


“ Apa makanan kesukaan Crystal, aku akan menyuruh koki untuk membuatnya…”, ucap Elisabeth dengan mata berbinar.


“ Dia pemakan segalanya, tidak pilih – pilih…”, ucap Arnold sambil sibuk membalas pesan - pesan yang masuk kedalam ponselnya.


“ Bukan pemilih…itu sangat bagus…”, ucap Elisabeth gembira.