Love Destiny

Love Destiny
LULUS



Setelah keluar dari rumah sakit, Crystal benar – benar tidak diijinkan oleh Arnold untuk pergi kemanapun jika itu bukan sesuatu hal yang sangat penting.


Bahkan untuk pergi kekampus saja Crystal harus membuat planning terlebih dahulu yang harus diserahkan kepada Arnold untuk dievaluasi mana saja yang dirasa penting untuk didatangi.


Arnold tidak mau Crystal terlalu banyak aktivitas yang dapat membuat istrinya tersebut  kecapean dan akhirnya berujung masuk kembali kerumah sakit.


Agar semua pekerjaannya tidak terganggu dan berjalan dengan lancar, Arnoldpun kembali memindahkan kantornya dirumah sambil menjaga sang istri. Arnold benar – benar menjadi suami siaga bagi Crystal saat ini.


Meski berat hati, Crystalpun mematuhi semua aturan yang telah dibuat oleh suaminya untuk dirinya. Toh...semua itu dilakukan oleh Arnold untuk kebaikan dirinya serta anak yang ada dalam kandungannya.


Tak terasa waktu cepat berlalu, waktu ujian skripsi yang ditunggu – tunggu pun akhirnya tiba juga. Vely, Lea serta  Arnold dengan sabar dan setia mendampingi Crystal melalui moment yang paling menegangkan tersebut.


Meski mereka sangat yakin jika Crystal bisa lulus dengan nilai sempurna, namun hal tersebut tampaknya masih belum bisa membuat hati ketiganya merasa tenang hingga kata lulus diberikan oleh dosen penguji kepada Crystal.


Bukan hanya Arnold dan sahabat Crystal saja yang cemas, Emily yang juga menunggu diluar bersama tuan mudanya itu terlihat sedang meremas – remas telapak tangannya untuk menutupi rasa gugup yang sedang melandanya, menunggu nyonya mudanya itu keluar dari ruang sidang.


Wajah semua orang terlihat sangat tegang menunggu pintu ruang sidang dimana Crystal sedang mempertanggung jawabkan tugas akhirnya terbuka.


Setelah menunggu hampir tiga puluh menit, akhirnya pintu yang ditunggu – tunggu oleh semua orang mulai terbuka.


Dari balik pintu keluar seorang wanita dengan perut buncit berjalan perlahan sambil menunduk. Crystal keluar dengan wajah lesu membuat benak semua orang dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan.


“ Apa ujiannya tidak berjalan lancar ?...”


“ Kenapa mukanya ditekuk seperti itu…”


“ Tidak mungkin kan jika dia gagal…”


“ Apa ada hal buruk yang terjadi didalam sana ?...”


Itulah semua pertanyaan yang ada didalam benak semua orang begitu melihat Crystal berjalan lemas dengan wajah ditekuk pada saat keluar dari ruang sidang.


Meski banyak pertanyaan yang hendak mereka ucapkan saat ini, namun entah kenapa kata – kata tersebut seakan sulit untuk keluar dari mulut semua orang.


Membuat ketiganya hanya bisa menatap iba kearah Crystal. Melihat semua orang menatapnya dengan wajah cemas, Crystal yang sudah tidak kuat lagi untuk ber aktingpun mulai bersuara.


“ Aku lulus !!!...”, teriak Crystal dan langsung memeluk sang suami dengan erat.


Semua orang spontan tersenyum lebar dengan wajah penuh kebahagiaan mendapat kabar mengembirakan tersebut.


“ Selamat ya sayang…”, ucap Arnold bahagia.


Semua orangpun segera memberikan ucapan selamat kepada Crystal karena akhirnya bisa menyelesaikan studinya dengan nilai yang sempurna.


Abraham, Selvi, dan Leony yang baru saja datang terlihat berwajah cerah begitu mendengar kabar bahagia yang keluar dari mulut Crystal tersebut.


Mereka bertigapun spontan langsung  memeluk Crystal dengan erat. Akhirnya satu fase dalam kehidupan Crystal telah berhasil dilaluinya.


Sekarang, Crystal dan semua orang mulai fokus pada bayi yang ada dalam kandungannya. Semua turut menjaga pola makan dan asupan gizi yang masuk kedalam tubuh Crystal agar bayi tersebut bisa tumbuh sehat sampai tiba waktu melahirkan.


Crystalpun merasa lega karena sekarang fokus pikirannya hanya pada satu titik, yaitu bayinya. Dia sangat berharap bayi tersebut bisa lahir dengan selamat tanpa kekurangan apapun.


Menyadari jika kandungannya sedikit lemah, Crystalpun sekarang lebih patuh dan penurut. Hal tersebut tentu saja membuat Arnold dan Selvi bahagia karena mereka tidak perlu mengeluarkan energy lebih untuk memarahi Crystal dengan berbagai macam pola tingkah lakunya yang kadang membuat semua orang sakit kepala.


Semua rutinitas tersebut dilakukan Crystal setiap hari untuk mengisi waktu kosongnya, hingga tak terasa waktu melahirkanpun sudah semakin dekat.


Jika sesuai dengan perkiraan dokter, dua minggu lagi Crystal akan melahirkan. Arnoldpun sebagai suami semakin perhatian dengan kondisi sang istri yang mulai kesulitan untuk duduk dan berdiri dengan kondisi perut yang semakin membesar.


Selama kehamilan ini tubuh Crystal semakin kurus hanya perutnya saja yang semakin membuncit. Untungnya semua nutrisi yang dimakannya masuk kedalam tubuh si baby sehingga selama kehamilannya ini asupan dan gizi sang baby tidak mengalami kendala.


Arnold yang tidak tega melihat kondisi sang istri sempat berunding dengan mertua dan istrinya bagaimana jika melakukan operasi cesar untuk meminimalisir resiko yang ada, mengingat lemahnya konidisi kandungan dan tubuh Crystal saat ini.


Meski saran tersebut bagus, namun  Crystal menolak dengan tegas. Dia ingin merasakan semua proses menjadi seorang ibu.


Merasakan bagaimana seorang wanita berjuang dengan mempertaruhkan nyawanya demi lahirnya sang buah hati. Semua itu ingin dilaluinya secara normal.


Menghadapi kekeras kepalaan Crystal, semua orang pun akhirnya menyetujui keputusannya selama hal tersebut tidak membahayakan nyawa ibu dan bayi yang ada dalam kandungannya.


Malam harinya, seperti biasanya Arnold suad berada didapur untuk membuatkan susu ibu hamil buat Crystal sebelum istrinya itu mulai tidur.


Namun, wajahnya langsung menegang begitu masuk kedalam kamar dan melihat darah keluar dari kaki sang istri yang pingsan diatas sofa dengan buku tergeletak dilantai.


“ Sayang…bangun sayang…”, ucap Arnold panik.


Dia mulai menepuk – nepuk pipi Crystal berharap istrinya tersebut sadar dari pingsannya. Namun usahanya tersebut gagal, tidak mendapatkan respon membuat Arnold segera menggendong tubuh sang istri dan membawanya masuk kedalam mobil.


Emily yang sedang bercengkerama di teras depan dengan beberapa orang bodyguard dan penjaga malam itu langsung melarikan mobil dengan kecepatan tinggi begitu majikannya tersebut sudah berada didalam mobil.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Arnold tak henti – hentinya berusaha membangunkan sang istri dengan wajah panik karena melihat darah segar terus saja mengalir di kaki Crystal.


Sesampainya diruamh sakit, Crystal langsung ditangani oleh para petugas medis yang membawanya keruang unit gawat darurat begitu tiba di sana.


Untungnya dokter kandungan Crystal malam ini ada jadwal operasi sehingga kondisi Crystalpun dapat cepat tertangani.


“ Melihat kondisi nyonya Crystal saat ini maka kita harus segera melakukan tindakan operasi agar ibu dan bayinya bisa terselamatkan…”, ucap dokter Arum menjelaskan.


“ Lakukan yang terbaik dok…asalkan istri dan anak saya selamat…”, ucap Arnold dengan wajah cemas.


Tak ingin membuang waktu lagi, dokter Arum dan tim langsung membawa Crystal menuju meja operasi untuk mengeluarkan bayi yang ada dalam kandungannya.


Sambil menunggu sang istri selesai dioperasi, Arnoldpun menghubungi mama mertuanya untuk memberikan kabar jika Crystal sedang menjalani operasi secar.


Selvi yang masih belum tidur sangat terkejut waktu mendapatkan jika snag putri pengalami pendarahan dan sekarang sedang berada dimeja operasi.


“ Pa…ayo bangun. Crystal pa…Crystal masuk rumah sakit…”, ucap Selvi dengan air mata yang bercucuran.


Abraham yang baru saja terlelap setelah meminum obat langsung terbangun begitu mendengar sang putri kembali masuk rumah sakit dan istrinya menangis tersedu – sedu.


“ Ayo ma…”, ucap Abraham sigap.


Abraham langsung bangun dan mengambil mantel yang tergantung dialmari, mengantongi dompet dan mengambil  ponselnya yang tergeletak diatas nakas.


Begitu juga dengan Selvi yang langsung menyambar tas yang ada di atas meja rias dan langsung turun menyusul suaminya yang sudah mulai memasuki garasi.


Selama perjalanan Selvi dan Abraham tak henti – hentinya memanjatkan doa agar cucu mereka bisa lahir dengan selamat dan tidak terjadi sesuatu hal yang buruk dengan Crystal.