Love Destiny

Love Destiny
Epson 305



Di sebuah rumah besar seorang gadis sedang merutuki dirinya sendiri, kenapa dia bisa mengajak Rafael untuk makan malam.


Terus sekarang apa yang harus ia lakukan, Felly merasa gugup dengan waktu yang begitu cepat berlalu.


"Sayang kau kenapa hmmmmm?" Tanya nyonya Alicia, saat melihat putri tunggalnya mondar-mandir di depan kaca.


"Ah, mom jantungku hampir saja copot." Ucap Felly, nona Alicia tertawa kecil melihat tingkah lucu Felly.


"Kau itu kenapa dan apa yang membuat putriku gelisah?" Tanya nyonya Alicia.


Felly menghela nafasnya saat melihat tuan James yang juga masuk kedalam kamar nya, tuan James mengecup kening nyonya Alicia juga kening Felly.


"Kau gugup girls." Goda tuan James.


"Iya, eh ti_tidak kenapa aku harus gugup." Ucap Felly, sungguh kehadiran Felly membuat mansion yang tadinya dingin dan sepi terasa lebih hidup dan lebih ramai.


Apalagi jika Felly yang sudah dibuat kesal oleh para pelayan pribadi nya, sudah lah gadis itu akan terus mengoceh dan berdialog di hadapan para pelayan nya.


"CK, kau tidak perlu gugup. Bukankah kamu yang mengajak Rafael makan malam." Ucap tuan James.


"Tidak, ish iya aku yang mengajak itu karena dia membuatku terpojokkan." Ucap Felly, nyonya Alicia tertawa.


"Biarkan saja bukankah Rafael tampan." Goda nyonya Alicia.


"Tampan, apa kau harus mencari lelaki tampan?" Tanya nya.


"Hei, Daddy mu tampan mom mu cantik lalu lelaki seperti apa yang kau cari?" Canda tuan James.


"Yang baik yang aku inginkan." Jawab nya.


"Rafael baik bukan." Goda nyonya Alicia.


"Huuuuuuuhhhhh, ya semua orang itu baik." Ucap Felly, tuan James tertawa senang melihat Felly yang sudah mau beradaptasi dengan nya.


"CK, jangan merengut masam seperti itu." Kekeh tuan James, saat tuan James sedang bercanda dengan anak dan istrinya tangan kanan tuan James datang.


"Permisi tuan maaf saya mengganggu anda." Ujar nya, tuan James mengangguk dengan wajah datar nya.


"Ada apa?" Tanya tuan James to the points.


"Ada sesuatu yang harus anda periksa tuan." Jawab orang itu.


"Baik, pergilah lebih dulu aku akan menyusul." Ucap tuan James, orang itupun kembali mengangguk dan pergi.


"Dad ada pekerjaan sayang, baik-baik girls jangan lupa bahagia oke." Ucap tuan James, ia mengelus kepala Felly dan mengecup kening sang putri.


Setelah itu tuan James melakukan hal yang sama kepada istrinya, seperti itulah tuan James yang di kenal kejam kepada lawan namun tidak dengan keluarga nya.


"Baik-baik, pastikan putriku bahagia." Ucap tuan James, nyonya Alicia Mun mengangguk dan tersenyum.


Setelah kepergian tuan James nyonya Alicia menuntun Felly ke ruang ganti, nyonya Alicia memilih beberapa dress untuk dipakai oleh Felly.


Saat Felly mencoba dress yang dipilihkan oleh nyonya Alicia, Felly menanyakan sesuatu yang membuat nyonya Alicia tersenyum.


"Mom." Panggil Felly.


"Iya sayang." Sahut nyonya Alicia menatap putrinya.


"Kenapa mom bisa berpisah dengan Felly?" Tanya Felly, nyonya Alicia menangkup wajah cantik putrinya.


"Karena itu mom lakukan untuk keselamatan mu." Ucap nyonya Alicia.


"Sungguh? Mom tidak berniat untuk membuangku bukan?" Tanya nya.


"Tentu saja tidak kau putriku satu-satunya, aku tidak ingin jauh dari buah hati tercinta ku." Ucap nyonya Alicia, mengecupi wajah Felly.


Felly memeluk nyonya Alicia ia merasa wanita yang dipeluknya benar-benar tulus, Felly bersyukur karena ternyata orang tuanya masih hidup dan lengkap.


Saat keduanya tengah berpelukan seorang pelayan wanita datang, dan memberi tahu jika Rafael sudah tiba di mansion Wilthon.


Nyonya Alicia menggandeng tangan Felly dan kini mereka sudah berdiri di hadapan Rafael, nyonya Alicia terpesona dengan ketampanan tuan muda Richard ini.


"Kau cantik." Ucap Rafael memuji Felly, nyonya Alicia selalu dibuat terkejut dengan sikap Rafael yang sulit di tebak.


"Ya, karena jika aku tidak cantik aku tidak akan mau berada di dekatmu." Ucap Felly.


"Kenapa?" Tanya El.


"Hmmmmm, baiklah ayok." Ajak El, Felly menatap nyonya Alicia.


"Ingat kata dad mu, berbahagia lah." Ucap nyonya Alicia, Felly mengangguk.


Setelah selesai pamit merekapun pergi ke suatu tempat, Felly yang mengajak makan malam namun Rafael yang menyiapkan semuanya.


Saat tiba di tempat tujuan Felly dibuat tercengang dengan apa yang dilihatnya, apa ini? Benarkah Rafael yang menyiapkan semua ini.



"Ngapain tuh liat-liat." Ucap El.


"Ini kamu yang menyiapkan?" Tanya Felly.


"Kang kebun fell yang siapin semuanya." Jawab El nyeleneh dan membuat Felly tertawa.


"Yaudah lah aku makan malam sama kang kebun aja." Ucap Felly, sambil berjalan.


"Gini ya kalo anak maf*a gak bisa di romantisin." Ucap El.


"Sejak kapan tuan muda menjadi lelaki yang seperti itu." Tanya Felly, kini keduanya saling menatap.


"Sejak kamu hadir, sejak kamu pergi dari rumah paman dan bibi kamu, juga sejak kamu nangis malam-malam dipinggir danau." Ucap El, Felly terdiam.


"Cieee diem-diem merhatiin." Goda Felly, kini Rafael yang dibuat salah tingkah.


"Makan fell jangan bawel." Ucap El.


"Haha, siap tuan muda." Goda Felly, El hanya mendengus saja.


Kini keduanya sedang makan malam, bahkan Felly tidak menyangka jika Rafael bisa seromantis itu. Apakah ia seperti itu kepada setiap wanita, tapi sepertinya tidak jika melihat keterkejutan nyonya Alicia dan tuan James mengenai sikap El terhadap Felly.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading πŸ˜ŠπŸ€— jangan lupa like komen dan vote nya πŸ™πŸ˜‰


N**: Fell tukar posisi yok πŸ˜‚


A: Semua aja Lo ajak tukar posisi Uun 😌


N: Gue pengen digituin masalah nya🀣


A: Ya nyari pacar lah, jangan hallu Mulu 😌


N: Bisa-bisa nya ngomong gitu, padahal Lo yg bikin gue bapeureu😏


A: πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Mon maap 😁


N: Solimi sekali anda πŸ˜’


**A: πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚***