Love Destiny

Love Destiny
HUJAN



Rintik hujan yang mengguyur pagi ini membuat udara disekitar turun secara drastis. Semua orang terlihat masih setia berada diatas peraduannya.


Begitu juga Crystal yang terus menelusupkan tubuhnya ketubuh Arnold untuk mencari kehangatan. Arnold yang sudah terbangun sejak tadi membenarkan selimut yang merosot dari tubuh gadisnya dan memeluknya dengan erat.


Sambil menatap wajah teduh Crystal yang berada dalam dekapannya, sesekali Arnold mengecup pucuk kepala gadisnya itu dengan lembut.


Sebenarnya Arnold sudah cukup tersiksa sejak semalam karena hewan buasnya tidak mau tertidur. Begitu juga dengan pagi ini, namun dia juga tidak ingin memaksa Crystal untuk memuaskan hasratnya.


Jika begini, ingin sekali Arnold secepatnya menikahi gadisnya itu agar hewan buasnya bisa keluar kapan saja, dan tidak terkurung seperti ini.


“ Pagi sayang…”, ucap Crystal menggeliat.


“ Pagi…”, Arnold langsung mengecup kening Crystal cukup lama.


“ Jam berapa sekarang ?...”, tanya Crystal masih dengan mata yang sedikit tertutup.


“ Jam enam, tidurlah lagi…”, ucap Arnold kembali memeluk tubuh gadisnya itu dengan erat.


“ Aku harus pergi kekantor dulu pagi ini sebelum kekampus…”, ucap Crystal sambil menelusupkan kepalanya ke dada bidang Arnold, mencari kehangatan.


“ Jangan terlalu diforsir…”, ucap Arnold mengingatkan.


Crystal hanya mengangguk sebagai respon perhatian Arnold tanpa mengubah posisi tubuhnya, membuat lelaki itu tanpa sadar menyungingkan senyum manis melihat tingkah gadisnya yang sangat mengemaskan pagi itu.


Saat menggerakkan tubuhnya, mata Crystal terbuka lebar waktu merasakan sesuatu yang keras berada di sekitar area perutnya. Meski dia baru sekali bercinta, namun Crystal bukanlah gadis polos yang lugu.


Dia tentunya paham apa yang sedang terjadi sekarang. Dengan perlahan dia mulai melepaskan pelukan Arnold dan langsung ngacir keluar.


Arnold melihat Crystal keluar dari kamar dengan tergesa – gesa hanya bisa menaikkan satu alisnya, tapi sekian detik dia terkekeh waktu melihat ada sesuatu yang bangun dibawah sana.


“ Tampaknya aku harus mempercepat pernikahanku…”, guman Arnold geli.


Diapun segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya dan menidurkan sang binatang buas.


Sementara itu, Crystal yang berada dalam kamarnya tiba – tiba tubuhnya meremang saat mengingat kembali kejadian barusan.


“ Kenapa aku ngerasa ngilu ya…”, guman Crystal bergidik ngeri.


Tidak ingin terus mengingat hal tersebut, Crystalpun kembali fokus akan tujuannya pagi ini. Diapun segera bergegas memakai baju dan merias diri.


Setelah siap, Crystal melewatkan sarapan dan langsung pergi saat melihat ruang makan masih dalam keadaan kosong.


Sambil menikmati rintik hujan pagi ini Crystal mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang untuk menikmati pagi hari yang syahdu.


Para petugas keamanan yang berada disana sedikit terkejut waktu melihat kedatangan Crystal yang dinilai sangat pagi itu.


Namun kecurigaan mereka hilang saat melihat Andrew dan Rose datang tak lama setelah Crystal masuk kedalam lift.


“ Lembur lagi ?...”, tanya salah satu security waktu Andrew melakukan absensi.


“ Hmm…seperti biasa…”, ucap Andrew dan Rose yang langsung naik ke ruangan mereka.


Bersama Andrew dan Rose, Crystal mencari berkas sesuai yang digambarkan Leony kepadanya. Cukup lama mereka mencari pada rak yang diinformasikan kakaknya itu, namun buku yang dicari belum juga ketemu.


“ Apa tidak salah miss….disini tidak ada lho…”, ucap Andrew sambil terus menyisir rak sebelah kiri.


“ Disini juga tidak ada nona…”, ucap Rose waktu menyisir rak buku sebelah kanan.


“ Terus cari lebih teliti lagi…”, ucap Crystal sambil sibuk membuka laci dan almari pendek yang ada disana.


Crystal terus saja mencari sambil menyapukan pandangannya keliling ruangan hingga tiba – tiba pandangan matanya tertuju pada rak kecil yang menggantung diatas dengan posisi yang sedikit tersembunyi.


“ Apa itu ya ?…”, guman Crystal sambil mengambil satu kursi dan menaikinya.


“ Ketemu !!!…”, ucap Crystal dengan mata berbinar.


Diapun segera turun dari kursi setelah menutup kembali almari tersebut dengan rapat. Crystal kemudian menginstruksikan kepada Andrew dan Rose agar membersihkan dan membereskan ruangan seperti sedia kala.


Setelah mengambil buku besar dan map berwarna putih serta beberapa berkas yang ada didalam almari milik Leony, Crystal segera menyimpannya kedalam brankas yang ada dalam ruangannya.


“ Ndrew…selesaikan ini sebelum siang…”, ucap Crystal sambil memberikan catatan kepada asistennya itu sebelum pergi.


Setelah semua urusan dikantornya beres, Cryslpun bergegas menuju kampus bintang untuk mengikuti mata kuliahnya pagi ini.


Langit terlihat semakin gelap dan hujan turun dengan  lebatnya pagi ini sehingga membuat pandangan kedepan terbatas akibat curah hujan yang tinggi.


Crystal mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah hingga sampai ke kampus bintang. Setelah memarkirkan mobilnya, Crystal yang hendak turun sedikit kebingungan karena ternyata didalam mobilnya tidak ada payung.


“ Jika nekat lari…bisa bayah kuyup sampai kelas. Mana nggak bawa baju ganti lagi…hufffttt…..”, batin Crystal resah.


Diapun kemudian coba mengirim pesan ke beberapa temannya, berharap ada salah satu dari mereka yang membalas pesan tersebut.


Namun karena hujan lebat, tampaknya jaringan internet juga mengalami gangguan sehingga pesannya masih belum terkirim.


Crystal berusaha menelpon, namun lagi – lagi sinyal ponselnya menghilang hingga sambungan teleponnya gagal. Saat sedang sibuk dengan ponsel yang ada ditangannya, tiba – tiba pintu kaca mobilnya diketuk orang dari luar.


“ Mr. Alexander ?...”, guman Crystal sambil menyipitkan matanya heran.


Perlahan Crystalpun menurunkan kaca mobilnya hingga terlihatlah seorang lelaki memakai kemeja merah maroon membawa payung dengan pandangan khawatir kearahnya.


“ Kamu tidak apa – apa ?...”, tanya Alexander cemas.


“ Saya tidak apa – apa pak…”, ucap Crystal sambil tersenyum.


“  Saya lihat dari tadi kamu tidak turun dari mobil makanya saya kesini…takutnya ada apa – apa ?...”, ucap Alexander dengan nada khawatir yang terlihat jelas.


“ Saya lupa bawa payung pak…jadi ini masih menunggu teman untuk menjemput….”, ucapku sambil mencoba menghubungi salah satu teman kampusku.


“ Tadi disana aku lihat ada tower roboh. Mungkin untuk sementara waktu jaringan telepon dan internet terganggu. Kalau tidak keberatan, kamu bisa bareng sama saya…”, ucap Alexander menawarkan bantuan.


Crystal terdiam sejenak, memikirkan penawaran Alexander kepadanya. Dia takut jika sepayung berdua dengan lelaki ini akan membuat  Arnold marah.


Tapi dilain sisi dia juga tidak ingin terlambat memasuki kelas. Setelah mengetik pesan kepada Arnold, Crystal akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran Alexander.


Melihat Crystal menerima tawarannya, Alexanderpun tersenyum bahagia. Mereka akhirnya sepayung berdua dibawah guyuran hujan.


Banyak pasang mata yang menatap iri kearah Crystal dan Alexander yang terlihat romantis. Tiba – tiba dari gedung BEM fakultas ada sebuah motor yang melaju kencang membuat Alexander spontan menarik pinggang Crystal hingga menempel kepadanya agar tidak tertabrak.


Deg…


“ Apa ini ?…”, batin Crystal mencerna kondisi yang baru saja terjadi.


Tubuh keduanya menempel dengan erat dan pandangan mata Crystal dan Alexander saling menatap untuk sekian detik hingga Crystal spontan mendorong tubuh Alexander hingga membuat dirinya akhirnya basah terkena hujan.


“ Maaf…aku tidak bermaksud seperti itu…”, ucap Alexander gugup.


Diapun langsung memayungi tubuh Crystal yang sudah sedikit basah tanpa memperhatikan sebagian tubuhya yang juga basah akibat dorongan keras dari Crystal tadi.


“ Terimakasih…”, ucap Crystal sambil menunduk.


Merekapun kemudian segera berjalan dengan cepat menuju gedung fakultas tehnik yang ada disebelah utara kampus bintang.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mengabadikan peristiwa tersebut sambil tersenyum licik.