
Cukup lama Crystal berendam didalam bath up, mengistirahatkan tubuhnya dalam rendaman aroma favoritnya, vanilla milk.
Sambil berusaha untuk menetralkan getaran aneh dalam tubuhnya. Suatu rasa yang terasa asing baginya. Bahkan saat dulu bersama Gerald, Crystal tidak pernah merasakan getaran seperti sekarang.
“ Omo…Apa aku benar – benar sudah jatuh cinta dengannya?....dengan iblis itu ?...”, guman Crystal tak percaya dengan apa yang telah dirasakannya.
Selama ini dia merasa jika dirinya memang menyukai Arnold, tapi tak mengira jika rasanya sudah begitu dalam seperti ini.
Melihat kulit putihnya sudah mengkerut dan air dalam bak mandi sudah mulai dingin Crystal segera bangkit untuk membilas seluruh tubuhnya dengan air hangat yang mengalir dari shower.
“ ahhh…segarnya…”, gumannya sambil melangkahkan kaki keluar dari dalam kamar mandi.
Saat hendak berganti pakaian, dia sudah melihat Arnold telah bersiap menantinya diatas Rajang kuninganya yang bergambar burung kecil kesukaannya, tweety.
Entah kenapa saat melihat Arnold bersiap diranjangnya membuat pikiran Crystal traveling kemana – mana.
“ Hush…hush….hush…”, Crystalpun mulai menghalau pikiran kotornya yang ada diatas kepalanya dengan kedua tangannya.
“ Ada apa dengan diriku !!!...”, batin Crystal mengacak – acak rambutnya frustasi.
“ Ini hanya tidur biasa…sama seperti sebelum – sebelumnya…”, gumannya sambil menghilangkan semua pikiran kotor yang ada diatas kepalanya.
Setelah berganti pakaian, Crystal menghirup nafas dalam – dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Hal tersebut dilakukannya berulang kali hingga dia merasa sedikit tenang.
Dengan senyum yang terpatri diwajahnya, Crystal melangkah dengan pasti menuju ke atas ranjang dan langsung masuk kedalam selimut.
“ Bagaimana…sudah siap ?...”, ucap Arnold lembut.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Arnold membuat Crystal sedikit linglung. Sedangkan Arnold yang merasa gadisnya sedikit aneh hanya menaikkan satu alisnya sambil memiringkan kepalanya dan menatap Crystal dengan penuh tanda tanya.
“ Bodoh !!!...hilangakan pikiran mesummu…”, batin Crystal menghalau semua pikiran kotor dalam otaknya.
“ Ah..i..iya….”, ucap Crystal tergagap.
“ Kamu kenapa ?...”, tanya Arnold menyelidik.
“ ahh..tidak apa – apa…”, ucap Crystal salah tingkah.
Melihat Crystal yang bertingkah cukup aneh sedari tadi membuat pria dewasa seperti Arnold cukup paham akan hal itu, namun dia ingin memastikannya sendiri sebelum melangkah lebih jauh.
“ Apa kamu ingin…”, tanya Arnold sambil menangkup wajah Crystal dengan satu tangannya dan membelai lembut bibir Crystal dengan ibu jarinya.
“ Ingin…ingin apa ?...”, Crystal gugup hingga wajahnya mulai memerah.
“ Ini…”, ucap Arnold langsung mengecup bibir manis Crystal dengan lembut.
“ Dan ini…”, ucapnya sambil menyesap leher Crystal hingga empunya mendesah keenakan.
“ Ini…”, Arnold mulai mengecupi leher Crystal dan terus turun sampai ada suara menginterupsinya.
“ Jangan…”, ucap Crystal lirih.
Wajahnya kini sudah sangat merah seperti tomat matang dan jantungnya berdetak sangat cepat. Dengan nafas tersengal – sengal Cryastal kembai bersuara.
“ Jangan sekarang…aku masih belum siap…”, ucap Crystal lirih.
Melihat gadisnya ketakutan, Arnold jadi tak enak hati. Apalagi bayangan kejadian waktu dia memperkosa Crystal karena amarah terlintas dalam pikirannya, membuat laki – laki itu menarik tubuhnya untuk sedikit menjauh dari Crystal.
“ Apa aku membuatmu takut ?...”, tanya Arnold dengan wajah muram.
Melihat ekspresi Arnold yang suram Crystal merasa tak enak hati. Diapun berlahan mulai mendekat dan memeluk tunangannya itu dengan erat.
“ Maaf…aku bukan menolakmu,hanya saja aku masih belum siap untuk melakukannya, setidaknya tunggu sampai status kita resmi dulu ya…”, ucap Crystal sambil menepuk – nepuk pungung Arnold pelan.
“ Kalau kamu ?...”, bukannya menjawab, Crystal malah balik bertanya dengan kepala mendongak.
“ Tentu saja, jika kamu menyetujuinya….”, ucapnya lembut.
“ Iya, aku mau…”, ucap Crystal spontan.
Setelah berkata seperti itu, Crystal langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arnold karena malu.
“ Benarkah ?...”, tanya Arnold bahagia.
“ Tapi, tunggu aku lulus dulu…”, ucap Crystal masih dengan wajah yang berada didada Arnold.
“ Tentu saja…”, ucap Arnold sambil mencium kening Crystal cukup lama.
Setelah itu, keduanya kembali membahas permasalahan yang tadi sempat tertunda. Termasuk mengenai Enrico serta kemunculannya di beberapa tempat yang sangat berhubungan erat dengan aktivitas Crystal.
Dengan sedikit ragu, Arnoldpun mulai menceritakan awal mula perselisihan yang terjadi diantara mereka. Hingga tindakan Enrico yang selalu mengambil wanita yang dijodohkan kepadanya.
Selama ini Arnold tak perduli tentang hal itu, karena wanita tersebut sama sekali tidak menarik minatnya dan yang pasti karena penyakitnya itu dirinya tidak bisa dekat atau bersentuhan dengan mereka.
“ Mengenai dirimu yang jijik terhadap wanita, kenapa tidak denganku….apa ada yang aneh denganku atau jangan – jangan kamu tidak menganggap aku sebagai wanita ya…”, ucap Crystal yang sangat penasaran mengenai hal ini sejak dulu.
“ Entahlah…aku sendiri tidak tahu…”, ucap Arnold sambil mengangkat bahunya.
“ Yang jelas aku merasa nyaman jika dekat denganmu…”, ucap Arnold sambil memegang tangan Crystal dengan tatapan hangat.
“ Jika dengan yang lain…?...”, ucap Crystal masih penasaran.
“ Aku tidak nyaman dan jijik…seakan mereka seperti sesuatu yang tidak ingin kau dekati apalagi kau sentuh…”, ucap Arnold bergidik geli.
“ Apa ini seperti kau melihat ulat bulu atau cacing ?...”, ucap Crystal sambil menautkan kedua alisnya, berpikir keras.
“ Entahlah…selama ini aku tidak pernah merasa jijik dengan hewan apapun….tapi, jika dengan wanita…mereka seperti sesuatu....secara instuisi harus aku hindari….”, ucap Arnold berusaha menjelaskan apa yang sedang dirasakannya.
Mendengar semua ucapan Arnold dapat Crystal simpulkan letak permasalahan tersebut ada dalam psikologis lelaki itu.
Mungkin, dimasa lampau ada suatu kejadian yang membuatnya trauma akan sesuatu hingga dia begitu jijik dengan yang namanya wanita.
“ Apa ini berkaitan dengan masa lalumu ?...”, Crystal terus berupaya untuk mengorek masa lalu yang membuat Arnold menjadi seperti ini.
Karena dengan dia mengetahui masa lalu Arnold, maka secara tidak langsung Crystal secara perlahan bisa mengobati penyakit tunangannya itu, tentunya dengan bantuan dokter Philip.
“ Mungkin…”, ucapnya senduhh sambil membelai lembut pipi Crystal dengan jari rampingnya.
“ Tentang masa laluku…aku tidak terlalu ingat jelas. Kata nenek dan semua orang, mamaku meninggal sewaktu melahirkanku…namun, aku beberapa kali pernah bermimpi jika mama meninggal dalam pelukanku…”, ucap Arnold datar.
“ Lalu…”, tanya Crystal penasaran.
“ Aku menyelidikinya, meski sulit…ternyata mimpiku tersebut benar. Tapi kenapa….nenek dan semua orang menutupi hal tersebut dariku…”, ucap Arnold sendu.
“ Dan kamu mencurigai pelaku sebenarnya adalah keluargamu sendiri sehingga mereka menutupi semua fakta tersebut…”, Crystal berupaya mengemukakan apa yang ada dalam pikirannya.
“ Jangan bilang semua itu ulah kakeknya Enrico…”, ucap Crystal asal tebak dengan mata melotot.
“ Masih kuselidiki…”, ucap Arnold sambil memainkan rambut Crystal di jarinya.
“ Sekarang istirahatlah…bukankan besok agendamu sangat padat…”, ucap Arnold mengingatkan.
“ Baiklah…good night sayang…”, ucap Crystal sambil mengecup kedua pipi Arnold dan berakhir dibibirnya.
Keduanya bercumbu mesra sebelum akhirnya keduanya masuk kedalam alam mimpi sambil berpelukan.