
Kondisi Crystal makin hari semakin bertambah baik. Semua itu berkat kerjasama yang apik antara dokter Robert dan tim serta tim dokter yang dimiliki oleh Arnold yang ditugaskan untuk menyembuhkan Crystal.
Setelah empat hari berada di rumah sakit, hari ini akhirnya Crystal sudah diperbolehkan pulang ke rumah.
Meski sudah berada di rumah, namun Crystal masih belum diperbolehkan untuk pergi kemana – mana oleh Arnold hingga kondisinya benar – benar pulih kembali.
Arnold bahkan membiarkan Adoff berada dalam kamar Crystal agar gadisnya itu tidak merasa bosan dan terus merenggek untuk pergi keluar.
Dia terpaksa harus menekan kuat – kuat rasa cemburu yang ada dalam hatinya tiap kali Adoff bermanja kepada Crystal, membuatnya sedikit tersisih.
Seperti sore ini, setelah mandi Crystal yang memakai piyama berwarna kuning terlihat sedang bersantai diatas ranjang sambil mengotak atik laptop yang ada dihadapannya ditemani oleh Adoff yang melingkarkan tubuhnya dipaha Crystal.
Satu tangan Crystal mengelus bulu halus Adoff dan tangan yang satunya sibuk memainkan mouse sambil sesekali mengetik hanya dengan menggunakan satu tangan.
Melihat pemandangan tersebut, Arnold yang sudah tidak tahan akhirnya bergerak maju kesamping ranjang dan segera mengambil laptop yang ada dihadapan Crystal.
“ Istirahatlah !!!...”, perintah Arnold dingin.
Bukan hanya meja dan laptop yang disingkirkan oleh Arnold, Adoff yang sedang bermanja dipangkuan Crystalpun ikut disingkirkan juga, membuat serigala putih tersebut mengeram tak senang.
Rrrr…..Rrrrr….Rrrrr…..
“ Dasar penganggu !!!...”, Adoff terus saja mengeram tak senang sambil menatap tajam Arnold.
Tak memperdulikan Adoff, Arnoldpun langsung merebahkan kepalanya di paha Crystal dan menarik satu tangan gadis itu agar memngelus kepalanya.
“ Arnold !!!...Apa yang kau lakukan ?!!!...”, tanya Crystal tak senang.
“ Kamu adalah milikku !!!...”, ucap Arnold dengan nada dingin.
“ Oh…ayolah…jangan bilang kamu cemburu dengan Adoff ?...”, tanya Crystal tak percaya.
“ Ini adalah tempatku dan hanya aku yang berhak !!!...”, ucap Arnold dan langsung memejamkan kedua matanya agar Crystal tidak kembali menginterupsi perkataannya.
Melihat Arnold sudah memejamkan kedua matanya dan tak lama kemudian suara dengkuran halus terdengar membuat Crystal hanya bisa menghela nafas panjang.
“ Dasar ***** (nempel langsung molor)…huffft…”, gerutu Crystal saat mendapati tunangannya itu sudah tidur dengan nyenyaknya.
Melihat majikannya sudah terlelap, Adoff perlahan mulai naik ketas ranjang dan tidur disamping Crystal, membuat gadis itu lagi – lagi menghembuskan nafas secara kasar.
“ Hewan peliharaan dan majikan sama saja…”, guman Crystal waktu mendapati Adoff sudah terlelap disampingnya.
Binggung tidak bisa kemana – mana karena ditempeli Arnold dan Adoff membuat Crystal akhirnya berselancar didunia maya.
Pandangan matanya langsung terhenti saat meliaht foto professor Stevanus bersama Enrico disana.
“ Apa klien kita yang di kota kembang itu Enrico?....”, batin Crystal penasaran.
Untuk memuaskan rasa penasarannya, diapun langsung menghubungi Dodit yang ikut kekota kembang bersama professor Stevanus untuk mengkonfirmasi kecurigaannya itu.
Siapa sangka jika jawaban dari Dodit membuat Crystal kembali berpikir tentang sosok Enrico dan apa maksud tujuannya untuk mendekatinya.
Untuk lebih meyakinkan dirinya, Crystal segera menghubungi Lea agar mencari tahu tentang agenda Direktur Utama Gunawan Group tersebut.
Tanpa banyak tanya, Leapun segera menjalankan perintah Crystal dan mulai mencari semua hal termasuk agenda sepupu Arnold tersebut dalam tiga bulan terakhir.
Sorot matanya yang tajam mengawasi pergerakan seorang lelaki berusia tiga puluh tahunan yang baru saja turun dari mobilnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dan masuklah lelaki muda yang tadi dilihatnya dihalaman.
“ Apa rencanamu selanjutnya ?...”, tanya lelaki itu tanpa mengalihkan pandangannya keluar jendela.
“ Saya akan mencari cara untuk bisa kembali bertemu dengan Crystal dan memberikan suntikan yang kedua…”, ucapnya lantang.
“ Apa kamu yakin itu akan berhasil….”, tanyanya sambil tersenyum mengejek.
“ Tentu saja saya sangat yakin…”, ucap lelaki muda itu penuh percaya diri.
“ Bodoh !!!!...apa kau tahu jika dokter Robert sudah memiliki penawaran racun itu…”, ucapnya geram.
*“ Ba..bagaimana bisa ?*…”, ucap lelaki muda itu tergagap.
“ Satu – satunya cara adalah menyempurnakan racun itu secepatnya. Kali ini aku tidak ingin mendengar kata gagal lagi ….”, ucapnya geram.
Setelah mengatakan hal itu, lelaki tua itu kembali menghisap cerutu yang ada ditangannya dalam – dalam sambil mengibaskan satu tangannya untuk mengusir laki – laki muda yang ada dihadapannya.
“ Kali ini, saya tidak akan mengecewakan tuan…”, ucapnya dan langsung pergi meninggalkan tempat.
Selepas pertemuannya dengan pria tua tersebut, laki – laki muda tampan itu kembali ketempat persembunyiannya dan bertemu dengan seorang laki – laki tua berjas putih yang terlihat sedang mencampurkan beberapa cairan kedalam tabung kecil dihadapannya.
“ ohhh…Tuan muda….”, ucap professor Smith membungkuk hormat kepada Alexander.
Ya…lelaki muda itu adalah Alexander. Setelah melakukan aksinya, Alexander kembali bersembunyi di tempatnya sampai suasana kembali aman untuk dia bisa bergerak lagi.
Kali ini, dia tidak akan menyia – nyiakan kesempatan yang ada untuk benar – benar menghancurkan keluarga Lincoln, yaitu dengan menyerang Arnold Lincoln sang pewaris yang dipercaya memegang kekuasaan tertinggi setelah Elisabeth.
Sebelum akhirnya dia benar – benar menghancurkan wanita tua itu sedalam – dalamnya. Nyawa dibayar dengan nyawa, itulah prinsip Alexander.
Namun dia tidak ingin langsung membunuh wanita tua itu, menyiksanya secara perlahan dengan menghancurkan orang – orang yang sangat disayanginya secara perlahan, tentunya lebih menarik.
“ Sempurnakan racun itu secepatnya jika tidak ingin kehilangan nyawa seluruh keluargamu…”, ancam Alexander tajam.
“ Ba…baik tuan…”, ucap professor Smith dengan tubuh gemetar.
“ I…ini hanya tinggal diuji coba sekali lagi untuk mengetahui hasilnya…”, ucap professor Smith sambil menunjukkan tabung berisi ramuan berwarna hijau pekat.
“ Tiga hari lagi, aku sudah ingin dapat hasilnya…”, ucap Alexander dan langsung meninggalkan laboratorium menyisakan professor Smith yang terlihat sangat pucat.
Jika tidak mengingat keluarganya disandera oleh Alexander, professor Smith tidak akan mau melakukan hal seperti itu.
Dia meruntuki kebodohannya yang telah mengkhianati dokter Robert dan bergabung dengan Alexander hanya karena tergiur banyaknya uang yang ditawarkan laki – laki muda itu.
Untungnya dokter Robert bukanlah orang yang bodoh, meski prpfesor Smith dulunya adalah tangan kanannya, namun tidak semua hal dia beberkan kepada anggota timnya.
Ada beberapa hal yang utama yang sampai saat ini dia pegang sendiri. Hal itu guna untuk melindunginya dari pengkhianat seperti professor Smith.
Meski keluarga Lincoln terkenal sangat kejam, namun jika kita menjaga kepercayaan yang diberikan oleh mereka, maka mereka juga tidak akan segan – segan untuk melindungi diri kita dan keluarga serta memberikan apresiasi yang sangat besar jika usaha yang kita lakukan berhasil.
Seperti apa yang telah dokter Robert lakukan saat ini. Elisabeth tidak akan segan – segan membantu hal apapun karena dokter keluarga mereka selama puluhan tahun itu sudah menyelamatkan nyawa cucu menantunya, Crystal dari marabahaya yang ditimbulkan oleh musuh – musuhnya.