Love Destiny

Love Destiny
BERDISKUSI



Crystal terus saja bermain dengan Adoff,berguling – guling di rumput. Crystal benar – benar menganggap serigala putih tersebut seperti seekor anjing yang lucu dan mengemaskan.


Semua orang memandang ngeri melihat interaksi keduanya.Bagaimana tidak, saat ini Crystal terlihat berguling – guling di atas rumput bersama Adoff.


Tubuh besar serigala itu menindih tubuh munggil Crystal dan cakar – cakar tajamnya terlihat menyentuh kulit mulus Crystal yang terkukung di bawah tubuh Adoff.


Seakan cakar tajam tersebut siap mengoyak daging yang ada dibawahnya dengan ganas. Mencabik – cabiknya hingga menjadi potongan yang lebih kecil kemudian memakannya dalam keadaan masih segar dan penuh darah.


Namun sayangnya semua adegan yang tergambar diatas hanyalah  imajinasi para pekerja yang kebetulan sejak tadi melihat interaksi antara Crystal dan Adoff.


Sambil membuat kalung dari bunga,  Crystal  menceritakan semua kisahnya kepada Adoff. Setelah rangkaian bunga tersebut sudah jadi, dia langsung mengalungkannya di leher serigala putih tersebut.


Dia benar – benar menganggap serigala tersebut adalah sahabatnya. Adoff hanya melolong setiap kali Crystal bercerita, seolah –olah serigala tersebut mengerti semua ucapannya.


Setelah selesai bercerita dan tertawa bersama, Crystal yang rebahan diatas rumput dengan menyandarkan kepalanya diatas perut Adoff dalam posisi terlentang menerawang jauh ke atas langit.


“ Kenapa waktu berlalu begitu cepat…”, guman Crystal sambil melihat langit yang perlahan mulai berubah warna.


Saat ini langit sudah berwarna oranye kekuningan, menandakan sebentar lagi malam akan segera datang. Dengan enggan, Crystalpun segera masuk kedalam rumah untuk membersihkan diri dan beristirahat.


Saat melangkahkan kakinya kedalam, tiba – tiba Crystal ingat akan Enrico dan ingin membahas hal tersebut bersama Arnold.


Untuk itu dia segera mendekati Emily yang baru saja keluar dari ruang kerja Arnold sambil membawa beberapa dokumen ditangannya.


“ Apa Arnold sibuk ?...”, tanya Crystal sambil melihat kearah pintu ruang kerja yang tidak ditutup dengan rapat.


“ Tuan muda lagi bersantai sambil membaca buku….”,  ucap Emily tersenyum dan segera berlalu.


Emily sangat berharap jika Crystal  bisa segera menangkan hati Arnold  saat ini sebelum Adoff menjadi korban kecemburuannya.


Begitu pintu ruang kerja dibuka, Crystal melihat seorang pria sedang duduk dikursi kayu sambil membaca sebuah buku ditangannya.


Wajahnya  terlihat begitu menawan di bawah sorotan lampu baca yang meneranginya, sempurna tanpa cela. Membuat siapa saja yang melihatnya akan jatuh dalam pesonanya.


Cukup lama Crystal berdiri mematung didepan pintu, mengagumi ciptaan Tuhan yang satu ini. Ketampanan Arnold terlihat berkali - kali lipat saat sedang fokus seperti ini.


" Dia memang lebih tampan jika diam seperti ini...", batin Crystal terpesona.


Mendengar suara kaki mendekat, Arnold mengangkat kepalanya sebentar dan kembali fokus pada buku yang dibacanya.


“ Ada perlu apa ?...”, tanyanya dingin, tanpa mengalihakan pandangannya dari buku yang berada ditangannya..


“ Perasaan tadi aku tinggal baik – baik saja…kenapa lagi dia ?...”, Crystal menaikkan satu alisnya dengan tatapan heran melihat suasana hati Arnold yang cepat sekali berubah.


Tidak menjawab, Crystal berjalan mendekat sambil mengamati buku yang sedang Arnold baca saat ini.


“ Hmmm….apa kamu sibuk ? ada hal yang ingin aku diskusikan denganmu…”, ucap Crystal was – was.


“ Tentang ?...”, tanya Arnold masih dengan nada datar dan dingin.


“ Enrico…”, jawab Crystal singkat.


Mendengar jawaban Crystal, spontan Arnold langsung mengangkat wajahnya dengan tatapan sedingin es, membuat tubuh Crystal membeku seketika.


“ Kapan bertemu dengannya ?...”, tanya Arnold penasaran.


“ Tadi…dipesawat. Tapi saat turun, aku coba memastikan lagi dia sudah menghilang. Dan menurut informasi Lea, Enrico beberapa kali terlihat di kampus bersama professor Stevanus…”, ucapku menjelaskan.


“ Profesor yang mengerjakan proyek denganmu ?...”, tanya Arnold menyelidik.


“ Benar, dia adalah ketua tim ku di proyek tersebut…”, ucap Crystal sambil memainkan bolpoint yang ada ditangannya.


“ Entah kenapa aku mempunyai feeling yang buruk tentang ini. Bertemu dengannya, aku rasa itu bukanlah suatu  hal yang terjadi secara kebetulan…. ”,Crystal memutar bola matanya ke atas, sedang berpikir keras.


Melihat eskpresi serius yang diberikan tunangannya itu, Arnold segera menutup buku yang ada ditangannya dan meletakkannya diatas meja.


Arnold kemudian mengaitkan kedua tangannya di dagunya dengan siku dijadikan tumpuan diatas meja sambil menatap intens gadis yang ada dihadapannya itu.


“ Menurutku…dia mengincarmu…”, ucap Arnold dengan tatapan tajam.


“ Mengincarku ?...untuk apa ?...”, ucap Crystal sedikit binggung.


“ Balas dendam…”, ucap Arnold singkat.


Mendengar ucapan Arnold, Crystal semakin merasa binggung karena dia sama sekali tidak kenal dengan lelaki tampan itu. Apalagi  sampai  menyinggungnya.  Jadi, bagaimana mungkin lelaki itu punya dendam terhadapnya.


“ Maksudmu gimana ?...aku masih belum paham ?...”, tanya Crystal sambil mengkerutkan dahinya cukup dalam.


“ Karena kamu adalah gadisku…”, Arnold kembali berkata ambigu.


“ Tunggu….maksudmu dia mengincarku karena aku adalah tunanganmu…benar begitu…”, ucap Crystal setelah berpikir sejenak.


“ Right !!!…”, ucap Arnold singkat.


Crystlapun kembali mengingat perkataan Emily beberapa waktu yang lalu jika hubungan Arnold dan Enrico tidak terlalu baik.


“ Apa ini berarti dia mau menggunakan aku untuk menyakiti Arnold…”, guman Crystal sambil melotot terkejut dengan pemikirannya.


“ Sudah…jangan khawatir…”, ucap Arnold yang tiba – tiba sudah berdiri disamping Crystal.


“ Aku tak akan membiarkan dia menyentuhmu, meski hanya seujung kuku…”, ucap Arnold sambil mengertakkan giginya.


Arnold ternyata cukup lengah hingga tanpa disadarinya Enrico sudah bergerak dalam diam. Mungkin dia nanti akan menghukum pasukan bayangan yang ditugaskan untuk mengawasi Crystal karena telah lalai menjalankan tugasnya.


Bagaimana bisa anak buahnya tersebut bisa lengah sehingga musuh sudah berhasil menyusup hingga sejauh itu.


“ Memang kamu ada masalah apa dengan Enrico ?...”, Crystal mendongakkan wajahnya penasaran.


“ Ceritanya panjang…”, jawab Arnold sambil mengusap kepala Crystal dengan lembut.


“ Ceritakan semuanya, aku akan mendengarkan dengan sabar…”, pinta Crystal sambil memeluk Arnold yang berdiri disampingnya.


“ Aku akan menceritakan semuanya jika malam ini kamu tidur denganku…”, ucap Arnold dengan suara serak dan rendah sambil mengecup pucuk kepala Crystal.


Tubuh Crystal langsung tegang saat mendengar kata “ tidur ”. Meski secara harfiah tidur yang dimaksud Arnold dalam artian sebenarnya.


Namun entah kenapa, setiap kali mendengar hal tersebut tubuhnya langsung reflek merinding. Bagaimanapun juga Arnold adalah laki – laki normal, dan Crystal saat ini belum siap jika harus berhubungan lebih dalam.


Mengingat malam pertamanya yang dirampas secara paksa oleh Arnold membuat Crystal sedikit trauma akan hal itu, hingga saat ini.


“ Bagaimana ?...”, tanya Arnold dengan suara serak dan rendah tepat ditelingga Crystal.


Sapuan hangat nafas Arnold yang menyentuh daun telinga Crystal membuat gadis itu seketika merinding dan sedetik kemudian dia merasa gelenyar aneh dalam tubuhnya.


“A…aku mandi dulu…”, ucap Crystal gugup.


Diapun segera berdiri dan bergegas keluar dari ruang kerja Arnold dengan wajah merah merona menahan desiran hebat dalam tubuhnya.


“ Ada apa dengan jantungku ?...”, batin Crystal gemetaran.


Sambil memengangi dada dengan satu tangannya, Crystal mulai menaiki anak tangga secara perlahan sambil menetralkan detak jantungnya yang sangat berisik itu.


Sementara itu, Arnold yang melihat wajah Crystal yang merah merona merasa sangat bahagia dan tanpa sadar senyum manis terukir indah diwajahnya.


Namun sayang, tidak ada seorang pun yang melihat hal tersebut. Jika ada, mungkin orang tersebut akan mengabadikannya karena menganggap hal tersebut sangat langkah dan tidak mungkin terjadi.