Love Destiny

Love Destiny
AMARAH VREYAN



Vreyan menyilangkan lengannya dan bersandar disamping pintu sambil melihat bunga – bunga yang ada dihalaman rumah tengah.


Wajahnya masih menyiratkan kemarahan yang teramat dalam. Lamunannya buyar saat mendengar suara langkah kaki yang sangat familiar dibelakangnya, membuat pemuda itu berbalik dengan wajah terkejut.


“ Nona Casandra ?...bukankah kamu sedang sibuk berbicara dengan tuan muda ?...apa sudah selesai ?...”, ucap Vreyan penasaran karena Casandra cepat sekali turun.


Biasanya dibutuhkan waktu hingga berjam – jam lamanya saat keduanya bertemu dan membahas semua hal yang berkaitan dengan permasalahan yang ada di ibukota.


Namun sekarang, belum juga genap satu jam dia sudah melihat wanita itu turun dari tangga dengan wajah yang sangat suram.


“ belum…Arnold sibuk jadi saya disuruh keluar dulu…”, ucap Casandra sambil menggelengkan kepalanya dengan lemas.


“ Tuan muda sibuk ?... apa terjadi sesuatu ?...”, tanya Vreyan cemas.


Jika bosnya itu sampai mengusir Casandra dari ruangannya itu berarti ada hal yang lebih penting daripada permasalahan yang ada di ibukota.


“ Tidak ada apa – apa…jangan khawatir…”, ucap Casandra menenangkan.


“  Lalu, apa yang sedang dikerjakan guru sekarang !!!...hampir separuh pasukan khusus kita yang ada di ibukota telah musnah…dan saat ini semua orang sedang menunggu instruksi dari kita untuk bergerak… ”, ucap Vreyan  panik.


Melihat Casandra binggung untuk menjawab pertanyaannya membuat Vreyan memincingkan matanya curiga dan dia kembali bersuara dengan marah.


“ Apakah itu karena Crystal?...sekarang anda tahu kan, nona Casandra !!!...guru menyingkirkan hal penting seperti ini hanya untuknya !!!...”, Vreyan berteriak marah.


“ Tadi juga begitu, saat berada didalam mobil, ketika tuan muda sedang melakukan konferensi video, wanita iblis itu tanpa malu – malu merayu bos tepat dihadapanku dan Emily. Bos tidak memarahinya dan malah menghentikan pertemuan itu hanya demi wanita iblis itu…”, Vreyan mengadu tak terima.


Bayangan Arnold yang bercumbu mesra dengan Crystal kembali muncul dalam kepalanya dan kegelapan melintas di mata Casandra, membuatnya sedikit gusar.


“  Arnold adalah laki – laki normal dan Crystal adalah gadis muda yang cantik, wajar jika Arnold tertarik dengannya. Kamu tenang saja, Arnold cukup professional dan bisa membedakan mana masalah yang harus cepat diselesaikan dan mana yang harus ditinggalkan… ”, ucap Casandra berusaha sebijak mungkin dalam menyikapi hal ini.


“ Nona…tuan muda sudah sangat dalam terpengaruh wanita iblis itu, dan kamu masih berbicara untuknya ?!!!... ”, Vreyan terlihat sangat marah.


“ Kamu terlalu cepat emosi…mulai sekarang, kamu tidak bisa seperti itu lagi. Kamu harus waspada mulai sekarang, mungkin dia akan menjauhkanmu dari Arnold. Tapi untuk saat ini…jangan lakukan apapun yang akan memperburuk kondisimu… ”, ucap Casandra mengingatkan.


“ Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi !!!...selain wajah cantik, wanita iblis itu sama sekali tidak berguna dan tidak memiliki kekuatan apapun bahkan untuk membunuh semut saja dia tidak mampu. Bagaimana wanita seperti itu layak menjadi pendamping tuan muda !!!...cepat atau lambat, dia akan menyeret tuan muda turun ke bawah…hanya dirimu yang layak untuk tuan muda, nona Casandra…”, ucap Vreyan murka.


“ Dimasa depan, jangan pernah ucapkan kata – kata kasar itu. Bagaimanapun, Crystal sekarang adalah bagian dari kita…”, ucap Casandra tegas.


“ Dia tidak cocok menjadi bagian dari kita. Dan orang seperti dia sama sekali tidak setara untuk disejajarkan dengan anda….”, ucap Vreyan dengan wajah yang semakin gelap.


Sementara itu, diruang kerja Arnold, Crystal yang sudah selesai mengerjakan desainnya segera mengirimkannya ke alamat email professor Stevanus.


Selanjutnya dia segera mematikan laptop yang ada dihadapannya. Saat hendak memasukkan laptop kedalam tas, tiba – tiba ponselnya bergetar dan ada nama Andrew tertera jelas disana.


“ Kenapa Andrew menghubungi malam – malam ?...apa ada masalah penting ?...”, batin Crystal cemas.


Diapun segera mengangkat teleponnya dan meloudspeakernya agar Arnold juga ikut mendengarkan apa yang kami bicarakan.


“ Tenang Ndrew…ambil nafas dalam – dalam dan keluarkan secara berlahan….”, perintah Crystal agar asistennya itu sedikit tenang.


“ Sekarang…ceritakan semuanya…”, perintah Crystal saat mendengar Andrew sudah mulai fokus kembali.


Andrewpun segera menceritakan kabar terbaru dari informannya yang berada di pulau berlian jika Santoso dan kroni – kroninya mulai mengotak – atik tambang dan perkebunan yang ada disana.


Semua itu demi menutupi dana korup yang harus mereka kembalikan ke dalam perusahaan sesegera mungkin.


Kabarnya untuk menjalankan rencananya tersebut mereka bekerja sama dengan pihak asing untuk membeli hasil perkebunan dan pertambangan yang dihasilkan di sana secara illegal.


Dan transaksi besar tersebut akan mereka lakukan besok sore dilokasi pertambangan. Maka dari itu, sebelum berangkat ke pulau berlian, diharapkan Crystal menyiapkan semua data yang diperlukan dan datang keperusahaan pagi.


Setelah panggilan berakhir, Crystal segera berpaling kearah Arnold dan mulai menjelaskan siapa sebenarnya Andrew, agar lelaki itu tidak curiga.


“ Itu tadi Andrew asisten pribadiku dikantor. Papa yang menunjuk langsung Andrew untuk membantuku. Dan sekarang ada masalah serius yang mengharuskanku untuk terbang ke pulau berlian besok pagi. Kurasa kamu sudah mendengarnya sendiri tadi…”, ucapku menjelaskan.


Mengingat sifat possesif yang dimiliki oleh Arnold, Crystal berupaya untuk menjelaskan siapa saja yang berhubungan dengannya agar tidak ada kesalah pahaman yang terjadi.


Meskipun  Crystal sangat tahu jika Arnold selalu menyelidiki semua orang yang ada disekitarnya, terutama yang berinteraksi dengannya secara langsung.


“ Untuk itu, sepertinya malam ini aku harus kembali, agar besok pagi – pagi sekali aku bisa datang keperusahaan…”, Crystal melanjutkan ucapannya tadi.


“ Tidak !!!...”, jawab Arnold singkat.


“ Tapi sayang…jika kembali besok, maka tidak akan keburu…”, ucapku merajuk.


“ No Crystal !!!...”, Arnold menggeram rendah.


Entah kenapa, Crystal saat ini bisa merasakan jika Arnold sedang tidak bahagia sekarang. Agar komunikasi bisa terjalin, maka dirinya memutuskan bertanya agar bisa mengetahui apa sebenarnya yang dirasa Arnold saat ini.


“ Kenapa kamu terlihat tak bahagia?...”, tanya Crystal sambil membelai bulu – bulu halus yang mulai tumbuh dirahang kokoh tunangannya itu.


“ Siapa yang senang jika akan ditinggal jauh…”, ucapnya dengan nada rendah dan sorot mata meredup.


“ Aku hanya pergi beberapa hari saja…setelah semua urusan disana selesai, aku janji akan segera kembali…”, ucapku berusaha menangkan.


“ Tetap saja, aku tidak bisa melihatmu…”, ucapnya dingin.


“ Kita masih bisa melakukan video call…”, ucapku memberi saran.


“ Tapi…aku tak bisa menyentuhmu…”, ucapnya lagi.


Oh my god….Crystal sedikit frustasi sekarang untuk menenangkan bayi besarnya malam ini. Jika anak kecil, diberi permen, maka dia akan diam dan kembali ceria.


Tapi, iblis ini….bagaimana aku bisa menenangkannya. Crystalpun mulai berpikir keras untuk bisa meluluhkan hati Arnold malam ini.