
Malam ini Gerald meninggalkan kediaman Abraham dengan penuh emosi. Para penjaga langsung membukakan pintu pagar begitu mobil suami Leony tersebut mendekat.
Gerald memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menerobos gelapnya malam sambil sesekali memukul stir mobilnya dengan kencang, meluapkan semua emosi yang ada dalam dirinya.
Bagaimanapun juga dia tidak boleh menyerah begitu saja. Sudah cukup banyak perjuangan yang dilakukannya agar bisa masuk menjadi bagian inti keluarga Abraham.
Meski Leony bukanlah putri kandung Abraham, namun melihat perlakuan kedua orang tuanya yang sangat menyayangi istrinya itu bisa dijadikan senjata oleh Gerald untuk saat ini.
“ Aku harus memaksa j****g itu agar Crystal mau memaafkanku…”, guman Gerald sambil mengkerutkan keningnya cukup dalam.
“ Ya…itu satu – satunya cara untuk saat ini…”, gumannya yakin.
Melihat hangatnya perlakuan Crystal pada Leony tadi, Gerald yakin jika istrinya yang berbicara tentunya Crystal akan mempertimbangkan semuanya.
Dia mungkin juga akan menggunakan bayi yang ada dalam kandungan Leony untuk melunakkan hati Crystal dan kembali mendekatinya.
Setelah berhasil memastikan langkah dan tujuannya Geraldpun mengarahkan mobilnya menuju club NT, tempat dimana dia biasa melepas penat sejak putus dengan Crystal.
Alunan keras musik yang masuk kedalam gendang telinganya dan panasnya alkohol yang mengalir dalam tenggorokannya, sejenak membuat pikiran Gerald rileks.
Gerald hanya memandang malas kepada para wanita sexy yang berusaha untuk merayunya malam ini.
Saat ini dia lagi tidak ingin bercinta dengan siapapun, hanya ingin minum sambil memikirkan matang – matang rencana yang akan dijalankannya besok waktu bertemu dengan Crystal.
“ Hey…bagaimana, sudah ada solusi ?…”, ucap Santoso yang tiba – tiba sudah ada disamping Gerald.
Gerald hanya meilirik sekilas Santoso yang sudah duduk dikursi yang ada disampingnya dengan malas dan kembali fokus pada gelas minuman yang ada dihadapannya.
“ Tetap jalankan sesuai rencana…Crystal biar aku yang urus…”, ucap Gerald sambil menyesap habis minuman yang ada ditangannya.
“ Kali ini kita tidak boleh gagal jika tidak ingin mendapatkan kemurkaan dari tuan…”, ucap Santoso bergidik ngeri setiap kali tuannya itu marah.
“ Tenang saja…kamu cukup fokus pada Radhakishan, jangan sampai dia goyah…”, ucap Gerald mengingatkan.
“ Pasti…aku tak akan kecolongan lagi kali ini…”, ucap Santoso sambil mengenggam gelas ditangannya sangat erat.
Mengingat hubungan dirinya dengan pengusaha India itu sudah berjalan cukup lama dan selama ini kerja sama diantara mereka tidak ada kendala apapun.
Dia sangat yakin jika kali ini dia bisa mengenggam Radhakishan dan tidak akan membiarkannya lolos seperti Ortega.
Sementara itu dikediaman Arnold suasana terlihat sangat mencekam. Kondisi emosi Arnold hari ini memburuk setelah mendengar kabar jika Gerald sudah kembali berada di Abraham group.
Belum juga emosinya reda, dia kembali mendapat kabar jika tunangannya itu pulang ke rumahnya tanpa memberitahunya dan bertemu dengan Gerald, dengan bukti foto yang diambil pasukan bayangan yang bertugas untuk mengawasi Crystal.
Sudah hampir dua jam setelah Arnold mendapatkan kabar tersebut namun hingga sekarang Crystal belum juga menampakkan batang hidungnya di kediamannya membuat perasaan Arnold semakin kacau.
Jika suasana sanga majikan memburuk maka semua orang yang ada dalam rumah akan terkena imbas kemarahannya.
Untung saja Vreyan datang dengan seorang tawanan yang bisa dijadikan Arnold untuk melampiaskan emosinya malam ini.
Vreyan membawa seorang penjahat yang berhasil ditangkapnya saat menjalankan operasi rahasianya. Salah satu bos gembong pengedar narkoba di kawasan Asia yang sangat diburu oleh pihak kepolisian.
Organisasi rahasia yang didirikan oleh Arnold adalah organisasi bawah tanah yang bekerja sama dengan pemerintah untuk membasmi para penjahat yang kebal hukum.
Diantaranya adalah para pengedar narkoba, human trafficking, penjualan organ illegal, senjata illegal, dan perburuan situs purbakala yang sama sekali tidak bisa disentuh hukum, maka dari itu untuk menjaga kestabilan negara harus ada organisasi rahasia yang bisa menjalankan perannya membasmi kejahatan tanpa terlihat.
Berkat organisasi rahasia ini jumlah kejahatan yang berlangsung di ibukota dan beberapa kota besar yang ada dinegeri ini mulai berkurang jumlahnya.
“ Sial !!!...semua ini gara – gara wanita iblis itu !!!...kita semua kena imbasnya…”, guman Vreyan geram.
Ya...Crystal memutuskan untuk bertemu Lea setelah meninggalkan rumahnya tadi, berharap dia bisa menemukan titik terang mengenai Mr.X yang masih menjadi misteri.
Setelah bertemu dengan Lea dan membahas hasil rekaman yang didapatkannya, Crystalpun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang untuk pulang ke kediaman Arnold.
Crystal yang baru saja sampai di kediaman Arnold merasakan aura yang cukup mencekam disana. Dengan ragu, dia melangkahkan kakinya perlahan menuju ruang tamu.
“ Baru pulang?...”, suara Arnold yang sangat rendah dan penuh penekanan seketika membuat tubuh Crystal membeku.
Ditengah ruangan terlihat Emily dan Vreyan sibuk membersihkan lantai dan mengganti karpet yang berada di depan sofa.
“ *Kurasa, baru saja ada pembantaian disini*…”, batin Crystal curiga.
Meski sudah tertutupi bau pewangi lantai dan pengharum ruangan, namun samar – samar aroma anyir masih tersisa diudara.
Kuedarkan pandanganku menyapu ruangan untuk mencari keberadaan Adoff, namun nihil. Serigala putih tersebut sama sekali tak terlihat ataupun terdengar suaranya.
“ Jadi ini murni Vreyan yang melakukannya…”, batinku menebak.
Setelah menarik nafas dalam – dalam dan mengumpulkan keberanian, dengan senyum manis terukir diwajah, akupun berjalan mendekat kearah Arnold dan duduk dipangkuannya dengan jkedua tangan kutautkan dilehernya..
Meski terlihat murahan, namun hal ini lah yang bisa aku lakukan untuk meredakan emosi Arnold untuk saat ini.
Kuabaikan pandangan membunuh Vreyan yang dilayangkan kepadaku saat Emily menarik tangan pemuda itu agar menyingkir dari ruang tamu.
“ Sayang…kamu tidak marah kan aku pulang terlambat. Tadi aku kan sudah kirim pesan kepadamu…”, ucap Crystal merajuk.
“ Hmmm….”, Arnold berdehem sambil menatap tajam Crystal.
Mendengar Arnold hanya berdehem tanpa ekspresi apapun diwajahnya membuat Crystal sedikit gugup. Setelah mengumpulkan keberanian diapun mulai bersuara.
“ Setelah meeting, aku lihat di story jika mama lagi arisan direstoran jepang yang tak jauh dari kampus, jadi aku jemput mama dan anter mama pulang sambil berbicara sedikit dengan kak Leony tadi. Setelah itu aku langsung pamit pulang begitu Gerald datang. Maaf jika aku lupa mengabarimu kalau aku pulang kerumah tadi…”, ucap Crystal sambil mengelus lembut dagu Arnold yang mulai ditumbuhi bulu – bulu tipis.
“ Lalu…”, ucap Arnold dingin.
“ Oh itu…aku tadi setelah dari rumah ketemu Lea sebentar di café…”, Crystal berkata sambil menelusuri wajah Arnold dengan jemarinya yang lentik.
Tidak mendapatkan respon, Crystalpun semakin menempelkan tubuhnya ke Arnold hingga mata tunangannya itu sedikit melotot lebar saat dada Crystal menyentuh tubuhnya.
“ Sayang....Kamu nggak marah kan ?...”, ucap Crystal sambil mempererat pelukannya dan mendongakkan kepalanya menatap manik hitam mata Arnold dengan tatapan pupy eyes andalannya.
Suasana masih hening, Arnold terlihat berusaha untuk menetralkan suhu tubuhnya yang tiba – tiba memanas saat Crystal terus bergerak membuat sesuatu yang ada dibawahnya terasa sesak.
Setelah berhasil menetralkan tubuhnya, Arnold yang masih marah hanya bisa menghembuskan nafas kasar saat melihat wajah Crystal yang mengemaskan.
“ Lain kali jangan diulangi lagi…”, ucap Arnold sambil mencubit gemas hidung munggil Crystal.
“ awww…sakit yang….”, ucap Crystal mengadu.
Setelah meniup hidung Crystal yang memerah akibat ulahnya, Arnoldpu berniat untuk menghukum Crystal malam ini karena telah membuat suasana hatinya menjadi buruk.
“ Temeni aku tidur…”, ucap Arnold yang langsung menggendong Crystal ala bridal style menuju kamarnya.
Melihat hal itu Vreyan hanya bisa mengertakkan giginya keras. Bagaimana mungkin bosnya itu bisa langsung luluh hanya dengan kata – kata menjijikkan seperti itu.
“ Kurasa wanita iblis itu mengunakan ilmu hitam untuk menyihir guru hingga bisa luluh seperti itu…”, guman Vreyan geram.
“ Sudahlah…jangan berpikir aneh – aneh…”, ucap Emily sambil menarik tangan Vreyan untuk turun keruang bawah tanah bergabung dengan pasukan bayangan yang ada disana.