
Malam hari keluarga Dea mengadakan pengajian di rumah nya, Anna yang sedang termenung di kejutkan oleh Mei yang menepuk pundak nya.
"Jangan melamun Anna, ingat kandungan kamu jangan terlalu banyak fikiran." Ucap Mei, mencoba untuk tersenyum.
"Aunty." Lirih Anna.
"Ada apa, apa yang kamu fikirkan?" Tanya mei lembut.
"Aku memikirkan Dena, aku tidak tega melihat keadaan Dena." Ucap Anna, Mei melihat ketulusan dari tatapan Anna.
"Dena baik-baik saja, meskipun ia masih enggan untuk mengisi perut nya. Tapi Dena sedikit bisa di ajak berbicara oleh Kean dan Rafael." Ucap Mei tersenyum lagi.
"Selama ini aku tidak pernah melihat Dena sampai seperti ini, tapi kali ini aku bisa melihat sisi rapuh Dena." Lirih Anna lagi.
"Dena memang seperti itu Anna, percaya sama aku kalau Dena tidak akan larut dalam kesedihannya. Dia pasti akan lebih memikirkan perasaan Keanu dan Rafael." Ucap Mei, Anna pun mengangguk dan tersenyum.
Tidak lama Dena pun berjalan mendekati Anna dan Mei yang berada di meja makan, wanita itu berjalan dengan diikuti oleh Rafael sementara Keanu sedang bersama para keluarga Dena di depan.
"Ada yang kamu butuhkan de?" Tanya mei, Dena menoleh tidak ada semangat dari tatapannya.
"Hmmmmm, Rafael menginginkan buah." Jawab Dena, Anna menarik tangan Dena lalu memeluk nya.
Dena termenung dengan air mata yang menetes dalam diam, Dena bungkam tidak membuka mulutnya sama sekali.
Carl melihat bagaimana Anna yang memeluk Dena penuh sayang dan ketulusan, Dena terisak dalam pelukan Anna.
"Kamu kuat, selama ini kamu yang menjadi motivasi bagi aku Dena. Aku yakin kamu bisa, selain keluarga kamu disini ada Keanu dan Rafael juga yang membutuhkan kamu." Ucap Anna, dari semua keluarga hanya Anna yang mampu membuat Dena tersenyum manis meskipun air matanya menetes.
Tidak termasuk Keanu karena Kean sudah pasti bisa membuat Dena tersenyum, karena Keanu adalah suaminya.
"Terimakasih." Lirih Dena.
"Kami lebih suka kamu yang ceria Dena, jangan seperti ini aku mohon." Lirih Anna, yang juga meneteskan air mata nya.
"Tentu, aku tidak akan larut dalam kesedihan ku mbak terimakasih." Ucap Dena melepaskan pelukannya, dan tersenyum menatap Anna.
"Mommy are you ok?" Tanya Rafael.
"Yes, i'm ok baby." Jawab Dena, Rafael merentangkan kedua tangannya membuat Dena berjongkok dan memeluk El.
"Ada apa hmmmmm?" Tanya Dena.
"Jangan bersedih, El tidak suka melihat mommy menangis." Ucap El, Dena tertawa kecil mendengar celotehan putranya..
"Oke mommy tidak akan menangis lagi." Jawab Dena, matanya kembali berkaca-kaca membuat El mengerucutkan bibirnya.
"Haha maaf, mommy mu ini cengeng sekali bukan." Ucap Dena menyeka air matanya.
"Tidak mommy sudah menjadi yang terbaik, selamanya yang terbaik." Ucap El menciumi wajah sang mommy, Mei dan Anna tertawa dan ikut memeluk Dena.
"Oke baiklah mommy tidak akan menangis lagi." Kekeh Dena, berkat El wajah Dena terlihat sedikit ceria.
"Promise?" Tanya El mengacungkan jari kelingking nya.
"Yes I'm promise." Balas Dena menakutkan kelingking nya dengan kelingking mungil El.
"Apa aku mengganggu?" Tanya Kean.
"Tentu saja tidak, kau sama sekali tidak menggangu kami." Kekeh Mei, Keanu menangkup wajah cantik Dena.
"Kau menangis lagi?" Tanya Kean, Dena hanya diam menatap wajah tampan suaminya.
"Berhenti menangis, aku tidak suka melihat gadis yang aku cintai terlalu lama bersedih." Ucap Kean, melupakan Mei dan Anna yang masih berada disana.
"Apa kita hanya akan menjadi nyamuk." Ucap Mei, Kean dan Dena pun menoleh lalu tertawa.
Mei senang karena ia berhasil membuat Dena tertawa, kini mereka mulai menghibur Dena agar tidak sedih terus.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading ππ€ jangan lupa like komen dan vote nya ππ
N**: Bisa-bisanya gue lagi sedih si Kean bikin baper π
A: Ngapa Lo yang baper Marniπ
N: Lo tau gak kalo gue terbuai ah elahπ
A: Hallu Mulu Lo π
N: Hak gue dong π
A: Etdah π
N: π€£π€£π€£*