Love Destiny

Love Destiny
CEKCOK



Arnold melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menembus kegelapan malam yang menyelimuti. Saat ini yang ada dalam pikirannya hanya ingin secepatnya tiba dirumah dan bertemu dengan sang istri.


Melihat lampu kamar masih menyala, Arnold sedikit cemas kenapa selarut ini istrinya belum juga tertidur. Dengan langkah cepat diapun segera naik menuju kedalam kamar.


Crystal  yang masih sibuk dengan pekerjaannya sambil mendengarkan lagu kesukaannya lewat headset yang dipasang ditelinganya tak menyadari kehadiran Arnold yang sudah berada didalam kamar.


“ Kenapa belum tidur ?...”, tanya Arnold dengan suara rendah.


Tidak mendapatkan jawaban, Arnolpun mengulangi pertanyaannya, namun tetap tidak mendapatkan respon dari Crystal membuat laki – laki itu hilang kesabaran dan mulai berjalan mendekat dan langsung menutup laptop yang ada dihadapan istrinya.


“ Apa – apaan kamu !!!...”, ucap Crystal melotot marah.


Dengan kasar Crystal melepaskan headset yang ada ditelinganya dan diletakkan begitu saja diatas dan kembali membuka laptop yang ada dihadapannya.


Melihat Crystal melepaskan headset, Arnold sedikit merasa bersalah karena telah salah menebak. Baru saja dia ingin meminta maaf, kata – kata Crystal membuat amarah dalam dirinya kembali berkobar.


“ Jika kamu pulang hanya buat marah – marah. Sana…balik lagi saja ke rumah sakit dan jangan kembali…”, ucap Crystal jengkel.


Diapun kemudian kembali menatap layar laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena ulah gila suaminya.


“ Apa maksud perkataanmu ?...jelaskan !!!...”, ucap Arnold tajam.


“ Jika kamu pulang ke rumah hanya untuk marah – marah, sebaiknya kamu balik saja ke rumah sakit. Kalau bisa tetap disana, jangan kembali…”, ucap Crystal penuh penekanan.


“ Kamu !!!..jadi begini kelakuanmu kalau aku tidak ada dirumah !!!...”, ucap Arnold tersulut emosi.


“ Aku…memang aku melakukan apa ?...”, Crystal bertanya dengan senyum mengejek, membuat Arnold bertambah berang.


“ Sekarang jawab dengan jujur…apa yang kamu lakukan dengan Enrico ?...”, ucao Arnold mulai panas.


“ Kerja…”, jawab Crystal santai.


“ Kerja…Kerja atau selingkuh…”, Arnold berkata sambil mencibir.


“ Setidaknya, kami tidak hanya berdua dalam satu ruangan dan bermesraan. Aku masih bisa menjaga diri dan sadar jika sekarang aku sudah mempunyai suami. Tapi tampaknya itu tidak berlaku buat kamu….”, ucap Crystal tajam.


“ Apa yang kamu katakan?...”, tanya Arnold tak mengerti arah pembicaraan istrinya.


“ Awalnya aku masih percaya jika kamu jijik bersentuhan dengan wanita. Tapi, pemikiranku ternyata salah… Aku bukanlah satu – satu nya wanita yang bisa kamu sentuh…”, ucap Crystal dengan suara rendah.


“ Crystal !!!...jelaskan !!!..apa maksudmu berkata seperti itu !!!!....”, ucap Arnold sambil mencengkeram bahu istrinya dengan kuat.


“ Pikir saja sendiri…”, ucap Crystal sambil mendorong tubuh Arnold dengan keras.


Selanjutnya, diapun segera keluar dari dalam kamar meninggalkan Arnold yang terdiam mematung, memikirkan semua ucapan istrinya hingga suara mobil membuatnya tersadar.


“ Crystal !!!....”, teriaknya penuh amarah.


Arnoldpun segera berlari turun untuk menghentikan istrinya, tapi sayang mobil Crystal sudah keluar dari halaman rumah begitu dirinya tiba dibawah.


“ Sial !!!...”, maki Arnold dengan kesal.


Drttt…drttt…..


Ponsel Arnold bergetar beberapa kali tanda ada pesan masuk kedalam ponselnya. Arnold memicingkan sebelah matanya melihat nomor asing mengiriminya beberapa pesan.


“ Apa ini ?...”, Arnold langsung membulatkan kedua matanya begitu melihat pesan yang masuk kedalam ponselnya.


“ Jadi ini penyebabnya…”, guman Arnold geram.


Arnoldpun segera menghubungi nomor asing yang baru saja mengiriminya foto tersebut, namun gagal. Dia juga mencoba membalas pesan tersebut, juga tak terkirim.


“ Sial !!!...fake number !!!...”, maki Arnold dengan penuh amarah.


Diapun coba melacak ponsel dan mobil Crystal, namun hasilnya juga nihil. Arnold benar – benar dibuat kebakaran jenggot kali ini.


Sambil mengusap wajahnya dengan kasar, Arnold naik kedalam mobilnya dan mulai bergerak untuk mencari sang istri yang tak tahu dimana keberadaannya kini.


Selama perjalanan, Arnold menghubungi anak buahnya agar segera mencari keberadaan Crystal. Dia juga tak lupa menghubungi Lea dan Vely, berharap dua sahabat istrinya ini mengetahui keberadaan Crystal.


“ Aku yakin ini pasti ulah Enrico…”, ucap Arnold geram.


Sejak kecil bersama membuat Arnold sangat tahu pola pikir dan pergerakan sepupunya itu. Enrico itu hampir sama dengan Arnold, hanya saja sepupunya itu lebih fleksibel dalam berpikir dan bertindak jika dibandingkan dengannya.


Untuk kelicikan dan kekejaman mereka sebelas dua belas, mungkin darah Lincoln yang mengalir dalam tubuh keduanya membuat mereka memiliki sisi buruk yang sama.


Saat semua orang sedang sibuk mencarinya, Crystal malah enak – enakan menyantap chesse cake favoritnya disebuah café yang sempat didatanginya beberapa waktu yang lalu.


Café tempat Enrico bermain band bersama teman – temannya. Crystal sama sekali tak menyangka jika sepupu Arnold itu memiliki sisi lain seperti ini.


Melihat Crystal datang menyaksikan pertunjukannya, Enrico terlihat sangat bersemangat. Dia bahkan mempersembahkan sebuah lagu untuk istri sepupunya itu.


“ Kamu keren sekali tadi…”, puji Crystal begitu Enrico selesai dengan aksi panggungnya.


“ Aku senang kamu suka…”, ucap Enrico tersenyum manis.


Merekapun mulai berbincang dengan santai, sambil sesekali tertawa jika ada hal lucu yang terjadi dalam obrolan mereka.


Hal – hal ringan yang mereka bicarakan nyatanya membuat keduanya semakin akrab. Selama perbincangan tersebut, Enrico tidak pernah membahas masalah pekerjaan atau menanyakan sesuatu hal pribadi jika Crystal tak bercerita.


Bahkan jika Crystal memancing pembicaraan tentang Arnold, lelaki itu hanya menanggapi sepintas lalu saja tanpa ingin tahu lebih dalam.


Inilah yang Crystal sukai dari Enrico, dia bukan lelaki yang kepo dan suka mencampuri urusan orang lain. Dan yang pasti, berbincang dengannya membuat Crystal melupakan permasalahan yang dialaminya untuk sejenak.


Meski Crystal belum sepenuhnya jatuh dalam pesonanya, tapi hubungan yang terjalin saat ini sudah membuat Enrico puas, setidaknya semua rencananya berjalan dengan sukses, setidaknya untuk sejauh ini.


Berdasarkan informasi dari anak buahnya yang berada dikediaman Arnold, dia sangat yakin jika sepupunya itu sedang binggung mencari istrinya yang kabur dari rumah tanpa bisa terlacak.


Tanpa Crystal ketahui, Enrico diam – diam mematikan pelacak yang ada diponsel dan mobil Crystal. Semua dilakukannya agar dia sewaktu – waktu bisa bertemu dengan Crystal tanpa diketahui oleh Arnold.


Arnold yang sudah mengelilingi kota sedikit frustasi karena sudah dua jam dia berkeliling, sosok sang istri masih belum diketemukan juga.


Begitu juga dengan anak buahnya, yang sampai saat ini masih belum menemukan titik terang keberadaan istri bosnya itu.


Vely dan Nicholas yang mendapatkan kabar dari Arnold juga berusaha untuk mencari Crystal di tempat – tempat yang biasa gadis itu kunjungi, namun hasilnya nihil.


Lea yang masih berada dipulau berlianpun mencoba menghubungi teman – temannya untuk membantu mencari Crystal, tapi sampai saat ini juga masih belum ada kabar.


Bahkan Andrewpun terlihat cemas waktu dihubungi oleh Arnold tadi. Karena tadi pagi dikantor Crystal sama sekali tak menunjukkan gelagat yang aneh.


“ Kenapa juga bos pakai acara kabur segala…”, gerutu Andrew cemas.


Saat semua orang dibuat kalang kabut oleh kepergian Crystal setelah bertengkar dengan suaminya. Gadis yang dicari itu malah sedang asyik menikmati kue favoritnya sambil bercengkerama dengan Enrico dan teman – temannya.