Love Destiny

Love Destiny
KESALAH PAHAMAN



Pagi ini Crystal bangun dengan badan yang lebih segar dari biasanya. Tampaknya vitamin yang diberikan Elisabeth kepadanya semalam memberikan efek yang cukup besar.


Ditambah lagi, Adoff yang menyambutnya ketika membuka mata membuat suasana hati Crystal jadi lebih baik. Serigala putih itu terus menelusupkan kepalanya ke leher dan wajah Crystal, membuat gadis itu merasa geli.


“ Adoff…cukup…aku menyerah…”, ucap Crystal sambil tertawa lebar.


Tanpa dia sadari, sejak tadi dia bangun sudah ada seseorang yang memperhatikan interaksinya bersama Adoff dengan pandangan mematikan.


“ Seharusnya ku berikan kepada Vreyan saja serigala bau itu !!!...”, batin Arnold geram.


Cukup lama Arnold berdiri disamping pintu sambil melipat kedua tangannya didada, memandang tajam Crystal yang sama sekali tak menyadari keberadaannya dan terus asyik bermain dengan serigala putih kesayangannya, melupakan keberadaan suaminya disana.


“ Sudah puas mainnya?... ”, tanya Arnold garang.


Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Crystal malah bangkit dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, mengacuhkan Arnold yang menatap kepergian istrinya itu dengan tajam.


Melihat Crystal meninggalkannya, Adoff pun langsung turun dari ranjang dan keluar dari dalam kamar. Dia tidak mau dijadikan pelampiasan amarah majikannya jika tetap bertahan didalam sana.


“ Tahu diri juga dia !!!...”, batin Arnold sinis waktu melihat serigala putih tersebut perlahan pergi meninggalkan kamar.


Masih dalam mode ngambek, Crystal sama sekali tak menghiraukan Arnold. Seakan keberadaan suaminya itu hanyalah angin lalu baginya.


“ Sampai kapan kamu akan mendiamkanku seperti ini ?...”, tanya Arnold mulai jengah.


“ Sampai aku tidak marah lagi…”, tulis Crystal dalam secarik kertas yang diambilnya dari laci meja riasnya.


Membaca tulisan tersebut, Arnold hanya bisa mengambil nafas cukup dalam. Tampaknya dia harus lebih bersabar lagi dalam  menghadapi sikap keras kepala Crystal saat ini.


“ Aku minta maaf jika kemarin aku sedikit kasar kepadamu…itu semua diluar kontrolku. Kamu tahu kan jika sudah sangat lama aku menahan itu semua…hingga kemarin puncaknya. Aku benar – benar minta maaf  karena membuatmu seharian merasakan sakit hingga kesulitan berjalan…”, ucap Arnold penuh rasa penyesalan.


" Aku juga meminta maaf, karena membiarkanmu sendirian di rumah...", ucap Arnold sendu.


Crystal terdiam untuk beberapa saat, menatap kedalam mata suaminya dengan tajam. Namun, dia sama sekali tak mendapati kebohongan disana.


“ Kenapa kamu pergi setelah melakukan semua itu…apa semua lelaki selalu seperti itu, setelah mendapat kenikmatan langsung saja meninggalkan pasangannya. Tak perduli istrinya itu kesulitan bangun dan kesakitan…”, ucap Crystal dengan suara tercekat.


“ Maaf…tak seharusnya aku meninggalkanmu sendirian kemarin…”, ucap Arnold sambil memeluk tubuh istrinya dengan erat.


“ Kamu tidak tahu, betapa sakitnya aku kemarin. Belum lagi rasa malu yang harus aku tanggung karena kesulitan berjalan…”, ucap Crystal sambil memukul – mukul dada Arnold dengan keras.


Arnold membiarkan istrinya itu melampiaskan seluruh amarah dalam dirinya. Setidaknya, Crystal sudah mau bersuara, tak mendiamkanya seperti tadi.


“ Maaf …”, ucap Arnold sambil mengecup kening Crystal dengan mata terpejam.


FLASH BACK ON


Pagi itu, setelah melakukan penyatuan, Crystal yang sangat lelah tak kuasa untuk membuka mata dan mulai terlelap. Melihat istrinya tertidur, Arnold tersenyum puas.


Perlahan dia mengambil handuk dan air hangat untuk membersihkan tubuh istrinya dan memakaikan baju agar istrinya itu  tidak kedinginan.


Selanjutnya, diapun segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, Arnold segera turun mengambil sarapan untuk istrinya.


Karena dia sangat yakin, begitu membuka mata Crystal pasti akan kelaparan mengingat energy istrinya yang dia kuras habis dalam olah raga pagi ini.


Meski tidak tersenyum, namun aura kebahagiaan yang terpancar dari  dalam tubuh Arnold membuat para pelayan juga ikut merasa bahagia, sama dengan apa yang dirasakan majikannya saat ini.


Semua orang segera menyiapkan makanan yang diminta oleh Arnold dan menata apik diatas nampan. Setelah semua makanan tersaji, Arnoldpun segera naik membawa nampan tersebut dengan hati bahagia.


“Aku sama sekali nggak nyangka tuan muda bisa seromantis itu…”, ucap salah satu pelayan dengan wajah merona.


Melihat perlakuan Arnold terhadap Crystal membuat semua pelayan yang saat ini berkumpul didapur dibuat baper oleh pasangan pengantin baru tersebut.


“ Ahhh…aku jadi ingin secepatnya menikah….”, ucap salah satu pelayan sambil mengacak - acak rambutnya frustasi.


Diapun membayangkan ada seorang laki – laki seperti Arnold melamarnya. Tapi semua itu hanyalah mimpi, pacar saja dia tidak punya, djai siapa yang akan melamarnya.


Semua orang tampaknya larut dalam pikirannya masing - masing setelah melihat keromantisan tuan mudanya itu terhadap istrinya hingga kehadiran kepala pelayan membuyarkan lamunan mereka.


“ Sudah !!!…jangan halu terus. Cepat bekerja sana !!!...”, ucap kepala pelayan yang tiba – tiba hadir di dapur dan membubarkan kerumunan yang ada.


Semua orang pun segera bubar dan kembali pada pekerjaan mereka masing – masing begitu kepala pelayan menegur mereka.


“ Ck…ck…ck….”, kepala pelayan hanya bisa berdecak keras sambil menggeleng – nggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak buahnya.


Tapi tidak bisa dipungkiri, diapun juga merasa bahagia melihat tuan muda yang sudah diikutinya selama sepuluh tahun ini menunjukkan wajah bahagianya.


Setelah tiba didalam kamar, Arnold segera meletakkan nampan yang berisi makanan dan minuman untuk Crystal diatas nakas dan diapun segera mengambil laptop kemudian duduk diatas ranjang, disamping sang istri.


Rencananya hari ini Arnold akan mengerjakan semuanya dari rumah  sambil menemani sang istri. Namun satu panggilan darurat dari Vreyan membuat Arnold segera bergegas bersiap untuk pergi.


“ Aku pergi dulu ya. Aku janji akan pulang sebelum kamu terbangun…”, ucap Arnold sambil mengecup kening Crystal dengan lembut.


Sebelum pergi, dia masih sempat melihat wajah cantik istrinya yang sedang tertidur pulas. Panggilan telepon dari Vreyan, membuat Arnold segera bergegas pergi.


“ Siapkan semuanya, aku berangkat sekarang !!!...”, ucap Arnold tegas.


Tak lama setelah kepergian Arnold, perlahan Crystal mulai bergerak. Dia meregangkan kedua tangannya keatas dengan mata yang masih sedikit menutup.


Mata Crystal langsung terbuka sempurna saat meraba posisi  disamping tubuhnya sudah kosong, tidak ada sosok suaminya disana.


“ Dasar lelaki !!!...sudah mendapatkan keinginannya, langsung pergi saja !!!...”, batin Crystal kesal melihat suaminya sudah pergi meninggalkannya tanpa pamit.


Baru saja dia ingin bangun dan pergi kekamar mandi, namun langkahnya tertahan begitu dia merasakan rasa sakit yang teramat dalam dibagian intinya.


“ Ahhh…”, Crystalpun  berteriak dan kembali terduduk saat rasa ngilu tersebut kembali hadir.


Namun karena sudah ingin pergi kekamar mandi, Crystalpun menahan rasa sakit yang melanda. Dengan tertatih – tatih  dia melangkah menuju kamar mandi sambil meringis kesakitan.


“ Awas saja kamu  Arnold  !!!...”, batin Crystal geram.


Cukup lama Crystal berendam didalam bak berisi air hangat, untuk merilekskan tubuhnya dan sedikit menghilangkan rasa sakit yang ada.


Setelah selesai, Crystal langsung mengambil makanan yang ada diatas nakas dan mulai memakannya agar tubuhnya kembali bertenaga.


Crystal makan sambil sesekali menggerutu,  dia tak tahu jika yang menyiapkan makanan yang disantapnya ini adalah suaminya, Arnold.


FLASH BACK OFF


" Ayo turun...kita sarapan dulu...", ajak Arnold lembut.


" Kamu duluan saja...", ucap Crystal yang kembali menatap meja rias sambil membenahi wajahnya yang terlihat kusut.


" Jangan lama - lama ya...aku tunggu dibawah...", ucap Arnold sambil mengecup pucuk kepala Crystal sebelum berlalu.


Meski belum Arnold tahu jika Crystal masih belum sepenuhnya memaafkannya, namun setidaknya istrinya itu sudah mau berbicara dengannya, itu sudah cukup baik baginya saat ini.