Love Destiny

Love Destiny
MEMINTA IJIN



Setelah kepergian Mike,  dimeja makan kini hanya menyisahkan Crystal dan Arnold.  Suasana kembali sunyi dan rasa canggung kembali hadir.


“ Lanjutkan makanmu…”, ucap Arnold sambil mengambilkan Crystal sebuah sendok bersih dan meletakkan diatas piringnya.


Melihat Arnold kembali bersikap normal membuat Crystal bernafas lega. Beberapa kali gadis itu terlihat mencuri pandang, bibirnya terasa gatal untuk bertanya. Pertanyaan yang sedari tadi sudah ingin dilontarkannya.


“ Arnold…”, ucap Crystal sedikit cemas saat memanggil nama itu.


“ apa kamu tidak merasa ada sesuatu yang beda denganku hari ini…”, tanya Crystal penasaran.


“ Apa…”, Arnold balik bertanya sambil mengambil sepotong rendang daging dan meletakkannya dipiring Crystal.


“ Penampilanku…apa kamu tidak merasa ada yang aneh…”, ucap Crystal berusaha memperjelas pertanyaannya.


“ Memang ada apa dengan penampilanmu…”, jawab Arnold datar.


“ Apapun yang kamu pakai…tidak ada bedanya bagiku…”, ucapnya sambil memasukkan sepotong kentang kedalam mulutnya.


“ Apa orang ini buta…”, batin Crystal terkejut mendapat jawaban tersebut.


“ Aku lebih senang jika dia bereaksi seperti Mike, setidaknya dia bisa dikatakan normal…”, batin Crystal kecewa.


“ Apa tadi katanya….penampilan burukku kemarin dan penampilan anggunku sekarang tidak ada bedanya…dia benar – benar tidak normal….”, batin Crystal sedikit kesal.


Melihat wajah Crystal yang ditekuk dengan bibir manyun membuat Arnold  tidak bisa untuk tidak tertawa. Ditangkupnya dagu Crystal dengan lembut, ujung jempol Arnold perlahan mengusap bibir tunangannya itu dengan lembut.


“ Masih terlihat lezat…”, gumannya sambil tersenyum.


“ What….lezat…”, batin Crystal berteriak tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


“ Oh…dia benar – benar tidak normal…”, batinnya pasrah.


Dia hanya bisa meratapi nasib karena memiliki tunangan yang tidak  seperti manusia pada umumnya. Dia bahkan tidak bisa membedakan mana yang bagus dan mana yang tidak. Semua terlihat sama di matanya.


Jika sejak awal dia tahu bahwa Arnold tidak normal dan sama sekali tidak terganggu dengan penampilannya, maka Crystal tidak perlu repot-repot  menyiksa diri seperti itu.


Tapi syukurlah\,  Crystal sudah sadar sekarang\, sehingga dirinya tidak perlu memperjelek diri dan berpenampilan sebagai j****g lagi.


Mulai detik ini, dia ingin membuat dirinya secantik mungkin. Untuk menebus perbuatannya yang selalu menyiksa


kulit tubuh dan wajah pada kehidupan sebelumnya.


Melihat Crystal beberapakali menghembuskan nafasnya secara kasar membuat Arnold yang berada disampingnyapun bertanya.


“ Apa ada masalah…”, tanya Arnold penasaran.


“ Tidak…aku baik – baik saja…”, ucap Crystal sedikit terkejut.


“ Oh…”, jawan Arnold sambil terkekeh.


Melihat Arnold tertawa membuat Crystal terkejut karena selama ini dia tidak pernah melihat laki – laki itu menampakkan ekspresi, selain wajah datar dan dingin andalanya.


“ Dan sekarang dia tertawa…wow…”, batin Crystal takjub.


Crystal baru sadar jika sejak tadi sikap Arnold sangat berbeda dari sebelumnya. Bahkan tadi saat melihat dirinya marah, tunangannya itu  mampu membuatnya tenang dengan tingkah laku dan ucapannya yang lembut dan hangat.


“ Apa ini efek karena dia tidur nyenyaknya  semalam…”, batin Crystal menebak.


Sebenarnya temperamen buruk Arnold itu berasal dari penyakitnya, yang tidak bisa tidur dalam jangka waktu yang lama.


Insomnia akut, penyakit ini sudah dideritanya sejak lama. Tidak ada yang bisa menyembuhkan penyakit tersebut,bahkan dokter ternama sekalipun.


Berbagai upaya dilakukan oleh Arnold guna menyembuhkan penyakitnya itu, berkeliling dunia mencari dokter yang bisa menyembuhkannya, namun hasilnya nihil.


Obat – obatan tidak mampu mengatasi permasalahannya itu, hingga dia harus memanggil seorang psikologis professional setiap kali hendak tidur.


Semua itu disebabkan oleh hormone kortisol atau hormone stress yang meningkat tajam dalam tubuh penderita., membuatnya sulit untuk mengontrol emosinya.


Bahkan orang yang mengalami insomnia akut seperti Arnold ini tidak jarang yang mengalami gangguan kecemasan yang berlebihan  hingga dapat menimbulkan depresi.


Selain jiwanya terganggu, kekebalan tubuh penderita insomnia akut juga semakin lemah sehingga beberapa penyakit seperti jantung, asma, diabetes, dan tekanan darah tinggi kemungkinan besar menyerangnya.


Karena lemahnya system kekebalan tubuh penderita, bukan tidak mungkin hal tersebut dapat memperpendek masa hidupnya.


Melihat mood Arnold yang cukup bagus hari ini, Crystal berinisiatif  untuk mengajaknya berbicara, meminta ijin agar dirinya bisa kembali berkuliah.


Jika dalam kondisi normal, saat ini Crystal sudah berada disemester tiga dan sebentar lagi akan naik ke semester empat.


Namun, karena Arnold melarangnya untuk keluar selama menjadi tunangannya, maka Crystal memutuskan untuk mengajukan cuti selama satu semester, berharap setelah masa cuti habis dia bisa bebas dari rumah ini dan kembali berkuliah.


Meski harapan tersebut sangatlah kecil, tapi Crystal tidak patah semangat untuk terus berusaha agar masa


depannya cerah.


Pagi ini, sebelum dirinya turun untuk sarapan,  pihak kampus menghubunginya untuk segera melakukan registrasi ulang semester baru karena  masa berlaku ijin cutinya telah habis.


“ Ya...mungkin sekarang waktu yang tepat. Mumpung moodnya sedang bagus…”, batin Crystal bersemangat.


Crystalpun memberanikan diri untuk berbicara. Dalam kehidupan keduanya ini, dia berharap bisa menyelesaikan studinya dengan baik.


Setidaknya jika sesuatu hal yang buruk terjadi dimasa depan, dirinya  masih bisa bekerja dengan mengadalkan gelar yang sudah didapatkannya.


“ Aku tidak akan menyia – nyiakan pendidikanku seperti kehidupanku sebelumnya. Dalam kehidupanku kali ini, aku harus bisa meningkatkan kualitas dan kemampuan diriku agar bisa membanggakan semua orang yang aku sayangi ”, batin Crystal optimis.


Setelah menarik nafas dalam beberapa kali, Crystalpun memutar tubuhnya menghadap kearah Arnold yang berada disampingnya.


“ Bolehkan aku kembali kuliah…”, ucap Crystal dalam satu tarikan nafas.


Mendengar permintaan tunangannya, Arnold hanya menatapnya sekilas dan kembali acuh. Bahkan kini wajah datar kembali tampil dipermukaan.


Melihat ekspresi Arnold yang acuh terhadap perkatannya diam – diam Crystal meruntuki dirinya yang nekat meminta hal yang jelas – jelas akan ditolak.


Meski dia sudah mengetahui akan kembali mendapatkan kekecewaan, tapi dia juga tidak menyesal. Setidaknya dirinya sudah berusaha untuk mengubah nasib hidupnya.


Tidak ingin membuat Arnold marah, Crystalpun kembali terdiam dan menunduk sambil mengacak – acak makanan yang ada didepannya tanpa minat.


“ Kalau tidak boleh, tidak apa…”, guman Crystal pelan, berusaha untuk menahan rasa kecewa dalam hatinya.


Mendengar ucapan tunangannya itu, seketika wajah Arnold berubah menjadi gelap. Crystal yang melihat perubahan ekspresi laki – laki disampingnya sedikit merasa panik.


Dia tidak ingin merusak hubungannya dengan Arnold yang sudah mulai membaik tadi. Maka dengan cepat diapun kembali bersuara.


“ Aku hanya ingin kembali kuliah…dan sama sekali tidak ada niatan untuk kabur dari sini…”, ucap Crystal penuh penekanan.


Arnold hanya diam sambil menatap mata gadis itu dengan tajam. Ekspresi binggung dan panik  yang tampak diwajah Crystal  membuat Arnold kembali mengingat kenangan indah sekaligus mengerikan waktu itu..


Malam dimana dirinya hilang kendali dan dikuasai oleh amarah karena Crystal pergi dari rumahnya tanpa pamit. Rasa cemas dan takut kehilangan  membuat amarahnya tersulut.


Apalagi saat itu dirinya sudah tiga hari tidak bisa tertidur karena buruknya suasana hati sehingga hipnotis yang dilakukan oleh psikolog pribadinya sama sekali tak berpengaruh.


Arnold yang berada dalam emosi yang buruk semakin tak terkontrol dan hilang kendali hingga dia melakukan hal tercela pada tunangannya.


Agar gadis yang dicintainya itu tidak pernah meninggalkannya, maka malam itu dia memperkosa Crystal, dengan harapan setelah kejadian itu gadis tersebut tidak akan pernah meninggalkannya.


Dan benar prediksinya,  setelah kejadian tersebut Crystal sudah tidak berulah lagi. Bahkan selama kepergiannya untuk mengurusi cabang diluar kota, gadis itu sama sekali tidak keluar dari dalam kamarnya.


Crystal yang melihat Arnold yang masih terdiam dan acuh semakin ketakutan. Keringat digin mulai mengucur dari tubuhnya.


“ Bukankah aku bilang tidak jadi…kenapa dia masih menatapku seperti itu…”, batinnya ketakutan.