Love Destiny

Love Destiny
TEMU KANGEN



Suasana hati Crystal pagi ini cukup bagus, mulai bangun tidur hingga keluar dari dalam kamar mandi dia terus saja bersenandung dengan riang gembira membuat Arnold menyungingkan senyum tipis.


“ Kelihatannya sayangku pagi ini bahagia banget…”, ucap Arnold sambil memeluk sang istri dari belakang sambil tersenyum.


Dia dengan rakusnya menghirup dalam – dalam aroma sabun yang menguar dari tubuh Crystal. Aroma vanilla milk yang menyegarkan dan menenangkan baginya.


“ Hari ini aku akan bertemu sahabatku, Vely dan Lea…”, ucap Crystal riang.


Tubuh Arnold tiba – tiba menegang saat sang istri menyebutkan dua nama sahabatnya itu. Entah kenapa fellingnya tak bagus tentang hal itu.


“ Kalian mau kemana ?...”, Arnold memicingkan mata curiga waktu mendengar nama Vely dan Lea keluar dari mulut sang istri.


“ Hanya kumpul – kumpul saja…kan udah lama nggak ketemu… ”, ucap Crystal sambil beranjak pergi menuju walk in closet untuk berganti pakaian.


Selanjutnya, masih dengan bersenandung riang Crystal segera merias wajahnya agar tidak terlihat pucat. Arnold hanya memandang istrinya yang sibuk berdandan dengan wajah suram.


Dengan tatapan tajam dia memandang sang istri yang terlihat cantik berseri. Hatinya seakan tak rela melihat Crystal berdandan cantik demi bertemu dengan teman – temannya di luar rumah.


Sifat posessif dan protektivya kembali muncul melihat sang istri terlihat sangat menawan hari ini. Bahkan Arnold berencana untuk ikut kekampus dan mengosongkan jadwalnya jika Crystal mengijinkan.


“ Aku antar ya…”, ucap Arnold sambil mengelus kepala istrinya dengan lembut.


“ Tidak usah, sebentar lagi kak Vely datang menjemputku…”, ucap Crystal sambil tersenyum.


Mendapatkan penolakan dari sang istri membuat senyum diwajah Arnold mulai memudar, namun hal itu tak disadari oleh Crystal yang sibuk memasukkan beberapa dokumen yang akan di bawanya untuk bimbingan skripsi hari ini.


Setelah semuanya siap, Crystalpun segera turun menuju ruang tamu sambil menunggu kabar dari Vely yang hari ini akan menjemputnya.


Beberapa kali Crystal terlihat mengecek isi dalam tasnya untuk memastikan bahwa semua berkas sudah ada. Hanya tinggal mempersiapkan diri untuk menemui dosen pembimbingnya yang terkenal galak dan sedikit rewel tersebut.


Dia sangat berharap bab tiga dan empat yang telah dia revisi sebanyak enam kali tersebut hari ini bisa disetujui sang dosen.


“ Nak…doakan skripsi mama hari ini diterima ya, biar mama cepat ujian dan lulus sehingga bisa fokus padamu…”, guman Crystal sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit tersebut.


Melihat sang istri terlihat asyik ngobrol dengan calon anak yang ada dalam kandungannya, Arnold yang baru saja turun segera menghampiri sang istri sambil tersenyum lebar.


Diapun segera berjongkok dihadapan sang istri sambil mengecup perut Crystal yang terlihat membuncit beberapa kali dengan penuh kasih sayang.


Setelah berinteraksi dengan sang anak, Arnold yang semula hendak melarang sang istri pergi akhirnya kembali mengalah untuk kesekian kalinya.


“ Baiklah, aku ijinkan kamu pergi sama Lea dan Vely…tapi kamu harus hati – hati ya. Kalau merasa capek, langsung pulang atau hubungi aku, nanti aku jemput…”, ucap Arnold lembut.


Mendengar ucapan ARnold, Crystal tersenyum manis sambil mengelus kepala sang suami yang masih terlihat sibuk dengan perut buncitnya.


Setelah mendapatkan kabar jika Vely sudah dekat dengan kediamannya, Crystalpun segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju teras depan rumah.


Tak lama kemudian mobil BMW berwarna hitam memasuki halaman rumah. Sebelum keduanya pergi, Arnold menyempatkan diri untuk berbincang dengan Vely agar menjaga Crystal dengan sangat hati – hati selama dikampus.


“ Kalau ada apa – apa, lekas hubungi aku…”, ucap Arnold sambil menatap Vely dan Crystal bergantian dengan tatapan cemas.


“ Siap bos…”, ucap Vely dengan gerakan tangan hormat kepada Arnold sambil tersenyum lebar.


Velypun segera melajukan kendaraannya sambil geleng – geleng kepala melihat betapa overprotektivnya suami sahabatnya itu.


“ Apa bodyguard dibelakang perlu menemani kita ?…”, tanya Vely sambil melirik mobil hitam yang ada dibelakangnya.


“ Semoga saja Nicholas nggak kaya gitu saat aku hamil nanti…”, ucap Vely menerawang.


Dia sedikit ngeri jika membayangkan Nicholas akan sepossesif dan seprotektif itu pada dirinya, seperti apa yang dilakukan oleh Arnold terhadap Crystal.


“ Jika melihat bagaimana bucinnya Nicholas setelah menikah dengan kakak, aku rasa hal itu kemungkinan besar akan terjadi…”, ucap Crystal dengan senyum mengejek.


Mendengar ucapan Crystal, Vely hanya bisa bergidik ngeri. Meski dia senang dengan perhatian sang suami, namun jika berlebihan seperti itu tentunya akan merasa tidak nyaman.


“ Kakak seharusnya bersyukur, kita mempunyai suami yang sangat mencintai kita sebesar itu…”, ucap Crystal menasehati.


Velypun hanya mencibir mendengar kata – kata Crystal yang sok bijaksana tersebut. Melihat hal itu, Crystal hanya bisa terkekeh sambil jari lentiknya menari - nari diatas layar ponselnya membalas pesan Lea yang masuk.


Tak terasa mobil sudah masuk kedalam kampus bintang. Velypun dengan setia menemani kemanapun Crystal pergi sesuai dengan pesan Arnold kepadanya.


Sambil menunggu sahabatnya itu bimbingan, Velypun bercengkerama dengan Lea yang baru saja tiba dikampus untuk mengurus kembali mata kuliahnya dan mencabut ijin cutinya yang masih ada.


“ Jika kamu kuliah gimana perusahaanmu ?...”, tanya Vely penasaran.


“ Ada om ku yang membantu mengurus disana. Tapi dua minggu sekali aku tetap harus kepulau berlian, memastikan semuanya masih berjalan ditempat yang semestinya. Aku sangat berterimakasih kepada papimu, berkat beliau aku jadi bisa menjalankan perusahaan peninggalan mamaku dengan baik…”, ucap Lea sambil mengenggam tangan Vely  erat dengan mata berbinar.


“ Papi tidak keberatan membantumu, selama kamu masih memerlukan. Dan papi juga bilang jika beliau sangat bangga melihat keberhasilanmu saat ini…”, ucap Vely menyampaikan apa yang pernah papinya katakan kepadanya.


Saat keduanya asyik mengobrol tiba – tiba dikejutkan dengan suara teriakan seorang gadis yang berlari kehadapan mereka.


“ Aku berhasil…yeyyyy….akhirnya ujian juga…”, teriak Crystal gembira.


Velypun segera menghentikan kekonyolan Crystal yang melompat – lompat kegirangan karena bab tiga dan empatnya telah disetujui yang menandakan bahwa dia bisa mengikuti ujian skripsi yang dijadwalkan awal bulan depan tersebut.


“ Crystal !!!...Stop !!!...ingat bayimu !!!...”, teriak Vely dengan mata melotot.


“ Upss…maaf kak…habisnya aku terlalu gembira…”, ucap Crystal sambil cengengesan.


Vely yang melihat Crystal tersenyum tanpa dosa hanya bisa menepuk dadanya beberapakali sambil menghela nafas dalam – dalam.


Dia tadi sudah spot jantung melihat Crystal melompat – lompat seperti anak kecil. Vely sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada kandungan Crystal, mengingat pada trimester awal kandungan sahabatnya itu sangat lemah hingga membuatnya harus berulang kali masuk rumah sakit.


“ Bisa tidak kamu bersikap normal tanpa membuat orang kena serangan jantung !!!...”, omel Vely tajam.


“ Yaelah Vel…lu segitu takutnya sama Arnold…”,ucap Lea mengejek.


“ Bukan soal Arnold !!!...aku Cuma khawatir sama keponakanku yang masih belum lahir itu...”, ucap Vely sambil melirik perut Crystal dengan cemas.


“ Maaf kak…aku janji, lain kali nggak akan kuulangi lagi…”, ucap Crystal merajuk.


Melihat wajah Crystal yang penuh rasa bersalah, Velypun mulai melunak dan langsung memeluk sahabatnya itu dengan penuh kasih sayang.


“ Lain kali jangan diulangi lagi ya…”, ucap Vely sambil mengelus kepala Crystal dengan lembut.


Lea yang melihat drama dua sahabatnya itu hanya bisa memutar bola matanya malas. Diapun segera mengajak kedua sahabatnya untuk pergi kecafe langganan mereka yang ada didepan kampus.


Selain untuk merayakan skripsi Crystal yang sudah disetujui, mereka juga ingin bercengkerama dengan santai karena sudah cukup lama ketiganya tidak bisa berkumpul karena aktivitas dan kondisi yang tidak memungkinkan untuk ketiganya bertemu dan berkumpul.