
Pertemuan Crystal dengan Mr. Ortega berjalan dengan lancar. Meski awalnya sempat menolak bahkan enggan berbicara lebih jauh, namun saat melihat angka yang ada di atas kertas, kedua mata lelaki tua itu langsung berbinar terang.
Crystal yakin, dengan presentase dan harga yang diberikannya kepada pengusaha Beligia itu, dia tentunya akan lebih memilih dirinya dibandingkan Santoso.
Selain nilai keuntungan yang didapat cukup tinggi, jika berbisnis dengan Crystal dia tidak perlu memikirkan resiko barang yang akan dibelinya, karena semuanya sudah sesuai dengan ketentuan pemerintah.
Lain halnya jika dirinya berbisnis dengan Santoso, meski mendapatkan harga rendah, namun resiko barang tersebut tidak selamat sampai negaranya cukup tinggi terkait masalah birokrasi yang ada.
( anggap saja percakapan ini dalam bahasa inggris ya…)
“ Senang berbisnis dengan anda, nona Crystal. Semoga kerja sama kita bisa berjalan lancar…”, Ortega terlihat sangat antusias.
“ Tentu saja tuan….semoga anda puas dengan produk kami. Jika anda ingin memperluas pasar di kawasan Asia, kami siap membantu anda…”, ucap Crystal sambil menjabat tangan Ortega dengan erat.
“ Baik…untuk masalah itu, bisa kita bicarakan lagi nanti…”, ucap Ortega tersenyum lebar.
Saat itu juga, Ortega dan Crystal langsung menandatangani MOU kerjasama mereka karena pengusaha Belgia tersebut sudah sangat yakin hingga dia merasa tidak perlu bertemu Santoso lagi.
Crystal terlihat sangat puas dengan kinerja Alvin yang diangap gercep (gerak cepat) tersebut, bahkan sampai bisa menyakinkan Ortega untuk mau bertemu dengannya dan menyiapakan segala sesuatunya, bahkan sampai perjanjian kerjasama yang tidak ada dijadwal awal.
Berkat bantuan Lea, Crystal bisa mengetahui semua hal tentang Ortega sebelum mereka bertemu sehingga dia bisa menyiapkan strategi yang cocok untuk ditawarkan kepadanya.
Jika pertemuan pertama dengan Mr. Ortega berjalan dengan sangat lancar, namun tidak dengan pertemuan Crystal yang kedua, Mr. Radhakishan, pengusaha muda India.
Negosiasi dengannya berjalan sangat alot. Banyak hal yang menjadi pertimbangan lelaki berusia empat puluh tahun ini.
Membuat Crystal sempat frustasi dibuatnya. Namun bukan Crystal namanya jika dalam negosiasi tersebut tidak membuahkan hasil.
Meski tidak seratus persen berjalan dengan lancar, namun Crystal sangat optimis jika penawaran yang dibuatnya tersebut cukup membuat Radhakishan bimbang.
Sekarang dirinya dan Lea tinggal menunggu hasil dari pertemuan Radhakishan dengan Santoso. Melalui chip yang dipasangnya pada tubuh Radhakishan saat berrtemu tadi, mereka dapat mengetahui percakapan apa yang terjadi disana.
Dalam pertemuan tersebut, selain Radhakishan dan Santoso juga terdapat Markus, papa Lea dan seorang wanita yang diyakini adalah Tante Lea, adik kandung mamanya Lea jika didengar dari suara dan nama wanita tersebut.
Dari percakapan yang mereka lakukan, dapat ditarik kesimpulan jika mereka bukanlah pertama kali melakukan kerjasama.
Bukan hanya kerjasama dalam pendistribusian barang secara illegal, mereka ternyata juga berencana mengambil alih Abraham group seperti yang mereka lakukan terhadap perusahaan mamanya Lea, MTL Group.
Mendengar hal itu, Lea sangat marah. Apalagi saat mendengar dengan jelas bahwa tantenya itu juga mempunyai hubungan terlarang dengan kakak iparnya yang tak lain adalah papa kandung Lea.
“ Dasar j****g !!!...Aku nggak nyangka tante yang kupercayai akan menusukku dari belakang seperti ini !!!...”, ucap Lea sambil memukul keras tembok yang ada disampingnya hingga tangan kanannya berdarah.
“ Hey…tenanglah !!!...perlahan kita akan ungkap semuanya…”, ucap Crystal sambil memeluk sahabatnya itu dengan erat.
Bahkan melalui chip tersebut mereka juga tanpa sengaja mengetahui rahasia terdalam Radhakishan, yang tentunya nanti akan digunakan oleh Crystal sebagai kartu truft dalam menghadapi mereka.
Sekarang yang menjadi teka – teki adalah siapa sebenarnya Mr. X yang melakukan panggilan video dengan mereka berempat.
Karena Crystal merasa asing dengan suara berat pria tersebut. Tentunya jalan satu – satunya adalah dengan mendekati mereka berempat yang menjadi kunci permasalahan ini agar identitas Mr. X bisa terungkap.
…………………………..
Kampus bintang
Brian dengan tak tahu malunya seharian ini terus saja menganggu Vely hingga membuat gadis itu semakin muak. Dia bahkan meminta papinya untuk mengirimkan beberapa orang pengawal untuk menjauhkan Brian darinya.
Namun nyatanya hal tersebut sama sekali tidak berpengaruh pada Brian yang mukanya setebal tembok itu. Meski sudah dihalau dan dipukul dia tetap mencari cara untuk mendekati Vely saat para pengawalnya itu lengah.
Entah kenapa Brian masih sangat yakin jika Vely masih sangat mencintainya. Dan dia akan melakukan apa saja agar gadis itu kembali padanya.
Hanya itulah cara satu – satunya untuk mengembalikan perusahaan dan status keluarganya agar bisa kembali seperti sedia kala.
Vely yang jengah dengan kelakukan Brianpun mengadukan hal tersebut kepada Nicholas, yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya.
Nicholas yang hari ini kebetulan sedang berada diluar menyempatkan diri untuk menemui kekasihnya itu dan menghiburnya.
Mengetahui Nicholas sudah dalam perjalanan ke kampus, hati Vely merasa gembira, setealh sekian lama menjalani hubungan jarak jauh akhirnya dia bisa bertemu dengan sang pujaan hati.
Tidak ingin bertemu dikampus, Vely mengajak Nicholas bertemu diluar. Disebuah restoran tempat dimana Nicholas dulu pernah menembaknya.
Setibanya direstoran, Vely yang sudah melakukan reservasi sebelum berangkat tadi langsung menempati tempat duduknya sambil menunggu Nicholas datang.
Baru juga pantatnya mendarat dikursi, tiba – tiba Brian datang dan langsung duduk dihadapannya.
“ Vely, aku sudah belajar dari kesalahanku. Aku bersumpah akan memperlakukanmu dengan sangat baik mulai sekarang dan kita bisa langsung menikah setelah lulus. Tolong…beri aku kesempatan sekali lagi untuk membuktikan semuanya itu…”, ucap Brian memohon.
“ Pergilah !!! aku sudah bilang, jangan pernah menunjukkan wajahmu didepanku lagi !!! menjijikkan !!!...”, ucap Vely tajam.
“ Vely!!!...berhentilah membohongi dirimu sendiri !!!..kamu bersama b*****n itu hanya ingin memprovokasiku !!!..hanya ingin balas dendam padaku bukan !!!..katakan kalau kamu tidak menyukainya !!! katakan\, orang yang kamu sukai itu adalah aku !!!...”, teriak Brian menggila.
Saat Vely hendak berkata, tiba – tiba Nicholas sudah berada dihadapan mereka berdua dan menatap sinis kearah Brian.
Melihat kedatangan Nicholas, Brian sedikit gusar namun ini adalah kesempatan terakhirnya untuk membujuk Vely agar memaafkan dan bersama dengannya lagi.
“ Aku sudah mengenal Vely sejak masih bayi. Dia sudah menyukaiku selama dua puluh tahun. Kau pikir kau siapa !!!...kau pikir Vely akan jatuh cinta kepada gigolo sepertimu !!! jangan bermimpi !!!...”, ucap Brian sengit.
Melihat Vely mencium Nicholas didepan matanya, wajah Brian berubah menjadi merah padam hingga urat – urat lehernya terlihat jelas karena amarah.
“ Vely !!!...kau !!!....”, ucapnya sambil berdiri dan menunjuk kearah Vely dan Nicholas dengan tatapan penuh amarah.
“ Sebentar lagi kami akan resmi bertunangan, dan setelah aku lulus, kami akan langsung mengelar acara perrnikahan…”, ucap Vely yang langsung menggandeng mesra Nicholas pergi meninggalkan restoran.
Brian menatap kepergian keduanya dengan pandangan nanar. Hancur sudah harapan dia satu – satunya untuk mengembalikan posisi keluarganya.
Dia langsung terduduk lemas di atas kursi, pikirannya sekarang benar – benar kalut. Apalagi yang bisa dilakukannya sekarang.
Sudah tidak ada yang tersisa dalam hidupnya. Bahkan papanya yang berada dirumah sakit juga belum bisa pulang karena kondisinya masih belum stabil.
Saat ini Brian dan mamanya mengontrak di sebuah rumah yang cukup sederhana karena dana yang mereka punyai hanya cukup untuk menempati rumah tersebut.
Sedangkan rumah dan semua asetnya sudah disita oleh pihak perbankan. Bahkan untuk menutup biaya operasi dan perawatan sang papa saja dia masih harus mencari pinjaman kesana kemari.
………………………..
Di ibukota
Disebuah gudang kosong yang berada dipinggiran ibukota terlihat beberapa orang berpakaian hitam dengan tudung hitam yang menyelimuti hingga kepala mereka terlihat memasuki sebuah bangunan kosong yang tertutupi oleh semak belukar yang tumbuh tinggi disekitarnya.
“ Tuan…informan tersebut sudah berhasil kami tangkap ”, ucap salah satu bayangan hitam menghadap kepada Arnold begitu dia tiba disana.
Tanpa berkata apapun Arnold dan Vreyan serta beberapa pengawalnya segera masuk kedalam sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, hanya ada sebuah meja dan satu buah kursi kayu serta almari tua yang berisi aneka macam senjata yang ada disana.
Ruangan tanpa adanya ventilasi dan penerangan yang minim membuatnya terasa sangat sesak karena pasukan oksigen dalam ruangan tersebut sangatlah kurang.
Pria dengan netra gelap itu kemudian duduk dikursi kayu tersebut sambil menatap tajam kearah tawanan yang ada dihadapannya.
“ masih belum mau bicara…”, tanya Arnold pada lawan bicaranya, seorang laki – laki yang sudah kehilangan semua jari kaki dan tangannya.
Bukannya merespon, lelaki tersebut malah membuang ludah dihadapan Arnold sambil berdecih lirih.
“ Berikan aku pisau…”, ucap Arnold melirik Vreyan yang berdiri disampingnya.
“ Tuan, anda ingin melakukannya sendiri ? aku bisa melakukannya untuk anda …”, ucap Vreyan sambil berjalan kearah lemari kayu dan mengambil sebilah pisau panjang yang sangat tajam yang ada disana.
“ Tidak…akan kulakukan sendiri demi menghormati tamu agungku hari ini….aku akan melakukan semuanya hingga aku merasa jenuh…”, ucap Arnold datar dan dingin sambil memainkan pisau yang ada dalam genggamannya.
Membuat ruangan lembab tersebut semakin bertambah dingin karena aura membunuh sangat kental disana.
Arnold berjalan mengelilingi tubuh lelaki yang telah terikat tersebut sambil memakai sarung tangan karet dengan pandangan tajam.
Seorang informan yang telah menjual rahasia perusahaannya pada pemerintahan asing. Dan juga seseorang yang berhubungan langsung dengan pembunuhan mendiang mamanya, seorang penghubung yang sudah lama dicari Arnold.
Arnold tersenyum saat benda tajam yang ada ditangannya mencongkel satu matanya dan membuat lelaki itu mengerang kesakitan.
Darah lelaki itu seketika menyembur keluar dan menodai kemeja hitam yang dipakainya. Belum puas sampai disitu, Arnold langsung menebas satu telinganya membuat lelaki tersebut sekali lagi menjerit kesakitan.
“ Auhhh…achhh…achhh…”, hanya suara lenguhan yang keluar dari bibir laki – laki yang ada dihadapannya itu.
“ Masih bungkam rupanya…”, ucap Arnold dengan suara yang sangat rendah dan datar.
“ Vreyan...ambilkan bor disana. Siapa tahu jika wajah dan tubuhnya aku lubangi dia mau bersuara…”, perintah Arnold sambil membuang pisau yang tadi dipegangnya.
Suara berisik bor listrik dan teriakan menyayat hati terdengar seperti alunan music yang begitu menenangkan hati digendang telinga Arnold.
Percikan darah dan ceceran daging yang ikut tersembur keluar setelah dibor terlihat membasahi seluruh ruangan hingga bau anyir semakin kental tercium.
Melihat musuhnya masih diam membisu tak bersuara membuat Arnold sedikit bosan dan langsung memotong lidahnya dengan sekali tebas, membuat lelaki itu tak bisa bersuara.
“ Aku sudah bosan…potong tangan dan kakinya menjadi beberapa bagian, sisakan tubuh atas dan kepalanya saja…”, perintah Arnold dan kembali duduk dikursinya dengan tenang.
Vreyan langsung mengarahkan samurainya dan memutilasi satu persatu anggota tubuh musuhnya yang masih dalam keadaan hidup tersebut.
Arnold hanya menyaksikan adegan didepannya dengan tatapan datar dan dingin, tanpa ekspresi apapun.
Tawanan tersebut terlihat menahan rasa sakit yang teramat sangat saat tangan dan kakinya dimutilasi menjadi beberapa bagian dalam keadaan dirinya masih hidup.
Nafasnya tersengal – sengal, akibat kurangnya pasokan oksigen dalam ruangan dan rasa sakit yang teramat menyiksa.
“ Besok, bawa istri dan anaknya kemari…”, perintah Arnold lewat sambungan telepon.
Musuh yang masih menyisakan satu bola mata tersebut terlihat cukup terkejut saat mengetahui Arnold telah menemukan keluarga yang telah disembunyikannya selama puluhan tahun dari dunia.
“ Terkejut !!!...”, ucap Arnold menyeringai.
“ Sudah terlambat !!!...”, ucap Arnold dingin, kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan.
Menyisakan musuh dalam kondisi tubuh berlubang dan kepala yang hanya menyisakan satu bola mata. Darah segar terus mengalir dari tubuhnya yang tergolek tak berdaya di lantai, menunggu kematian datang menjemputnya.