Love Destiny

Love Destiny
MASA LALU VREYAN



“ Tak tertandingi !!!...”


“ Apakah guru bercanda !!!...”


“ Hanya seseorang yang luar biasa dan maha kuasa yang bisa seperti itu !!!...”


“ Crystal !!!...bagaimana mungkin !!!...”


“ Gadis bodoh itu, bahkan membunuh semut saja dia tidak bisa !!!...”


“ Bahkan, nona Casandra yang hebat saja tidak bisa melampaui ekspetasi guru !!!...”


Vreyan turun dari ruang kerja Arnold sambil mengomel tak jelas, sesekali mengumpat dan memaki dengan kata - kata kasar.


Sesampainya dihalaman depan rumah, dia duduk dibawah pohon beringin yang tumbuh besar disana, menatap kearah langit yang masih terlihat gelap.


Udara dingin yang berhembus menyentuh kulit tidak dia perdulikan, tubuhnya bersandar di batang pohon dan kedua tangannya dijadikan alas kepalanya, pandangan matanya menerawang jauh di atas sana.


FLASH BACK ON


Disebuah gubuk tua yang reyot, terlihat seorang bocah kecil berusia 12 tahun meringkuk didepan perapian sambil menunggu bubur yang dimasaknya matang.


Bocah kecil itu kemudian mengaduk – aduk bubur yang sudah meletup – letup diatas panci. Setelah dirasa sudah matang, panci tersebut diangkatnya dengan menggunakan potongan kain sebagai alas dan langsung membawanya kedalam kamar.


Didalam kamar, diatas ranjang kayu terlihat seorang wanita paruh baya terbujur lemas dengan nafas tersenggal – senggal menatap kearahnya.


“ Vreyan…”, panggil wanita itu sambil menggerakkan satu tangannya.


Bocah kecil yang bernama Vreyan tersebut langsung bergegas masuk dan meletakkan bubur panas yang ada dalam panci di bawah ranjang.


“ Ibu ingin apa ?...ibu makan dulu ya, aku sudah buatkan bubur untuk ibu…”, ucap Vreyan kecil sambil membantu ibunya untuk duduk.


“ Apakah ayah dan kakakmu sudah pulang ?...”, tanya wanita itu lemas.


“ Belum bu…ayah dan kakak belum pulang…”, jawab Vreyan sambil mulai mengangkat panci yang berisi bubur tersebut ke atas pangkuannya yang sebelumnya sudah diberi beberapa helai kain untuk alas agar kakinya tidak kepanasan.


Dengan sabar dan telaten Vreyan menyuapi sang ibu dengan bubur buatannya hingga tinggal setengah.


“ Ibu sudah kenyang…makanlah…”, ucap wanita itu kemudian dirinya mulai berbaring kembali diatas ranjang kayunya.


Melihat ibunya sudah menutup mata, Vreyan kecil segera mengambil sebuah jarik dan menyelimuti ibunya dengan kain jarik itu agar tidak kedinginan.


Perlahan Vreyan berjalan keluar sambil membawa panci yang masih tersisa bubur nasi buatannya tadi.


Sambil menunggu ayah dan kakaknya pulang bekerja, Vreyan memakan bubur yang tersisa lumayan banyak tersebut sambil menatap keluar.


Tiba – tiba kedua matanya melihat kobaran api yang sangat besar tidak jauh dari rumahnya.  Banyak orang  berlari ketakutan , sedetik kemudian dia melihat hujan api mulai turun dari langit.


Rumah warga yang rata – rata berasal dari gedeg ( dinding bambu ) tersebut dengan cepat mulai terbakar.


Vreyan kecil yang panik segera membangunkan sang ibu agar cepat keluar dari rumah. Ibunya yang masih dalam kondisi sakit dan badannya sangat lemas, tidak bisa berjalan cepat  membuatnya terjatuh.


Pada saat jatuh, tiba – tiba atap rumah yang sudah mulai terbakar menimpah tubuhnya. Dengan sepenuh tenaga sang ibu segera mendorong Vreyan keluar dari dalam rumah sebelum jatuh pingsan.


“ Ibu !!!!....Ibu !!!....”, Vreyan kecil terus saja menjerit dan menangis melihat ibunya berada didalam rumah terkepung api.


“ Tolong !!!...tolong !!!...”, teriak Vreyan menghentikan siapa saja yang dia temui agar menolong sang ibu.


Namun semua orang terlihat sangat panik dan berlari kencang menyelamatkan diri mereka masing – masing.


Dari kejauhan dia melihat ayah dan kakaknya jatuh ketanah setelah terdengar bunyi tembakan berulang – ulang.


“ Ayah !!!...Kakak !!!...”, teriaknya histeris saat keduanya tidak terbangun lagi setelah tersungkur ditanah.


Dengan wajah panik, Vreyan lari mendekat kearah dimana tubuh ayah dan kakaknya terbaring ditanah bersimbah darah.


Belum juga sampai, langkah kakinya terhenti saat satu tangannya ditarik dengan paksa oleh seseorang yang tak dikenalnya.


“ Cepat lari dari sini nak…selamatkan nyawamu…ada iblis disana….”, ucap seorang pemuda yang langsung menarik tangannya menjauh dari perkampungan.


Suara tembakan bertubi – tubi dapat Vreyan dengar, tapi kakinya terus berlari karena tangan mungilnya diseret oleh pemuda asing yang tadi membawanya pergi.


“ Lari nak…lari….”, ucap pemuda itu sambil mendorong tubuh Vreyan hingga jatuh ke semak – semak.


Dor…dor….dor…


Vreyan kecil melihat pemuda yang  mendorongnya tadi tertembus peluru panas dan jatuh ketanah dengan darah mengalir deras dari tubuhnya.


Sambil ketakutan Vreyan terus berlari tanpa arah, hingga akhirnya dia sudah berada dijalan raya. Dia menoleh kebelakang beberapa kali untuk memastikan dirinya tidak diikuti oleh siapapun.


Vreyan kecil yang sudah tidak punya siapa – siapa dan tempat tinggal akhirnya tidur di depan pertokoan dengan beralaskan kardus bekas yang dia temukan.


Hidup sebatang kara dan tidak memiliki tempat tinggal membuat Vreyan menjadi gelandangan. Siangnya dia menjadi pemulung, mengumpulkan kardus dan botol plastik untuk dijual.


Untuk makan sehari – hari biasanya dia akan mengais tempat sampah, mencari makanan yang bisa menganjal perutnya.


Dan dimalam hari dia akan mencari sebuah emperan toko yang kosong untuk mengistirahatkan tubuhnya barang sejenak.


Hingga suatu malam yang sunyi, Vreyan kecil yang baru saja tertidur mulai terbangun saat mendengar suara perkelahian dari gang yang tak jauh dari tempatnya.


Pada awalnya, Vreyan kecil cuek dan menganggap itu hanya pertempuran antar geng yang biasa terjadi. Namun suara berisik yang semakin lama semakin keras membuat rasa penasarannya muncul kembali.


Setelah mengumpulkan semua keberaniannya, bocah kecil tersebut berjalan mendekat kearah dimana perkelahian tersebut berlangsung.


Vreyan melihat seorang pemuda dikeroyok sekelompok orang yang diperkirakan lebih dari tiga puluh orang yang terihat memegang senjata tajam.


Pertempuran berjalan cukup sengit, meski hanya sendiri namun pemuda tersebut berhasil mengalahkan musuhnya sedikit demi sedikit dan menebas kepala mereka dengan samurai yang ada ditangannya.


Tidak ada rasa takut dalam mata Vreyan kecil, yang ada justru tatapan penuh kekaguman yang sangat tinggi.


Vreyan sedikit terkejut saat ada seseorang yang tiba – tiba bangun dan ingin menusuk pemuda yang sedang dikeroyok oleh lima orang itu.


Entah keberanian dari mana, tiba – tiba Vreyan mengambil sebuah besi lancip yang tergelatak tak jauh dari tempatnya berdiri, kemudian berlari dengan kencang dan menusuk laki – laki tersebut tepat di dadanya.


Laki – laki yang sudah terluka sebelumnya itu langsung meninggal setelah mendapatkan luka tusukan itu.


Semua orang terlihat terkejut dan memandang bocah kecil yang entah dari mana datangnya itu. Melihat nyawa bocah kecil tersebut sedang berada dalam bahaya, Arnold segera mengistruksikan kepada Emily yang baru saja tiba untuk mengamankan bocah kecil itu sedangkan dirinya melanjutkan pertarungan yang ada.


Sebagai ucapa terimakasih, Arnold membawa Vreyan bersamanya. Melihat bocah kecil tersebut sangat berani, akhirnya dia mulai mengajaknya tinggal bersama.


Sejak saat itu, Vreyan mulai dilatih seni bela diri oleh Arnold. Bocah kecil tersebut tekun berlatih dan bersumpah akan setia kepada tuan mudanya itu.


Seiring berjalannya waktu, Vreyan yang selalu berada disamping Arnold mulai menunjukkan taringanya dan menghabisi seluruh musuh – musuhnya dalam sekali tebasan.


Vreyan kecil tumbuh menjadi sosok pemuda yang begitu memuja dan mengagungkan Arnold bagai seorang dewa.


Dia tidak akan segan – segan untuk menghabisi siap saja yang menyinggung tuan mudanya itu tanpa diminta.


Kesetian yang ditunjukkan oleh Vreyan membuat Arnold sangat menyayangi pemuda itu seperti adik kandungnya sendiri.


FLASH  BACK  OFF


Maka dari itu, Vreyan sangat tak rela jika tuan mudanya mendapatkan pendamping yang sangat tak layak bersanding dengan dirinya, menurutnya.


Bahkan dia sekarang sudah melihat jika tuan mudanya itu mulai melunak dan tak segarang dulu. Dia sangat takut, gadis itu akan menjadi kelemahan bosnya.


Dan jika semua musuh tahu, bukan tidak mungkin hal itu akan mereka jadikan senjata untuk melawan tuan mudanya.


Emily yang baru saja terbangun dan berkeliling tanpa sengaja melihat Vreyan melamun sendiri di taman segera datang menghampiri.


“ Sudah…jangan terlalu dipikirkan. Doakan saja yang terbaik buat tuan…”, ucap Emily sambil menepuk bahu Vreyan pelan.


“ Tapi tetap saja aku tak bisa menerima…”, ucap Vreyan dengan nada tinggi.


“ Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing – masing. Begitu juga kecantikan dan kehebatan seseorang. Semuanya terletak pada mata orang yang melihatnya…”, ucap Emily bijak.