Love Destiny

Love Destiny
SCENARIO



Untuk membuat semuanya berjalan lancar tanpa membuat Casandra dan Enrico waspada, setelah kepergian Crystal keperusahaan, Arnold diam – diam datang ke studio Stevanus.


“ Pagi…apa saya bisa bertemu dengan Profesor Stevanus ?...”, tanya Arnold sopan.


Sang resepsionis hanya bisa membulatkan kedua matanya dengan mulut terbuka menatap dewa yunani yang sangat tampan dihadapannya itu hingga sebuah suara membuyarkan lamunannya.


“ Profesor Stevanus…senang berjumpa dengan anda…”, ucap Arnold sambil menjabat tangan Stevanus dengan ramah waktu melihat orang yang dicarinya tersebut sudah ada dihadapannya.


“ Anda…tuan Arnold, suaminya Crystal…”, ucap Stevanus menebak.


“ Benar, saya suami dari nona Crystal Abraham…”, ucap Arnold bangga.


“ Apa anda ada waktu ? ada hal yang ingin saya diskusikan dengan anda…”, ucap Arnold dengan aura intimidasi yang cukup tinggi.


Stevanuspun segera mengajak Arnold kedalam ruangannya.  Setelah berada dalam ruangan, tanpa basa – basi Arnold pun segera mengutarakan maksud kedatangannya.


Meski pada awalnya Stevanus sedikit terkejut, namun dia juga tidak bisa menyalahkan Arnold jika suami Crystal bisa seprotektiv itu terhadap sang istri.


“ Saya lihat, beberapa proyek anda ijinnya belum keluar tapi proyek sudah berjalan. Mungkin saya bisa menutup mata jika anda bisa saya ajak kerjasama…”, ucap Arnold penuh ancaman.


Stevanus hanya bisa meneguk salivanya beberapa kali mendengar ancaman dari Arnold yang baginya tidak main – main itu.


Siapaun pasti tahu, jika Arnold sudah berkata maka semua yang diucapkannya akan terjadi. Tidak ingin proyek millyaran yang didapatkannya hilang begitu saja dan menanggung kerugian yang tidak sedikit, dengan berat hati Stevanus memilih untuk bekerja sama dengan pewaris Lincoln tersebut.


Enrico hanya bisa menyunggingkan senyum kecut waktu Stevanus memberi kabar jika Arnold mengancamnya agar menjauhkan Crystal dari dirinya.


“ Ternyata hubungan mereka belum membaik sepenuhnya…”, guman Enrico menyeringai licik.


Melihat pergerakan agresif yang dilakukan oleh Arnold dan Crystal yang masih belum mau pulang kerumah suaminya membuat laki – laki itu sangat yakin jika rencana yang dibuatnya bersama dengan Casandra telah berhasil.


Sementara itu, Casandra terus saja membuat ulah dengan pura – pura kondisinya semakin memburuk, berharap Arnold akan segera datang dengan wajah cemas seperti biasanya.


Tapi tampaknya hal tersebut tak sesuai harapan. Meski begitu, dia masih cukup senang karena dengan aksinya tersebut, Arnold datang mengunjunginya meski tidak selama biasanya.


Namun bagi Casandra hal tersebut sudah merupakan pencapaian dan pembuktian jika dirinya masih cukup berarti dalam hati Arnold.


Tak terasa sudah hampir satu bulan Arnold dan Crystal tinggal di apartemen Lea. Karena untuk sementara, hanya tempat ini yang aman dan tak terlacak.


Lea sudah mengaktivkan alat pengacau sinyal. Jadi siapapun tidak akan bisa melacak keberadaan seseorang dalam apartemennya, jika tanda tersebut telah diaktivkan.


Meski masih tidak rela jika Arnold tinggal bersama dengan Crystal di tempatnya, namun melihat rona kebahagiaan terpancar dari wajah sahabatnya itu setiap kali dia menghubunginya, Lea pun tak tega dan tetap membiarkan keduanya tinggal bersama disitu.


Meski mengijinkan, namun tanpa sepengetahuan Arnold, Lea telah membobol system yang ada diponsel dan laptop suami Crystal tersebut.


Lea melakukan semua itu demi sahabatnya. Dia tidak mau Arnold berlaku curang dibelakang Crystal yang nantinya akan menyakiti hati sahabatnya itu.


“ Siapa Casandra ini ?…”, Lea yang penasaran terus mencoba membobol semua data yang ada dalam ponsel Arnold.


Dia bahkan juga bisa melihat rekaman cctv yang dipasang didalam ruang rawat Casandra yang Lea curigai sebagai orang ketiga dalam hubungan rumah tangga sahabatnya itu.


Untuk itu dia terus memantau cctv tersebut karena sempat menemukan hal ganjil yang dilakukan gadis itu dalam ruang perawatannya.


Kecurigaan Lea yang cukup besar membuatnya segera menghubungi Crystal, dia tidak mau gadis licik yang sudah beberapa hari dipantaunya ini mulai beraksi.


“ Aku curiga jika Casandra ini pura – pura sakit…”, ucap Lea mengutarakan temuannya.


“ Apa maksdumu ? bagaimana kamu tahu ?....”, tanya Crystal penuh selidik.


“ Sorry…aku membobol ponsel suamimu…hehehe…”, ucap Lea terkekeh.


Diapun kemudian menceritakan semua hal yang dilihatnya dalam rekaman cctv yang tiap malam dipantaunya itu.


Malam ini, sambil menunggu suaminya pulang Crystal yang sedang duduk santai di balkon kamar terlihat memandang bintang yang bertaburan diatas langit sambil termenung.


Crystal bahkan tidak pernah mendengar jika gadis itu sakit, apalagi menderita penyakit mematikan seperti sekarang.


“ Bukankah dulu yang terkena kangker hati itu mamanya…bahkan gara – gara mamanya meninggal dan papanya entah pergi kemana karena terlalu sedih kehilangan sang istri, Casandra akhirnya tinggal dikediaman Arnold. Karena kehadiran Casandra inilah tiap waktu Crystal selalu mendapatkan siksaan, bahkan Adoff juga terbunuh karena gadis ini…”, batin Crystal mencoba mengingat kembali kenangan menyakitkan yang sangat ingin dia lupakan seumur hidupnya.


Tak terasa air matanya menetes mengingat betapa mengenaskannya kematian Adoff waktu berusaha melindunginya dari kejaran orang – orang yang ingin membunuhnya, dan teryata di akhir hidupnya Crystal baru mengetahui jika orang – orang yang ingin membunuhnya tersebut adalah orang suruhan Casandra.


Arnold yang baru saja datang begitu melihat istrinya menangis bergegas berjalan mendekat. Sambil berjongkok, Arnold menangkup wajah sedih istrinya dengan kedua tangannya, sambil jemarinya menghapus air mata yang mulai membasahi pipi Crystal dengan deras.


“ Ada apa ?...”, tanya Arnold cemas melihat Crystal menangis.


“ Tidak apa – apa…”, ucap Crystal berusaha tersenyum sambil menghapus sisa air matanya dengan kasar.


Melihat suaminya terus menatapnya dengan pandangan cemas, Crystalpun segera menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Arnold, menikmati aroma maskulin yang keluar dari dalam tubuh suaminya itu.


“ I Love U…”, bisik Crystal ditelingga Arnold.


Nafas hangat sang istri  yang menyentuh daun telinganya membuat tubuh Arnold meremang seketika. Crystal yang tak bisa diam dan terus saja bergerak dalam pelukannya membuat tubuh Arnold mulai memanas.


“ I love u too honey…”, ucap Arnold dengan suara serak.


Tak menunggu lama, Arnoldpun langsung membopong sang istrinya yang masih menyusupkan wajahnya kedada bidangnya menuju kamar tidur.


Dalam hitungan detik, hewan buas yang ada dalam diri Arnold pun keluar dan mulai bergerak untuk memanjakan istrinya.


Pergumulan panas mereka berlangsung cukup lama, keduanya seakan tak mengenal waktu, padahal tiap hari mereka melakukan olah raga yang sangat menguras tenaga tersebut tanpa ada rasa bosan.


Keduanya benar – benar menikmati waktu kebersamaan mereka sebaik mungkin, tanpa gangguan dari siapapun, demi lahirnya keturunan Lincoln yang sangat dinantikan oleh semua orang.


“ Sekarang katakan padaku, ada apa ?...”, ucap Arnold setelah olah raga malam tersebut selesai.


“ Hmmm…aku boleh tanya sesuatu…”, ucap Crystal hati – hati.


“ Apa ?...”, ucap Arnold sambil membelai wajah Crystal dengan lembut.


“ Apakah dokter yang menangani Casandra itu dokter Shein ?...”, tanya Crystal was – was.


“ Kenapa ?...”, bukannya menjawab Arnold malah balik bertanya dengan kening dikerutkan cukup dalam.


“ Aku curiga jika Casandra sebenarnya tidak sakit. Mamanya lah yang sebenarnya menderita kangker hati…aku pernah suatu hari tak sengaja bertemu dengan mama Casandra  memasuki ruangan dokter Shein waktu datang kerumah sakit. Dan tak sengaja aku sempat mendengar semua perkataan dokter Shein dan mamanya Casandra, mengenai kebohongan Casandra ini…”, ucap Crystal berusaha menjelaskan.


“ Jika kamu tak percaya…kamu bisa coba selidiki tentang dokter Shein dan mamanya Casandra ?...”, Crystal kembali bersuara untuk meyakinkan suaminya.


Untuk sesaat, Arnold tampak terdiam sambil berpikir keras berusaha mencerna semua perkataan sang istri.


Selama ini Casandra sudah mengkhianatinya tanpa dia sadari, bukan tidak mungkin jika dia akan melakukan hal tselicik itu untuk menarik perhatiannya dan berusaha mengikatnya.


“ Akan aku selidiki…”, ucap Arnold dan langsung mengambil ponselnya yang tergeletak diatas nakas, menghubungi anak buahnya untuk mencari petunjuk tentang semua kecurigaan yang Crystal utaran tadi.


Crystal bernafas dengan lega, sebenarnya dia tidak pernah mendengar atau melihat dokter Shein dan mamanya Casandra, semua ucapannya tadi hanyalah hasil karangannya saja.


Dia kembali memikirkan semuanya, jika benar dalam kehidupan sebelumnya mama Casandra lah yang meninggal karena kangker hati.


Maka bukan tidak mungkin jika dokter Shein yang menangani Casandra saat ini telah bersengkokol dengan gadis itu untuk membohongi semua orang.


Dan Crystal curiga jika kedua orang tua Casandra turut serta dalam aksi kebohongan yang dilakukan oleh putri mereka tersebut.


Mengingat betapa dalamnya rasa cinta Casandra kepada Arnold, maka Crystal sangat yakin jika gadis itu akan menggunakan segala cara untuk bisa menarik perhatian suaminya dan terus menciptakan kesalah pahaman antara dirinya dengan sang suami.


Seperti yang sering dilakukannya dalam kehidupan Crystal terdahulu. Jika dulu Arnold sangat mempercayai setiap ucapan Casandra.


Namun sekarang suaminya itu lebih mempercayainya daripada sahabat masa kecilnya itu. Hal itu tentu saja membuat hati Crystal terasa sangat lega.