Love Destiny

Love Destiny
KEDIAMAN UTAMA



Sambil berjalan keluar,  Arnold membuka pesan  yang masuk kedalam ponselnya. Mata Arnold menjadi gelap saat dia membaca sebuah pesan tersebut.


“ Maaf tuan Arnold, semalam saya mengunjungi Crystal dikediaman anda dan berusaha keras untuk meyakinkannya, namun tampaknya Crystal masih marah padamu. Dan untuk Gerald, karena mereka sudah menjalin hubungan yang cukup lama, jadi bisa dimaklumi kalau dia masih belum bisa melupakan laki – laki itu. Namun saya yakin jika suatu hari nanti, sahabat saya itu akan menyadari bahwa andalah yang terbaik untuknya…”, tulis Adisty dalam pesan yang dikirimnya keponsel Arnold.


Arnold mengabaikan pesan tersebut dan mulai turun, untuk  segera  berangkat menuju kediaman utama yang memakan waktu sekitar enam jam tersebut.


Diluar, Emily sudah menunggu Arnold selama hampir semalaman, saat bosnya itu mengatakan bahwa ada hal penting yang harus dibicarakan dengan tunangannya terlebih dahulu sebelum berangkat kerumah utama.


Tapi  sampai sekarang , sudah hampir pagi si bos belum juga menampakkan batang hidungnya, membuat Emily sedikit cemas.


Namun saat pandangan matanya kembali mengamati dalam rumah,  kesunyian yang ada disana membuat asisten Arnold tersebut bernafas lega.


“ Sepertinya tidak ada masalah serius jika rumah sunyi seperti ini…”, batin Emily bermonolog.


Emily bernafas lega saat melihat sosok laki – laki yang cukup dikenalnya mulai berjalan mendekat, Emily dengan cepat membukakan pintu kursi belakang mobil.


Setelah Arnold masuk, diapun segera bergeas naik dan duduk didepan, disamping sang supir.  Emily yang masih sedikit cemas dengan kondisi sang bos, mencoba meliriknya dari kaca spion yang ada didepan.


Meski tatapannya dingin dan sedikit suram, namun kulit wajahnya lebih jernih dari biasanya membuat Emily bisa sedikit bernafas dengan lega.


“ Tuan…apakah anda yakin ingin terus mengijinkan nona Adisty datang ke kediaman sesuka hatinya…”, tanya Emily ragu – ragu.


Emily sudah menyelidiki latar belakang sahabat tunangan bosnya itu. Jika dilihat dari data yang didapatkannya, Adisty bukanlah gadis polos dan lugu seperti apa yang ditampilkan dipermukaan.


Semua itu hanyalah topeng yang ada digunakannya untuk mendapatkan semua yang diinginkannya, termasuk mendekati keluarga Abraham, hingga akhirnya mereka menaruh kepercayaan dengan menyerahkan putri bungsunya agar dijaga oleh Adisty.


Bahkan kasus yang menimpa Leony dan Gerald, ternyata terjadi karena campur tangan dari Adisty yang saat itu menginginkan agar kekasih sahabatnya itu jatuh kedalam pelukannya.


“ Gadis ini memiliki niat buruk untuk tinggal disisi nona Crystal. Bahkan dia juga sengaja menganggu hubungan anda dengan nona Crystal. ..Apakah anda akanmembiarkan orang seperti itu untuk berada disamping tunangan anda tuan ? meskipun dia hanya seorang gadis kecil yang tidak perlu ditakuti keberadaannya, namun pengaruhnya terhadap nona Crystal cukuplah besar… ”, ucap Emily berusaha membuka pikiran sang bos.


“ Menurutmu hubunganku dengan Crystal sangat lemah hingga siapapun bisa masuk kedalamnya…”, ucap Arnold tajam.


Punggung Emily langsung membeku saat mendapatkan tatapan dingin dari Arnold. Jika diijinkan, dia ingin berteriak ditelinga bosnya itu sekarang juga, tapi tentu saja hal tersebut tidak mungkin dilakukan karena dirinya masih sangat sayang pada nyawanya.


Emily sangat tahu jika Arnold memiliki rasa percaya diri yang cukup besar. Bahkan semua hal yang dilakukannya dalam meraih kesuksesan selama ini adalah berkat rasa percaya diri yang tinggi hingga membuat lawan -lawannya takut untuk berurusan dengannya.


Namun untuk kasus nona Crystal hal ini tidaklah berlaku. Bagaimana dia sangat yakin jika hubungan keduanya sangat kuat jika nona Crystal saja belum sepenuhnya jatuh hati kepada bosnya itu.


Setelah menempuh perjalanan sekitar enam jam, pagi ini Arnold tiba di rumah utama keluarga Lincoln saat semua orang sedang bersiap untuk sarapan.


“ Silahkan bergabung dengan yang lain tuan….”, ucap James, kepala pelayan keluarga Lincoln mengantarnya masuk kedalam ruang makan.


Masih belum  banyak yang datang disana, didepan meja makan hanya terlihat sang nenek bersama kedua sepupunya, Brian dan Raihan yang menemani sang nenek untuk sarapan.


“ Selamat pagi…”, ucap Arnold datar.


“ Oh…kau sudah datang…ayo duduk disebelah nenek…”, ucap Elisabeth bahagia dengan kedatangan cucu kesayangannya itu.


Meski hanya diisi oleh empat orang, namun suasana meja makan terlihat lebih hidup jika dibandingkan dengan kediaman Arnold.


Brian dan Raihan merupakan orang yang cerewet dan ramah. Kata – kata yang mereka ucapkan sering kali membuat Elisabeth tersenyum lebar.


Membuat wanita tua itu tak merasa kesepian meski sang anak dan cucunya tinggal dirumah terpisah yang jaraknya cukup jauh dari rumah utama.


Untuk mengumpulkan anak ,cucu ,dan menantunya wanita tua itu mewajibkan mereka semua datang kerumah utama setiap empat bulan sekali untuk melakukan tes kesehatan dan membicarakan perkembangan perusahaan.


Acara tersebut bersifat wajib dan memaksa, siapa saja yang tidak hadir maka siap – siap namanya akan dicoret dalam daftar warisan.


Hal itulah yang membuat semua orang mau datang, seberapa padatnya jadwal yang ada, semua orang akan menyisihkan waktu sehari setiap empat bulannya untuk datang ke rumah utama.


Setelah selesai sarapan, satu persatu anggota keluarga Lincoln mulai berdatangan. Begitu juga dengan tim medis yang akan memeriksa kondisi kesehatan tiap orang.


Elisabeth harus mengetahui kondisi kesehatan setiap anak, cucu dan menantunya agar dirinya bisa mengambil keputusan yang tepat dalam memposisikan mereka pada bidang bisnis yang dimiliki keluarga Lincoln.


Selain itu, dalam kesempatan ini Elisabeth bisa mengetahui kabar serta kondisi anak, cucu dan menantunya secara pribadi, selain kondisi perusahaan yang sedang mereka pegang.


Akibat kontrol yang kuat dari Elisabeth inilah yang membuat seluruh  bisnis keluarga bisa berjalan cepat dan seimbang, karena wanita tua ini memiliki penglihatan yang sangat tajam terhadap potensi dan kemampuan seseorang.