Love Destiny

Love Destiny
PERTEMUAN



Setelah empat hari berada di kediaman utama keluarga Lincoln, hari ini Crystal sudah kembali ke kediaman Arnold dan mulai sibuk beraktivitas seperti sedia kala.


Dia mulai menyusun kembali planning yang sempat kacau akibat kejadian diluar dugaan yang terus saja menghantam dirinya.


Akibat urusan yang terus saja berdatangan tanpa henti membuat skripsi yang dikerjakan oleh Crystal sedikit terganggu.


Maka dari itu, saat ini dia berusaha untuk segera mengejarnya agar studinya itu dapat selesai tepat waktu sesuai dengan target yang telah dibuatnya.


Jika studinya telah selesai, maka dia bisa benar – benar fokus pada perusahaan papanya dan menyingkirkan semua orang yang berniat buruk terhadap keluarganya.


Crystal sangat yakin semua orang akan membalas dendam akibat pemecatan besar – besaran yang dilakukan oleh Abraham beberapa waktu yang lalu.


Selain mulai kembali fokus pada studinya, Crystal juga kembali fokus pada proyek yang dikerjakannya bersama Stevanus.


Proyek yang masih berlangsung tersebut berupaya untuk dijalaninya, meski harus dikerjakannya dari jarak jauh. Untung saja dosennya itu sangat baik hati sehingga dia bisa memantau proyek tersebut dari jauh tanpa harus terjun langsung ke kota kembang.


Jadwal Crystal yang sangat padat tampaknya sama sekali tak mempengaruhi kinerjanya di proyek yang dijalankannya bersama dosennya itu.


Kinerja Crystal yang selalu on time dan memuaskan membuat seluruh anggota tim sama sekali tidak ada yang protes meski Crystal tidak pernah sekalipun mengunjungi proyek yang sedang mereka kerjakan saat ini.


Meski begitu, Crystal juga tidak mau lepas tangan begitu saja. Sebagai kompensasi tidak bisa turun dalam proyek seperti kesepakatan awal, Crystal menggantikan tugas mereka disini.


Tugas yang bisa dikerjakannya dimanapun dia berada tanpa harus melihat proyek secara langsung. Untuk data, dia bisa menghubungi rekan kerjanya yang sedang berada dilapangan dan meminta data pada pimpinan proyek yang berada disana.


Tidak ingin pergerakannya terhambat, Crystal meminta Arnold untuk tidak lagi membebani Emily untuk mengawalnya. Dia cukup ditemani satu orang bodyguard yang  akan selalu mengikutinya kemanapun gadis itu pergi.


Meski awalnya Arnold menolak permintaan Crystal yang baru saja selamat dari aksi penculikan yang menimpanya. Tapi karena Crystal terus saja bersikeras, akhirnya Arnoldpun mengalah.


Meski hanya satu bodyguard yang terlihat mengikutinya, dalam diam beberapa anak buah Arnold juga terus  memantau pergerakan calon istri bosnya itu.


Semengtara itu di Abraham Group, sepeninggalan Gerald dan anak buahnya yang menduduki posisi penting dalam perusahaan membuat Crystal bekerja ekstra keras untuk mengajari orang – orang baru dan memastikan kondisi perusahaan bisa kembali berjalan seperti sedia kala.


Untung ada Andrew dan Alvin serta Abraham yang selalu mensupport semua keputusan dan kebijakan yang diambilnya, sehingga Crystal masih bisa bernafas lega akan hal itu.


Tanpa sepengetahuan Crystal, Arnold bertemu dengan sang papa siang ini disebuah hotel berbintang lima untuk membicarakan perihal rencana pernikahan dirinya dengan Crystal yang akan diadakan bulan depan.


Setelah bertemu dengan salah satu kliennya, Abraham menyempatkan diri untuk makan siang bersama dengan calon menantunya itu.


Selain untuk mengucapkan terimakasih karena telah menolong kedua putrinya dari marabahaya, Abraham juga cukup penasaran dengan permintaan Arnold untuk  bertemu empat mata dengannya.


Arnold yang tidak mau terlalu berbasa – basi, langsung menyampaikan tujuannya waktu bertemu dengan Abraham secara langsung.


Meski awalnya Abraham sedikit terkejut dengan permintaan Arnold yang cukup mendadak dan keluar dari kesepakatan awal bahwa pernikahan keduanya akan dilangsungkan sekitar dua tahun dari acara pertunangan.


Namun akhirnya dia mampu memahami keinginan calon menantunya itu setelah mendapatkan penjelasan jika Arnold  ingin segera memiliki keturunan karena usianya yang sudsah hampir mendekati angka empat itu.


“ Aku tidak menyangka jika kamu bisa sebucin ini dengan Crystal…”, ucap Abraham terkekeh.


“ Saya sungguh – sungguh mencintai putri anda, pa…”, ucap Arnold sedikit kikuk waktu mengucapkan panggilan papa kepada Abraham.


“ Aku sangat mengerti keinginanmu….tapi semuanya juga tidak bisa secepat itu. Kasih kami waktu tiga bulan untuk menyiapkan semuanya…”, ucap Abraham sambil menyeruput minuman yang ada dihadapannya.


“ Papa sekeluarga tidak perlu risau. Semua hal, mulai dari gedung, makanan, pakaian, dekorasi dan tamu undangan, semua kami  yang akan urus. Papa sekeluarga hanya perlu menyiapkan diri saja…”, ucap Arnold menjelaskan.


Abraham cukup tahu jika keluarga Lincoln sangat mampu untuk melakukan itu semua. Terlebih lagi Arnoldlah yang berkehendak, tentunya itu bukan hal yang sulit bagi mereka jika ada uang dan kekuasaan.


Tapi, ini adalah pernikahan putri mereka, Crystal. Tentunya dia, teruatam sang istri ingin mengadakan acara tersebut secara meriah mengingat pesta pernikahan Leony yang diselenggarakan secara sederhana dan tertutup.


“ Untuk masalah ini, saya juga sudah memikirkannya matang - matang. Nenek yang akan berbicara dengan mama dan menyiapkan segalanya…”, ucap  Arnold berusaha menenangkan.


Melihat wajah Abraham yang masih terlihat gelisah, Arnoldpun segera menghubungi Elisabeth dan meminta tolong kepada neneknya itu agar segera bertamu dengan Selvi, calon mama mertuanya untuk membahas semua hal mengenai pernikahan yang ingin digelarnya bulan depan.


Melihat betapa gigih usaha sang menantu untuk segera meresmikan hubungan keduanya ke jenjang pernikahan membuat Abraham tersenyum puas.


“ Kuharap semuanya bisa berjalan dengan lancar… ”, batin Abraham sedikit gelisah.


Namun dia juga tidak bisa membiarkan pertunangan ini berjalan lebih lama lagi mengingat Crystal sudah berada dikediaman Arnold setelah keduanya resmi bertunangan delapan bulan yang lalu.


Hubungan keduanyapun juga terlihat sangat harmonis, Abraham juga melihat sendiri betapa besarnya rasa cinta Arnold kepada Crystal membuat kegelisahan yang ada dihatinya perlahan mulai menghilang.


Sementara itu ditempat lain Frans yang sedang bertemu dan  mencoba untuk bekerja sama dengan Charles  belum sama sekali tidak menemui kata sepakat.


Meski dendam terhadap kakak perempuannya dan keluarga besar Lincoln sangatlah besar, namun Charles tidak mau ikut terjerat dalam permainan Frans yang dirasanya tidak terlalu menguntungkan baginya.


Untuk sejenak, Frans terlihat sedikit frustasi dengan aksi penolakan yang dilakukan Charles secara terang - terangan kepadannya.


“ Sekarang tinggal Enrico…aku harus benar- benar bisa meyakinkannya…”, guman Frans sambil menatap tajam kedepan dengan kedua mata elangnya yang siap menangkap mangsa yang ada dihadapannya.


Dia harus bisa menghasut Enrico agar mau mengambil Crystal dari sisi Arnold dan membawanya pergi jauh dari negara ini.


Dengan kondisi Crystal yang sekarang, Frans sangat yakin jika gadis itu mulai menghindar dari Arnold. Dan ini adalah kesempatan bagus bagi Enrico untuk masuk kedalam hubungan tersebut.


Tanpa membuang waktu lagi, Frans segera menghubungi Enrico untuk membuat janji bertemu dengan anak tunggal Charles itu.


Dewi fortuna tampaknya masih belum berpihak kepadanya. Enrico yang diharapkan mampu memuluskan rencananya ternyata masih berada diluar negeri dan baru minggu depan diperkirakan kembali.


Hal itu tentunya membuat kepala Frans pusing tujuh keliling karena dia harus kembali memeras otaknya untuk mencari cara untuk menghancurkan Arnold, Elisabeth, dan keluarga Lincoln.


*“ S*l !!!....”, makinya penuh amarah.


Diapun segera membanting keras ponsel yang berada ditangannya hingga hancur berkeping – keping dengan wajah memerah penuh amarah.


Sekelebat, ucapan Charles terngiang kembali di telinganya . “ Meski aku membenci kakakku dan keluarga yang membuangku\, lebih dalam dari yang kau rasakan. Namun aku tidak akan pernah sudi untuk bekerja sama dengan b******n sepertimu…”, ucap Charles pelan namun penuh penekanan.


“ Dia pikir dirinya bukan b******n sepertiku !!!...hingga mengatakan hal itu kepadaku !!!...”, ucap Frans penuh emosi.


“ Dasar keluarga Lincoln k*****t !!!...”, makinya dengan penuh emosi.


Seluruh keluarga Lincoln memang menyebalkan. Jika saja waktu itu Elinor mau diajaknya untuk lari meninggalkan keluarga k*****t tersebut\, mungkin sekarang Frans sudah hidup berbahagia bersama anak dan istri yang sangat dicintainya.


Tak sengaja kedua matanya melihat kearah amplop coklat yang tergeletak di atas mejanya. Dia ingat jika amplop tersebut urung dibukanya karena mendapatkan kabar jika Charles mempunyai waktu untuk bertemu dengannya siang ini.


Dengan rasa penasaran yang cukup tinggi, dia mulai membuka amplop coklat yang sudah berada ditangannya itu dan mengeluarkan beberapa lembar foto yang ada didalamnya.


Kedua tangannya langsung bergetar hebat saat melihat foto anak semata wayangnya itu tergolek lemas tak berdaya dengan kedua mata diperban.


Darah dalam tubuhnya yang sudah panas menjadi mendidih melihat beberapa foto yang menggambarkan kondisi sang putra yang tidak bisa dibilang hidup, namun juga tidak bisa dibilang mati.


“ ACHHHH !!!....”, teriaknya sambil membuang semua barang yang ada diatas mejanya.


Tak puas sampai disitu, Franspun mulai meraih barang – barang yang bisa digapainya dan membantingnya dengan keras kelantai hingga hancur berkeping – keping.