Love Destiny

Love Destiny
INI....TUNANGANKU



Satu jam telah berlalu sejak terakhir Emily menghubungi Crystal. Dan sampai saat ini belum ada tanda – tanda asissten Arnold itu menghubunginya.


“ Mungkin semuanya sudah beres…”, batin Crystal mulai tenang.


Daipun kembali fokus pada tugas yang sedang dijalankannya dan menikmatinya. Jika dulu saat masih bersama Gerald, Crystal sering berpartisipasi dalam kegiatan - kegiatan seperti ini.


Namun sejak bersama Arnold, seolah dunianya mulai tertutup. Meski mendapatkan kebebasan, tapi dia tetap tidak bisa menikmati sepenuhnya.


Kadang, Crystal ingin menikmati moment - moment seperti ini bersama sang kekasih. Tapi penyakit yang diderita oleh Arnold tidak memungkinkan dirinya untuk berkumpul di tempat keramaian seperti ini.


Maka dari itu, tadi Crystal sudah memberikan Emily instruksi agar Arnold melewati jalan samping aula yang tidak terlalu banyak orang.


Arnold yang sudah tiba dikampus bintang segera disambut oleh anak buahnya yang sedari tadi mengawasi Crystal didalam aula.


Dia menuntun bosnya itu untuk berjalan menuju belakang panggung dengan pengawalan superketat karena sangat tahu bahwa sang bos tidak suka disentuh wanita.


Mereka berupaya untuk membuat blockade agar Arnold bisa berjalan dengan bebas dan tidak menimbulkan insiden apapun disana.


Tentu saja aksi Arnold tersebut menarik perhatian sebagian orang yang keebetulan ada disana. Mereka mengira Arnold adalah salah satu penyanyi yang diundang untuk mengisi acara malam ini.


Melihat wajah tampan  dan pengawalan ketat yang dimilikinya. Bahkan tidak jarang dari mereka yang diam – diam mengambil fotonya.


Crystal yang sedang beristirahat dibelakang panggung untuk menunggu gilirannya tampil kembali terlihat menyipitkan kedua matanya saat melihat sosok lelaki yang sangat dikenalnya berjalan mendekat.


Lelaki tampan dengan setelan pakaian hitam klasik vintage yang terlihat sangat pas ditubuhnya, rambutnya disisir rapi kebelakang membuat sisi maskulinnya benar - benar terlihat.


Dan matanya yang hitam pekat, seolah – olah mampu membekukan semua jiwa yang ada disana hanya dalam sekali pandang.


Saat dia berjalan selangkah demi selangkah, Arnold tampak seperti raja iblis yang bepergian dengan angin malam dan menggunakan cahaya bulan untuk mencapai bumi.


Untuk kesekian kalinya Crystal kembali terpesona akan keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini. Terperangkap dalam jeratan iblis berwajah malaikat.


Lamunan Crystal buyar ketika jari - jari ramping Arnold yang dingin menyentuh lembut pipinya. Untuk sesaat bola mata keduanya bertemu dan saling menatap dengan penuh cinta.


“ Capek ?...”, ucap Arnold sambil mengusap pipi Crystal dengan lembut.


Diantara nafas yang Arnold hembuskan, Crystal bisa mencium aroma ringan dari pohon buah. Aroma yang sedikit berbeda dari aroma yang biasanya dia hirup dari tubuh Arnold, namun baunya enak dan menenangkan.


Sejenak, Crystal menatap intens tunangannya itu, mencari apa yang berbeda darinya.Kancing manset hitam yang mewah dan antic, klip dasi metalik, desain jasnya juga hampir sama dengan jas yang biasanya dipakai, tetapi setelah mencermati cukup lama jas tersebut tampak seperti baru.


Emily menyaksikan bagaimana mereka berdua berinteraksi dan hatinya seperti roller coaster, naik turun dengan tiba – tiba.


Satu hal yang disadari Emily, setiap kali dekat dengan Crystal, tuan mudanya yang kasar dan menakutkan menjadi jinak.


“ Apa kamu ada masalah ?…tadi saat kutelepon Emily seperti mau menangis....”, tanya Crystal cemas.


Punggung Emily seketika menegang dengan cepat dan melambaikan tangannya kearah Crystal.


“ Tidak ada apa – apa nona, semuanya telah beres…”, ucap Emily tersenyum lebar.


Bahkan jika dia diancam sampai matipun Emily tetap tidak akan berani mengungkapkan bahwa demi datang keacara ini sang bos yang biasanya cuek tiba – tiba mulai gila akan penampilannya.


Crystal mulai tersadar saat orang - orang yang berada dibelakang panggung menatapnya curiga. Seolah tahu akan tatapan  penasaran yang dilayangkan semua orang kepadanya, Crystalpun mulai bersuara.


“ Hey semua....perkenalkan, Ini tunanganku, Arnold…”, ucap Crystal tersenyum bahagia sambil mengenggam tangan Arnold.


" Jadi, itu tunangan Crystal..."


" sungguh tampan..."


" Benar - benar pasangan yang serasi...", ucap mereka kagum


Tiba - tiba ada salah seorang gadis yang terpesona akan ketampanang Arnold berjalan maju mendekat, spontan beberapa bodyguard yang  menjaga Arnold menghadangnya.


“ Maaf, tunanganku tidak mau bersalaman dengan wanita yang bukan muhrimnya…”, ucapku berbohong.


“ Tapi....Kenapa kamu bisa…apa jangan – jangan kamu sudah nikah siri ya dengannya !!!...”, ucap wanita itu terkejut sambil melotot dengan kedua tangan menutup mulutnya


“ Bisa dibilang begitu….tapi untuk resepsi nunggu setelah aku lulus. Nanti kalian semua aku undang kalau sudah ada tanggal pastinya…”, ucap Crystal menutupi kebohongannya.


Arnold tersenyum bahagia dalam hati. Dia sama sekali tidak menyangka jika Crystal sangat bangga terhadap dirinya dan berkata siap menikah dengannya.


“ Aku naik kepanggung dulu ya…”, ucap Crystal saat melihat kelompok yang baru saja selesai tampil turun panggung


“ Enrico ada didepan panggung…”, bisik Crystal sebelum dirinya naik keatas panggung.


Arnoldpun segera mengintip dari belakang panggung untuk melihat sepupunya itu. Benar apa yang diucapkan Crystal kepadanya, Enrico ada disana dan saat ini dia sedang menatap tunangannya itu dengan tidak berkedip sedikitpun.


Sorot mata penuh kekaguman yang dipancarkan oleh Enrico sseketika membuat Arnold tanpa sadar mulai mengepalkan kedua tangannya, ingin menghabisi laki - laki itu saat ini juga.


Bukan hanya Enrico, Arnold melihat banyak pasang mata lelaki yang terlihat begitu mengagumi Crystal di depan sana.


Membuat api cemburu dalam hatinya kembali berkobar. Ingin rasanya dia mencokel semua mata yang menatap tunangannya itu dengan lapar dan membawa kembali Crystal saat ini juga agar tidak ada satupun lelaki yang memandang penuh minat kepadanya.


Emily yang melihat perubahan ekspresi sang bos yang suram kembali ketakutan, tubuhnya bergetar hebat dan berdoa semoga Crystal segera turun dari panggung dan menyelesaikan semuanya saat ini.


Crystal yang sadar jika sang iblis sedang marah, pada saat turun dari panggung, dia segera mengajak Arnold duduk sambil bergelayut manja dilengannya.


Membuat semua pasang mata yang berada dibelakang panggung menatap iri terhadap kemesraan mereka.


“ Oh Tuhan…begitu sempurnanya ciptaanmu yang satu ini…”


“ Mereka pasangan serasi, yang satu cantik dan yang satu tampan…”


" Jiwa jombloku meronta – rota melihat kemesraan yang ada dihadapanku…”


Begitulah kira – kira isi batin semua orang melihat kemesraan yang ditampilkan oleh Arnold dan Crystal dimuka umum.


Galang yang menjadi pasangan Crystal menatap dengan penuh rasa iri. Tapi diriya juga sadar diri, tidak mungkin sanggup untuk bersaing dengan tunangannya Crystal yang sangat jauh kelasnya dari segi wajah dan kekayaan dari dirinya.


Akhirnya semua orang paham kenapa Crystal tidak pernah menerima siapapun untuk jadi kekasihnya setelah putus dari  Gerald.


“ Ini penutupan, setelah ini aku pulang bersamamu…”, bisik Crystal sambil mengecup pipi Arnold sekilas sebelum naik keatas panggung membuat Arnold menyunggingkan senyum yang sangat tipis hingga tak ada siapapun yang menyadarinya.


Arnold semakin gemas dengan tingkah laku Crystal malam ini. Dia sama sekali tak menyangka jika Crystal bisa bersikap semanja ini dengannya.


Tidak ingin membuat hatinya merasa panas, Arnoldpun tetap diam di tempat duduknya sambil memainkan ponsel yang ada ditangannya, menunggu Crystal menutup acara HUT kampusnya malam ini.


“ Ayukkk… kita pulang…”, ajak Crystal dan langsung mengenggam erat tangan Arnold setelah sukses melakukan penutupan acara.


“ Lho…kamu nggak ikut pesta perayaan…”, tanya temannya saat melihat Crystal hendak keluar aula.


“ Aku ingin kencan dulu….kalian nikmati saja pestanya…have fun ya…”, Crystal melambaikan tangannya sambil keluar ruangan bersama Arnold.


Tiba – tiba langkah kaki Crystal terhenti saat Arnold menghentikan langkahnya. Tunangannya itu segera melepaskan jasnya dan memakaikan ke tubuh Crystal.


Meski pakaian Crystal tidak terlalu ketat, namun Arnold tidak suka ada yang menikmati keindahan tubuh tunangannya itu secara terang – terangan.


Crystal yang menyadari sifat possesif Arnold hanya bisa tersenyum bahagia. Dia kembali bergelayutan di lengan Arnold dengan manja di sepanjang  perjalanan keluar aula.


Tanpa disadari, dari arah belakang panggung ada dua orang yang patah hati menyaksikan kemesraan mereka.


Stevanus dan Enrico yang berniat mengajak Crystal menikmati pesta perayaan akhirnya harus menelan pil pahit saat melihat Arnold mengandeng tangan gadis itu dengan mesra.


Mereka hanya bisa menatap nanar kepergian Crystal yang meninggalkan kekecewaan disana. Namun mereka berdua tidak patah semangat, sebelum janur kuning melengkung siapapun masih bebas berjuang untuk mendapatkannya.