
Setelah kepergiaan Vely, Arnold berjalan mendekat kearah dapur dan duduk dihadapan istrinya yang masih terlihat fokus menyantap makanan yang ada dihadapannya.
“ Aku hanya ingin menunjukkan ini kepadamu. Untuk selanjutnya, apapun keputusan yang akan kamu ambil, aku akan berusaha untuk menghargainya…”, ucap Arnold sambil memberikan ponsel yang berisi rekaman cctv ruang rawat Casandra.
Arnold memang sengaja memasang cctv dalam ruang rawat Casandra untuk memantau kondisi sahabatnya itu seandainya dia atau Vreyan sedang tidak berada di tempat.
Crystal cukup tercenggang dengan hasil rekaman cctv yang dilihatnya. Ternyata semua itu tidak seperti apa yang dibayangkannya selama ini.
Dalam hati, Crystal merasa sedikit malu karena sempat mencurigai sang suami yang selama ini ternyata tidak pernah sekalipun mengkhianatinya.
Arnold menatap Crystal dengan wajah cemas, menunggu reaksi apa yang akan diberikan oleh sang istri setelah melihat hasil rekaman cctv yang diberikannya itu.
“ Baiklah…”, ucap Crystal singkat.
“ Untuk ?...”, Arnold menuntut penjelasan dari Crystal.
“ Bukankah kamu ingin menjelaskan apa yang terjadi,baiklah…aku terima penjelasanmu…”, ucap Crystal sambil mengembalikan ponsel sang suami.
“ Jadi, kamu sudah memaafkanku…”, tanya Arnold senang.
“ hmmm…”, Crystal berdehem sambil menganggukan kepalanya.
“ Terimakasih…”, ucap Arnold bahagia.
Diapun langsung tersenyum lebar waktu mengetahui jika istrinya itu telah memaafkannya. Crystal hanya bisa bengong dengan mulut terbuka lebar melihat fenomena yang sangat langkah itu.
“ Apa benar yang ada dihadapannya itu suaminya, Arnold Lincoln ?...”, batin Crystal terkejut.
Melihat istrinya terpesona menatapnya, tiba – tiba Arnold muncul ide untuk menjaili istrinya. Dia ingin melihat rona merah dari wajah sang istri yang baginya sangat mengemaskan itu.
“ Awas air liurmu menetas…”, ucap Arnold sambil mengambilkan tisu dan diberikan kepada Crystal.
“ Ap…apa kamu mau sarapan ?...jika iya, akan aku buatkan…”, ucap Crystal kikuk dan langsung berdiri dengan wajah merah.
Melihat wajah merah istrinya, Arnold yang merasa gemas langsung berdiri menyusul sang istri yang berjalan menuju lemari es untuk mengambil telur dan daging.
“ Boleh…aku juga sudah lapar…”, ucap Arnold masih dengan senyum lebar yang menghias wajahnya.
Crystalpun segera mengocok telur yang sudah dicampur dengan daging cincang dan bumbu dan mulai memasukkannya kedalam penggorengan yang telah panas, membuatkan omlet buat suaminya dengan perasaan campur aduk.
“ Sekali lagi, terimakasih. Aku berjanji, mulai sekarang aku akan lebih memperhatikanmu, dibanding apapun itu…”, ucap Arnold sambil memeluk istrinya dari belakang dengan dagu disandarkan di pundak Crystal..
“ Kamu duduk dulu sana…”, ucap Crystal sambil berusaha untuk melepaskan pelukan erat suaminya.
“ Tidak mau…aku masih kangen sama kamu…”, ucap Arnold manja.
Crystal yang mendengar suaminya merengek sekali lagi hanya bisa membulatkan mata karena terkejut. Meski begitu, tingkah laku Arnold nyatanya mampu membuat hati Crystal menghangat.
Begitu omlet telah matang dan disajikan diatas meja, lagi – lagi Arnold berbuat ulah membuat Crystal untuk kesekian kalinya terkejut melihat tingkah suaminya yang sangat tak biasa itu.
“ Suapin…”, rengek Arnold manja.
Crystalpun segera meletakkan punggung tangganya di dahi Arnold untuk melihat apakah suaminya itu sedang demam, karena sepertinya ada sesuatu yang salah dengan otaknya.
“ Dia mabuk apa salah minum obat ?...”, batin Crystal dengan tatapan penasaran.
“ Kenapa bengong?... Ayo…suapin…”, Arnold kembali mengulangi perkataannya masih dengan nada manja.
“ oh my god…kenapa aku ngerasa geli ya ngelihat suamiku kaya gini…”, Crystal sedikit bergidik melihat tingkah Arnold yang sangat aneh itu.
Melihat istrinya masih tak bereaksi, Arnoldpun segera memajukan bibirnya sambil memberikan tanda agar sang istri segera menyuapinya.
Tidak ingin melihat tingkah suaminya yang membuatnya bertambah geli, Crystalpun segera menyuapi Arnold dengan omlet yang baru saja dimasaknya.
“ Enyak…”, ucap Arnold dengan mulut penuh makanan.
Mulai dari rasa penyesalannya, hingga pencarian sang istri yang tak berujung. Jika bukan karena Crystal sedang aktiv untuk mengirim email ke Andrew dan beberapa dosen dikampus, mungkin sampai saat ini Arnold belum menemukan keberadaan sang istri.
Setelah makanan yang ada diatas meja telah habis, Cryalpun segera bangkit untuk membereskan meja makan serta mencuci piring dan gelas kotor yang baru saja dia gunakan.
“ Kita bulan madu yuk…”, ajak Arnold tiba – tiba.
Membuat Crystal yang sedang mencuci piring dan gelas kotor seketika menoleh kearah sang suami dengan kening berkerut.
“ Kayanya, nggak dulu deh…”, ucap Crystal sambil meneruskan pekerjaannya.
“ Kenapa ?...”, tanya Arnold sambil kembali memeluk tubuh sang istri dari belakang.
“ Bukannya kamu masih ada kewajiban menjaga Casandra ?...”, tanya Crystal sambil mulai menaruh piring dan gelas yang baru saja dicuci keatas rak.
“ Sudah ada Vreyan yang menjaganya…”, ucap Arnold sambil mengikuti kemana Crystal berjalan.
“ Yakin ?...”, tanya Crystal penuh selidik.
“ Kan sudah aku bilang, kamu lah yang terpenting bagi aku sekarang…”, ucap Arnold bersungguh – sungguh.
Cukup sekali dia membuat kesalahan, untuk itu Arnold tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya jika tidak ingin benar – benar kehilangan sang istri.
“ Kita tunda bulan madunya hingga aku lulus dulu, baru kita bahas lagi ….”, ucap Crystal cuek dan langsung duduk santai diatas sofa ruang tamu.
“ Nenek sudah meminta cicit pada kita lho…”, ucap Arnold berusaha membujuk sang istri.
“ Ya tinggal buat…disini juga bisa…”, ucap Crystal santai, sambil memencet channel televisi secara acak.
Melihat suaminya langsung mendekat membuat Crystal merasa telah salah berbicara. Dengan pelan dia mendorong tubuh Arnold dan langsung kabur, berusaha untuk menjauh.
“ Katanya mau buat cicit untuk nenek…”, ucap Arnold merajuk.
“ Tapi nggak sekarang !!!…”, ucap Crystal ketus.
Diapun bergegas pergi meninggalkan Arnold yang tersenyum – senyum sendiri melihat wajah istrinya yang sudah memerah akibat ulahnya.
“ Imutnya istriku kalau lagi marah seperti itu…”, batin Arnold gemas.
Sementara itu, Crystal yang sudah berada dikamar terlihat mulai menyalakan komputer dan sibuk mengoreksi beberapa pekerjaan yang dikirim oleh Andrew.
Melihat istrinya kembali mengacuhkannya dan sibuk dengan pekerjaannya membuat Arnold menghembuskan nafas secara kasar dan duduk disamping Crystal.
“ Sayang…”, ucap Arnold mencebik sambil menggoyang – goyangkan satu lengan Crystal, mirip dengan bocah yang merenggek karena tidak dihiraukan oleh mamanya.
Melihat Arnold kembali merengek, Crystal berusaha cuek dan meneruskan apa yang sedang dikerjakannya sekarang.
“ Yang….”, Arnold terus saja merenggek, berharap Crystal segera meresponnya.
“Arnold !!!...jika begini terus, sebaiknya kamu pulang sana !!!...”, bentak Crystal tak tahan terus direcoki sang suami.
Bukannya pergi menjauh, Arnold yang baru saja dibentak oleh Crystal malah semakin mengeratkan pegangannnya dan bergelayut.
Bahkan sekarang dia sudah memeluk tubuh Crystal dari samping, membuat gadis itu sedikit kesulitan untuk bergerak.
“ Arn…”\, Crystal kembali berteriak\, namun sebelum ucapannya selesai\, mulutnya telah dibungkam dengan bibir sang suami yang langsung m*****t nya dengan ganas.
Crystal yang tak bisa melawan, kembali pasrah hingga semua kegiatannya hari ini terpaksa tertunda karena sang suami sama sekali tak membiarkannya turun dari ranjang.
Arnold benar – benar merealisasikan ucapannya yang ingin segera memberi cicit untuk Elisabeth, untuk itu hari ini dia benar – benar menggurung sang istri dalam kamar seharian.
Selain untuk mendapatkan keturunan, Arnold merasa jika hadirnya seorang anak dalam rumah tangga mereka akan membuat hubungan keduanya semakin harmonis, dan Crystal tentunya akan berpikir seribu kali jika ingin meninggalkannya.