Love Destiny

Love Destiny
RENCANA ENRICO



Meski sudah memaafkan suaminya, namun Crystal masih belum bisa seperti sedia kala. Dia masih ada perasaan dongkol terhadap suaminya itu.


Elisabeth yang sarapan bersama dengan Arnold dan Crystal hanya bisa menghirup nafas dalam – dalam dan menghembuskannya secara perlahan.


Sambil mengamati kedua cucunya yang masih saling diam tanpa ada satupun yang berinisiatif untuk membuka suara.


“ Kalian ingin bulan madu kemana ?...nanti nenek siapkan semuanya…”, tanya Elisabeth memecah kesunyian.


“ Mungkin tidak sekarang nek…tunggu aku dan Crystal agak senggang…”, ucap Arnold menyampaikan pendapatnya.


“ Jika nunggu kalian senggang, kapan nenek bisa menimang cicit…”, ucap Elisabeth pura – pura marah.


“ Kalau masalah itu, nenek jangan khawatir. Ini sudah dicicil pembuatannya…”, ucap Arnold dengan nada menggoda.


Dia berharap istrinya akan merespon ucapannya barusan. Namun tampaknya harapan Arnold sia – sia, Crystal sama sekali tak menanggapi obrolan nenek dan cucu tersebut.


Dia memilih diam sambil menikmati makanan yang ada dihadapannya sambil menundukkan kepalanya. Melihat hal itu, baik Elisabeth maupun Arnold kembali menghela nafas cukup dalam sambil mengamati Crystal yang masih terdiam tak bereaksi.


“ Aku sudah selesai…”, ucap Crystal tiba - tiba dan langsung bangkit dari tempat duduknya, membuat semua orang tercengang.


“ Aku pergi dulu…”, ucap Crystal dingin.


Setelah mencium punggung tangan suaminya, Crystal segera mendekati Elisabeth, mencium punggung tangan neneknya dan kedua pipi wanita tua itu sebelum beranjak pergi.


“ Tidak kamu antar ?...”, tanya Elisabeth mengingatkan.


“ Hari ini banyak urusan yang harus diselesaikannya, jadi dia ingin berkendara sendiri….”, ucap Arnold sambil menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


“ Kamu yang lebih dewasa, harusnya bisa lebih mengalah dan lebih perhatian lagi terhadap istrimu….”, ucap Elisabeth menasehati.


“ Dan satu hal lagi…kontrol nafsumu !!!…nenek nggak mau kamu menyiksa Crystal seperti kemarin lagi !!!...”, ucap Elisabeth sambil melotot tajam.


“ Itu…itu naluriah nek, aku tidak bisa mengontrolnya…”, ucap Arnold membela diri.


“ Kamu itu !!!... membantah saja kalau dinasehati !!!...Jika kamu tak bisa menjaganya, biar Crystal nenek bawa saja ke rumah…”, ucap Elisabeth sewot.


“ Jangan nek…jika Crystal nenek bawa, lalu siapa yang akan mengurusku…”, ucap Arnold merajuk.


“ Masih ada Emily, bukankah dia sudah mengurusmu dengan baik selama ini…”, ucap Elisabeth tajam.


Emily hampir saja tersedak air yang baru saja diminumnya begitu mendengar ucapan Elisabeth. Namun dia juga hanya bisa pasrah diseret masuk kedalam pertengkaran majikannya itu.


Sementara itu, Crystal yang sudah berada distudio Stevanus segera memasang proyektor dan menyiapkan bahan yang akan dia gunakan untuk presentasi nanti.


Meski Crystal tahu jika klien yang akan bekerja sama dengan timnya adalah Enrico, sepupu Arnold. Namun selama dia tidak mencium gelegat yang membahayakan dari sepupu suaminya itu, maka dia juga akan bersikap professional.


“ Selamat datang Bapak Enrico Gunawan…”, Stevanus menjabat tangan Enrico sambil tersenyum lebar.


“ Oya, perkenalkan ini Crystal pak…jika anggota yang lain tentunya bapak sudah kenal kan dengan mereka…”, ucap Stevanus ramah.


Crystalpun menjabat tangan Enrico sambil tersenyum lebar. Untuk beberapa saat, Crystal sempat terpana oleh ketampanan Enrico.


Rahangnya yang kokoh dan sorot mata yang tajam, sekilas laki – laki yang ada dihadapannya itu mirip dengan Arnold jika dia terdiam.


Namun senyum nakal yang disunggingkannya, membuat laki – laki itu menjadi berbeda jauh dengan sang suami, seperti bumi dan langit untuk sikap dan pembawaannya.


“ Darah Lincoln mengalir ditubuhnya…dan itu tidak dapat dipungkiri…”, batin Crystal waktu merasakan aura dominan yang cukup kuat dari dalam diri Enrico.


Melihat Crystal sempat terpesona dengan dirinya, meski hanya untuk sesaat nyatanya tak bisa membuat senyum Enrico hilang begitu saja dari wajahnya.


Selama Crystal melakukan presentasi, lelaki tersebut terus saja menatap istri sepupunya itu dengan tatapan kekaguman dan penuh cinta.


Senyum manispun tak pernah pudar dari wajahnya selama meeting tersebut berlangsung. Semua orang saling memandang satu dengan yang sang lainnya pada saat Enrico melontarkan ucapan yang menggoda kearah Crystal.


Dia tetap berada dijalurnya, sama sekali tak terpengaruh sedikitpun. Hal ini tentu saja membuat rekan – rekan kerjanya merasa bangga.


Meski terkenal ramah, namun Crystal selalu bersikap professional dalam bekerja. Hal inilah yang membuat rekan – rekannya salut dan senang bekerja sama dengannya.


“ Selamat ya…maaf waktu pernikahanmu kemarin aku nggak bisa datang karena urusan di luar tidak bisa aku tinggal…”, ucap Enrico dengan nada penuh penyesalan.


“ Tidak apa – apa…dan terimakasih untuk hadiahnya…”, ucap Crystal  sambil menerima kado yang diberikan Enrico kepadanya.


Melihat reaksi Crytal yang positif terhadapnya membuat senyum Enrico mulai terbit dan mengembang sempurna diwajahnya.


“ Langkah awal yang sempurna…”, batin Enrico puas.


Untuk melaksanakan rencana selanjutnya, Enricopun mengajak tim Stevanus melanjutkan pembahasan proyek sambil makan siang direstoran Jepang yang sudah dipesannya.


Tentu saja semua anggota tim menyambut dengan antusias ajakan tersebut. Kapan lagi mereka bisa makan enak sambil meeting, itulah yang ada dibenak semua orang saat ini.


Melihat sikap Enrico yang terlihat wajar meski kadang kala melontarkan kata – kata ambigu, membuat Crystal mulai mengurangi jarak yang dibuatnya, meski professional dalam bekerja tetap dipegangnya.


“ Bagaimana kondisi Casandra sekarang? apa sudah baikan ?...”, tanya Enrico dengan wajah cemas.


“ Kamu kenal Casandra ?...”, Crystal balik bertanya dengan wajah menyelidik.


“ Tentu saja kenal…sampai kuliah aku satu sekolahan dengannya…”, ucap Enrico sambil memasukkan takoyaki kedalam mulutnya.


“ Bagaimana kamu bisa tahu jika Casandra sakit ?...”, tanya Crystal penasaran.


“ Ini…temanku tak sengaja bertemu dengannya dan memotretnya…”, ucap Enrico sambil menunjukkan sebuah foto Casandra sedang digendong oleh seorang lelaki yang tidak begitu jelas wajahnya.


Jika melihat dari jas yang dipakainya, itu adalah milik suaminya. Tapi Crystal masih ragu, karena sepengetahuan dirinya suaminya itu tidak bisa bersentuhan dengan wanita, kecuali dirinya.


“ Lalu… bagaimana mungkin Arnold bisa mengendong Casandra ?...”, batin Crystal penuh tanda tanya.


Melihat ekspresi Crystal yang sedikit terkejut dan terdiam cukup lama membuat Enrico yakin jika rencananya kali ini berhasil.


Sebenarnya yang ada dalam foto tersebut adalah Vreyan yang sedang mengendong Casandra. Entah kenapa tangan kanan Arnold itu bisa memakai jas milik sepupunya itu.


Karena Vreyan sangat mengidolakan Arnold, dia selalu saja memakai potongan rambut yang sama dengan bosnya itu.


Vreyan yang memiliki tinggi hampir sama dengan Arnold tersebut berusaha untuk membentuk dirinya sehingga memiliki postur tubuh yang hampir menyerupai sang bos.


Dan keaadaan itulah yang digunakan oleh Enrico untuk menciptakan percikan api pertengkaran pada pasangan pengantin baru tersebut.


Enrico menyuruh anak buahnya untuk mengedit dan menyemarkan wajah lelaki yang ada didalam foto. Jika tidak diilihat dengan baik dan hanya sekilas, maka orang akan menganggap laki – laki yang mengendong Casandra itu adalah Arnold.


Apalagi laki – laki tersebut menggunakan jas yang hanya khusus dirancang untuk pewaris keluarga Lincoln tersebut dan memiliki hak paten.


Jadi tidak akan ada orang yang berani untuk meniru pakaian yang dikenakannya jika tidak ingin dituntut dan menderita kerugian yang besar.


Melihat Crystal terdiam cukup lama setelah melihat foto tersebut, Enrico sangat yakin jika saat ini Crystal sudah mulai meragukan suaminya.


Tidak ingin merusak suasana yang ada, Crystal berusaha untuk menekan rasa sakit hati dan kecemburuan yang dirasakannya saat ini.


Diapun kembali membaur dan fokus pada agenda meeting yang ada, sambil sesekali tersenyum. Crystal yang pada awalnya curiga dengan Enrico yang sengaja ingin merusak hubungannya dengan Arnold menjadi sedikit ragu waktu melihat sepupu suaminya  itu bersikap biasa saja.


Bahkan dia tidak kembali membahas atau menanyainya lebih lanjut terkait Casandra dan Arnold, malah terlihat fokus pada pembahasan yang sedang mereka lakukan saat ini.


“ Yess…berhasil…”, batin Enrico bahagia.


Dia tinggal menunggu bagaimana reaksi Crystal selanjutnya. Enrico sangat berharap gadis itu akan bertindak sesuai dengan apa yang diharapkannya.