
Setibanya di luar perkebunan, Crystal segera bertemu dengan Lea bersama Beni, Theodore dan Sean. Mereka berlima bersama anak buah Arnold segera mendiskusikan langkah apa yang akan diambil untuk menyerang langsung markas begitu tuan yang ditunggu professor Smith datang.
“ Apa kamu tahu jika ini adalah markas rahasia Alexander ?...”, tanya Lea sambil memicingkan sebelah matanya.
“ Apa?!!!...kamu tidak sedang bercanda kan?!!!...”, tanya Crystal dengan mata membulat lebar karena terkejut.
“ Sudah kuduga kau mengabaikan pesanku….”, ucap Lea mendengus kesal.
“ Maaf…”, ucap Crystal sambil cengengesan dengan wajah tak berdosa.
Tidak ingin berdebat dengan sahabatnya ditambah lagi dengan kondisi yang cukup mendesak membuat Crystal segera mengemukakan ide yang ada dalam kepalanya.
Lea awalnya menolak ide Crystal yang dianggapnya terlalu beresiko itu. Namun Crystal yang sangat keras kepala terus membujuk Lea dan tatapan matanya yang tajam mampu menembus alam bawah sadar gadis itu yang akhirnya menuruti semua keinginan sahabatnya.
Di dalam mobil Lea, Crystal segera membuka koper yang dititipkan di dalam mobil sahabatnya itu dan mengeluarkan gaun sifon hitam beserta topi dengan cadar untuk dipakainya.
Dia juga mengeluarkan jaket kulit beserta topeng perak yang akan dipakai oleh Lea, Beni , Theodore, Sean dan kelima anak buah Arnold yang bersamanya sebagai penyamarannya nanti.
Setelah semua orang telah bersiap dengan skenario yang telah dibuat oleh Crystal mereka segera mengawasi kamera tersembunyi yang terpasang di markas Alexander.
Perhatian semua orang langsung fokus saat tampak sebuah mobil berwarna hitam masuk kedalam rumah dan keluarlah seorang lelaki tampan berusia tiga puluh tahunan dari dalam mobil.
Tampak disana Alexander keluar dari dalam mobil dengan wajah merah menahan amarah pada saat mendengar dari anak buahnya jika mobil ambulan yang ditumpangi Crystal terbakar namun tidak satupun jenazah ditemukan disana.
Bahkan mereka mendapati dua anak buahnya terikat di tiang dan tak sadarkan diri tak jauh dari lokasi kebakaran.
Gudang belakang yang digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata dan bahan pangan ikut terbakar juga membuat Alexander semakin murka.
“ Dasar tidak becus !!!...”, teriak Alexander murka.
Dia langsung saja menghajar habis anak buahnya yang berada tepat di hadapannya untuk melampiaskan emosinya.
“ Cari sampai ketemu !!!...hidup atau mati !!!...”, perintahnya sambil melotot tajam.
Selanjutnya Alexander dengan rahang mengeras dan kedua tangan terkepal kuat terlihat berjalan masuk kedalam rumah dengan emosi memuncak.
Melihat hal tersebut, Crystal, Lea dan teman – temannya segera beranjak menuju markas rahasia Alexander menggunakan kendaraan Lea.
Sedangkan para anak buah Arnold sudah melesat pergi dan menunggu mereka di depan markas, sambil menghalau semua rintangan yang ada di depan.
Semua alat sensor sudah dimatikan oleh PB 1 waktu membawa pergi Leony dan para petugas medis agar jejak mereka tak terdeteksi sehingga kali ini kedatangan merekapun juga tak akan terlacak.
Tatapan semua orang langsung beralih ke sebuah mobil hitam yang baru saja masuk dengan delapan orang laki – laki bertopeng dengan memakai jaket berwarna hitam berdiri disekitar mobil yang dikendarai Crystal.
“ Siapa ?...”
“ Bagaimana mereka bisa masuk ?...”
“ Kenapa tidak ada tanda mereka datang ?...”
Dibawah tatapan semua orang, seorang wanita berjaket hitam dengan rambut cepak berwarna merah dan topeng perak yang menutupi wajahnya terlihat sedang melangkah keluar dari kursi pengemudi.
Setelah wanita berambut merah itu turun, dia berjalan kekursi penumpang, menarik pintu mobil hingga terbuka dengan hormat dan membantu seorang wanita dengan gaun sifon hitam keluar dari dalam mobil.
Wanita dalam gaun shifon hitam tersebut mengenakan topi vintage dengan kerudung hitam , renda yang hampir menutupi seluruh wajahnya, dia memegang tangan wanita berambut merah tersebut dengan anggun dan melangkah keluar dari dalam mobil dengan santai. Tindakannya sama anggunnya dengan wanita kelas atas diabad pertengahan.
Meskipun cadar hitam menutupi seluruh wajahnya dan mereka tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya dari kejauhan, dilihat dari bentuk bibirnya yang merah seperti buah ceri yang merekah dan dagu halus yang sempurna, mereka bisa mengatakan itu adalah kecantikan yang bisa membuat siapapun bertekuk lutut dihadapannya.
Mendengar suara gaduh diluar, Alexander yang sedang berada di laboratorium pun segera bergegas berjalan keluar untuk menyambut tamu yang tak diundang tersebut.
Alexander sedikit menyipitkan satu matanya dan menatap intens setiap inci tamu yang ada dihadapannya itu.
Tiba – tiba pandangan matanya tertuju pada jaket hitam yang dipakai oleh anak buah wanita yang memakai cadar tersebut, dimana ada sulaman mawar merah dengan duri tajamnya tersulam secara rapi dibagian dada membuat mata Alexander seketika terbuka sangat lebar.
“ Mungkinkah ?...”, batin Alexander tak percaya.
Alexander sepertinya mengingat sesuatu saat bekas kengerian yang sangat dalam muncul diwajahnya dan secara naluriah dia mulai berjalan mundur.
“ Rose Devil….”, guman Alexander ketakutan.
Mendengar dua kata yang keluar dari mulut Alexander membuat semua orang langsung bergidik ngeri.
Siapa juga yang tidak tahu siapa itu “ Rose Devil ”, sebuah organisasi wanita terkuat yang hanya ada dalam legenda.
Tidak ada satupun orang yang pernah melihat wajah asli anggota Rose Devil, bahkan keberadaan mereka hanya dianggap sebagai rumor belaka.
Dikatakan bahwa semua anggota Rose Devil mengenakan jaket hitam dengan hiasan sulaman mawar berduri di bagian dada dan selalu menggunakan topeng perak.
Sedangkan pemimpin Rose Devil adalah seorang wanita yang mengenakan gaun hitam dengan cadar hitam hampir menutupi sebagian besar wajahnya.
Tidak ada yang tahu identitas wanita itu dan seluruh anggota Rose Devil. Hanya yang pernah mereka dengar jika ketua mereka adalah seorang wanita yang berusia 60 tahun tetapi memiliki penampilan seperti gadis muda.
Namun ada juga yang menyebutkan sosoknya sebagai wanita tua yang menakutkan dan menyeramkan, untuk itu dia sama sekali tidak pernah melepaskan cadarnya sewaktu beraksi.
Dan wanita itu selalu ditemani oleh anak buahnya yang eksentrik dengan aura membunuh yang cukup kuat membuat mereka menjadi senjata manusia yang siap digunakan kapan saja.
“ Jadi…dia adalah ketu Rose Devil…”, guman salah anak buah Alexander terhuyung dan mundur ketakutan.
Bicara tentang bagaimana kejam dan mengerikannya wanita ini, bisa dipastikan dia adalah wanita iblis haus darah yang sangat buas.
Dan metode yang digunakan dalam menyiksa musuh – musuhnya tergolong sangat kejam hingga membuat semua orang lebih baik mati dari pada disiksa oleh iblis wanita itu.
" Apa yang membuat Rose Devil mengunjunginya ?...", itulah pertanyaan yang ada dalam benak Alexander saat ini.
Seingatnya, dirinya sama sekali tidak pernah bertemu jadi tidak mungkin jika dirinya mampu menyinggung mereka. Dan hal ini bukanlah pertanda baik, karena setiap kemunculan Rose Devil, maka tidak akan ada siapapun yang dikunjunginya akan bisa lolos dengan mudah.