Love Destiny

Love Destiny
MENGAWASIMU



Setelah menyelesaikan semua pekerjaan yang ada dikantor, Crystal dengan diantar Emily menuju kesebuah restoran untuk bertemu dengan salah satu klien atas instruksi Abraham.


Mengingat klien tersebut adalah salah satu investor cabang perusahaan yang ada dipulau berlian, maka dengan berat hati Crystal datang menemuinya meski hatinya enggan mengingat klien yang akan ditemuinya adalah sosok angkuh yang selama ini mengejarnya.


" Apa perlu saya temani nona ?....", tanya Emily was - was mengingat tunangan majikannya itu akan bertemu dengan seorang pemuda asing yang tidak dia ketahui.


" Tidak perlu...tenang saja, aku tidak akan membuat masalah disini....", ucap Crystal santai.


Emily sudah mempersiapkan mental untuk kematiannya sendiri saat dia melihat Crystal berjalan keluar dari dalam restoran dengan wajah merah karena amarah.


Gadis itu terlihat sangat emosional seperti ingin menelan siapapun hidup – hidup saat ini. Dia membuka pintu dan menutupnya dengan sangat kasar membuat Emily terlihat kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri.


Melihat ekspresi Emily yang ketakutan, untuk sekian detik wajah kesal Crystal berubah menjadi tawa saat menebak apa yang sedang wanita itu pikirkan.


“ Emily, seperti yang aku katakan sebelumnya, jika aku membuat masalah maka aku tak akan pernah melibatkanmu. Pegang janjiku…”, ucap Crystal tersenyum geli melihat wajah pucat Emily.


Mendengar ucapan Crystal, Emily terbatuk ringan karena terkejut gadis itu akan mengatakan kata – kata yang menyentuh hatinya seperti itu.


“ Terimakasih nona. Saya senang anda ternyata sudah berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu. Saya sangat yakin jika tuan muda tidak akan marah selama anda tidak melewati batas yang telah ditentukannya…”, ucap Emily mengingatkan.


“ Tentu saja Emily, aku tahu itu. Hanya saja aku merasa ini akan sedikit sulit mengingat aku belum mendapatkan batu pijakan yang tepat dikeluarga Lincoln saat ini. Kamu tahu akan hal itu kan ?...”, tanya Crystal sedikit cemas.


Dimasa lalu, setelah beberapakali mencoba kabur dengan Gerald, Arnold segera menyeretnya ke kantor urusan agama dan menikah saat itu juga disana setelah Abraham tiba.


Baru setelah itu Arnold mengumumkan pernikahannya di keluarga besarnya. Dan tentu saja hal itu mendapatkan penolakan yang cukup hebat dari para tetua akibat hasutan yang dilakukan oleh Casandra dimasa lalu yang telah mencemarkan nama baiknya.


“ Tapi, tenang saja…aku bisa mengatasinya…”, ucap Crystal berusaha tersenyum.


“ Emily…terimakasih untuk semuanya. Hanya kamulah yang paling selama ini padaku…”, ucap Crystal penuh haru.


Mendengar semua ucapan Crystal, Emily dalam hati kecilnya  merasa sedikit bersalah. Meski tidak sefrontal dan sebesar Vreyan membenci Crystal, sebenarnya Emily juga sama, dia selalu berprasangka buruk terhadap gadis itu, meski tidak terang – terangan menolak namun dia juga masih belum bisa menerima dengan lapang dada jika tuan mudanya akan menikah dengan Crystal.


Melihat wajah sendu Emily, Crystalpun mulai berbicara sedikit berhati – hati. Saat ini dirinya benar – benar memerlukan bantuan wanita itu.


“ sebenarnya ada hal yang ingin aku mintai tolong darimu….”, ucap Crystal hati – hati.


“ Apa itu nona ?...jika saya bisa, maka akan saya bantu…”, ucap Emily yakin.


Melihat keyakinan dimata Emily dalam hati Crystal tersenyum dan mulai mengutarakan keinginannya.


“ Aku tahu jika selama ini dalam diam kamu terus saja mengawasi semua pergerakanku. Yang aku minta tidak lah sulit, bisakah kamu mengawasi Arnold untukku ?...sama seperti denganku, kamu hanya perlu mengawasinya dalam diam. Memberitahuku bagaimana suasana hatinya agar aku bisa bersikap, apa yang membuatnya marah dan tidak senang. Kamu tahukan kadang akibat terlalu banyak pikiran aku jadi kurang peka akan hal itu, maka aku ingin kamu memberitahukan padaku. Dan siapa saja gadis yang mendekatinya…seperti Casandra, kamu tahukan kalau dia suka Arnold… ”, ucap Crystal sedikit gugup saat menyebutkan kata terakhir itu.


Emily cukup paham, dari sekian banyaknya kata yang diucapkan oleh Crystal tadi point utamanya adalah “ Casandra ”, hanya itulah gadis yang dekat dengan tuan mudanya dan menjadi musuh utamanya.


“ Nona Crystal, saya bisa membantu anda mengawasi tuan muda dan memberitahukannya kepada anda. Tapi untuk nona Casandra, anda tentunya juga tahu, saya tidak bisa untuk hal yang satu itu…”, ucap Emily berusaha menjelaskan agar Crystal paham bagaimana posisinya.


Crystal sangat paham bagaimana posisi Emily , dia sudah sangat lama mengabdi untuk keluarga Lincoln dan Casandra adalah bagian inti keluarga tersebut. sedangkan dirinya hanya orang luar, jadi bagaimana bisa wanita itu bisa membocorkan hal yang terkait pribadi Arnold dan Casandra kepadanya.Meski untuk Arnold dia hampir mengetahui semua rahasia calon suaminya itu.


Dia juga tidak akan terlalu menyulitkan posisi Emily karena permintaan konyolnya  karena rasa cemburu,akibat ucapan provokasi Vreyan beberapa hari yang lalu meski sekuat mungkin dia tolak.


“ Casandra bukanlah seseorang yang dengan mudah bisa aku goyang. Banyak orang – orang yang setia kepadanya karena merupakan bagian inti keluarga Lincoln, meski secara garis darah dia sama sekali tidak mempunyai hubungan langsung…”, batin Crystal pasrah.


Selanjutnya, tidak ada seorangpun yang bersuara. Emily dan Crystal sama – sama terdiam, larut dalam pemikiran mereka sendiri.


Hingga tak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah masuk kehalaman utama kediaman Arnold.


Crystal langsung pergi kedalam kamarnya untuk membersihkan diri sedangkan Emily langsung menuju keruang kerja Arnold untuk melaporkan semuanya.


“ Saya tadi mengantarkan nona Crystal ke sebuah restoran untuk bertemu dengan salah satu rekan bisnisnya,  tapi tidak lama nona berada disana, hanya sekitar  lima menit dan langsung keluar…”, ucap Emily melaporkan.


“ Ok, apa ada yang lain ?...”, tanya Arnold curiga saat melihat Emily masih diam mematung ditempatnya dan tidak segera pergi setelah melaporkan kepadanya.


Emily merasa bersalah saat melihat tatapan Arnold yang seakan sedang membaca isi pikirannya saat ini.


“ Nona Crystal meminta bantuanku?...”, ucap Emily ragu.


“ Bantuan apa?...”, tanya Arnold tajam.


“ Non…nona meminta saya untuk mengawasi anda tuan…”, ucap Emily gugup


“ Mengawasiku !!!...”, Arnold berkata dengan mata menyala.


“ Itu…tidak banyak yang diminta nona…hanya…ingin tahu hal apa yang tuan suka dan tidak suka…tenatng perasaan anda hari ini…dan juga apakah….”, suara Emily terasa tercekat waktu ingin menyelesaikan kalimat terakhirnya karena terlalu gugup.


Melihat Arnold menunggu kalimat lanjutannya, Emily langsung menelan ludahnya dan mencoba untuk melanjutkan kalimatnya.


“ Ju..juga tentang siapa saja gadis yang dekat dengan anda…seperti nona Casandra…nona Crystal berkata jika nona Casandra sepertinya tertarik dengan anda, bukan sebagai saudara atau rekan kerja tetapi sebagai pria dan wanita…dan jika dilihat dari sikap nona Crystal tadi sepertinya….dia cemburu dengan nona Casandra….”, ucap Emily sangat gugup.


“ Hmmm…”, Arnold hanya berdehem membuat Emily semakin binggung dengan ekpresi tuan mudanya itu yang sama sekali tak terbaca.


“ Kalau begitu, awasi aku mulai sekarang !!!...”, ucapnya dengan nada rendah yang dingin.


“ Tunggu !!!...ini tadi perintah atau peringatan untukku…”, batin Emily bertambah binggung saat Arnold mengatakan hal tersebut.


Air mata Emily akhirnya mengalir dengan deras seperti aliran sungai saat dia meninggalkan ruang kerja Arnold.


Emily merasa sangat bersalah, dia seperti sedang mengkhianati tuan mudanya secara tak langsung jika dia mengawasi Arnold sepanjang waktu.


Meski dia juga tidak ingin mengecewakan Crystal, bagaimanapun Emily adalah orangnya Arnold dan miliki keluarga Lincoln.


“ Tampaknya kali ini aku benar – benar membuat kesalahan yang serius…”, batin Emily sedih.