Love Destiny

Love Destiny
KEHEBOHAN PAGI INI



Sambil menggeliat, Crystal membuka jendela kamarnya dan menghirup segarnya udara pagi dalam – dalam sambil memejamkan kedua matanya.


Perlahan, udara pagi yang sejuk mulai mengisi paru – parunya. Hangatnya mentari pagi yang mengenai kulit putihnya melalui celah daun – daun seketika menghangatkan tubuhnya.


“ Sungguh pagi yang indah…”, ucap Crystal sambil menikmati nyanyian burung yang bertengger diatas pohon.


Bunga – bunga yang mulai bermekaran ditaman dan beraneka ragam buah yang tumbuh disana melengkapi keindahan alam pagi ini.


“ Sepertinya hari ini aku bisa memanen mereka…”, guman Crystal dengan mata berbinar waktu melihat kebun buahnya tumbuh dengan lebat.


Diapun segera berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya agar bisa segera memanen buah yang ada dikebun buah miliknya.


Sambil bersenandung, Crystal berlari – lari kecil menuruni anak tangga dengan riang. Bukan hanya Crystal yang sedang berbahagia hari ini.


Seluruh pekerja yang bertugas melayani cucu kesayangan Elisabeth tersebut juga merasakan hal yang sama.


Para pekerja terlihat lebih segar dan ceria hari ini. Senyum manis tak pernah lepas dari wajah mereka setelah Arnold memberikan bonus besar karena akhirnya tunangannya itu mau juga diajak untuk menikah.


Membuat kediaman Arnold pagi ini terasa lebih ceria dan lebih berwarna daripada biasanya. Semua orang yang berada dalam kediaman yang didominasi warna putih dan abu tersebut saat ini hatinya diliputi dengan kebahagiaan.


“ Pagi…”, sapa Crystal begitu tiba ditaman.


“ Pagi nona Crystal…”, ucap para pekerja kompak sambil tersenyum lebar.


“ Ada yang bisa kami bantu ?…”, ucap salah satu tukang kebun menghadap dengan sopan.


“ Bantu aku memanen buah hari ini…”, ucap Crystal dengan riang.


Tak memerlukan waktu lama, beberapa orang pekerja mulai mempersiapkan tempat dan membantu Crystal untuk memanen buah yang telah masak.


Jika semua orang terlihat berwajah ceria dan senyum mengembang diwajahnya, tidak dengan Arnold. Lelaki tampan itu terlihat menatap tajam kedepan dengan kening dikerutkan cukup dalam.


Membuat aura dalam rumah yang semula hangat tiba – tiba berubah menjadi dingin. Senyum para pekerjapun mulai hilang berganti dengan ketengangan dan ketakutan yang tersirat diwajah mereka.


Meski sudah familier dengan sifat majikannya yang seperti itu, namun mereka merasa seperti sedang naik rollcoaster setiap kali majikannya itu mengalami perubahan suasana hati yang drastis, seperti pagi ini.


“ Dimana Crystal ?...”, tanya Arnold datar begitu berpapasan dengan Emily.


“ Sepertinya, nona masih dikamarnya tuan…”, jawab Emily sambil sedikit memiringkan kepalanya.


“ Tidak ada…”, ucap Arnold dingin.


Emilypun segera mengedarkan pandangannya kesemua sudut ruangan, berharap melihat sosok yang sedang dicari majikannya itu, tapi nihil.


“ Akan saya cari tuan…”, ucap Emily dan bergegas pergi untuk mencari Crystal.


Cukup lama Emily berkeliling mencari calon istri majikannya itu, namun Crystal tak kunjung juga ditemukan hingga suara tawa yang sangat tak asing baginya terdengar.


“ Nona…saya mohon.... cepat turun….”, ucap salah satu pelayan dari bawah pohon dengan mata berkaca - kaca.


“ Disini sangat menyenangkan…apa kamu ingin ikut juga….”, ucap Crystal tersenyum riang sambil memakan buah ceri yang didapatkannya.


Emily hanya bisa membulatkan kedua matanya lebar – lebar melihat aksi Crystal tersebut. Semua orang, bahkan Emily tidak bisa membujuk Crystal untuk turun dari atas pohon hingga suara baritone seseorang membuat semuanya terdiam.


“ Sudah cukup bersenang – senangnya. Cepat Turun !!!....”, ucap Arnold sambil berkacak pinggang.


Melihat calon suaminya melotot tajam kearahnya, sambil tersenyum kikuk Crystalpun akhirnya berusaha untuk turun.


Untungnya Arnold dengan sigap langsung menangkap tubuh munggil itu yang langsung terjatuh dalam dekapannya, membuat semua orang yang menyaksikan dan berada di lokasi kejadian berhenti bernafas untuk sejenak.


Meski Crystal berhasil ditangkap dan dalam keadaan baik – baik saja, namun Arnold pastinya tidak akan membiarkan mereka begitu saja  lepas dari hukuman karena dianggap tidak bisa menjaga calon istrinya.


Semua orang langsung menundukkan kepalanya dengan badan gemetar waktu tatapan tajam seperti sebilah pisau yang siap untuk mencincang mereka menatap mereka satu – persatu dengan ganas.


ARNOLD POV


Pagi ini, aku bangun dalam suasana hati yang sangat baik. Bagaimana tidak, setelah melalui berbagai macam peristiwa dan pertengkaran kecil yang kerap terjadi, akhirnya Crystal bersedia menikah denganku.


Akhirnya, sebentar lagi impianku akan segera menjadi kenyataan. Akupun memakai baju sambil membayangkan keluarga kecil yang aku bina dengan Crystal nanti.


Sambil tersenyum tipis, aku segera mengeluarkan kotak perhiasan yang kusimpan rapi didalam laci. Perhiasan tersebut sudah aku persiapkan sejak lama, rencananya akan aku berikan jika gadisku itu sudah siap menikah denganku.


“ Sekarang adalah waktu yang tepat…”, ucapku tersenyum bahagia.


Dengan hati yang penuh kebahagiaan, akupun bergegas menuju kamar Crystal untuk memberikannya kejutan.


Pada saat masuk, aku mendapati kamar Crystal dalam keadaan kosong dan terasa sangat sunyi. Berbagai macam pikiran buruk pun mulai terlintas dikepalaku.


Dengan cemas, aku segera mencari keberadaan calon istriku itu keseluruh ruangan yang ada dalam kamar, namun gadis cantik itu sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya.


Hatiku pun semakin gelisah, perasaan takut akan kehilangan dirinya terasa semakin kuat melanda. Membuatku sedikit menggila untuk sesaat, takut mendapati kenyataan jika gadisku itu akan kabur lagi.


Dengan panik akupun segera menuju walk in closet, hatiku sedikit tenang waktu melihat koper Crystal masih berada ditempatnya dan semua baju tersusun rapi ditempatnya.


“ Dia tidak pergi jauh…”, batinku sedikit lega.


Sambil menuruni anak tangga, akupun mengkerutkan keningku dalam – dalam, berpikir keras kira – kira kemana perginya Crystal sepagi ini.


Seluruh ruangan yang ada didalam rumah sudah aku telusuri, namun calon istriku itu tak juga kutemukan.


Hingga aku berpapasan dengan Emily dan menanyakan keberadaan calon istriku itu. Perasaanku semakin tak menentu saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Emily.


“ Jika Emily tidak melihat keberadaannya, berarti dia tidak ada dirumah…”, akupun segera berlari menuju garasi untuk memastikan semua hal yang kupikirkan tadi.


“ Masih ada…”, batinku tenang waktu mendapati porsche kuning tersebut masih bertengger manis didalam garasi.


Hingga sayup – sayup kudengar  suara yang cukup beerisik dari arah taman. Akupun mulai melangkahkan kakiku menuju kemana sumber kegaduhan tersebut berasal.


Kemarahan dalam hatikupun tak kuasa untuk aku tahan lagi begitu melihat calon istriku itu sedang duduk manis diatas pohon sambil menikmati buah ceri yang berhasil dipetiknya.


Dan yang membuat aku semakin kesal adalah para pekerjaku yang hanya bisa meneriakinya dari bawah pohon agar Crystal turun tanpa berusaha untuk naik dan membawa gadisku itu turun dari atas pohon.


Semua orang langsung terdiam, begitu juga dengan gadisku waktu aku mulai bersuara. Dia terlihat sedikit ketakutan memandangku dan berusaha untuk turun.


Apa yang aku takutkanpun terjadi, karena kurang hati – hati Crystal terpeleset dan jatuh saat hendak turun dari atas pohon.


Untungnya, aku yang sudah mempunyai feeling buruk akan hal itu segera berlari mendekat dan akhirnya tubuhnya mendarat mulus dalam dekapanku.


ARNOLD POV END


Masih dalam dekapan, Crystal dibawa Arnold masuk kedalam rumah. Melihat ekspresi calon suaminya yang marah, Crystal hanya bisa terdiam dan menyembunyikan wajahnya dalam dada bidang Arnold sambil berpikir bagaimana caranya lepas dari hukuman yang pastinya akan segera dia dapatkan.