Love Destiny

Love Destiny
PAPA SAKIT



Elisabeth tampak sangat sedih saat mengetahui bahwa Crystal dan Arnold siang ini harus balik. Wanita tua itu menyangka bahwa cucunya itu akan menginap lagi malam ini dan baru balik besok pagi.


Tapi setelah mendengar alasan yang diberikan oleh Crystal kenapa mereka harus kembali siang ini juga membuat Elisabeth dengan berat hati membiarkan mereka kembali.


“ Aku janji nek, jika ada waktu luang…aku akan kembali kesini lagi…”, ucap Crystal sambil memeluk dan mengecup kedua pipi Elisabeth dengan lembut.


“ Janji ya….”, ucap Elisabeth sambil tersenyum.


“ Kamu jangan takut, jika anak nakal ini menganggumu, kamu bilang ke nenek, biar nenek yang akan menghukumnya…”, ucap Elisabeth memberi dukungan.


“ Baik nek…nenek tidak perlu cemas, aku akan menjaga Arnold dengan sangat baik…”, janjiku sebelum melangkah masuk kedalam mobil.


Didalam mobil Arnold menyandarkan kepalanya dibahu Crystal dengan mata tertutup dan hanya dalam hitungan detik diapun sudah tertidur pulas.


“ Dipikir aku bantal apa, begitu nempel langsung molor…”, batinku kesal.


Tampaknya  pengobatan dokter Philip cukup ampuh hingga membuat insomnia akut yang diderita Arnold perlahan mulai sembuh. Padahal, Crystal tidak tahu jika Arnold bisa tertidur pulas seperti ini hanya ketika sedang bersama dirinya.


Diam – diam Emily mengambil gambar Arnold yang sedang tertidur dibahu Crystal dan mengirimkannya ke Elisabeth dan dokter Philip.


Dia sangat berharap jika Crystal bisa menjadi obat bagi sang bos untuk bisa sembuh dari penyakit yang perlahan mulai mengurangi nyawanya itu.


.


.


.


.


.


.


Kediaman Abraham malam ini,


Terlihat seorang wanita paruh baya dengan telaten menyuapi seorang pria yang terlihat sangat lemas diatas ranjang.


“ Tenangkan pikiran papa…ingat kata dokter…”,ucap  Selvi lembut.


Mama Crystal itupun kembali menyuapi suminya dengan bubur hingga isi dalam mangkuk yang dipegangnya habis. Sambil mengeluarkan kata - kata yang bisa membesarkan hati suaminya.


Crystal yang baru saja datang sedikit heran saat melihat rumahnya sangat sepi, setelah bertanya pada pembantu yang bekerja dirumahnya, gadis itu bergegas naik untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.


tokkk...  tokkk.... tokkk....


Setelah mendapatkan respon dari dalam, Crystalpun bergegas membuka pintu kamar kedua orang tuanya dengan senyum yang lebar.


Ceklek…


“ Papa !!!…”, teriak Crystal cemas saat melihat papanya terbaring diranjang dengan awajah yang sangat pucat


“ Papa tidak apa – apa….hanya sedikit banyak pikiran saja…”, ucap Abraham bohong, untuk menenangkan sang putri.


Abraham tidak ingin membuat putri bungsunya itu gelisah, jadi dia berusaha untuk bangun dari tempat tidur sambil tersenyum lebar.


“ Papa berbaring saja, jangan banyak bergerak dulu…”, ucap Crystal sambil membantu papanya untuk duduk dan memberi bantal untuk menyanggah punggung sang papa.


“ Kamu kesini sama siapa?...”, tanya Selvi, mamanya sedikit binggung melihat putrinya pulang tanpa memberinya kabar terlebih dahulu.


Semua orang dalam keluarga Abraham tahu mengenai penderitaan yang dialami putri bungsunya itu selama berada dikediaman Arnold dari cerita Adisty.


Jadi, saat Abraham terkena serangan jantung sepulang menjenguk Gerald dirumah sakit akibat bertengkar dengan sang besan, Selvi tidak memberitahukan hal itu pada sang putri.


Dia takut putrinya akan terkena masalah jika memaksakan diri untuk pulang. Tapi, saat melihat putri bungsunya itu berada disini dengan kondisi baik – baik saja, hal itu tentu saja membuat Selvi penasaran.


“ Dengan Arnold, dia ada diruang tamu sekarang…”, ucapku sambil memijit lengan papa dengan lembut.


“ Darimana kamu tahu kalau papa sakit…”, tanya Abraham penuh selidik.


“ Feeling…entah kenapa mulai semalam aku kepikiran papa terus. Jadi, sepulang dari rumah nenek, aku mampir kerumah dulu…”, ucapku menjelaskan.


“ Nenek ?...”, tanya Selvi penasaran.


“ Neneknya Arnold ma....kemarin siang aku berkunjung kesana…”, ucapku mencoba menenangkan saat kulihat raut cemas hadir diwajah wanita yang telah melahirkanku itu.


Memberiku ruang agar bebas berbicara dengan papa, mamapun turun untuk menemui Arnold, calon menantunya. sambil membawa keluar mangkuk bubur yang sudah kosong.


“ Papa mikirin apa….apa ada masalah diperusahaan…”, tanyaku penasaran.


“ Hanya sedikit, tidak banyak…”, ucapnya dengan wajah sendu.


“ Kalau papa perlu bantuanku, kapan saja aku siap untuk masuk kedalam perusahaan. Aku sekarang sudah kembali berkuliah, minggu depan aku sudah selesai mengikuti semester pendek, untuk mengejar mata kuliah yang sempat teringgal saat aku cuti kemarin. Dan besok laporan penelitianku juga akan aku kumpulkan. Jika semua berjalan dengan lancar, kemungkinan semester kali ini aku sudah bisa mengajukan judul skripsi…”, ucapku dengan mata berbinar.


Karena, menurut cerita yang didengarnya dari Adisty. Arnold sangat membatasi gerak - gerik putrinya, bahkan untuk keluar dari dalam rumah saja harus ada ijin dari calon menantunya itu.


Dan sekarang dia mendengar dari mulut putrinya sendiri jika dia diijinkan untuk kembali berkuliah, tentu saja membuat Abraham sangat terkejut sekaligus merasa bersalah karena tanpa disadari dia telah menjerumuskan putrinya kedalam kesengsaraan sejak bertunangan dengan Arnold.


“ Tentu saja, dia bahkan terus mensupportku agar segera menyelesaikan perkualiahanku…”, ucapku bangga.


“ Jadi, jika papa membutuhkan…aku siap masuk kedalam perusahaan…”, ucapku tersenyum lembut sambil mengenggam kedua tangan papaku.


Melihat kesungguhanku, tanpa sadar kedua mata Abraham berkaca – kaca. Dia tidak menyangka kalau gadis kecilnya sangat dewasa sekarang.


Padahal sebelum tinggal bersama Arnold, Crystal terkenal sebagai gadis yang bar – bara, manja, dan tidak mau ribet dengan berbagai urusan, terutama yang menyangkut perusahaan.


Dia bahkan sudah mengatakan jika perusahaan tersebut sebaiknya dikelola sang kakak, yang lebih kompeten dibandingkan dengan dirinya.


Tapi apa yang dia lihat sekarang, dirinya sangat bangga melihat putri kecilnya mulai tumbuh dewasa menjadi pribadi yang bijaksana seperti ini.


Bahkan Crystal terlihat sangat anggun sekarang, dengan dress kuning bermotif bunga matahari yang dikenakannya saat ini.


Abraham dapat melihat putri kecilnya itu tumbuh semakin cantik dengan kulit halus yang terawat dengan rambut coklat sepinggang yang tertata rapi sehingga menambah pesona yang ada dalam dirinya. Sangat berbeda jauh dengan Crystal yang dulu.


“ Kenapa pa ?…apa Crystal terlihat aneh saat memakai dress ini…”, cicitnya saat melihat papanya mengamati penampilannya saat ini.


“ Tidak…kamu sangat cantik malam ini. Papa hanya tidak mengira jika putri kecil papa sudah menjadi dewasa sekarang…”, ucap Abraham bangga.


“ Tentu saja pa…aku akan selalu buat papa dan mama bangga sama Crystal. Maafkan Crystal ya pa, jika selama ini Crystal sering membantah ucapan papa dan berlaku seenaknya…”, ucapnya sedih dalam pelukan sang papa.


“ Papa sudah memaafkanmu sebelum kamu minta sayang….”, ucap Abraham sambil memeluk putri bungsunya itu dengan erat.


Pemandangan harmonis antara papa dan anaknya ini tentunya akan membuat hati siapa saja yang melihatnya menjadi trenyuh dan bahagia.


Namun hal tersebut tidak berlaku pada Adisty yang sangat marah melihat Abraham memeluk Crystal dengan sangat erat dan penuh cinta.


“ Aku tadi menunggumu di rumah sakit seharian, kenapa kamu tidak datang !!!…”, Adisty yang tiba - tiba masuk kedalam kamar berbicara dengan nada tinggi membuat Abraham dan Crystal melihat kearah gadis itu dengan pandangan terkejut..


“ Kenapa kamu tidak ketuk pintu dulu jika mau masuk. Tidak sopan !!!...”, bentak Crystal sambil menatap Adisty tajam.


Adisty sangat terkejut melihat Crystal berani membentak dirinya didepan Abraham. Tangannya terlihat mencengkeram ujung gaunnya dengan penuh amarah.


" Sialan kamu Crystal !!!....", batinnya geram.


Tidak ingin terpancing oleh provokasi yang dilakukan Crystal, Adistypun memasang wajah sedih seolah – olah dia merasa bersalah dan menjadi orang yang tertindas disini.


“ Maaf...aku sudah tidak sopan tadi…”, cicit Adisty dengan mata berkaca – kaca.


Melihat sahabat putrinya itu hampir menangis, Abraham yang wajahnya tadi sempat mengeras terlihat mulai melunak sekarang dan menatap gadis itu dengan iba.


“ Bagus…”, batin Adisty bangga dengan actingnya saat melihat Abraham menatapnya dengan sedih.


“ Sudahlah…mungkin ada hal penting yang ingin diucapkannya hingga dia buru – buru kemari…”, ucap Abraham berusaha menengahi.


Tindakan Abraham yang seakan membela Adisty ini membuat Crystal semakin geram. Dalam kehidupannya yang terdahulu, Adisty selalu saja bisa membuat semua orang membelanya dan membuat dirinyalah yang seakan – akan bersalah, dalam semua hal.


Tapi hal itu tidak akan terjadi sekarang. Crystal akan memberitahukan Adisty dimana posisi seharusnya dirinya berada.


“ Sepenting apapun itu, tindakanmu ini sangatlah tidak sopan. Apalagi kamu masuk kedalam kamar papa dan mama seenaknya tanpa mengetuk pintu dulu !!!…”, ucap Crystal tajam.


“ Atau jangan – jangan dia sering nyelonong masuk kedalam kamar papa jika mama tidak ada…”, ucapku tersenyum sinis.


“Apa maksudmu !!!...”, Abraham mulai meninggikan suaranya tidak terima dengan tuduhan sang anak.


“ Aku dan kak Leony saja selalu mengetuk pintu jika ingin masuk kedalam kamar papa dan mama. Dia, yang bukan siapa – siapa kita berani masuk langsung tanpa mengetuk, padahal dia sangat jelas tahu jika mama sedang tidak berada didalam kamar, tidak mungkin kan dia tidak melihat mama dibawah… ”, ucapku menyindir dengan penekanan dibeberapa kata yang kuucapkan.


Kulihat wajah Adisty sedikit pucat saat aku mengucapkan hal itu, begitu juga dengan wajah papa yang terlihat sedikit cemas.


Abraham sama sekali tidak menyangka jika putrinya bisa berkata pedas seperti itu kepada sahabatnya. Karena sepengetahuannya Crystal sangat menyayangi sahabatnya itu, bahkan memperlakukannya seperti seorang adik karena usia Adisty yang lebih muda 3 bulan darinya.


Dia tidak pernah marah atau berkata dengan nada tinggi saat Adisty bertindak sesukanya seperti sekarang ini. Bahkan membentak dengan tatapan tajam dan raut penuh kebencian yang sangat terlihat jelas diwajahnya.


Pada awalnya Selvi dan Abraham tidak terlalu suka dengan Adisty yang kadang mereka lihat sedikit tidak sopan dan bermulut tajam.


Tapi melihat putrinya sangat menyayangi gadis itu ditambah lagi sejak  berteman dengan Adisty tingkah bar – bar Crystal mulai sedikit berkurang.


Perubahan sikap Crystal yang mulai jadi sedikit penurut dan mendengarkan nasehat kedua orang tuanya sejak berteman dengan Adisty membuat Abraham mempercayakan gadis itu untuk mendampingi sang putri.


“ Ayo kita bicara diluar agak tidak menganggu waktu istirahat papa…”, ajak Crystal datar.


“ Oya pa, lain kali jangan ijinkan orang luar masuk kedalam kamar papa mama. Aku takut nanti dapat menimbulkan fitnah…”, ucapku penuh penekanan sebelum menutup pintu kamar papa.


Abarham hanya menganggung sebagai responnya, dia terlihat sedikit ngeri dengan akspresi dingin yang ditampilkan sang putri kepadanya saat ini.