Love Destiny

Love Destiny
MENJADI OBAT



Saat mendengar kata “hukuman ”keluar dari mulut Arnold, membuat bulu kudu Crystal langsung berdiri. Bahkan dinginnya AC dalam kamar nyatanya tidak mampu membuat keringat dalam tubuh Crystal berhenti mengalir.


“ Ayo kita tidur bersama..”, ucap Arnold ambigu.


“ Tidur…apa maksudmu dengan tidur…apakah itu dalam arti sesungguhnya atau…”, Crystal tidak berani meneruskan kalimatnya, takut akan membangkitkan sesuatu yang tidak seharusnya.


“ Jika kamu ingin tidur dalam arti yang lebih baik…aku tidak akan menolaknya…”, ucap Arnold dengan nada menggoda.


“ Tidak…tidak…tidur dalam arti sesungguhnya itu lebih baik…”, ucap Crystal sambil menggelengkan kepala berkali – kali.


Arnoldpun kembali memeluk tubuh Crystal dengan erat seperti sebuah guling dan mulai memejamkan kedua matanya.


Sementara itu Crystal masih saja bergelut dengan pemikirannya sendiri tentang semua hal yang tidak bisa dinalarnya dengan akal.


Karena cukup lelah berpikir, Crystal yang seharian ini berkutat dengan tugas tanpa sadar ikut memejamkan mata dan meringkuk kedalam dada bidang Arnold.


Crystal terus bergerak mencari posisi yang aman hingga suara dengkuran halus keluar dari mulutnya, menandakan bahwa keduanya telah masuk kedalam alam mimpinya masing – masing.


Dini hari, saat jam didinding menunjukkan pukul  2 pagi, Arnold mulai membuka kedua matanya dengan malas. Tiba – tiba dia merasakan sesuatu yang lembut ada dalam pelukannya.


Ekspresi garang  yang pada awalnya tercetak jelas diwajah Arnold saat terbangun perlahan mulai hilang dan diganti dengan ekspresi lembut dan hangat saat dia melihat Crystal berada dalam pelukannya.


Dibawah cahaya lampu kamar yang tidak terlalu terang, dia melihat tunagannya itu meringkuk dalam pelukannya seperti seekor anak kucing yang tertidur nyenyak.


Untuk sesaat, dadanya yang dingin dan kosong tiba – tiba menjadi hangat dan penuhi oleh bunga – bunga cinta yang mulai bermekaran dengan sempurna didalam sana.


Lengan Arnold mulai menegang karena cukup lama dijadikan bantal oleh kepala Crystal. Namun dia hanya diam, tidak bergerak, takut membangunkan tunangannya yang tertidur dengan nyenyak dalam dekapannya.


Diapun mencoba merilekskan otot – otot lengannya sambil menatap dalam – dalam wajah cantik Crystal yang sudah berhasil memporak porandakan pertahanannya selama ini.


Meskipun dia menyukai perubahan dalam dirinya, namun dalam hatinya yang paling dalam merasakan ada ketidak nyamanan.


Dia bagaikan seorang pengembara yang berjalan diatas padang pasir yang tak berujung, dan tiba – tiba menemukan oasis ditengah padang gurun, untuk sesaat hal itu dapat menghilangkan rasa dahaga yang  dirasakannya.


Berada dalam padang gurun yang cukup lama membuatnya sedkit takut jika oasis yang didapatkannya itu hanyalah sebuah ilusi belaka, secercah harapan sementara yang bisa kapanpun menghilang.


Arnold juga masih penasaran dan terus menyelidiki kenapa setiap dirinya berada dekat tunangannya itu, seketikan rasa nyaman datang, membuatnya dengan mudah bisa tertidur pulas.


Tanpa obat dan tanpa hipnotis, semua berjalan dengan alami tanpa ada unsur kimia didalamnya. Namun dia juga tidak bisa bergantung akan hal itu, takut semuanya hanya mimpi yang akan menghilang jika dia kembali bangun.


Sambil memikirkan semuanya, jemari Arnold mulai berkelana, menyapu setiap inci wajah yang sekarang memenuhi hati dan pikirannya itu.


Alis yang indah bagaikan semut beriring , bola mata berwarna biru yang teduh dan dalam membuat siapa yang menatap seakan terserap masuk dalam pesonanya.


Hidung munggil yang mancung dengan bibir merah seperti buah ceri yang sangat “Lezat”. Cukup lama Arnold mengelus lembut bibir yang sudah menjadi candunya itu dengan ibu jarinya berulang - ulang.


Perlahan, wajahnya mulai mendekat saat bibir Crystal yang terlihat sedikit membuka. Dikecupnya dengan lembut bibir merah tersebut.


“ Manis…sangat manis…”, batin Arnold sambil menyesapnya cukup dalam.


“ Eugh…”, suara Crystal seketika membuat Arnold tersadar dan menghentikan aksi nakalnya.


“ Tidak…aku ingin menikmatinya saat dia membuka mata. Bukan seperti ini…”, batinnya berusaha menahan hasrat binatangnya yang perlahan mulai menguasainya.


Tidak ingin lepas kontrol, Arnoldpun bergegas bangkit dari ranjang dan meninggalkan kamar Crystal dengan wajah sedikit gelap.


“ ada apa dengan diriku….”, gumannya yang meruntuki lemahnya kontrol diri setiap kali berdekatan dengan tunangannya itu.


Dengan langkah cepat dia segera masuk kedalam kamarnya, melepas semua bajunya dan menguyur tubuhnya dibawah shower.


Cukup lama Arnold berada dibawah guyuran air dingin yang keluar dari shower,  hingga panas yang ada dalam tubuhnya mulai redah.


Dia tidak ingin melakukan kesalahan seperti sebelumnya saat merampas kesucian tunangannya itu akibat tersulut emosi.


Arnold akan menunggu hingga tunangannya itu siap, dan bersedia untuk menjadi miliknya, seutuhnya. Dan samapai saat itu tiba, dia berjanji akan sekuat tenaga untuk menahan binatang buas yang ada dalam dirinya agar tidak sampai keluar kepermukaan.


Arnold tidak ingin senyum bahagia yang beberapa hari ini terlihat jelas diwajah Crystal kembali menghilang karena keegoisannya.


Setelah badannya sudah kembali dingin, Arnold keluar dari kamar mandi dengan kimino biru yang dipakainya dan bergegas berganti pakaian untuk  berkunjung kekediaman utama keluarga Lincoln.


Sesuai pesan dari sang nenek yang sudah menjadwalkan seluruh keturunan Lincoln berkumpul di rumah utama untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin yang diadakan setiap empat bulan sekali , serta membahas hal – hal yang berhubungan dengan pengembangan bisnis keluarga.


Sebagai anak yang berbakti dan tidak ingin mengecewakan sang nenek, Arnold selalu rutin berkunjung tiap ada acara dalam kediaman utama tersebut.


Meski dalam hatinya enggan untuk berada disana, berkumpul dengan keluarga besar sang papa yang penuh dengan intrik dan kepalsuan.


Tidak ada kehangat keluarga disana, semua menjadi dekat hanya karena kepentingan pribadi dan mengamankan posisi mereka masing – masing dalam keluarga Lincoln.