
Satu Minggu berlalu dan selama satu Minggu itu Dena selalu pulang pergi ke rumah sakit hanya untuk menjenguk ayah dan bunda nya, ayah Rio dan bunda Sisil masih terbaring lemah bahkan keduanya masih dalam keadaan koma.
Seperti hari ini Dena duduk di samping sang bunda dan menggenggam tangan bundanya, Dena menatap nanar wajah cantik sang bunda yang terlihat pucat.
"Bunda gak capek tidur terus, bunda gak kangen sama Dena Bun? Dena ada disini untuk bunda." Lirih nya, hari ini Dena terlihat lebih tergar meskipun hatinya merasa hancur.
"Bunda ayo dong bunda bangun, Dena gak akan pergi sebelum bunda bangun." Lirih nya lagi.
Dena mengalihkan pandangan nya kepada sang ayah yang juga masih terbaring lemah, Dena mengingat masa kecilnya dimana ia akan berlari memeluk tubuh tegap ayah nya saat sang ayah pulang kerja.
Dena bangun dari duduk nya dan mendekati ayah Rio, Dena mengelus kepala sang ayah dengan lembut.
"Ayah bangun ya yah, Dena masih butuh ayah." Bisik Dena.
"Ayah tahu Dena pernah merasa bahagia dan Dena pernah merasa jika Dena anak yang begitu beruntung, dilahirkan oleh bunda yang cantik dan baik. Lalu Dena memiliki ayah yang tampan baik dan penyayang, satu lagi Dena merasa sangat beruntung saat terlahir dari keluarga kaya dan memiliki kedua orangtua yang juga berasal dari keluarga kaya." Lirih Dena, suaranya tercekat ia mencoba agar tidak larut dalam kesedihan.
"Tapi semua itu tidak penting bagi Dena, Dena tidak butuh semua itu sekarang yah. Yang Dena mau sekarang itu ayah dan bunda sadar dan peluk Dena, harta tidak akan berarti tanpa adanya ayah dan bunda." Lirih Dena, wanita itu melihat ayah Rio meneteskan air matanya.
Ya dokter pernah berkata, sekalipun ayah Rio sedang koma namun ia masih bisa mendengar apa yang kita katakan.
Dena berfikir mungkin ayah tahu apa yang Dena rasakan, atau mungkin ayah merasa bersalah karena membuat putri bungsu nya bersedih.
Meskipun Dena terlahir sebagai anak ketiga tentu saja Dena anak yang di harapkan oleh kedua orang tuanya, karena ayah Rio dan Dea sepakat ingin bunda Sisil memberikan adik.
"Jangan menangis, Dena hanya ingin ayah membuka mata." Ucap Dena mencium punggung tangan sang ayah.
Keanu yang berada di luar menatap sendu istri tercintanya, ia bingung harus bagaimana. Jika di dunia ini ada obat yang bisa membuat orang koma langsung sembuh pasti sudah Keanu beli, berapapun harga nya daripada ia harus melihat Dena bersedih.
Sudah satu jam berlalu kini Dena pun keluar dengan senyum yang mengembang, wanita itu selalu menyembunyikan kesedihannya di hadapan Keanu.
"Sudah?" Tanya Keanu menatap Dena penuh sayang.
"Hmmmmm, sudah." Jawab Dena, Keanu pun mengangguk dan merangkul pundak sang istri.
Keanu dan Dena memutuskan langsung pulang ke kediaman Artadinata, Dena tidak ingin pulang ke negara suaminya sebelum ayah Rio sadar.
Dan Keanu mengerti, ia akan mengurus semuanya dan mungkin akan pulang pergi ke negara nya dengan jarak 2 atau 3 hari Keanu akan kembali.
Skip perjalanan!!!
"Mommy." Pekik Rafael, karena bocah itu tidak di ajak pergi ke rumah sakit.
"Sayang." Balas Dena merentangkan kedua tangannya.
"Hmmmmm, apa mommy nagis lagi?" Tanya El menatap wajah Dena.
"Benarkah?" Tanya El, kini bocah itu menatap Kepada Keanu.
"Hmmmmm, mommy mu tidak menangis." Jawab Keanu, El pun tersenyum lalu menatap Dena dengan lembut.
"Jangan bersedih mommy memiliki El da Daddy, El akan selalu menjaga mommy." Ujar nya membuat Dena terharu.
"Emmmmm, kesayangan ku." Ucap Dena tertawa, tawa Dena perlahan kembali karena El.
Keanu banyak-banyak bersyukur karena memiliki Rafael yang menjadi penghibur Dena di saat seperti ini, bahkan bukan hanya untuk Dena tapi juga untuk dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 😊🤗 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉
N**: Uuuwwww El aku padamu 😭
A: Aku tidak padamu Mun 😂
N: Bodomamat gue enggak peduli pokoknya El aku padamu 😂
A: Ish, solimi 😒
N: 😂😂😂*