
Karena semua permasalahan telah berhasil diselesaikannya, pagi ini dengan enggan Crystalpun meninggalkan pulau berlian menuju kekediaman Abraham sesuai dengan perintah sang mama yang menyuruhnya agar pulang hari ini.
Sambil menunggu pesawat yang akan ditumpanginya berangkat, Crystal menyempatkan diri untuk menghubungi Arnold dan Andrew untuk memberitahukan tentang kepulangannya hari ini yang sangat mendadak.
Karena pemberitahuan yang diberikan oleh Crystal mengenai rencana kepulangannya sangat mendadak membuat semua orang tidak bisa menjemputnya dibandara.
Maka dari itu, Crystal akhirnya memilih untuk naik taxi menuju rumahnya agar bisa segera menyelesaikan secepatnya, setidaknya dia harus pulang terlebih dahulu agar tahu apa yang membuat sang mama sangat gigih untuk menyuruhnya pulang hari ini.
Sesampainya dirumah, Crystal langsung masuk dan mencari sang mama di setiap ruangan. Namun sosok yang dicarinya tersebut sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya.
“ Kemana semua orang ?.... Tahu begini, aku kekantor dulu tadi…”, batin Crystal sedikit kesal.
Diapun menarik nafas dalam – dalam dan membuangnya secara kasar begitu mendapati rumah dalam keadaan kosong.
Tidak ingin membuang waktu, Crystalpun hanya menitipkan pesan kepada pelayan untuk sang mama dan segera bergegas pergi ke perusahaan menggunakan mobil yang baru saja dipesannya lewat aplikasi.
Baru saja mobil yang Crystal tumpangi pergi meninggalkan halaman keluarga Abraham, mobil yang dikendarai sang mama masuk kedalam rumah.
Selvi yang hendak membuka pintu mobil tiba - tiba didatangi salah satu pelayannya yang berjalan dengan tergopoh - gopoh menuju kearahnya.
" Maaf nyonya, tadi saya sudah berusaha untuk menahan nona Crystal. Tapi nona tetap tidak mau menunggu....", ucap pelayan tersebut sambil menunduk ketakutan.
" Ya sudah...sekarang kamu ambil belanjaan dibagasi dan bawa masuk...", perintah Selvi sambil mengambil ponselnya dari dalam tas munggil yang dibawanya.
“ Dimana kamu ?...”, tanya Selvi to the point.
“ *T*adi aku pulang kerumah, tapi nggak ada orang…jadi aku putusin untuk kekantor aja…”, ucap Crystal santai.
“ Balik sekarang !!!...”, perintah sang mama tegas.
“ Iya…aku nanti mampir kerumah jika urusan dikantor sudah selesai…”, ucap Crystal masih dengan nada santainya.
“ Balik sekarang Crystal !!!…jika nunggu kamu nyelesaiin kerjaan yang ada!!!…kapan ada waktunya?!!!...”, ucap sang mama dengan nada mulai meninggi.
“ Aku udah di tol nih ma....masih jauh lagi kalau harus putar balik…mana macet lagi....”, ucap Crystal beralibi.
“ Memang kamu mau kemana kok sudah ada di tol ?...”, ucap Selvi curiga.
“ Ada urusan sedikit diproyek, jadi sebelum keperusahaan aku sempatkan diri kelapangan, buat ngecek kondisi disana…”, ucap Crystal menjelaskan.
Jika sudah begini, Selvipun tidak bisa berkata apa – apa lagi dan hanya bisa menarik nafas panjang sambil mengelus pelan dadanya agar bisa lebih sabar dalam menghadapi putrinya yang sangat keras kepala itu.
“ Nanti malam biar aku yang bicara dengannya…”, ucap Elisabeth berusaha menenangkan calon besannya itu.
“ Ya…semoga saja ini bukan alasan dia untuk kembali menghindar…”, Selvipun berkata dengan cemas.
Elisabeth berjalan mendekat dan mengelus punggung Selvi, berusaha untuk menenangkan calon besannya itu agar tidak terlalu banyak pikiran dan fokus pada kesehatan suaminya yang tidak terlalu baik itu.
Nenek Arnold itu juga menyarankan kepada Selvi, untuk sementara waktu sebaiknya Crystal jangan disuruh datang ke rumah dulu, untuk menghindarai konflik yang mungkin terjadi pada saat Crystal bertemu dengan sang papa.
Dalam diam, Selvipun berpikir jika semua yang Elisabeth ucapkan tersebut benar. Saat ini, dirinya harus fokus pada pemulihan kondisi kesehatan Abraham yang sempat menurun akibat pertengkarannya dengan Crystal dan kabar jika ledakan yang terjadi di tambang emas nya yang berada dipulau berlian mengalami kerugian yang cukup besar.
Membuat penyakit jantungnya mendadak kambuh hingga papa Crystal tersebut harus dilarikan ke rumah sakit agar kondisinya kembali pulih.
“ Saya harap Crystal mau mendengarkan ucapan anda…”, ucap Selvi pasrah.
Mendengar hal itu, Elisabethpun mulai bernafas dengan lega. Bagaimana pun juga, rentetan peristiwa yang terjadi dan menimpah keluarga Abraham sedikit banyak karena kesalahannya, sehingga membuat Frans mentargetkan keluarga calon besannya tersebut dalam aksi balas dendamnya.
*“ S*l !!!...kenapa wanita tua itu ada dikediaman Arnold ?!!!...”, batin Frans geram.
Jika penyusup dalam kediaman Lincoln bisa membuatnya terluka separah ini, maka bisa dipastikan kondisinya akan jauh lebih buruk lagi jika dia nekat masuk kedalam kediaman kediaman Arnold tanpa perencanaan yang matang.
Untuk itu, dia akan menunggu saat wanita tua itu pergi keluar. Karena hanya itulah saat yang tepat baginya untuk melancarkan serangan aksi balas dendam selanjutnya.
Setidaknya, dia harus bisa melukai wanita tua itu agar bisa menjadi peringatan bahwa aksinya itu bukanlah main - main. Dan fokus utama Frans saat ini adalah Elisabeth sebagai target yang seharusnya dari dulu dia lenyapkan.
Sementara itu, Crystal yang baru saja sampai dikantornya segera menemui Andrew untuk meminta laporan apa saja yang terjadi selama dirinya tidak berada ditempat.
Dengan sigap, Andrew pun melaporkan semua hal yang sudah terjadi dalam perusahaan. Dan disela – sela laporannya, dia beberapakali menyelipkan perihal persiapan pernikahan bosnya itu.
Membuat Crystal menatap Andrew dengan jenggah. Melihat wajah Andrew yang sangat tertekan dan betapa gigihnya dia mencoba untuk melakukan pembahasan perihal pernikahan dengannya, membuat hati Crystalpun akhirnya luluh juga.
“ Kamu tenang saja…masalah itu, biar aku bicarakan sendiri dengan Arnold…”, ucap Crystal sambil tersenyum.
Nyess….
Hati Andrew meleleh waktu mendengar bosnya itu akhirnya luluh juga dengan perjuangannya selama seminggu ini berusaha untuk membujuknya.
Meskipun dia tidak seratus persen yakin jika Crystal menyetujuinya, namun setidaknya bosnya itu mempunyai keingginan untuk menggurusi pernikahannya itu, meski sangat kecil prosentasenya.
Setelah mendiskusikan beberapa hal, Andrew yang baru saja keluar dari ruangan Crystal langsung menghubungi Selvi dan Emily untuk memberitahukan kabar baik tersebut.
Kedua wanita itu terlihat sangat bahagia dan bisa bernafas dengan lega mengetahui Crystal akhirnya luluh juga dan mau bekerjasama untuk mempersiapkan hari bahagia tersebut.
Terutama Emily yang langsung memberitahu Arnold jika malam ini Crystal mengajaknya makan malam untuk membahas tentang rencana pernikahan mereka.
“ Apa infomu valid ?...”, tanya Arnold penuh selidik.
Dia bukan meragukan keakuratan informasi yang diberikan oleh salah satu orang kepercayaannya itu, tapi Arnold masih sedikit ragu jika akhirnya Crystal mau membicarakan masalah pernikahan dengannya.
Arnold masih merasa ini seperti mimpi yang terlalu indah baginya. Tidak ingin terlalu larut dalam kebahagiaan tersebut, Arnold terlihat menaikkan satu alisnya berpikir apa kira – kira yang membuat calon istrinya itu berubah pikiran dengan cepat.
Karena seingatnya, Crystal sama sekali tak menyinggung masalah tersebut dalam obrolan mereka tadi pagi. Mereka berdua hanya membicarakan hal – hal ringan seperti hari – hari biasanya.
“ Tuan, anda jangan berpikir terlalu banyak. Mungkin memang pada akhirnya nona Crystal menyadari tentang perasaannya yang sebenarnya kepada tuan…”, ucap Emily berusaha menenangkan Arnold.
“ Tapi ini aneh…”, ucap Arnold sambil mengkerutkan keningnya sangat dalam.
“ Pasti ada sesuatu…tapi apa ?...”,Arnold terus saja berguman sambil menebak – nebak apa kira – kira yang diinginkan Crystal dalam pertemuannya malam nanti dengannya.
Daripada sibuk menebak - nebak hal yang tak pasti, Arnoldpun mulai mempersiapkan diri untuk makan malam romantis dengan calon istrinya itu.
Tidak ingin mengecewakan, Arnoldpun segera menyuruh Emily agar mempersiapkan semuanya. Bahkan malam nanti Arnold juga berencana akan melamar Crystal secara benar.
Karena selama ini, dia hanya mengajak calon istrinya itu menikah hanya melalu percakapan biasa tanpa ada ceremonial yang bagi para gadis sangat didam - idamkan tersebut.
Setelah berdiskusi dengan Andrew, Emilypun mulai mepersiapkan acara tersebut dengan sebaik mungkin. Saat ini pihak hotel dan EO yang ditunjuk oleh Emily terlihat kalang - kabut.
Bagaimana tidak, hanya dalam waktu lima jam mereka harus menyiapkan semuanya. Mereka tentunya tidak ingin mengecewakan klien yang langsung membayar lunas pekerjaan mereka didepan.
Apalagi klien tersebut adalah Arnold Lincoln, lelaki yang tak boleh disinggung sekecil apapun karena nyawa mereka adalah taruhannya.