
Setibanya didepan ruang kerjanya, Crystal mendengar suara pertengkaran antara Lea dengan Arnold didalam sana.
Pertengkaran yang terjadi didalam semakin lama semakin memanas membuat Crystal langsung saja meraih handel pintu dan ingin segera masuk kedalam ruangan.
Ceklek…ceklek….
“ Lea !!!…buka pintunya ?...”, ucap Crystal sambil menggedor pintu ruang kerjanya yang terkunci dari dalam dengan keras.
Mendengar suara Crystal diluar, Velypun segera beranjak dari duduknya dan membukakan pintu agar sahabatnya itu bisa segera masuk dan menengahi pertengkaran yang terjadi disana.
Vely sudah merasa kewalahan dan tidak bisa menengahi keduanya yang terus saja beradu mulut tanpa mau mengalah dan mendengar penjelasan antara yang satu dengan yang lainnya.
“ Sebaiknya, batalkan saja rencana pernikahanmu dengannya !!!...”, ucap Lea sambil menatap Arnold sengit begitu Crystal masuk kedalam ruangannya.
Mendengar ucapan Lea, Arnold spontan langsung memberikan tatapan membunuh yang sangat kuat kepada gadis berambut merah menyala itu.
Dia sama sekali tak menyangka jika Lea memiliki mulut sepedas cabe dalam setiap kata yang keluar dari dalam mulutnya.
Jika bukan karena masih menghargai gadis itu sebagai sahabat calon istrinya, sudah Arnold habisi sedari gadis itu tadi.
Melihat semua ketegangan yang ada dalam ruangan dan wajah kusut Vely yang berada ditengah - tengah pertengkaran tersebut membuat Crystal ingin segera mengakhirinya.
“ Bisa kalian biarkan aku berbicara empat mata dengan Arnold ?….”, pinta Crystal sambil memegangi kepalanya yang tiba – tiba saja berdenyut.
Lea yang melihat kondisi Crystal sedang tidak baik - baik saja memilih diam ditemapt dan tidak mau diajak keluar oleh Vely dan Emily, hingga suara lemah Crystal membuatnya bergerak.
“ Aku tidak apa – apa…”, ucap Crystal lembut.
“ Teriak saja jika dia menyakitimu…”, bisik Lea ditelinga Crystal begitu gadis itu melewatinya.
Tidak ingin menambah kekhawatiran sahabatnya, Crystal akhirnya mengangguk agar Lea bisa tenang meninggalkannya.
“ Tenang saja nona…tuan muda tidak akan menyakiti nona Crystal….”, ucap Emily begitu mereka bertiga sudah berada diluar ruangan.
“ Siapa yang tahu…”, ucap Lea sengit.
Diapun kemudian berjalan menuju sofa yang berada dalam ruang tunggu, tak jauh dari ruang kerja Crystal berada.
Pada awalnya saat mendengar rumor mengenai Arnold, Lea tak terlalu mempercayainya. Apalagi saat dia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Arnold melindungi Crystal dan rela melakukan apa saja agar tunangannya itu selamat membuat hati Lea luluh.
Namun, hari ini melihat sifat Arnold yang sangat possesif, Lea merasa sangat wajar jika Crystal begitu galau waktu tunangannya itu mengajaknya untuk menikah.
“ Belum menikah saja sudah begini, apalagi kalau sudah menikah…”, guman Lea sinis.
“ Kurasa dia punya alasan untuk itu…”, ucap Vely berposistif thinking.
Diapun muali merangkul Lea dari samping, berusaha untuk menredakan kemarahan yang masih tersirat jelas diwajah sahabatnya itu.
Emily yang mendengar percakapan kedua gadis yang ada disampingnya itu jadi tahu alasan kenapa Crystal menolak untuk mempercepat pernikahan mereka.
Padahal Emily sangat tahu jika beberapa bulan terakhir ini hubungan antara Arnold dan Crystal berjalan dengan sangat harmonis.
Bahkan gadis itu tak segan – segan untuk mengumbar kemesraan mereka didepan umum. Tapi Emily juga tak bisa menyalahkan sikap Crystal yang ragu untuk menuju jenjang yang lebih serius dengan bosnya itu.
Dia sangat berharap perbincangan keduanya didalam bisa berakhir dengan baik. Bagaimanapun hubungan keduanya tidak boleh berakhir begitu saja, karena itu akan sangat berdampak buruk bagi tuan mudanya.
Sementara itu didalam ruangan, Arnold dan Crystal yang sama – sama keras kepala masih belum bisa meluruskan kesalah pahaman yang terjadi.
Crystal tetap kekeh untuk tinggal dipulau berlian sampai semua urusan yang ada disini selesai dengan tuntas, baru dia mau membicarakan masalah pernikahan dengan Arnold.
Sedangkan Arnold juga kekeh untuk secepatnya membawa Crystal kembali dan akan membantu semua permasalahan yang ada dipulau berlian.
Dia bahkan menjamin jika permasalahan yang dihadapi oleh Abraham group secara menyeluruh akan segera teratasi, begitu Crystal mau kembali dan membicarakan masalah pernikahan yang sudah disiapkan oleh dua keluarga tersebut secepatnya.
“ Arnold…kenapa kamu masih egois dan tak memikirkan perasaanku sedikit saja…”, ucap Crystal dengan nada lemah.
Crystal sudah capek berbicara dengan Arnold yang sama sekali tak memahami perasaannya. Yang dia mau adalah mereka bekerja sama untuk mengatasi semuanya bersama.
Meski dia sangat yakin jika tunangannya itu mampu menyelesaikan semuanya begitu Crystal memintanya.Tapi, bukan itu yang Crystal mau. Ini adalah masalah perusahaannya, maka dia ingin dirinyalah yang harus mengatasi semuanya.
Hal itu nantinya sangat berguna jika dia sudah benar – benar diserahi Abraham group dari sang papa. Dan hal ini juga bisa menjamin hidupnya jika suatu saat nanti Arnold tidak berada disisinya.
“ Sebaiknya untuk sementara waktu kita jangan bertemu dulu. Kita berdua coba intropeksi diri masing – masing, apakah hubungan ini bisa kita teruskan atau harus kita akhiri disini…”, ucap Crystal pelan.
Dia sudah sangat lelah berbicara tanpa ujung dengan tunangannya yang tetap bersikukuh untuk memaksakan semua kehendaknya.
“ Sayang…jangan seperti ini…kamu tahukan jika aku tidak bisa jauh darimu…”, ucap Arnold sambil menahan lengan Crystal agar tidak pergi darinya.
“ Kenapa tidak bisa jauh…kalau masalah imsomniamu, kamu bisa minta dokter Philip untuk kembali menghipnotismu….”, ucap Crystal dengan tubuh masih membelakangi Arnold.
“ Bukan masalah itu, aku...aku sangat mencintaimu Crystal….aku tidak mau kita berpisah…”, ucap Arnold dengan suara selembut mungkin.
Dia sangat berharap gadisnya itu luluh dan menarik kembali pemikiran untuk memutuskan hubungan yang sudah terjalin selama ini.
“ Jika kamu tetap seperti ini…sebaiknya kita akhiri saja semuanya sekarang….”, ucap Crystal dengan nada tinggi.
Dengan kuat Crystal melepaskan pegangan tangan Arnold dilengannya dan menghempaskannya dengan kasar.
“ Baiklah…aku beri kamu waktu sampai akhir bulan untuk menyelesaikan semuanya. Jika dalam tenggang waktu itu masalah yang ada belum terselesaikan, maka jangan salahkan aku yang akan membawamu kembali secara paksa….”, ucap Arnold dengan suara rendah dan dingin.
Dengan sekuat tenaga sedari tadi Arnold sudah menahan semuanya, tapi dia tidak bisa mengontrol dirinya waktu mendengar kalimat jika Crystal akan meninggalkannya.
Dia tidak mau kehilangan gadisnya itu. Maka, jika Crystal tidak bisa didapatkannya dengan cara baik – baik, maka dia akan menggunakan cara kasar.
Apapun akan Arnold lakukan agar tidak kehilangan gadis yang sangat dicintainya itu, meski dirinya harus menggunakan kekerasan.
Mendengar hal itu, Crystal langsung saja meninggalkan ruang kerjanya dengan penuh amarah. Dia yang tadinya sempat luluh dan ingin memberikan Arnold kesempatan, sekarang tampaknya hal itu tak perlu lagi.
Lelaki itu tak akan pernah memahami perasaan dan keingginannya. Crystal hanya punya waktu sampai akhir bulan untuk mendapatkan kebebasannya.
Dalam waktu tersebut, Crystal akan berupaya untuk mencari jalan keluar agar bisa lepas dari jeratan Arnold selamanya.
Arnold sekali lagi menatap punggung Crystal dengan nanar. Tujuannya ingin memperbaiki hubungan yang sudah renggang malah sekarang berada diujung tanduk.