
Setelah banyak hal yang terjadi selama beberapa hari ini, akhirnya hari yang ditunggu – tunggu oleh semua orang telah tiba, yaitu pernikahan antara Crystal dan Arnold.
Setelah sah menjadi suami istri dihadapan hukum dan agama, Arnold dan Crystal kembali terlihat cekcok di dalam kamar.
Sambil dirias, mereka memperdebatkan tentang Adoff yang ingin diajak Crystal untuk duduk dipelaminan bersama dengan keduanya.
“ Sayang…ini acara pernikahan kita. Banyak orang penting yang akan hadir disan. Nanti setelah acara selesai, kamu bisa main sepuasnya dengan Adoff. Please….”, Arnold terlihat sangat frustasi menghadapi Crystal yang sangat keras kepala itu.
“ Ya sudah…kamu duduk sendiri saja di pelaminan. Biar aku didepan menyambut tamu dengan Adoff ….”, ucap Crystal sambil mencibir.
Elisabeth dan kedua orang tua Crystal yang berada disana hanya bisa menggeleng – nggelengkan kepala tanpa berani berkomentar, takut malah akan membuat masalah bertambah runyam.
“ Sayang….”, ucap Arnold dengan wajah sedih sambil menggoyang – goyangkan satu tangan Crystal seperti seorang anak kecil yang meminta mainan kepada mamanya.
“ Kamu tenang saja…Aku jamin, Adoff tidak akan membahayakan orang lain. Dia hanya akan duduk disamping kakiku, tidak akan kemana – mana….”, ucap Crystal penuh emosi.
“ Tapi sayang….”, belum sempat Arnold menyelesaikan kalimatnya, tangannya sudah dihempaskan dengan kasar oleh Crystal.
“ Ya sudah kalau gitu…batalkan saja resepsi pernikahan ini…”, ucap Crystal yang langsung bangkit dari tempat duduknya dengan mata berkaca – kaca.
Melihat istrinya marah dan hampir menangis, Arnoldpun segera meraih tangan Crystal dan menggenggamnya dengan erat, sebelum gadis itu berhasil keluar dari dalam kamar.
“ Iya…kamu boleh membawa Adoff. Sekarang jangan sedih lagi ya….”, ucap Anold sambil memeluk istrinya dengan erat.
Semua orang yang melihat hal itu hanya bisa membelalakkan kedua matanya karena terkejut. Mereka sama sekali tak menyangka jika Arnold bisa berkata dan bertindak lembut seperti itu.
Bahkan laki – laki yang tidak ingin semua ucapannya dibantah itu langsung luluh begitu istrinya mulai merajuk.
Jika mereka tak melihat adegan tersebut secara langsung, mungkin hanya menganggap hal itu sekedar rumor belaka.
Tidak ingin membuat istrinya sedih, Arnoldpun membiarkan serigala putih kesayangannya itu duduk dipelaminan bersama dengan mereka.
Adoff yang menggunakan jas hitam terlihat sangat gagah. Dia sekarang berdiri disamping kaki Crystal sambil menyipitkan sebelah matanya dengan senyum kemenangan.
Sorot matanya seolah mengejek Arnold akan kekalahan yang dialami suami Crystal tersebut dalam menarik perhatian Crystal.
“ Awas saja kamu serigala bau !!!....”, batin Arnold geram.
Dia terus saja memandang tajam serigala yang terlihat nyaman melingkarkan tubuhnya di kaki Crystal dan mengacuhkannya.
Malam itu, pesta pernikahan Crystal dan Arnold terlihat sangat meriah. Banyak tamu yang hadir untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai yang tengah berbahagia hari ini.
“ Ada apa ?...”, bisik Arnold pada saat melihat raut kecemasan tersirat diwajah Crystal.
“ Nggak tau kenapa, sejak tadi perasaanku tidak enak…”, bisik Crystal sambil memegangi dadanya, entah kenapa jantungnya tiba – tiba berdetak dengan kencang.
Arnolpun segera mengistruksikan anak buahnya untuk lebih waspada lagi sambil mengedarkan kedua matanya disela – sela membalas ucapan selamat dari para tamu yang hadir.
“ Ini adalah kesempatan terakhirku untuk membunuh wanita iblis itu disini…”, batin Frans yang sudah menyamar dan hadir diantara kerumunan tamu.
Tampaknya kali ini anak buah Arnold sudah kecolongan hingga Frans dan tiga anak buahnya bisa masuk kedalam ruangan pesta, padahal diluar penjagaan sangat ketat telah disiapkan oleh keluarga Lincoln untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.
Diapun segera menginstruksikan anak buahnya yang menyamar sebagai pelayan untuk memberikan minuman yang sudah diberi racun olehnya.
“ Nikmatilah… Ini adalah senyum terakhirmu…”, batin Frans tersenyum puas.
Diapun terus mengamati gerak – gerik Elisabeth dengan intens, menanti detik – detik wanita tua itu tumbang oleh minuman yang telah diberi racun olehnya.
Tampaknya dewi fortuna masih melindungi Elisabeth. Minuman beracun tersebut tumpah pada saat hendak diminumnya.
“ Sial !!!....”, batin Frans geram.
Diapun mulai menjalankan plan B setelah plan A yang direncanakannya gagal. Malam ini Frans bertekad untuk segera menghabisi Elisabeth ditempat.
Diapun segera berjalan perlahan menuju tempat Elisabeth masih bercengkrama dengan beberapa koleganya dengan senyum yang terus mengembang diwajahnya.
Adoff yang pada awalnya duduk diam tak bergerak hingga banyak orang yang menganggapnya patung sebagai hiasan tiba – tiba menegakkan badannya hingga membuat Crystal sedikit terkejut, takut Adoff berbuat ulah.
Melihat Adoff berdiri, Arnold yang curiga dengan pandangan waspada serigala peliharaannya itu langsung tanggap dan mengikuti arah pandangan Adoff yang mengarah ke Elisabeth.
Melihat ada seseorang yang tampak aneh terlihat sedang mengawasi sang nenek, Arnold segera mengistruksikan anak buahnya untuk bergerak perlahan agar tidak membuat heboh para tamu undangan yang hadir.
Tangan Frans langsung dicekal oleh kedua laki – laki berjas hitam yang tiba – tiba berada disampingnya sebelum berhasil menusuk Elisabeth dengan jarum suntik berisi racun ditangannya.
Beberapa orang tampak terkejut dengan aksi anak buah Arnold itu, tidak ingin mati konyol ditempat, Frans segera mengkode anak buahnya untuk segera melaksanakan plan C.
Salah satu anak buahnya yang tidak jauh dari tempat Crystal segera berjalan cepat menuju kearah pelaminan dimana istri Arnold tersebut berada.
Sedangkan anak buah Frans yang satunya langsung memanggil komplotan mereka yang sudah bersiap diluar, menunggu instruksi untuk masuk kedalam gedung.
Perkelahianpun tak dapat dihindari, para tamu segera diamankan agar tidak menimbulkan korban jiwa. Namun sayang, Elisabeth yang berada ditengah aula tidak berhasil diamankan membuat wanita tua itu terpaksa berlindung dibawa meja hidangan yang ada ditengan aula.
Frans segera mengeluarkan senjata yang telah dilumuri racun untuk menyerang anak buah Arnold, hingga membuat mereka langsung terkapar tak berdaya akibat terkena racun yang ada dalam senjata yang digunakan untuk menyerang mereka.
Melihat banyak anak buahnya tumbang, Arnold yang berada diatas pelaminan akhirnya turun tangan untuk menyelamatkan sang nenek yang masih berada ditengah – tengah arena pertarungan.
Melihat Arnold sudah turun, salah satu anak buah Frans yang sedari tadi mengincar Crystal segera naik ke pelaminan.
Belum sempat tangan kotor laki – laki itu menyentuh Crystal, Adoff lebih dulu menggigit lengan penjahat tersebut sampai putus.
Tidak sampai disitu saja, Adoff juga berhasil mengoyak tubuh musuhnya itu karena berusaha untuk menembak Crystal yang hendak dibawa pergi oleh Emily.
Melihat ada yang berusaha menyentuh sang istri, membuat Arnold kalap. Diapun segera menghabiskan anak buah Frans secara membabi buta.
Vreyan yang baru saja tiba setelah mengantar Casandra yang sedang sakit langsung terjun ke medan pertempuran bersama Arnold.
Ruang pesta yang semula cerah dan penuh kegembiraan saat ini terlihat mencekam dengan banyaknya darah dan potongan tubuh yang tercecer dimana – mana.
Adoff tampaknya begitu menikmati perkelahian tersebut bersama majikannya. Saat ini, Arnold merasa sangat bersyukur telah membawa Adoff masuk dalam pesta pernikahannya.
Selain bisa melindungi sang istri, serigala putih itu juga turut membantunya dalam membasmi para penjahat yang ingin melukai nenek dan istriya.