
Malam ini Arnold kembali menunggui Crystal di rumah sakit. Perlahan jemari rampingnya mulai menelusuri lekuk wajah Crystal dengan tatapan nanar.
Tak terasa air mata yang selama ini tidak pernah mengalir, keluar juga dipipinya melihat sang pujaan hati terbaring tak sadarkan diri dengan berbagai alat bantu yang menancap ditubuhnya.
“ Sadarlah sayang…tolong…jangan tinggalkan aku…”, guman Arnold sambil mengecup punggung tangan Crystal cukup berulang kali.
Tak terasa air mata yang menetes dipipinya membasahi tangan munggil yang semakin kurus itu. Saat ini hati Arnold sangat sakit, dalam hati dia akan melenyapkan orang – orang yang membuat tunangannya itu menjadi seperti ini.
Setelah melakukan aksinya, Alexander sudah tidak menampakkan batang hidungnya di kampus bintang.
Apalagi kondisi professor Chou sudah membaik dan bisa kembali mengajar membuat Alexander mempunyai alasan yang sangat kuat untuk tidak lagi berada dikampus.
Laki – laki itu kembali lenyap seperti ditelan bumi, tanpa terdeteksi. Hal itu tentu saja membuat Arnold semakin geram.
Arnold terus saja menciumi punggung tangan Crystal sambil terisak. Perlahan, Crystal yang merasakan tangannya basah mulai menggerakkan jari – jari tangannya.
Melihat ada pergerakan di jari Crystal, Arnold segera memencet tombol untuk memanggil dokter yang bertugas agar segera memeriksa kondisi sang istri.
Tak lama kemudian dokter Robert bersama tim segera masuk kedalam ruangan bersamaan dengan kelopak mata Crystal yang mulai membuka lebar.
Melihat Crystal sudah sadarkan diri, dokter Robert tersenyum lega. Apalagi saat memeriksa Crystal, dokter Robert tidak menemukan sesuatu yang ganjil membuat senyum mereka diwajahnya.
“ Nona Crystal sudah membaik. Sekarang tinggal masa pemulihan saja…”, ucap dokter Robert tersenyum.
“ Hmmm….”, meski bahagia namun Arnold tidak bisa mengekpresikannya, jadi dia hanya berdehem saja.
Setelah semua selang dan kabel yang menancap di tubuh Crystal dilepas, para perawat segera memindahkan Crystal kedalam ruang rawat VVIP yang sudah disiapkan.
“ mana ponselku ?...”, tanya Crystal sambil menengadahkan tangannya ke arah Arnold.
“ Kamu baru sadar…istirahatlah …”, Arnold berkata sambil mengarahkan Crystal agar kembali berbaring.
“ Aku harus memberi kabar professor Stevanus jika besok aku tidak bisa ikut ke kota kembang…”, ucap Crystal merenggek.
“ Patuhlah !!!...”, ucap Arnold sambil membenarkan posisi selimut Crystal yang sempat melorot.
“ Sayang…ayolah….”, Crystal terus saja merenggek.
Melihat tunangannya itu hendak turun Arnold akhirnya menyerah dan memberikan ponsel Crystal yang disambut senyum ceria gadis itu.
“ Terimakasih sayang…cup…”, ucap Crystal sambil mengecup pipi Arnold dengan riang.
Dalam hati Arnold tersenyum bahagia melihat gadisnya sudah bersemangat seperti sedia kala. Saat ini wajah Crystal terlihat lebih cerah, seakan dia bukanlah seoarang pasien yang baru saja bangun dari koma.
“ Jangan katakan kepada siapapun kalau kamu sedang sakit…”, Arnold memperingatkan Crystal yang terlihat mulai aktif memainkan jarinya dilayar ponsel.
“ Ok…”, ucap Crystal singkat dan kembali fokus pada layar ponsel yang ada ditangannya.
Professor Stevanus terlihat sangat sedih namun lega dalam waktu bersamaan pada saat mendapat kabar jika Crystal tidak bisa ikut ke kota kembang karena sedang berada diluar kota mengurusi permasalahan perusahaannya.
Sesuai instruksi Arnold, Crystal menggunakan permasalahan yang ada diperusahaannya untuk ijin.
Crystlapun mulai membalas pesan yang masuk kedalam ponselnya satu persatu. Untung saja dia sudah mengistruksikan kepada Lea, jika suatu saat dirinya tidak bisa dihubungi maka gadis itu harus melaksanakan semuanya sesuai dengan rencana yang telah dibuatnya.
Hal itu ternyata sangat efektif sehingga apa yang sudah direncanakannya bisa tetap berjalan dengan lancar, bahkan tidak ada yang mencurigai ketidak hadirannya dikantor selama lima hari ini.
“ Apa kamu ingat kejadian terakhir sebelum kamu jatuh pingsan malam itu?...”, bukannya menjawab, Arnold terlihat seperti sedang menginterogasi Crystal.
“ Kejadian terakhir ?....”, Crystal terlihat memainkan bola matanya berpikir apa kejadian yang dia alami.
“ Saat kamu hampir tertabrak motor…apa yang terjadi?...”, tanya Arnold menyelidik.
“ Waktu itu, ada seorang pengendara motor yang tiba – tiba melesat kearahku dengan kecepatan tinggi hingga aku hampir saja tertabrak, untuk Alexander langsung menarikku…”, ucap Crystal sambil mengingat kejadian itu.
“ Lalu…”, tanya Arnold lagi.
“ Apa kamu tidak merasakan sesuatu, seperti tertusuk jarum atau sejenisnya yang menyentuh kulitmu…”, Arnold berusaha untuk mengarahkan pemikiran Crystal sesuai dengan prediksinya.
“ Tunggu !!!!...”, Crystal seperti tersadar akan sesuatu.
Iya, dia ingat jika waktu tubuhnya ditarik oleh Alexander dia merasa seperti ada jarum menusuk punggungnya, menembus blouse yang dipakainya.
Tapi waktu itu dia mengira itu mungkin hanya perasaannya saja yang terkejut oleh ulah sang pengendara motor yang ugal – ugalan itu.
Mendengar ucapan Crystal, Arnold semakin yakin jika hal tersebut sudah direncanakan oleh Alexander dan bertekad untuk terus mengejarnya.
“ Apa kamu kenal dengan Alexander ?...”, tanya Arnold sambil menatap gadisnya itu dengan tajam.
“ Tidak…aku hanya tahu dia penganti Mr. Chou, dosen seni arsitekturku…”,ucap Crystal menjelaskan.
“ Oya, coba lihat ini…”, Crystal segera mengambil ponselnya dan menunjukkan video yang ada disana.
Video itu hasil rekamannya waktu Alexander mengajar dan satu lagi video Mr.X yang berhasil diambilnya dari kamera pengintai waktu Gerald sedang melakukan panggilan video dengan bosnya itu.
Waktu melihat gambar dan mendengar suara Mr.X, Arnold seperti familiar dengan laki – laki itu. Tapi siapa dan dimana dia mengenal lelaki itu yang menjadi pertanyaannya.
Tiba – tiba kepala Arnold terasa sangat sakit saat samar – samar dia melihat suatu peristiwa dimasa lampau.
Peristiwa yang terlihat sangat samar hingga dia harus mengkerutkan keningnya dalam – dalam untuk melihat dengan jelas apa yang melintas dalam kepalanya itu sambil menahan rasa sakit yang tiba - tiba menderanya.
Melihat Arnold kesakitan, Crystal berusaha untuk bangun dan langsung memeluk tunangannya itu agar lelaki itu kembali tenang.
Berada dalam pelukan Crystal, Arnold yang tubuhnya basah oleh keringat dingin merasakan rasa sakit yang tadi menderanya berangsur – angsur mulai menghilang, membuat nafasnya kembali teratur.
“ Terimakasih…”, ucap Arnold sambil memeluk Crystal dengan sangat erat.
“ Tenanglah…tidak apa – apa…”, ucap Crystal sambil menepuk punggung Arnold pelan.
Setelah merasa Arnold sudah kembali tenang, Crystal segera melepaskan pelukannya dan mengusap dahi Arnold yang basah oleh keringat.
Crystalpun segera membaringkan tubuh Arnold agar tidur disampingnya. Untung saja ranjang rumah sakit yang Crystal tempati cukup besar hingga keduanya bisa tidur dengan nyaman.
“ Tidur lah….tenangkan pikiranmu…”, ucap Crystal sambil memeluk Arnold dan menepuk punggungya dengan pelan berulang kali.
Mendapat perlakuan seperti itu membuat Arnold tersenyum bahagia dalam hati dan berangsur – angsur kedua kelopak matanya mulai tertutup.
Mendengar suara dengkuran halus membuat Crystal tersenyum lebar dan diapun ikut memejamkan mata bersama sang tunangan.