
Setelah pembicaraan malam itu, hubungan Arnold dan Crystal yang semula rengang perlahan mulai membaik. Komunikasi yang terjalin atara keduanyapun kebali lancar.
Saat ini, keduanya mulai menyadari jika mereka saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lainnya sehingga mulai belajar untuk lebih mengerti antara yang satu dengan yang lainnya.
Ego tinggi yang ada dalam diri masing – masingpun mulai diturunkan sehingga komunikasi diantara merekapun sudah kembali berjalan dengan intens tanpa terkendali apapun.
Tidak ingin kembali membuat calon istrinya marah, Arnold mulai berusaha untuk sabar dengan tetap membiarkan Crystal berada dipulau berlian sampai akhir bulan, sesuai kesepakatan awal.
Selain karena harus menyelesaikan ritualnya yang menyisakan satu kali pertemuan lagi dengan tuan agung, tujuan utama Crystal tetap berada dipulau berlian adalah untuk membantu Lea dalam pengambil alihan perusahaan sang papa setelah Markus ditetapkan sebagai tersangka.
Kondisi Markus yang belum tentu bisa lolos dari jeratan hukum yang menimpahnya membuat para pemegang saham akhirya membulatkan suara untuk memilih Lea sebagai pimpinan perusahaan yang baru.
Selain sebagai pemilik saham terbanyak setelah sang papa, Lea juga satu – satunya ahli waris Markus yang sah membuat semua orang tanpa ragu mulai mendukungnya.
Para pemegang sahampun juga sudah melihat kinerja Lea selama satu minggu ini diperusahaan yang bagi mereka dinilai cukup bagus.
Lea yang cerdas dengan cepat dapat mempelajari semua ilmu yang diberikan oleh Crystal dan Andreas untuk diterapkan dalam perusahaannya.
Untung saja perusahaan sang mama ini tidak memiliki permasalahan yang serius seperti yang terjadi pada Abraham group membuat Lea tidak terlalu sulit untuk beradaptasi dalam menjalankannya.
Demi fokus pada perusahaan, Lea memilih untuk mengajukan cuti kuliah selama satu semester agar posisinya diperusahaan settle terlebih dahulu.
Sedangkan Crystal, gadis ini tetap memilih melanjutkan studinya by online. Untung saja banyak dosen yang cukup memahami posisinya saat ini.
Selain memiliki kecerdasan diatas rata – rata, keluarga Lincoln yang ada dibelakang Crystal membuat semua pihak kampus memilih untuk memberikan kelonggaran pada mahasiswi yang menjadi salah satu dewi dan kebanggaan kampus bintang itu.
Meski begitu, Crystal yang mendapatkan banyak kemudahan dalam studinya selalu berusaha untuk mendapatkan nilai maksimal dalam setiap mata kuliah yang diikutinya agar tidak mengecewakan semua pihak yang telah mensupportnya selama ini.
Tak terasa sudah tiga minggu Crystal berada dipulau berlian. Hari ini adalah jadwal gadis itu untuk kembali bertemu tuan agung, menuntaskan ritualnya.
Mulai subuh, hujan rintik – rintik sudah mengguyur pulau berlian,membuat banyak orang enggan meninggalkan peraduannya.
Mereka lebih memilih menikmati pagi yang terasa sangat dingin ini didalam hangatnya selimut, seperti yang Crystal lakukan sekarang.
Sambil bergelung dengan selimut, gadis itu mengambil ponselnya yang sedari tadi sudah berbunyi. Meski berusaha dia abaikan, dengan sedikit kesal ponsel yang terus berbunyi nyaring itu akhirnya dia ambil. Samar – samar Crystal melihat nama Andrew tertera dilayar ponselnya.
“ iya Ndrew…ada apa ?...”, tanya Crystal dengan malas.
“ Miss masih tidur ya…”, tanya Andrew hati – hati.
“ hmmm….”, Crystal hanya berdehem dengan enggan sambil kembali memejamkan kedua matanya.
“ Besok…miss pulang kan ?...”, tanya Andrew hati – hati.
“ Nggak tau…lihat besok aja…”, ucap Crystal acuh.
“ Tapi miss…besok miss harus pulang…”, ucap Andrew sambil menghembuskan nafas pasrah.
Crystal tidak tahu jika sudah hampir dua minggu ini mamanya terus saja meneror Andrew agar membujuk putrinya itu agar segera pulang kerumah dan menggurusi rencana pernikahannya dengan Arnold, membuat Andrew frustasi dibuatnya.
“ memang ada apa ?...”, tanya Crystal malas.
“ Pernikahan anda miss…banyak hal yang masih harus anda lakukan. Mulai dari fitting baju pengantin hingga dekorasi yang akan anda gunakan nanti…”, ucap Andrew bicara panjang lebar.
“ Kamu atur aja gimana enaknya…”, ucap Crysatal masih dengan nada acuh.
“ Pernikahan ini sekali seumur hidup miss…jadi semuanya harus dibuat sesempurna mungkin…”, Andrew kembali berusaha untuk membujuk Crystal.
“ Aku percaya sama kamu Ndrew…”, ucap Crystal sambil menggeliat.
“ Aku masih ngantuk, mau tidur !!! lain kali, jangan hubungi aku jika hanya ingin membahas hal nggak penting kaya gini !!!...”, ucap Crystal sewot.
Telephone pun langsung ditutup secara sepihak oleh Crystal membuat Andrew langsung nangis darah sekarang. Bagaimana lagi cara yang harus dia lakukan agar bosnya itu mau segera pulang.
Sementara itu, Crystal yang baru saja menutup telepon dari Andrew terlihat sangat kesal. Bagaimana tidak, rasa kantuk yang tadi masih melandanya tiba – tiba saja menghilang entah kemana.
membuat kedua matanya sekarang terbuka sempurna waktu assistennya itu membicarakan perihal pernikahannya dengan Arnold.
“ Huffftttt….pernikahan….aku hampir lupa masalah yang satu ini…”, guman Crystal sambil mengacak – acak rambutnya frustasi.
Meski hubungannya dengan Arnold sudah membaik, namun untuk masalah pernikahan, tampaknya Crystal masih belum seratus persen setuju.
“ Kurasa, aku harus mengikuti saran kak Vely…”, guman Crystal waktu lampu diatas kepalanya mulai menyala.
“ Ide yang bagus…”, ucap Crystal senang.
Diapun segera melangkah menuju kamar mandi dengan hati riang karena sudah mempunyai solusi yang tepat untuk masa depan hidupnya.
Perjanjian pra nikah, itulah yang akan Crystal minta dari Arnold. Dia tidak mau menyesal dikemudian hari jika hal yang terjadi dikehidupan sebelumnya terulang kembali.
Setidaknya, kali ini dia sudah mempersiapkan diri di awal – awal, sehingga bisa mengantisipasi semua kejadian buruk yang dulu sempat dialamainya.
Setelah semua beres, sambil bersenandung kecil dan melihat hujan yang membasahi bumi dari balik jendela kamarnya, Crystal segera menghubungi Alvin agar segera menjemputnya.
Kali ini, Crystal bertemu dengan tuan agung hanya ditemani Alvin karena Lea ada meeting penting dengan kliennya, jadi untuk sementara absen dulu menjadi pengawal Crystal.
Sambil menunggu Alvin datang, Crystal yang sedang duduk diteras menengadahkan kepalanya melihat langit yang sejak tadi terasa sangat sendu. Sang mentari seakan takut untuk menunjukkan wajahnya hari ini.
Entah kenapa Crystal merasakan firasat buruk akan hal ini, namun semua itu berusaha untuk ditepisnya jauh – jauh.
Setelah Alvin datang, Crystalpun segera naik kedalam mobil. Hujan lebat mengiringi selama perjalanan menuju perkampungan.
Untung saja hujan lebat kali ini tidak disertai dengan angin kencang, membuat perjalanan aman untuk sementara waktu.
Untuk menghindari pemikiran negative dalam otaknya, Crystal segera saja menyalakan radio untuk mendengarkan lagu yang bisa kembali membangkitkan moodnya yang terasa turun saat merasa langit tak mendukung perjalanannya kali ini.
“ Vin…jalan dikanan saja…”, perintah Crystal waktu melihat Alvin beberapa kali membawa mobil yang mereka tumpangi berada dilajur sebelah kiri jalan.
Tanpa bantahan, Alvinpun menuruti keingginan bosnya untuk tetap melarikan mobilnya di lajur sebelah kanan jalan. Lagian mereka juga mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, jadi tak masalah jika tetap berada dalam lajur tersebut
Bukan apa – apa, dalam kondisi hujan lebat seperti ini lebih aman berada di lajur kanan daripada lajur kiri. Banyaknya pohon besar disebalah kiri bahu jalan membuat hati Crystal ketar – ketir, takut tiba – tiba pohon tumbang jika hujan lebat seperti ini.
BRUAKKK….
Belum ada lima menit Crystal berbicara tiba – tiba pohon yang baru saja dilewatinya tumbang begitu saja di belakangnya mengenai satu mobil yang tepat berada dibelakang Crystal.
Alvinpun segera menghentikan mobilnya dan berusaha untuk menolong para pengendara yang terjebak dalam mobil.
Sedangkan Crystal sudah menghubungi pihak kepolisian dan rumah sakit agar secepatnya mengirim ambulan karena mobil satunya yang berada di lajur kiri sudah hancur remuk dengan darah segar mengalir dari dalam mobil.
Para pengemudi hanya bisa menolong orang yang terjebak di mobil yang berada tepat dibelakang Crystal. Sedangkan mobil yang satunya, mereka harus menunggu para petugas karena besarnya pohon yang menimpa mobil tersebut sehingga harus menggunakan gergaji untuk mengeluarkan orang – orang yang terjebak didalamnya.
Setelah dua orang yang terjebak dalam mobil bisa dikeluarkan dengan selamat, Alvinpun segera masuk kedalam mobil untuk berganti pakaian karena bajunya basah waktu menolong para pengendara tadi.
Setelah petugas dan mobil ambulan datang, Crystal dan Alvinpun segera melanjutkan perjalanannya menuju kediaman tuan agung.
Crystal merasa sangat bersyukur karena telah terhindar dari mara bahaya pagi ini dan bisa melanjutkan perjalanannya dengan hati lega.