
Brian sama sekali tidak menyangka jika penampilan memukau Vely sekarang bukan saja menarik seluruh perhatian semua orang, tapi juga digunakan sebagai ajang untuk mengolok – oloknya.
Adisty juga tak kalah geramnya dengan Brian, meski Vely dan keluarganya sangat baik kepadanya, namun sikap angguh dan arogan pada diri Vely sama persis dengan Crystal pada saat pertama kali mereka bertemu membuat Adisty muak.
Hanya karena ayahnya adalah sopir dikeluarga Wilson, dia harus mengikuti nona besar itu layaknya seorang pembantu.
Bahkan dia dituntut untuk selalu mengalah pada gadis itu setiap hal. Maka dari itu, dia mulai mencuci otak Vely seperti yang dilakukannya terhadap Crystal dahulu.
Tapi kenapa sekarang, dua sahabat baiknya itu berubah jadi lebih baik lagi dan mulai mengacuhkannya. Menjadikan sebagai peran yang tidak penting sekarang, bukan lagi pemeran utama yang diagung - agungkan oleh semua orang.
Komentar orang – orang yang berada disekitarnya, membuat dada Adisty terasa sesak dan sakit. Seakan – akan semua orang telah menikamnya ditempat yang paling menyakitkan baginya.
“ Sialan !!!...kenapa Vely berubah darstis seperti itu, bahkan setelah dicampakkan oleh Brian !!!!...”, batin Adisty sangat geram.
Padahal dia mengira jika setelah dicampakkan oleh Brian, Vely akan mengurung diri didalam kamar sambil menangis tersedu – sedu. Adisty sama sekali tidak menyangka jika Vely cepat sekali move on dan berdandan cantik disini.
“ Gaya berpakaian ini juga bukan seleranya….bukankah dia tidak suka warna mencolok…apa mungkin dia begini karena trauma….”, banyak pertanyaan ada dibenak Adisty saat ini.
Namun dia dengan cepat menghentikan semua pemikirannya dan dengan wajah polos tanpa dosa dia mulai berjalan mendekat kearah dimana Crystal dan Vely duduk.
“ Kak Vely…dua hari ini kakak pergi kemana ?...aku mencarimu kemana – mana…bahkan kamu juga mengabaikan semua panggilan dariku…apa kakak tau jika aku sangat cemas dengan kakak…”, ucap Adisty dengan wajah sedih.
Melihat drama murahan yang ditampilkan oleh sahabatnya membuat Crystal muak. Sebagian orang ada yang terbawa emosi melihat gadis itu menitikkan air mata, namun tidak sedikit juga yang menatapnya dengan sinis.
“ Terimakasih banyak telah perduli padaku…”, Velypun menanggapi ucapan Adisty dengan dingin dan kembali acuh.
“ Hmm…? Adisty, apa kamu benar – benar mengkhawatirkan kak Vely ?...”, Crystal berkedip dan bertanya dengan wajah polosnya membuat Adisty semakin geram, namun semua hal itu coba dia tahan demi imagenya yang mulai membaik.
Sebenarnya Adisty sedikit curiga saat melihat Vely datang dengan Crystal., tapi dia tidak terlalu memikirkannya.
Adisty mencoba untuk beranggapam bahwa hal itu hanya kebetulan belaka. Pertemuan yang tak disengaja, semua dilakukannya agar hatinya tenang.
“ Tentu saja aku sangat khawatir…bagaimanapun juga, kak Vely adalah sahabatku…”, ucap Adisty dengan cepat.
“ Benarkah…kamu sekhawatir itu pada kak Vely namun bisa berdandan seglamaour seperti sekarang hanya untuk datang kepertandingan basket. Aku rasa untuk dandanan seperti itu kamu bisa menghabiskan waktu seharian di salon…”, ucap Crystal telak.
“ Bukan seperti itu…pertandingan ini sangat penting bagi hidupku….”,ucap Adisty tanpa sadar melotot kepada Crystal.
“ Oh…sangat penting ya…padahal sedetik yang lalu kamu bilang jika sangat khawatir pada sahabatmu. Kalau begitu, kak Vely bukan hal penting dong bagimu…”, ucap Crystal santai.
Setelah mendengar ucapan Crystal semua orang sekitarnya tiba – tiba terkikik dan tak sedikit juga yang tertawa terbahak – bahak melihat percakapan yang seperti lelucon itu. Sementara yang lainnya terlihat kembali membicarakan Adisty dibelakang.
“ Semakin hari Adisty terlihat semakin palsu saja….”
“ Itu benar !!!...”
“ Kurasa, dia pasti sangat mengharapakan Vely depresi dan bunuh diri… ”
“ Dengan begitu dia akan mendapatkan Brian dengan mudah…”
“ Sangat munafik !!!....”
“ Aku yakin jika Adisty mendekati Brian hanya karena uang…”
“ Benar, aku sempat mendengar jika perusahaan orang tuanya akan bekerjasama dalam proyek pemerintahan…”
" Kau tahu berapa keuantungan yang akan mereka dapat jika berhasil...milliaran...."
Itulah beberapa bisik – bisik orang – orang yang tadi mendengar percakapan mereka. Seketika darah Adisty kembali mendidih hingga dia mencengkeram ujung blousenya erat-erat agar tidak lepas kendali dan menghajar Crystal saat ini karena telah lancang berkata seperti itu kepadanya.
Adisty mengepalkan buku – buku jarinya dengan erat sambil mengucapkan sumpah serapah berkali – kali untuk Crystal.
Brian yang melihat bagaimana terlukanya harga diri Adisty dan rasa malu yang dihadapinya membuat dia berlagak seperti seorang pahlawan .
“ Vely !!!...sudah cukup !!!.. Kamu hanyalah gadis manja dan selalu membuat semua orang disekitarmu khawatir. Apa sekarang kamu menyalahkan Adisty atas semua sikap bodohmu itu !!!....”, hardik Brian tak terima gadis yang dicintainya tersakiti seperti itu.
Vely melihat bagaimana Brian memarahinya dihadapan semua orang demi membela Adisty membuatnya sangat sedih dan sakit.
Luka yang masih basah kembali terbuka begitu laki – laki tersebut membuka mulutnya. Crystal yang melihat ekspresi sedih disorot mata Vely, memegang tangannya dan berusaha untuk menguatkannya.
“ Kak Brian, kenapa kakak memarahi kak Vely?...Bukankah kak Vely baru saja mengucapkan terimakasih atas perhatian yang diberikan Adisty kepadanya….Bahkan jika kakak memang benar – benar menyukai Adisty, seharusnya kakak juga tidak bersikap seperti ini. Hal ini sangat tak adil buat kak Vely…”, ucap Crystal dengan wajah polosnya.
Ucapan yang dilontarkan oleh Crystal tentu saja menciptakan beberapa spekulatif baru dipikiran semua orang sekarang.
Dengan mata kepala sendiri, mereka menyaksikkan jika sedari awal Vely hanya berkomentar sekali, itupun hanya ucapan terimakasih.
Sedangkan, Adisty mulai dari datang hingga sekarang terus saja berceloteh tak menentu dan bertindak menyedihkan hingga Brian datang dan memarahi Vely, sebagai pahlawan kesiangan untuk Adisty.
“ Kupikir, Vely ditolak karena dia tak layak untuk Brian. Tapi sekarang, setelah menyaksikan semuanya secara langsung sekarang aku tahu alasannya. Hanya karena beberapa orang terlalu mahir berakting…”, ucap beberapa orang dengan suara keras supaya didengar oleh semua orang yang berada disana.
Saat ini Adisty terlihat sangat frustasi saat topengnya kembali terbuka dihadapan semua orang. Bahkan ada orang luar disana, dan semua kekacauan ini disebabkan oleh perkataan Crystal yang seperti menuang minyak dalam kobaran api.
Untuk melindungi citranya yang sudah sedikit membaik, Adisty berusaha untuk menahan diri dan menenangkan Brian.
“ Brian…jangan salahkan kak Vely…semua ini salahku…”, ucapnya dengn wajah sesedih mungkin.
Baru saja Brian ingin berucap, pelatihnya sudah memanggilnya untuk bersiap karena pertandingan sebentar lagi akan dimulai.