
Diruang kerjanya Enrico terlihat sangat marah jika kembali mengingat semua yang telah direncanakannya tidak berjalan sebagai mana mestinya.
Ini sudah hampir seminggu anak buahnya menerima perintah, namun hingga kini dia masih belum menerima kabar seperti yang diharapkan.
“ Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi…”, guman Enrico geram.
Diapun segera menghubungi anak buahnya untuk mengubah strategi yang digunakannya. Karena hanya ini kesempatan yang tersisa.
Jika Crystal dan bayinya sudah pulang ke rumah, tentunya dia akan lebih kesulitan lagi untuk membawa kabur keduanya mengingat pengawasan yang ada di kediaman Arnold jauh lebih ketat jika dibandingkan dengan keamanan yang ada dirumah sakit.
Belum lagi serigala peliharaan Arnold yang terkenal sangat ganas dalam membantai musuh – musuh yang berani menyerang kediamannya.
“ Malam ini adalah kesempatan terakhir kita, jangan sampai gagal !!!… ”, ucap Enrico tajam.
Enrico sangat berharap malam ini rencana yang telah disusunnya bisa berjalan dengan lancar. Tidak ingin kembali gagal, Enrico mengerahkan dua pasukannya secara bersamaan.
Jika tim satunya gagal dalam menjalankan misi, maka tim keduanya bisa memback up tugas tim pertama, begitu juga sebaliknya.
Sementara itu, di rumah sakit wajah Crystal terlihat lebih segar dan ceria daripada biasanya. Bagaimana tidak, asinya sudah bisa keluar dan mampu memenuhi asupan Artal yang kemampuan minum asinya cukup kuat.
Dan yang paling penting, besok dia dan bayinya sudah diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit karena kondisi keduanya sudah stabil dan pulih.
Setelah menyusui sang baby Crystalpun menyempatkan diri untuk memantau kondisi perusahaannya yang sedikit bermasalah dalam jalur pendistribusian produk ke wilayan Eropa.
“ Permasalahan itu sudah aku urus bersama papa…”, ucap Arnold lembut.
“ Makasih ya sayang. Aku jadi tidak enak karena ngerepotin kamu terus kaya gini…”, ucap Crystal dengan nada manja.
“ Kamu fokus sama Artal saja…Abraham group untuk sementara biar aku urus sama papa…”, Arnold kembali berkata sambil mengecup kening sang istri dengan penuh rasa cinta.
Jika sudah begini, Crystalpun hanya bisa mengangguk. Memang benar apa yang diucapkan sang suami jika dia harus lebih fokus lagi dengan perkembangan Artal karena bayi sekarang memiliki perkembangan yang cukup pesat.
Dan dia sama sekali tidak ingin melewatkan satu moment apapun yang ada dalam tumbuh kembang buah hatinya tersebut.
Malam semakin larut, entah kenapa malam ini Artal sedikit rewel membuat Crystal cemas. Ditambah lagi dia juga memiliki firasat yang tidak enak, jika malam ini akan terjadi sesuatu hal yang buruk.
“ Kamu harus tenang agar Artal juga bisa tenang…”, ucap Arnold sambil mengendong bayinya yang terus saja menangis tanpa sebab itu.
Sejak lahir, ini baru pertama kalinya Artal rewel seperti ini. Dokter yang memeriksa mengatakan jika bayi tersebut dalam kondisi baik – baik saja.
Dia juga sudah kenyang karena baru saja menyusu. Popoknya juga masih kering, tidak ada sesuatu apapun yang janggal pada bayi itu.
Tapi entah kenapa bayi itu terus saja menangis tanpa henti, seakan tidak membiarkan kedua orang tuanya dan semua orang yang berada disana untuk tidur malam ini
.
“ Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan ?...”, Crystal bertanya dengan wajah penuh selidik kepada suaminya.
Dia merasa rewelnya Artal dan firasat buruk yang dirasakannya ada hubungannya dengan sesuatu hal yang tampaknya sengaja disembunyikan oleh Arnold darinya.
“ Kamu jangan terlalu banyak berpikir. Coba tenangkan dirimu agar Artal juga tenang…”,ucap Arnold untuk kesekian kalinya memberi saran.
Mendengar ucapan sang suami, Crystalpun mencoba untuk membuat pikirannya rileks dengan mensugesti dirinya bahwa semua akan baik – baik saja.
Arnold mengelus pucuk kepala Artal dengan lembut sampai bayi itu benar – benar terlelap dalam gendongan sang mama.
“ Taruhlah…”, Arnold berusaha meraih tubuh Artal untuk ditempatkan kedalam box bayi yang ada disamping ranjang istrinya.
“ Tidak, biarkan dia tidur denganku malam ini…”, ucap Crystal yang langsung membaringkan bayinya disamping tubuhnya.
Meski dia sudah merasa tenang, namun firasat buruk yang masih ada dihati membuatnya tak ingin berjauhan dengan sang putra, meski hanya beberapa meter saja.
Melihat anak dan istrinya sudah memejamkan mata, diam – diam Arnold keluar dari ruangan dan menginstruksikan kepada anak buahnya agar lebih waspada dan memperketat pernjagaan malam ini.
“ sepertinya malam ini kita kedatangan tamu tak diundang…”, guman Arnold awas.
Perkataan Arnold bukan tanpa sebab, dia baru saja mendapatkan laporan dari pasukan bayangan yang diperintahkan untuk menjaga ruang rawat sang istri dalam diam berhasil membekuk beberapa orang yang terlihat mencurigakan.
Dari mereka anak buahnya bisa mendapatkan informasi jika malam ini kelompoknya akan mulai bergerak untuk menjalankan aksi mereka.
Untuk itu Arnold mulai menyebar anak buahnya ke berbagai sisi rumah sakit, tidak membiarkan mereka masuk, apalagi mendekati ruang rawat tempat dimana istri dan anaknya berada.
Sebagai bentuk antisipasi,Emily menyarankan jika Crystal dan Artal untuk sementara waktu dipindahkan ke ruangan lain agar lawan terkecoh.
Karena tidak banyak waktu yang tersisa, Arnoldpun langsung menyetujui usul Emily dan segera memindahkan Crystal dan Artal keruang perawatan kelas I.
Sebuah ruang rawat yang tidak mungkin terlintas dibenak musuhnya karena selama ini Arnold selalu menempatkan keluarganya diruangan terbaik rumah sakit agar mendapatkan pelayanan terbaik pula.
Sedangkan di ruang rawat lama, mereka sudah menyiapkan jebakan seandainya musuh bisa menerobos pertahanan luar.
Malam ini rumah sakit terlihat sangat sunyi tidak seperti biasanya. Kesunyian tersebut membuat anak buah Arnold semakin waspada.
Salah satu anak buah Enrico yang berhasil masuk dan berada di area ruang rawat VVIP mulai mengedarkan pandangannya.
Dia menunggu pergantian shif yang biasanya terjadi setiap pukul sebelas malam. Rencananya pergantian shif tersebut akan mereka manfaatkan untuk bisa menerobos masuk ruang perawatan.
Salah satu pasukan bayangan yang mengetahui ada serangga yang bisa menerobos masuk mulai memberikan peringatan kepada Emily yang sudah menggantikan Crystal didalam ruangan.
Merekapun mulai bersiap untuk masuk dalam permainan yang telah dibuat oleh musuh demi bisa mendapatkan informasi siapa dalang dibalik semua ini.
Hanya dengan satu pukulan di kepala bagian belakang, salah satu anak buah Arnold yang baru saja keluar dari kamar mandi berhasil ditaklukkan.
Selanjutnya merekapun mulai mengambil pakaian pengawal tersebut agar bisa digunakan olehnya dan kembali berjaga di depan ruang rawat tempat istri dan anak Arnold berada.
Tak membuang waktu, dia segera member itanda kepada rekannya untuk masuk kedalam ruang rawat karena sekarang waktu pergantian shift terjadi hingga penjaga palsu tersebut sendirian berjaga di depan ruangan tersebut.
Tanpa menunggu waktu lama, tiga orang yang berpakaian dokter dan perawat tersebut segera membawa ranjang pasien dan box bayi yang ada disampingnya, tanpa mengecek siapa yang ada diranjang dan box bayi tersebut dan segera membawanya dengan cepat menuju kedalam lift.
Saat tiga orang beserta satu pengawal palsu membawa Emily yang menyamar sebagai Crystal keluar ruangan, pasukan bayangan segera membersihkan beberapa musuh lainnya yang bergerak dari arah yang berbeda.
“ Tak disangka rencana kita bisa semudah ini dijalankan…”, ucap salah satu musuh sambil tersenyum.
“ Cepat !!!...kita harus segera keluar dari kota ini malam ini juga !!!...”, ucap rekannya mengingatkan.
Mobil ambulance yang membawa Emily segera meninggalkan rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Tanpa mereka sadari pasukan bayangan yang diperintahkan oleh Arnold mengikuti mereka dari belakang.