Love Destiny

Love Destiny
PANEN



Setelah dua hari mencari Adoff dihutan siang dan malam, akhirnya Emily bisa membawa pulang serigala berbulu putih tersebut.


Ternyata tugas Emily bukan hanya sampai disitu saja, dia masih harus mendandani Adoff agar terlihat bersih dan tampan untuk menyambut kedatangan Crystal.


“ Tuan…ini serigala, bukan anjing !!!...bagaimana aku harus mendandaninya !!!...”, batin Emily frustasi.


Serigala tersebut meraung – raung meski sudah dipegangi oleh lebih dari lima orang yang professional menangani hewan buas.


“ Dasar manusia bodoh !!!...kenapa aku harus memakai baju bodoh itu !!!...aku tak kan sudi memakainya !!!...”, batin Adoff tak terima jika dirinya diperlakukan seperti mainan bagi manusia.


Saat semua orang terlihat sangat frustasi dengan Adoff, sang majikan terlihat duduk santai diatas kursinya sambil memainkan ponsel yang ada ditangannya.


“ Emily !!!...sudah waktunya !!!...”, Arnold memperingatkan Emily untuk menjemput Crystal sekarang juga dibandara.


“ Fyuhhh….”, Emily mengusap keringat yang ada dikeningnya sambil bernafas lega karena terbebas dari tugas mengurusi Adoff.


Kepergian Emily ditatap nanar oleh semua orang yang saat ini masih berperang melawan serigala putih itu.


“ Emily…kamu jahat sekali !!!...kenapa kamu meninggalkan dua serigala buas disini…”, batin semua orang sambil menatap Adoff dan Arnold dengan pandangan frustasi.


Beberapa kali terlihat Emily mengecek jam yang ada ditangannya. Emily tak menyangka jika jalanan akan padat merayap seperti ini.


Jika bukan karena mengurusi serigala putih itu, mungkin saat ini Emily sudah berada di bandara, menunggu Crystal dengan tenang di loby kedatangan penumpang.


Sementara itu, diatas pesaawat Crystal yang baru saja dari toilet beberapa kali terlihat menoleh kebelakang dengan kening yang dikerutkan.


“ Ada apa ?...”, tanya Lea sambil mengikuti arah pandang Crystal.


“ Tidak ada…aku hanya seperti melihat seseorang yang aku kenal…”, ucap Crystal sambil tersenyum tipis.


“ Apa kau melihat lelaki tampan yang duduk dikursi pojok belakang itu…”, ucap Lea dengan tatapan menyelidik.


“ Ti…tidak…”, ucap Crystal cepat dan berusaha untuk mengalihkan fokus Lea tapi sepertinya tak berhasil.


“ Aku beberapa kali lihat orang itu dikampus bersama professor Stevanus…”, ucap Lea sambil menyeruput kopi yang ada ditangannya.


“ Profesor Stevanus ?...”, tanyaku penasaran.


“ Yup…lebih tepatnya aku melihat dia keluar dari ruang penelitian professor Stevanus ”, ucap Lea santai.


“ Pantas saja waktu itu dia juga bersama professor Stevanus…”, guman Crystal sambil mengingat kembali keakraban yang dia lihat waktu HUT kampus bintang.


Mereka berdua kemudian terdiam, sibuk dengan pikiran masing – masing hingga ada pengumuman jika pesawat sebentar lagi akan mendarat.


Crystal dan Leapun segera bersiap untuk turun sambil sekali lagi melihat kebelakang. Namun sosok yang dicarinya sudah tak terlihat lagi.


Crystal yang masih penasaran terus saja melihat sekelilingnya berharap bisa menemukan sosok tersebut. Namun hasilnya nihil hingga dia melihat sosok Emily diloby kedatangan dengan nafas tersengal – sengal.


“ Maaf, saya terlambat nona…”, ucap Emily sambil mengatur nafasnya.


“ Minum ini…”, Crystalpun menyodorkan air mineral yang belum sempat diminumnya tadi kepada Emily.


“ Terimakasih nona…”, ucap Emily yang langsung menegak air mineral dalam botol tersebut hingga habis.


Setelah itu dia membantu membawakan koper milik Crystal dan Lea dan segera berjalan menuju parkiran.


Sepanjang perjalan Lea dan Crystal membahas semua hal yang mereka dapatkan selama dipulau berlian dan akan menindaklanjutinya saat berada disini.


Sementara itu dikediaman Arnold, semua orang yang berusaha mendadani Adoff terlihat pasrah tanpa bisa membuat serigala itu memakai baju yang diberikan oleh Arnold.


Mereka hanya berhasil menyisir rapi bulu – bulu tubuhnya dan memakaikan pita kuning serta kalung atas nama serigala tersebut.


“ Manusia bodoh !!!...mereka benar – benar membuatku duduk disini seperti patung bodoh dan membuatku mengenakan benda bodoh ini dileherku…”, batin Adoff sebal.


Perhatian Adoff teralihkan saat tiba – tiba ada sebuah mobil Alphard hitam memasuki halaman rumah.


Crystal menempelkan wajahnya ke jendela mobil dan melihat keluar dengan bersemangat saat dia melihat sosok putih berjongkok diluar, dengan bulu yang tersisir rapi.


Yang paling mengejutkan adalah pada leher serigala putih itu terdapat pita kuning dan kalung dengan tulisan “Adoff ” disana. Membuat serigala tersebut terlihat gagah, lucu serta mengemaskan.


“ Wow…Adofff….Adofff….Adofff….”, teriak Crystal sambil melompat dari mobil dan langsung memeluk erat Adoff dengan semangat, menyalurkan rasa rindunya pada hewan berbulu itu.


Seketika Adoff melolong sangat keras, menyambut kedatangan Crystal. Dari jauh, Emily sedikit ngeri melihat Crystal menguyel – uyel serigala putih tersebut layaknya seekor anjing kecil.


“ Majikan dan hewan…sama – sama tak berdaya saat dekat dengan nona…”, batin Emily geleng – geleng kepala saat melihat Adoff diam saja diperlakukan seoperti itu oleh Crystal.


Karena sangat gemas, Crystalpun segera mengambil ponselnya dan tak lama kemudian sudah banyak pose yang dia hasilkan bersama serigala putih itu.


“ My Lovely Adoff…”, tulis Crystal dibawah foto yang diunggahnya dihalaman mendia sosialnya itu.


Setelah puas bermain sebentar dengan Adoff, tanpa sadar Crystal mengedarkan pandangannya kearah taman dimana pohon – pohon buah yang ditanamnya disana sudah banyak yang berbuah.


“ Emily…apakah semua tanamanku sudah berbuah ?…”, tanya Crystal antusias.


“ Benar nona…bahkan ada beberapa pohon yang sudah siap panen…”, ucap Emily menjelaskan.


“ Benarkah !!!...ayo kita panen buah yang sudah masak…”, ucap Crystal bersemangat.


“ Adoff…apa kamu ingin memetik buah bersamaku ?...”, tanya Crystal dengan bola mata yang berbinar.


“ Saya pikir…Adoff mungkin tidak tertarik nona…”, ucap Emily dengan sudut bibir yang bergerak – gerak menahan diri agar tidak tertawa.


Bagaimana mungkin nonanya itu bisa punya pikiran untuk mengajak Adoff yang merupakan hewan karnifora untuk memetik buah bersamanya.


“ Aneh – aneh saja…”, batin Emily sambil menggeleng – gelengkan kepalanya.


Melihat Adoff tidak ikut melihat pohon buahnya, Crystal melangkah kearah taman dengan wajah kecewa.


Melihat wajah majikannya yang sedikit suram, Adoff pun diam – diam mengikuti Crystal dan Emily, berjalan dibelakang mereka menuju taman.


Halaman rumah yang dulunya terlihat dingin dan suram sekarang terlihat lebih hangat dan berwarna dengan banyaknya aneka pohon buah – buahan yang sudah siap panen disana.


Crystal melihat hasil kerjanya dengan gembira. Apalagi saat dia melihat hamparan bunga matahari yang sudah tumbuh tinggi.


“ Sebentar lagi aku akan makan biji bunga matahari dari kebunku sendiri…”, guman Crystal bahagia.


Bebrrapa orang tukang kebun dan beberapa pekerja yang sedang bertugas membersihkan dan merawat tanaman tersebut hanya tersenyum simpul mendengar ucapan majikannya itu.


Bersama tiga orang pekerja, Crystal mulai memanen buah – buahan yang sudah matang. Bahkan dia juga mengistruksikan agar para pekerja menangkap ikan mas, nila, dan gurami yang sudah cukup besar untuk dijadikan ikan bakar sebagai menu makan malam nanti.


Setelah melirik ada empat keranjang penuh buah – buahan dan satu ember penuh ikan, Crystal berjalan menuju rumah dengan perasaan puas.