
Malam semakin larut, Crystal dan Arnold masih berada dihalaman samping rumah. Melihat tunangannya sedang tidur nyenyak, Crystal yang bosan mulai memainkan ponsel yang ada ditangannya.
Media socialnya hanya di scroll saja tanpa minat hingga dia melihat satu postingan foto yang diupload Gerald disana.
“ Jika tidak salah, setelah pergi bersama teman – temannya, Gerald mengalami kecelakaan. Dan kalau tidak salah, besok adalah waktunya ”, batin Crystal cemas.
Sekilas bayangan kejadian tersebut di masa lalu mulai terekam. Dulu, diwaktu yang sama, saat kunjungannya kerumah nenek bersama Arnold, Adisty mengabari jika Gerald mengalami kecelakaan mobil dan dalam kondisi kritis, hingga dia bertengkar hebat dengan Arnold dan berujung kematian Elisabeth.
“ Tidak…aku tak akan membiarkan hal tersebut terulang kembali…”, batinnya sambil menggeleng – gelengkan kepala.
Akibat gerakan yang dibuat oleh Crystal membuat Arnold terbangun. Sedetik kemudian laki - laki itu menatap takjub wanita yang ada disebelahnya. Kulitnya yang putih bersih terlihat bersinar terkena sinar rembulan.
Pupil mata Crystal yang biru bagaikan bintang – bintang yang menerangi langit malam. Jari – jari ramping Arnold mulai meraba pipi dan kelopak mata Crystal.
“ Kamu sudah bangun…”, ucap Crystal spontan menoleh kearah Arnold saat jemari laki - laki itu meraba wajahnya.
“ Kamu sedang memikirkan apa…”, ucap Arnold dengan suara serak khas orang bangun tidur.
“ Melihatmu tertidur nyenyak, aku tidak mau menganggu jadi aku memainkan ponselku. Apakah kamu masih mengantuk ? apa mau pindah kedalam…disini dingin….”, ucap Crystal menyarankan.
Mendapatkan perhatian seperti itu membuat hati Arnold seketika menghangat. Badannya yang masih terbungkus selimut terlihat seperti anak kucing besar yang sedang meringkuk kedinginan.
Perlahan, Arnold menggerakkan kepalanya dan menyembunyikannya diceruk leher Crystal. Nafas hangat yang menyentuh lehernya membuat bulu kudu Crystal berdiri.
“ Nanti temenin tidur ya…”, bisik Arnold dengan suara lesu.
“ Astaga !!!…manjanya !!!…”, batin Crystal terkejut.
Crystal yang terkejut tanpa sadar menganggukkan kepalanya mendengar permintaan laki – laki itu. Melihat respon positif yang diberikan Crystal kepadanya, Arnold langsung bangun dan berjalan masuk kedalam rumah.
Saat keduanya baru saja melangkah masuk, para pelayan sudah menunggu mereka di balik pintu sambil berdiri dengan posisi sedikit membungkuk sebagai tanda hormat.
“ Nona Crystal…nyonya besar memberi perintah untuk menyiapkan kamar tamu khusus untuk anda. Apakah anda ingin beristirahat sekarang ? mari saya tunjukkan kamarnya… ”, ucap pelayan tersebut sopan.
“ Aku akan membersihkan diri dulu, baru menemanimu…”, ucap Crystal kepada Arnold sebelum dirinya beranjak pergi dengan pelayan yang akan menunjukkan posisi kamarnya berada.
Arnold hanya bengangguk sebagai respon ucapan Crystal dan menunggu hingga punggung wanita itu hilang dibalik tembok. Baru dirinya pergi menuju kamarnya guna membersihkan diri juga dan berganti pakaian.
Setelah merjalan lurus kemudian berbelok kekiri dan kekanan, akhirnya Crystal sampai di depan pintu kamarnya yang terlihat sangat kokoh dengan ukiran naga emas disana.
“ Nona…silahkan masuk. Ini kamar anda…”, ucap pelayan itu sambil mendorong pintu hingga terbuka.
Begitu pintu terbuka, bisa dilihat jika seluruh ruangan berwarna kuning. Sprei, tirai dan karpet yang ada disana juga berwarna kuning.
Bahkan dikepala tempat tidur ada bentuk mahkota kecil dan dihiasi selambu yang menyelimuti ranjang, seperti kamar seorang princess dalam dongeng – dongeng kerajaan.
Mata Crystal sedikit berkaca – kaca karena terharu atas perhatian yang diberikan oleh Elisabeth kepadanya. Dia sama sekali tak menyangka jika wanita tua itu akan memperlakukan dirinya sebaik ini.
Crystal merasa bahwa wanita tua itu sudah menganggapnya sebagai cucu kandunganya sendiri, melihat dari perhatian yang diberikan kepadanya.
Perlahan rasa bersalah menyelinap dalam hatinya yang sempat menjadi penyebab meninggalnya wanita itu akibat ulahnya dalam kehidupan sebelumnya. Lamunan Crystalpun buyar saat pelyan yang ada dibelakangnya bersuara.
“ Nona…apakah anda puas dengan ruangan ini ? jika ada yang tidak disukai, kami bisa segera mengubahnya…”, kata pelayan itu dengan rasa takut dan ragu – ragu.
“ Tidak perlu….saya menyukai kamar ini. Tolong sampaikan ucapan terimakasihku pada nenek…”, ucapku dengan mata berbinar.
“ Kalau begitu nona, tidurlah yang nyenyak. Jika anda perlu sesuatu, anda bisa menghubungi saya dengan menekan bel kapan saja…”, ucap pelayan tersebut lega.
“ Baiklah, terimakasih…”, ucap Crystal mengangguk.
Pelayan tersebut sedikit terkejut wantu Crystal mengucapkan terimakasih kepadanya. Dia sama sekali tak menyangka jika kekasih tuan muda mereka sangatlah sopan dan ramah.
Membuat pelayan tersebut sedikit rileks dalam melayaninya. Tidak setengang saat melayani tuan mudanya. Sambil tersenyum, pelayan tersebut berjalan keluar kamar.
Setelah pelayan pergi, Crystal mulai melangkah masuk kedalam kamar mandi. Lagi – lagi Crystal dibuat terkejut dengan berbagai macam perlengkapan kamar mandi berwarna kuning disana.
Bahkan sabun mandi, shampoo, dan perlengkapan buat berendam merupakan produk yang biasa dipakainya, membuat Crystal kembali terharu dengan semua perhatian yang diberikan oleh Elisabeth kepadanya.
Saat melangkahkan kakinya keluar, dia melihat Arnold sudah duduk manis diatas ranjangnya sambil menatapnya dengan tajam.
Tak menghiraukan keberadaan laki – laki itu, Crystal terus melangkahkan kakinya menuju walk in closet, membuka almari yang sangat besar didepannya dan mengambil piyama berwarna kuning dengan gambar tweety, kartun favoritnya.
“ Tunggu sebentar ya sayang, aku memakai krim malam dulu…”, teriakku sambil menoleh kearah Arnold yang masih menatapku dengan tajam.
Arnold yang sedang duduk ditepi ranjang dengan sabar menungguku mengeringkan rambut, menyemprotkan tonner di kulit kepala, mengaplikasikan krim malam kewajahku, dan mengoleskan body lotian ditangan dan kaki.
Semua yang kulakukan diperhatikan oleh Arnold dengan intens, tidak sedetikpun laki – laki itu mengalihkan pandangannya dari arahku.
“ Sudah selesai…ayo…”, ucap Crystal sambil menarik tangan Arnold agar segera bangun.
Jika kamar Crystal seperti kamar princess dalam negeri donggeng, hal itu berbeda jauh dengan kamar Arnold yang terlihat suram dan mencekam, dimana kamar tersebut didominasi warna hitam dan putih.
Didalam kamar Arnold, dokter Philip sudah menunggu mereka berdua datang. Dia ingin mengobservasi mengenai penyakit insomnia akut yang diderita Arnold.
“ Tuan muda…nona Crystal…”, ucap dokter Philip sambil berdiri dan menundukkan sedikit kepalanya.
Arnoldpun segera berjalan menuju kearah ranjangnya, seakan kehadiran dokter Philip sudah biasa baginya. Namun tidak bagi Crystal, dia merasa canggung saat ada dokter Philip diantara mereka.
“ Apakah aku menganggu kalian…”, ucap Crystal canggung.
“ Tidak…justru aku membutuhkan anda dalam membantu proses hipnotis hari ini…”, ucap dokter Philip berusaha untuk menghilangkan keraguan yang terlihat jelas diwajah Crystal.
“ Ok…”, jawab Crystal singkat.
Dokter Philip tahu jika dalam proses hipnotis memerlukan suasana yang tenang dengan ruangan tertutup tanpa adanya pihak luar yang tidak berhubungan dengan proses tersebut ada didalam ruangan.
Namun demi observasi yang dilakukannya, dia harus melakukan cara tersebut sehingga bisa menentukan pengobatan yang tepat untuk Arnold.
“ Apa ini yang dimaksud menemani….”, batin Crystal binggung.
Crystal masih berdiri mematung ditempatnya, binggung harus melakukan apa. Tidak mungkin bagi dirinya untuk tidur disamping Arnold saat ada dokter Philip didalam ruangan. Saat dia masih mengamati keadaan, tiba – tiba suara dingin dan datar masuk kedalam gendang telinganya.
“ Kemarilah !!!....”, perintah Arnold sambil menepuk ranjang, mengisyaratkan agar Crystal duduk disampingnya.
Melihat wajah Arnold yang tidak bersahabat membuat Crystal segera beranjak mendekat dan duduk disamping laki – laki itu.
Detik berikutnya, lengan panjang Arnold sudah meraih pinggang rampingnya dan meletakkan kepalanya diatas paha wanita itu dengan wajah menghadap kearah perut.
Crystal yang bersandar disisi tempat tidur, dengan tubuhnya yang digunakan sebagai bantal, tidak berani bergerak sedikitpun.
Melihat Arnold sudah terbaring rileks, dokter Philippun segera bersiap untuk melakukan hipnotis. Tapi dia sedikit terkejut dengan ekspresi yang ditunjukkan Crystal saat ini.
Sebagai seorang psikolog, dia tentunya sangat mengenal dan bisa membaca seseorang dari gesture tubuh dan raut wajah yang tersirat dari seseorang.
Saat ini dia sangat yakin jika Crystal berada disisi Arnold hanya karena paksaan. Dan tampaknya Arnold tahu hal itu tapi mengabaikannya.
“ Tuan muda, bisa kita mulai sekarang…”, ucap dokter Philip sambil berjalan ketepi tempat tidur.
“ Tuan muda…”, panggil dokter Philip sekali lagi, namun Arnold sama sekali tidak merespon..
“ Arnold sepertinya sudah tertidur…dokter Philip, anda benar – benar luar biasa…”, ucap Crystal pelan saat dia melihat kedua mata Arnold sudah tertutup rapat.
“ Apanya luar biasa…saya bahkan belum melakukan apapun…”, batin dokter Philip sambil mengamati Arnold yang tertidur sangat damai.
“ Bahkan dia sama sekali tidak terganggu saat disekitarnya ada yang berbicara. Apakah gadis ini benar – benar obat tidurnya…gadis itu bahkan tidak melakukan apapun pada tuan muda… ”, batin dokter Philip kebingungan.
“ Karena tuan muda sudah tidur, aku akan pergi…”, ucapnya undur diri kepada Crystal.
“ Baiklah…”, ucap Crystal sambil mengangguk.
Setelah dokter Philip pergi, Crystal menunggu sekitar satu jam lamanya, hingga dia benar – benar memastikan Arnold tertidur dan secara perlahan mengangkat kepala laki- laki itu dari pahanya, menyelimutinya dan melangkah keluar kamar, untuk beristirahat didalam kamarnya sendiri.