Love Destiny

Love Destiny
KOBARAN API CEMBURU



Arnold dan Emily yang sudah tiba dibandara pulau berlian langsung masuk kedalam mobil yang telah disiapkan oleh anak buahnya dan langsung melaju dengan kecepatan tinggi menuju tambang emas milik Abraham group berada.


Sepanjang perjalanan, Arnold yang senang dilanda penyakit malarindu tropikangen terlihat beberapa kali melihat jam yang ada ditangannya dengan resah.


Diapun segera memerintahkan Emily agar melajukan mobilnya lebih cepat agar dirinya bisa segera beertemu calon istrinya yang sudah tiga hari lamanya tidak dia lihat wajah dan dengar suaranya itu.


Untung saja jalan menuju lokasi pertambangan tidak terlalu ramai sehingga Emily dengan mudah melaksanakan perintah bosnya itu.


Arnold yang duduk dikursi penumpang terlihat sangat gugup. Dia seperti seorang remaja labil yang sedang jatuh cinta dan menahan rindu yang sangat dalam kepada kekasihnya.


“ Baru juga tiga hari tidak ketemu sudah begini…bagaimana jika bos satu bulan penuh tidak bertemu nona Crystal….bisa benar – benar gila dia…”, batin Emily sambil menggelang – nggelengkan kepalanya keheranan melihat tingkah Arnold yang mulai absurd tersebut.


Sementara itu, Crystal yang sama sekali tidak tahu jika Arnold akan menyusulnya kelokasi tambang terlihat sedang sibuk berdiskusi dengan dua orang petugas kepolisian yang menyelidiki keberadaan Santoso bersama Alvin yang setia mendampinginya.


“ Baiklah…kami ikut semua yang anda rencanakan. Saya harap, kali ini Santoso dan rekan – rekannya benar -  benar bisa tertangkap…”, ucap Crystal menyetujui rencana yang disodorkan kepadanya.


“ Lalu, bagaimana dengan Lea miss…”, tanya Alvin yang sedikit cemas.


Alvin takut Lea akan syok begitu mengetahui bahwa papanya tersangkut dalam jaringan pengedaran narkoba terbesar dipulau berlian.


“ Aku rasa dia akan baik – baik saja. Karena dengan adanya hal ini, secara tidak langsung bisa mempermudah jalan Lea untuk merebut perusahaan sang mama dari tangan papanya…”, ucap Crystal menjelaskan.


Mendengar penjelasan Crystal, hati Alvin terasa sangat lega. Meski dia baru saja bertemu dengan Lea, entah kenapa dia sudah merasa sayang pada gadis itu.


Selain merasa cocok dan sepemikiran dengan sahabat bosnya itu, Lea dimata Alvin sangatlah bijaksana dalam menyikapi semua hal yang terjadi dalam hidupnya.


Untuk itu, dalam hati kecilnya Alvin berjanji akan membantu Lea untuk kembali merebut perusahaan yang sudah seharusnya menjadi hak sahabat Crystal itu.


Cukup lama mereka berdiskusi hingga tak menyadari jika sudah waktunya makan siang. Untuk menghormati tamunya dan juga agar hubungan yang terjalin diantara mereka lebih erat, Crystalpun mengajak makan siang bersama.


Dengan kondisi perusahaan yang sedikit goyah akibat membersihan tikus - tikus yang ada didalamnya, Crystal merasa untuk saat ini masih memerlukan bantuan dari mereka untuk menjaga keamanan lokasi tambang dan perkebunan yang berada dipulau berlian.


Apalagi salah satu diantara keduanya yang datang menemuinya hari ini adalah kapolres pulau berlian yang baru saja dilantik.


Meski kapolres baru tersebut terlihat sangat ramah dan low profil, tapi sebagai pebisnis yang memiliki insting tajam, Crystal cukup paham kenapa orang nomor satu di jajaran kepolisian pulau berlian tersebut mau bertemu dengannya, meski tidak mengatakan posisinya secara gamlang.


Mereka berempatpun makan siang di sebuah gazebo yang didirikan disamping pertambangan sambil bertukar cerita.


Kadang – kadang Crystal ikut tertawa pada saat mendengar cerita dari keduanya. Gadis itu cukup senang karena tampaknya hubungan simbiosis mutualisme yang akan tercipta bisa terjalin dengan baik.


Namun, tanpa mereka semua sadari, dalam sebuah mobil Land Cruiser berwarna putih yang sedang parkir tak jauh dari tempat mereka makan, ada seorang lelaki yang terlihat sangat geram dengan pemandangan yang sedang dilihatnya saat ini.


Kedua tangan Arnold mengepal kuat hingga urat – uratnya terlihat jelas sambil mengertakkan giginya saat mendapati tawa lepas Crystal bersama tiga lelaki tampan yang tidak dikenalnya itu.


Emily yang melihat perubahan ekspresi yang ada diwajah Arnold terlihat beberapa kali menelan ludahnya dengan wajah pucat pasi.


Api cemburu yang berkobar dalam diri Arnold semakin lama semakin besar, seakan bisa membakar apa saja yang mendekatinya.


Dinginnya ac dalam mobil tak mampu menahan hawa panas yang keluar dari dalam tubuh Arnold, membuat suasana dalam mobil terasa panas. Keringat dinginpun mulai mengucur deras di tubuh Emily.


Dengan tangan sedikit gemetar, Emily mengambilk ponsel yang ada di saku celananya dan  mulai mengirimi Crystal sebuah  pesan.


Tapi karena Crystal masih belum membeli ponsel baru, maka pesan Emily tersebut tak bisa terkirim. Emily yang melihat pesannya gagal terlihat bertambah panik.


Melihat rahang Arnold semakin mengeras dengan wajah memerah, Emily yang panik segera memiankan ponsel yang ada ditangannya, dia mengegeser layarnya kekanan dan kekiri, serta menscroll kebawah hingga nama Lea masuk dalam penglihatannya.


Emily sedikit bernafas lega saat dia ingat jika sahabat Crystal itu ikut ke pulau berlian bersama calon istri bosnya itu. Tanpa pikir panjang Emilypun segera mengirim pesan kepada Lea dan menceritakan  tentang kondisi yang ada saat ini.


Lea yang sedang bersama Vely ditempat Nicholas langsung bergegas menuju lokasi pertambangan begitu pesan Emily masuk kedalam ponselnya.


“ Ada apa ? kenapa kamu begitu panik ?...”, tanya Vely sambil mengikuti langkah Lea yang menariknya masuk kedalam mobil.


“ Kita ketambang sekarang…Arnold disana…”, ucap Lea tegas dan langsung melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Vely yang masih binggung dengan ucapan Lea akhirnya hanya pasrah saja waktu mobil terlihat meninggalkan perkantoran Nicholas dengan kecepatan tinggi.


Dia baru tahu apa yang terjadi sewaktu melihat Arnold keluar dari sebuah mobil Land Cruiser berwarna putih tak jauh dari posisi mobil mereka terparkir saat ini.


Tunangan sahabatnya itu terlihat sangat marah dengan kedua mata menatap tajam kearah Crystal yang terlihat bercengkerama hangat dengan dua tamu yang ada dihadapannya dan Alvin yang ada disisinya.


“ Cepat…kita harus menghalangi Arnold sebelum terjadi perang dunia kedua…”, ucap Lea sambil berlari menuju tempat Arnold yang terlihat sudah mulai berjalan cepat menuju tempat Crystal berada.


Arnold yang sudah hampir sampai di tempat Crystal tiba – tiba satu tangannya ditarik oleh seseorang menuju sebuah gedung yang berlawanan arah dengan posisi calon istrinya berada.


“ Lea !!!...apa yang kau lakukan ?!!!...”, ucap Arnold mengeram marah.


Lea berusaha untuk menepis rasa takut yang tiba – tiba hinggap dalam dirinya waktu melihat sorot tajam kedua mata  Arnold yang seolah – olah ingin membunuhnya saat itu juga.


Lewat isyarat mata, Lea meminta bantuan Vely agar mendorong tubuh Arnold hingga laki – laki tersebut tidak bisa berkutik dan terpaksa mengikuti keduanya masuk kedalam kantor Abraham group yang ada dilokasi pertambangan.


Para karyawan yang berpapasan dengan ketiganya menatap dengan heran, namun mereka tak berani bersuara karena tahu jika gadis yang sedang menggeret seorang lelaki yang bersama mereka adalah teman dari bos mereka, Crystal.


Setelah sampai didalam ruangan Crystal, Vely segera mengunci pintu dan menyimpannya disaku celana agar Arnold tidak bisa kabur.


Semenatar itu, Emily yang sudah melihat bosnya dibawa masuk kedalam kantor berjalan cepat kearah dimana Crystal berada.


Crystal yang sudah selesai makan menaikkan satu alisnya dan memiringkan kepalanya heran melihat kedatangan Emily disana.


“ Emily ?...”, guman Crystal begitu Emily sudah berada didepan gazebo.


Melihat Crystal menyadari keberadaannya, Emilypun berjalan semakin mendekat dan berhenti tepat di depan Gazebo tempat dimana Crystal dan tamunya bersantap makan siang.


“ Anda ditunggu tuan muda, nona…”, ucap Emily sopan.


“ Dimana Arnold ?...”, tanya Crystal sambil melirik kesana - kemari mencari keberadaan tunangannya itu.


“ Tu...tuan muda ada didalam kantor bersama nona Lea dan nona Vely…”, ucap Emily sedikit bergetar.


Emily sangat berharap tuan mudanya tidak menyebabkan dua sahabat Crystal tersebut kesulitan setelah membawa paksa dirinya masuk kedalam kantor.


Melihat suara Emily yang bergetar, Crystal cukup paham jika sang iblis pasti sedang marah sekarang. Maka dari itu, Crystapun segera pamit undur diri kepada dua tamunya dan memerintahkan Alvin untuk menemani tamunya itu


Alvin dengan patuh menuruti perintah bosnya meski banyak pertanyaan melintas dalam benaknya saat ini setelah melihat perubahan ekspresi wajah Crystal setelah kedatangan wanita yang bernama Emily tersebut.


Tampaknya perubahan ekspresi Crystal tidak hanya ditangkap jelas oleh Alvin, namun juga oleh kedua tamunya. Meski mereka sedikit khawatir, namun keduanya juga tidak bisa mencampuri urusan yang bukan menjadi ranah mereka.


“ Ceritakan semuanya !!!...”, perintah Crystal kepada Emily.


Emilypun menceritakan semuanya, tentang gegalauan tuan mudanya selama tiga hari ini dan hal apa yang membuat perasaan Arnold tidak senang saat ini.


Crystal hanya bisa menghela nafas dalam beberapa kali sambil memejamkan kedua matanya setelah Emily selesai bercerita.


Dia tidak habis pikir bagaimana Arnold selalu saja cemburu buta tanpa  alasan seperti ini. Crystal terus saja memikirkan cara untuk membujuk tunangannya itu ~~~~sambil berjalan  menuju ruang kerjanya dengan Emily yang mengikutinya dari belakang.