
Pagi itu wajah Arnold terlihat lebih cerah dari biasanya, namun tidak dengan wajah Crystal yang terlihat sedikit mendung.
“ Semua gara – gara kamu !!!...”, ucap Crystal bête.
Dengan wajah cemberut Crystlapun segera memasukkan semua barang – barangnya kedalam tas ransel yang akan dibawanya ke pulau berlian nanti.
Bagaimana tidak, semalam Arnold terus saja menganggunya dengan menanyakan semua hal tentang Andrew. Crystal sudah menjelaskan semuanya, tapi lelaki itu masih saja curiga hingga terpaksa Crystal menghubungi Andrew melalui panggilan video call.
Andrew yang sedang bersama pasangannya tentu saja terlihat sangat marah saat anak majikannya itu menghubunginya jam dua dini hari.
Setelah melihat Andrew tidur dengan pasangannya yang sejenis dengannya dengan mata kepala sendiri, barulah Arnold percaya dan membiarkan Crystal istirahat.
Namun matanya sulit terpejam dan hanya Arnold yang bisa beristirahat dengan tenang setelah kecemburuannya pada Andrew terpatahkan.
“ senyum !!!...jika tidak, aku tak akan membiarkanmu keluar dari kamar seharian ini !!!...”, ancam Arnold sambil menangkup wajah mungil Crystal dengan kedua tangannya.
Mendengar ancaman itu,dengan terpaksa akhirnya Crystalpun tersenyum lebar. Meski dalam hatinya ingin sekali mencincang iblis yang ada dihadapannya itu.
“ Cantik…”, ucap Arnold lembut dan langsung mengecup bibir manis yang menjadi candunya itu berkali – kali.
“ Dasar mesum !!!...”, guman Crystal sambil melangkah untuk mengambil tas ranselnya dan bergegas keluar.
Namun sebelum sampai di pintu, Arnold kembali berulah, menarik tubuh Crystal dan memeluk pinggangnya yang ramping dengan cepat.
“ Apalagi !!!...”, hardik Crystal dengan mata melotot.
“ Maaf…”, hanya kata itu yang terucap dari bibir Arnold.
“ Mulai sekarang, aku akan coba percaya kepadamu…”, ucapnya lirih sambil mengecup kening Crystal dengan lembut.
Crystal cukup syok mendengar kata maaf dari mulut Arnold. Namun tak bisa dipungkiri, hatinya terasa hangat saat tunangannya itu sudah mengakui kesalahannya.
Selama kehidupannya terdahulu, Crystal tidak pernah mendengar Arnold mengucapkan kata maaf dalam hidupnya.
Sesuatu hal yang tabu, namun semua itu dilakukan Arnold agar gadisnya tidak marah lagi dan tidak kembali menjauh darinya.
Crystal merasa perubahan Arnold cukup besar juga. Bagaimana iblis yang dingin dan kejam sekarang berubah menjadi budak cinta seperti ini.
“ Tidak bucin saja cemburunya begitu besar…apalagi kalau sudah bucin…tidak – tidak….sesuatu yang berlebihan itu tidak baik…”, batin Crystal bermonolog.
Merekapun segera berjalan menuju meja makan dengan semangat. Elisabeth terlihat tersenyum lebar saat melihat keduanya datang ke meja makan sambil bergandengan tangan.
Melihat wajah cerah sang cucu, Elisabeth sangat yakin jika tadi malam Arnold dapat tidur dengan nyenyak. Hal itu diperkuat atas laporan James yang melihat tuan mudanya bermalam di kamar Crystal semalam.
“ Crystal…ayo duduk…nenek sudah membuatkan roti lapis daging yang pasti lebih enak dari roti yang kamu beli di toko…”, ucap Elisabeth bangga.
Crystalpun segera duduk dikursinya dan mulai memakan roti yang ada dihadapannya. Mata Crystal langsung berbinar cerah saat merasakan roti yang dia kunyah tersebut sangatlah lezat.
“ Ini sangat lezat nek…”, ucap Crystal berbinar.
Diapun segera mengunyah dengan cepat dan melahap habis roti yang ada dihadapannya dengan rakus.
“ Nenek juga sudah membuatkanmu bekal disini…bawalah…”, ucap Elisabeth sambil memberikan kota bekal untuk Crystal.
“ Terimakasih nek…", ucap Crystal dan mulai berdiri kemudian memeluk Elisabeth dengan erat.
Casandra melihat keakraban itu hatinya tercubit, namun lagi – lagi hal tersebut berusaha untuk diredamnya.
Namun tidak dengan Vreyan, ekspresi tak sukanya semakin terlihat jelas dimata pemuda itu. Aura permusuhan sangat kental terlihat disana.
Untungnya gadis itu akan pergi selama beberapa hari, sehingga dalam waktu itu Vreyan tidak akan melihat wajah yang membuat aliran darahnya selalu mendidih.
Setelah acara makan pagi selesai, Crystal dan Arnoldpun berpamitan kepada Elisabeth. Meski merasa berat, namun Elisabeth juga tidak bisa menahan keduanya karena memang banyak sekali urusan yang sedang menanti mereka disana.
Crystal awalnya menolak untuk diantar oleh Arnold karena arah tujuan mereka berlawanan. Tapi karena lelaki itu memaksa, akhirnya Crystal mengalah juga agar tidak berdebat yang dapat membuat dirinya ketinggalan pesawat.
Hal itu diketahuinya pada saat Casandra berbicara dengan Arnold semalam. Meski tidak suka, namun Crystal berupaya untuk tidak menyinggung orang – orang terdekat Arnold, setidaknya untuk saat ini.
Crystal saat ini harus benar – benar fokus pada perusahaan sang papa dan permasalahan yang ada didalamnya.
Sedikitpun dia tidak boleh lengah dengan musuh yang bergerak cepat. Apalagi Crystal masih belum bisa menemukan titik terang siapa dalang dibalik semua itu.
Sesampainya dibandara, Crystal melihat Lea sudah standby di loby pemberangkatan domestik. Lea langsung melambaikan tangannya begitu sosok Crystal berada diantara kerumunan orang – orang yang berlalu lalang dibandara.
“ Mana tunanganmu ?...”, tanya Lea sambil celingak – celinguk melihat ke belakang tubuh Crystal.
“ Langsung balik tadi…dia sibuk... banyak urusan…”, ucap Crystal dan langsung menggandeng Lea menuju tempat pemeriksaan ticket.
“ Ya…padahal aku pengen lihat…”, Lea mendesah kecewa.
Tak menghiraukan ucapan Lea, Crystal segera menggandengan tangan sahabatnya itu dan berjalan masuk. Setelah berhasil check in, dua gadis ini segera naik menuju ruang tunggu penumpang yang berada di lantai dua bandara.
“ Kamu mau sarapan dulu sebelum boarding atau nanti saja setelah tiba disana ?...”, tanya Crystal saat melewati beberapa café yang ada didalam bandara.
“ Ngopi dulu aja deh, masih kurang tiga puluh menit juga…”, ucap Lea langsung menarik tangan Crystal menuju kedai kopi SB yang ada disana.
Sambil menikmati secangkir kopi, Crystal mengeluarkan roti isi lapis yang dibawakan Elisabeth kepadanya.
“ Enak sekali rotinya…aku nggak tau kalau kamu bisa memasak…”, ucap Lea sambil terus mengunyah dan melirik kotak bekal yang ada diatas meja.
“ Bukan aku yang buat, tapi neneknya Arnold, tunanganku…”, ucapku sambil mengecek laporan yang dikirim Andrew lewat ponsel.
“ Sayang juga nenek tunanganmu itu padamu…”, ucap Lea mengoda.
“ sudah…cepat cek data yang kukirim padamu…”, ucap Crystal mengalihkan pembicaraan.
Leapun segera mengecek data perusahaan sang papa yang ada disana. Selain untuk mengurusi Santoso, tujuan mereka ke pulau berlian juga untuk melihat perkembangan perusahaan keluarga sang mama yang telah diambil oleh papa Lea.
Bagaimanapun, Lea sebagai satu – satunya anak sah yang masih hidup, juga memiliki saham dalam perusahaan, meski jumlahnya tidak banyak.
Setelah melihat semua data yang ada, merekapun mulai mendiskusikan semua hal secara lebih dalam dan terperinci mengenai apa saja yang akan dilakukannya mereka disana.
………………………………
Pulau Berlian
Setibanya di pulau berlian, Crystal dan Lea segera menuju ke penginapan dengan mobil yang telah Crystal sewa selama mereka berada disini.
Orang kepercayaan Andrew segera datang begitu Crystal sudah berada dipenginapan. Crystal memang sengaja tidak langsung menuju kantor sebelum transaksi itu terjadi agar musuh tidak menjadi waspada.
“ Wow…apa ini ?...”, mata Crystal langsung membulat begitu meihat nama Markus Bolermo ada disana.
“ Benar miss…Markus lah yang memperkenalkan pembeli asing ini kepada Santoso…”, ucap Alvin, orang kepercayaan Andrew menjelaskan.
“ Kurasa, pekerjaan kita akan cepat selesai jika begini…”, ucap Lea bersemangat.
“ Ok. Dimana tempat pertemuan mereka pastinya…”, tanya Crystal fokus.
Alvinpun mulai menjelaskan semuanya kepada dua gadis yang ada dihadapannya. Mengenai tempat pertemuan dan segala hal yang berhubungan dengan transaksi tersebut.
“ Jadi…menurutmu jika aku bertemu dengan Mr. Ortega dan Mr. Radhakishan sekarang, ada kemungkinan besar mereka akan bekerja sama denganku jika penawanku bisa lebih menarik dari Santoso dan membatalkan transaksi yang akan mereka lakukan…”, Crystal mulai memikirkan semua saran yang diberikan oleh Alvin dengan cepat.
“ Betul miss…dan aku juga sudah membuatkan jadwal bertemu untuk anda…”, ucap Alvin sambil menyerahkan jadwal pertemuan Crystal hari ini dengan dua pengusaha asing tersebut.
“ Good job…”, ucap Crystal memuji.
Mendapat pujian dari bosnya, Alvin spontan tersipu malu.