
Keesokan harinya,
Diruang kerja, Arnold sedang menyelesaikan beberapa dokumen yang dibuat oleh Emily, begitu juga Crystal yang mulai sibuk dengan laptop yang ada dihadapannya untuk menyelesaikan laporan penelitiannya.
Mereka berdua terlihat berkonsentrasi pada pekerjaannya masing – masing, terlihat hangat dan harmonis. Mungkin karena tidur malam yang nyenyak, Arnold hari ini dalam suasana hati yang cukup bagus.
Dia bahkan tidak marah saat seorang pelayan tanpa sengaja menumpahkan teh diatas dokumennya. Dia hanya mengernyit dan melambaikan tangannya, menyuruh Emily untuk mencetak ulang dokumen tersebut.
Melihat hal tersebut, pelayan yang sebelumnya sangat pucat pasi takut nyawanya melayang sangat terkejut saat tuan mudanya membebaskannya begitu saja tanpa hukuman.
Emily yang sudah selesai mencetak ulang dokumen tersebut segera meletakkannya diatas meja, dan berdiri agak jauh dari sang bos dalam diam.
Dua hari ini Emily sedikit pusing memikirkan tentang Crystal yang mulai patuh dan tidak berbuat ulah. Bahkan nyonya besar begitu menyukainya. Entah kenapa dirinya memiliki firasat yang buruk tentang hal ini.
“ Mungkin aku hanya terlalu khawatir saja…”, batin Emily melihat suasana tenang saat ini.
Tiba – tiba ponsel Crystal berdering, Emily secara naluria melirik ponsel Crystal yang tergeletak diatas meja. dan ada nama Adisty terlihat dilayarnya.
Melihat nama tersebut, Emily mulai merasakan firasat buruk. Setelah menyelesaikan ketikannya dan menyimpannya, Crystal segera mengambil ponsel yang ada disampingnya.
“ Adisty !!!…”, gumannya terkejut.
Dalam ingatannya, Adisty dimasa lalu menghubunginya saat ini untuk memberitahukan bahwa Gerald mengalami kecelakaan mobil. Semua itu dilakukannya agar hubungan Arnold dengan dirinya memburuk.
“ Namun sekarang Adisty tidak tahu jika aku kerumah nenek, tetapi kenapa dia masih menghubungiku….”, batin Crystal bertanya – tanya.
Akhirnya Crystal paham, dia bisa merubah sesuatu, namun dia tidak bisa mengubah seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi dimasa lampau seperti kecelakaan yang Gerald alami saat ini.
“ Aku akan menerima panggilan ini dulu…”, pamit Crystal kepada Arnold.
Setelah Arnold mengangguk, Crystalpun mulai berjalan keluar ruangan. Saat ini wajah Arnold terlihat sangat suram sejak kepergian Crystal.
Beberapa detik setelah Crystal pergi, ponsel Emily mulai berdering. Saat mendengar kabar yang diterimanya melalui telepon, wajah Emily seketika pucat pasi.
Setelah menutup telepon, wajah Emily seperti orang tertekan, dia tampak ragu – ragu untuk menyampaikan apa yang baru saja diterimanya kepada Arnold.
“ Bicaralah !!!….”, ucap Arnold tajam.
“ aku…maksud saya…saya baru saja menerima kabar jika Gerald, kekasih nona Crystal mengalami kecelakaan mobil. Lukanya cukup serius dan saat ini dia berada dirumah sakit dalam kondisi kritis…”, ucap Emily ketakutan akan murka sang bos.
Wajah Emily semakin pucat pasi saat melihat raut gelap menyelimuti wajah sang bos. Ternyata firasat buruk yang dirasakannya benar.
Dia sangat takut jika sekarang tuan mudanya itu lepas kontrol dan mengamuk seperti tempo hari. Mengingat posisi mereka yang masih berada di rumah utama.
.
.
.
.
Diluar ruangan,
Crystal tidak segera mengangkat panggilan Adisty, dia mengacuhkannya. Dan baru mengangkat telepon tersebut setelah sahabatnya itu melakukan panggilan yang ke- 5
“ Crystal !!!...apa yang membuatmu begitu lama untuk menjawab? Dimana kamu ? Aku tadi kerumah Arnold tapi kamu tidak ada. Dimanapun kamu, cepatlah datang kerumah sakit HARAPAN sekaranga juga !!! Gerald dalam masalah !!!…”, ucap Adisty panik.
“ Dalam masalah ?…”. tanya Crystal pura – pura terkejut.
“ Ya…aku baru saja dapat kabar jika Gerald mengalami kecelakaan mobil dan terluka parah. Dokter mengatakan kondisinya sangat kritis saat ini. Jika kamu tidak ingin menyesal, datanglah sekarang juga kerumah sakit !!!...”, ucap Adisty sesenggukan.
Dia sangat yakin jika mendengar kabar ini, sahabatnya itu pasti akan segera bergegas dan mengabaikan semuanya.
Selama ini Crystal terlihat menghidar dari Gerald, dan kejadian ini adalah sebuah keajaiban agar perasaan sahabatnya itu kembali lagi.
Dalam ucapan Adisty, gadis itu jelas mengisyaratkan jika Arnold terlibat dalam kecelakaan yang dialami oleh Gerald.
Jika dia bisa memperburuk hubungan antara Crystal dengan Arnold dengan kabar berita ini, kenapa tidak. Itu seperti memukul dua burung dengan satu batu.
Crystal mencibir dalam hati setelah mendengar ucapan Adisty. Meski beberapa hal telah berubah, namun rencana licik sahabatnya itu tidak.
Pertengkaran hebat antara dirinya dan Arnold dimasa lampau terjadi karena perkataan yang diucapkan oleh sahabatnya itu barusan.
Dimasa lalu, dia sama sekali tidak menduga jika Adisty mengucapkan kata – kata tersebut hanya untuk menghasutnya, membuat hubungannya dengan Arnold semakin buruk.
Adisty berbicara cukup lama ditelepon untuk memprovokasi sahabatnya agar bertindak implusif yang dapat memperburuk hubungannya dengan Arnold hingga akhirnya pertunangan yang terjalin bisa segera berakhir.
“ Ok. Aku mengerti…”, ucap Crystal singkat dan langsung menutup telepon.
Sejenak, Crystal terdiam untuk mulai mengatur langkah apa yang kira – kira akan diambilnya. Dalam ingatannya jelas tergambar bahwa dalam peristiwa ini banyak hal terjadi.
Dan semuanya rata – rata semakin menjerumuskannya dalam kesengsaraan. Bahkan dari sini juga awal mula kebencian keluarganya mulai berakar.
Kalau Crystal tidak salah ingat, dalam waktu dekat setelah peristiwa kecelakaan Gerald, Adisty dipercaya oleh papanya untuk menggantikan posisinya di perusahaan karena sang papa jatuh sakit.
Dalam memorinya, Crystal sangat ingat dengan jelas jika penyakit jantung Abraham kambuh setelah dirinya bertengkar dengan sang papa dirumah sakit karena Gerald.
Tapi saat ini Crystal memutuskan untuk tidak pergi kerumah sakit, apakah itu akan mengubah alur yang ada. Atau hanya mengubah jalurnya sedikit.
Jika dilihat dari kecelakaan yang Gerald alami, meski Crytsal mengubah alurnya dengan tidak memberitahukan Adisty mengenai kunjungannya kerumah nenek Arnold, namun peristiwa tersebut tetap terjadi.
Membuatnya merasa jika kemungkinan papanya terkena serangan jantung meski dirinya tidak datang kerumah sakit, peluangnya sangat besar.
Membuat Crystal terdiam cemas. Tidak ingin larut dalam pikirannya diapun segera melangkah masuk kedalam ruang kerja Arnold.
Saat masuk, Crystal dapat merasakan hawa dingin dan mencekam kembali hadir. Membuatnya berpikir cepat, mengamati apa yang dia lewatkan selama dirinya berada diluar ruangan untuk menerima telepon.
“ Apa dia sudah tahu mengenai kondisi kecelakaan yang Gerald alami…”, batin Crystal penasaran.
“ Aku rasa sudah….”, jawabku dalam hati saat melihat wajah Arnold yang menggelap.
“ Adisty tampaknya benar – benar menggunakan kesempatan ini dengan sebaik – baiknya. Mari kita bersenang – senang kalau begitu…”, batinku semangat.
Melihat Arnold mengacuhkanku dengan wajah muramnya dan Emily yang terlihat sangat pucat, akupun berusaha untuk mencairkan kebekuan yang ada.
“ Aku dapat kabar dari Adisty jika Gerald mengalami kecelakaan mobil dan sedang dalam kondisi kritis sekarang... ”, ucap Crystal sambil menetap raut wajah Arnold dengan seksama, berharap ada sedikit perubahan disana.
“ Bodoh !!! kenapa dia mengaku seperti itu !!! seharusnya gadis itu bisa berbohong agar tuan tidak semakin marah…”, batin Emily yang merasa nyawanya sudah berada diujung tandung mendapati kepolosan Crystal.
Suana hening terlihat semakin mencekam setelah Crystal mengatakan hal tersebut. Crystal sangat berharap Arnold merespon perkataannya, meski hal itu buruk baginya.
“ Apa kau ingin pergi ?...”, tanya Arnold tajam.
“ Tidak…”, jawab Crystal cepat dan yakin.
“ Kenapa ?...”, Arnold yang penasaran mulai menengadahkan wajahnya, memandang tunangannya itu dengan sangat tajam.
“ Sudah ada keluarganya, keluargaku, kakak dan Adisty disana…”, ucapku dengan santai sambil menyesap teh yang ada dihadapanku.
“ Tapi…nanti malam, aku ingin mampir kerumah keluargaku dulu sebelum balik kekediamanmu…”, ucapku penuh harap.
“ Untuk ?...”, tanya Arnold masih dengan nada datar dan dingin.
“ Semalam aku sempat bermimpi buruk Aku hanya ingin memastikan kondisi kesehatan papa saja... ”, ucapku berbohong.
“ Ok…”, ucap Arnold singkat.