
Dibalik ponselnya, Enrico tersenyum bahagia waktu mendapat kabar jika anak buahnya dari tim dua berhasil membawa Crystal dan bayinya keluar dari rumah sakit dan sekarang sedang dalam perjalanan menuju kebandara.
Arnold yang mendapatkan kabar jika musuh mengarah ke bandara segera memblokir jalan menuju kesana dan membelokkannya ke tempat yang telah disiapkannya.
“ Sial, ada perbaikan jalan. Kita harus jalan memutar sekarang…”, umpat sang sopir marah.
Ambulanpun mulai berjalan memutar menuju dimana Arnold dan anak buahnya sudah ready. Musuh tidak sadar jika mereka digiring menuju tempat terakhir mereka.
Tanpa curiga, sang supirpun mengikuti rambu petunjuk dari jalan tikus yang dilaluinya saat ini. Karena jalan tersebut tidak teerlalu familiar baginya, maka dia sama sekali tidak menaruh kecurigaan apapun jika mobil yang dikendarainya semakin jauh dari bandara.
“ Kenapa berhenti ?...”, tanya rekannya waktu menyadari mobil ambulan yang mereka kendarai berhenti secara tiba – tiba.
“ Kurasa kita salah jalan…”, ucap sang supir yang langsung memutar balik mobilnya.
Belum sempat aksi tersebut dilakukan, anak buah Arnold sudah bergerak dan langusng mengepung mereka.
Musuh yang menyamar sebagai perawat yang mendampingi Emily di bagian belakang juga tak bisa berkutik saat wanita itu menodongkan pistol di dadanya.
Mereka hanya bisa pasrah turun dari mobil ambulan menuju sebuah gubuk reyot yang ada tak jauh dari mobil tersebut berhenti.
Didalam gubuk tersebut Arnol terus saja menyiksa keempat tawanannya hingga mereka mau bersuara. Tapi demi menjaga rahasia klien mereka, tak ada satupun yang mau mengeluarkan kata dari dalam mulutnya yang sudah penuh dengan darah.
Mereka hanya bisa menahan rasa sakit sambil terus bungkam. Membuat Arnold hilang kesabaran dan mulai memutilasi mereka dalam kondisi hidup.
Drtt….drttt….
Ponsel salah satu penjahat tersebut berdering dengan nomor asing muncul dilayar. Saat diangkat, Arnold langsung mengenali suara yang muncul dari ponsel tersebut.
“ Enrico…sepupuku tersayang…. ”, ucap Arnold dengan suara rendah yang dingin.
Tubuh Enrico langsung menegang begitu mendengar suara Arnold dibalik sana. Satu tangannya mengepal kuat hingga buku – buku jarinya memutih menahan amarah.
“ Kamu tahukan harga yang pantas kamu dapatkan atas tindakanmu ini…”, ucap Arnold masih mempertahankan nada rendah dan datarnya.
Melihat sepupunya marah, Arnoldpun tertawa mengejek, sebelum menutup telepon dia mengganti panggilan tersebut menjadi panggilan video dan mempertontonkan bagaimana dia mengeksekusi keempat anak buah sepupunya itu.
“ Tunggu saja…hadiahmu akan segera datang…”, ucap Arnold sebelum menutup sambungan telepon tersebut.
Kali ini Arnold benar – benar harus membereskan Enrico secepatnya agar dia tidak kembali berulah dan terus mengganggu kehidupan keluarganya.
Sementara itu dilain benua, Enrico yang sangat panik mulai berkemas untuk segera pergi dan bersembunyi. Melihat ancaman yang diberikan oleh sepupunya, lelaki itu sangat yakin jika kali ini Arnold tidak akan membiarkannya lepas begitu saja dengan mudah.
“ Sial !!!...sekali lagi aku harus kalah darinya !!!...”, ucap Enrico dengan wajah penuh amarah dan langsung beranjak keluar rumah.
Baru saja dia hendak masuk kedalam mobil, tiba – tiba dari arah belakang ada seseorang yang memukul tekuknya, membuatnya langsung pingsan.
“ Bereskan tanpa jejak !!!...”, perintah Arnold begitu mendapatkan kabar jika sepupunya tersebut berhasil ditangkap anak buahnya.
Akhirnya, satu persatu musuh Arnold berhasil dibereskannya. Sekarang dia akan membina keluarga kecilnya bersama Crystal dan Artal dengan penuh kebahagiaan.
Adoff yang sangat menyayangi Artal menjadi salah satu pelindung bayi kecil tersebut saat kedua orang tuanya tidak berada di rumah.
Bahkan kedekatan mereka semakin intens seiring bertambahnya usia Artal membuat sang papa kembali dilanda cemburu buta kepada serigala peliharaannya itu.
Mewarisi darah Lincoln membuat Artal tidak takut apapun. Bahkan di sudah bisa menggunakan pisau dan pistol saat usinya baru menginjak dua tahun.
Agar bisa menjaga diri, diusia tiga tahun Artal sudah belajar ilmu beladiri. Bahkan kemampuannya melempar pisau dan menembak sudah semakin bagus.
Tanpa Crystal sadari, Artal hampir sama dengan sang papa yang memiliki jiwa psikopat. Dia sangat senang melihat darah dari musuh - musuh mereka dan menikmatinya.
Vreyan yang mengetahui hal itu, tanpa sepengetahuan Crystal sering mengajak anak kecil tersebut untuk menyiksa para musuhnya yang berhasil ditangkap dan dtempatkannya diruang bawah tanah.
“ Ternyata buah jatuh tak jauh dari pohonnya…”, guman Vreyan waktu melihat bagaimana Artal menyiksa musuh yang berhasil ditangkapnya dengan pisau kesayangannya.
Artal kecilpun tumbuh dengan cepat sebagai bocah kecil yang cerdas dan kuat. Dia juga sangat beruntung mempunyai orang tua yang selalu mendukungnya dan dikelilingi oleh orang – orang yang sangat menyayanginya.