
Untung saja pistol yang digunakan Crystal tidak mengeluarkan suara sehingga aksinya tidak memancing para penjaga yang berada diatas gerbang untuk mendekat kearah mereka.
Setelah melumpuhkan beberapa kamera pengawas yang berada disekitar mereka, Crystal yang hendak berbalik menuju mobil ambulan dikejutkan oleh kedatangan seorang berpakaian hitam yang langsung berlutut dihadapannya.
“ Nyonya…kami akan menyelamatkan anda…”, ucap orang tersebut dan disusul beberapa orang lagi dengan pakaian yang sama dibelakangnya.
Crystal yang masih terkejut dengan kedua bola mata terbuka lebar akhirnya bisa bernafas lega waktu menyadari jika yang ada dihadapannya adalah anak buah Arnold.
Diapun segera menginstruksikan agar anak buah Arnold tersebut segera membawa pergi sang kakak bersama ketiga orang petugas yang berada di dalam ambulan.
Sedangkan dirinya sendiri masih ingin berada ditempat itu untuk memastikan siapa sebenarnya dalang dibalik semua ini.
Tidak bisa memaksa Crystal untuk pergi bersama mereka, sang ketua tim tinggal bersama kelima anak buahnya bertekad untuk tinggal dan menjaga Crystal, sedangkan rekan yang lainnya diinstruksikan untuk pergi dengan membawa keempat orang yang berada di dalam ambulan.
Tapi mereka sedikit kesulitan untuk membawa Leony yang kondisinya semakin kritis. Menurut hasil diagnosa Anton, kakak Crystal itu harus melakukan operasi pengangkatan janin yang diperkirakan sudah tak bernyawa di dalam perutnya dan menghentikan pendarahan yang ada sekarang juga sebelum terlambat.
“ Jika dibawa paksa sekarang, saya takut nyawanya tidak akan tertolong… ”, ucap Anton memperingatkan melihat kondisi Leony semakin lama semakin menurun.
“ Apa kamu bisa mengoperasinya sekarang jika peralatannya ada ?...”, tanya Crystal menawarkan.
“ Meski ini adalah yang pertama, namun akan saya usahakan yang terbaik…”, ucap Anton yakin.
Setelah mendapat jawaban tersebut Crystal yang sedang berpikir tiba – tiba melirik sang ketua tim PB 1 yang terlihat serius mendengarkan percakapan mereka.
Ketua tim tersebut teringat dengan lelaki tua yang berada dalam laboratorium. Dia sangat yakin jika laki – laki tua itu memiliki peralatan yang diperlukan oleh Anton untuk mengoperasi Leony.
“ Apa kamu tahu sesuatu…”, tanya Crystal sambil melirik ketua tim PB 1.
“ Saya rasa, laboratorium didalam cukup lengkap. Namun kita harus melakukan pengambil alihan dulu mengingat tempat tersebut dijaga sangat ketat…”, ucapnya menjelaskan.
“ Butuh waktu berapa lama?...”, tanya Crystal cemas.
“ Sekitar sepuluh puluh menit… ”, ucapnya mantap.
“ Apa masih bisa ?...”, tanay Crystal sambil menatap Anton penuh harap.
“ Kalau bisa lebih cepat akan lebih baik…”, ucap Anton sambil melihat kondisi Leony yang semakin lama semakin buruk.
“ Kalian sudah dengar kan…lakukan secepatnya…”, perintah Crystal.
Mendengar perintah Crystal semua pasukan bayangan yang tadi berkumpul disana segera menghilang untuk melakukan pengambil alihan laboratorium untuk sementara waktu.
Sedangkan dua orang lagi tetap berada disana untuk menjaga Crystal dan yang lainnya. Sementara itu Anton mulai mempersiapkan obat – obatan dan peralatan yang ada didalam ambulan untuk melakukan operasi kepada Leony nanti.
“ Kamu hanya punya waktu sekitar empat puluh lima menit untuk melakukannya, jika tidak maka ketiga nyawa kami sebagai taruhannya…”, ucap professor Smith sambil menatap nanar sambuk merah yang dipakainya.
“ Baik, saya usahakan…”, ucap Anton sambil mendorong brankar Leony masuk kedalam ruang operasi dadakan yang sudah dipersiapkan oleh profesor Smith dan timnya.
Jika sebelumnya Alexander berkata akan datang secepatnya untuk mengambil racun tersebut, namun baru saja dia mendapat kabar jika majikannya itu akan datang sekitar satu jam lagi karena ada masalah mendesak yang harus diselesaikannya terlebih dahulu.
Mendengar nama Alexander, Arnold segera mengerahkan anak buahnya untuk membuat kekacauan diperusahaan yang diyakini milik lelaki itu agar menghambatnya untuk melaju keperkebunan.
Hal itu dilakukan untuk mengulur waktu agar PB 1 berhasil membawa keluar Crystal. Arnold yang saat ini masih berada dikota tetangga segera menyuruh Emily agar melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Alexander terlihat sangat murka saat mengetahui system yang ada dalam perusahaannya tidak bisa digunakan dan kemungkinan telah disabotase oleh seseorang.
Namun, saat mendengar kabar dari anak buahnya jika Crystal sudah berada didalam markas rahasianya Alexander merasa sedikit lega karena penculikan calon istri Arnold tersebut berjalan dengan lancar.
Sekarang dirinya fokus pada pembenahan system yang ada dalam perusahaannya. Jika dibiarkan tidak berfungsi seharian, maka bisa dipastikan berapa besar jumlah kerugian yang akan dideritanya mengingat bisnisnya sangat bergantung pada system tersebut.
Saat Anton sibuk bersama Dadang untuk mengoperasi Leony, professor Smith bersama timnya juga sibuk meracik formula racun yang harus berhasil diserahkan pada Alexander begitu lelaki itu datang.
Tanpa professor Smith ketahui jika gadis yang akan diberi racun berada di dekatnya yang saat ini terlihat cemas menunggu operasi sang kakak selesai.
Karena gugup akan hasil eksperimennya dan kemurkaan yang akan diterimanya saat Alexander mengetahui ada orang asing yang menyabotase laboratorium pribadinya membuat professor Smith beberapa kali menumpahkan cairan yang ada dalam tabung.
Saking gugupnya dia juga beberapa kali salah menungkan cairan hingga sempat menimbulkan ledakan kecil disana.
Crystal yang menggunakan kaca mata putih yang dapat merekam segala kejadian yang dilihatnya , tanpa disadari semua orang telah merekam semua aktivitas yang dilakukan oleh profesor Smith dan tim.
Untuk mengatasi rasa cemasnya, Crystal terlihat berjalan keluar dari dalam laboratorium dan berkeliling secara diam - diam untuk mencari petunjuk sekecil apapun tentang lawan yang dihadapinya saat ini.
Belum sempat berkeliling terlalu jauh, Crystal kembali masuk kedalam laboratorium begitu mendengar kabar operasi kakaknya telah selesai.
Meski bayi yang ada dalam kandungan Leony tidak bisa diselamatkan, namun kondisi sang kakak yang sudah kembali stabil membuat hatinya merasa tenang.
Anak buah Arnold pun segera membawa Leony, Anton, Dadang, dan Mukti keluar dari dalam markas tersebut begitu kondisi kakak Crystal tersebut sudah bisa dipindahkan dan dibawa keluar.
Untuk mengecoh para penjaga, anak buah Arnold meledakkan bagian belakang rumah dan membakar semak belukar yang terdapat ambulan disana hingga membuat atensi para penjaga langsung fokus ke dua area tersebut.
Saat kondisi lengah, para pasukan bayangan segera membawa korban pergi dengan cepat sebelum para petugas menyadari keberadaan mereka.
Meski awalnya semapt menolak, namun Crystal akhirnya ikut serta keluar saat mendengar bahwa Lea dan kawan- kawannya sedang menunggunya di luar markas.
Dia berpikir, akan mendiskusikan semuanya begitu bertemu dengan Lea dan kawan - kawannya diluar. Crystal berencana untuk kembali masuk kedalam markas bersama Lea dan kawan - kawannya untuk menuntut balas apa yang sudah dialami Leony sang kakak.